Posts

Semesta selalu punya hadiah

Image
Pagi di hari Sabtu ini dimulai dengan sedikit... pilu.

Sebagai manusia biasa tentu saya masih punya rasa, masih bisa merasa sedih, masih bisa menangis, dan meskipun sangat jarang, kadang tangis saya bisa benar-benar sangat mengganggu. Ya terlihat menyedihkan, ya terlihat menyesakkan, sekaligus terlihat melegakan. Mengeluarkan air mata barang sekejap terkadang memang cara terbaik untuk menumpahkan emosi dan kelelahan yang tertumpuk.
Tapi mungkin kali ini sedikit berbeda, ada kelelahan yang tersirat, dan ada juga perasaan ditinggalkan yang kembali mencuat ke permukaan. Saya tak pernah merasa sendiri, tapi ketika ada kepingan yang hilang dari hidup, rasanya lumayan memilukan juga.

Eh tapi kadang lucu ya, bagaimana semesta selalu berusaha membuat anak kecilnya ini tersenyum lagi. Jadi, setelah fase kesedihan dan penerimaan berlalu, saya memutuskan untuk mandi pagi biar segar dan membuka lemari dapur untuk membuat teh mint, dinginnya pagi ini perlu dicairkan sedikit. Tiba-tiba saya menemukan…

Menjadi Pemimpin Itu Belajar

Saya tak tahu sudah berapa kegiatan organisasi yang saya ikuti dan berapa kali saya merasakan menjadi pemimpin atau dipimpin oleh orang lain, yang jelas saya makin menemukan kompleksitas dalam cara memimpin masing-masing individu, dan banyak hal yang saya pelajari dari sini.

Semua orang mungkin bisa menyebut dirinya sebagai pemimpin, sebagai leader, tapi tak semua pemimpin berhasil membawa perubahan atau menjadi agent of change, tak semua bisa merangkul orang-orang yang dipimpinnya untuk serempak berjalan menuju visi misi yang sama.

Beberapa waktu lalu saya memiliki beberapa tantangan dalam perusahaan yang sempat membuat pikiran menjadi kusut untuk sementara, hingga akhirnya saya memutuskan untuk berbicara dengan seorang sahabat yang sedari dulu sudah aktif menjadi pemimpin dalam beragam aktivitas yang ditekuninya. Kami seringkali berbagi pandangan akan banyak hal dan perihal kepemimpinan, sayalah yang banyak menimba ilmu darinya. Kala itu saya sedang berkutat dengan rekrutmen pegawai…

Berdamai Dengan Ego Tanpa Menghilangkan Ego

Image
Ketika saya bermeditasi, seringkali karena terlalu merasa bahagia, saya mengambil napas dalam-dalam hingga rasanya nyeri di dada dan di punggung, tepatnya di bagian dimana skoliosis saya berada. Saya sangat suka menarik napas dan menghembuskannya perlahan-lahan dalam ketenangan sebab itu mengingatkan saya akan dinamika kehidupan yang diberikan semesta pada saya untuk dijalani. Tapi ya itu tadi, kadang saking dalamnya mengambil napas bisa terasa nyeri sesekali. Rasa nyeri ini seringkali saya maknai sebagai teguran halus untuk tak memaksakan diri, dan saya menyadari sekali, terkadang sebagai manusia, kita memang perlu diingatkan untuk tetap berada dalam ruang-ruang dimana semestinya kita berada. Yang membuat kita suka lupa diri dan tak mawas bahwa kita punya kapasitas yang berbatas, biasanya, adalah ego.

Saya suka sekali mempelajari banyak hal, saya tak pernah membatasi diri dengan sesuatu, selagi saya punya kesempatan untuk mengembangkan wawasan, pasti akan saya pergunakan. Kadang juga …

Saya (Masih) (dan Akan Selalu) MencintaiMu

Image
Masih menyoal sakitnya si kaki kiri yang membuat saya harus beristirahat selama... sampai hari ini, saya merasa ini semacam wake up call untuk waktunya merefleksikan lagi kehidupan saya, baik relasi dengan diri sendiri maupun dengan dunia. Semesta seakan memberi ruang kontemplasi yang cukup, dimana saya bisa berbincang-bincang dengan hati saya sendiri, apa mauku, apa harapanku, apa yang sudah aku lakukan, sudahkah aku mensyukuri yang aku lakukan,dan ternyata masih ada lubang-lubang hampa menjadi penjawab dari tiap pertanyaan itu.

I haven't lived my life to the fullest; lately.

Tak ayal, selain urusan bedrest ini, saya juga digugah melalui hardikan gelandangan mabuk beberapa hari lalu itu dan nyaris bobolnya tabungan di bank karena scammer. Selama dua dekade saya hidup, jarang sekali saya menemukan kejadian-kejadian sefatal ini. Dan semestinya, saya berhak untuk protes, "Why me?", atau mungkin marah-marah karena semua hal itu di luar batas kewajaran.

Tapi kemudian saya mem…

Our search for that happiest place on Earth.

Image
Saya bukan ingin berbicara tentang Disneyland, tapi tentang bagaimana semestinya jargon happiest place on earth tak hanya menjadi milik theme park gagasan Walt Disney tersebut, atau bahkan, semestinya, jargon tersebut tak pernah ada.

Where's exactly the happiest place on Earth?
Isn't it ironic that it isn't the Earth itself?
Untuk mengatakan bahwa saya sepenuhnya bahagia dengan hidup yang saya jalani pun sepertinya belum bisa. Terkadang saya masih merasa cemas, merasa takut, merasa sedih, dan semuanya itu adalah kelaziman sebagai manusia yang memang hidup dalam rupa-rupa keadaan; senang susah, untung malang, di atas dan di bawah.

Tapi semenjak merantau, ketika saya sudah mulai menghidupi diri saya sendiri, ketika saya sudah mulai bertanggung jawab sepenuhnya akan segala hal yang saya lakukan, ketika saya sudah mulai mengenal lebih banyak orang dan mempelajari lebih banyak hal, saya mulai merasa lebih mudah untuk menjadi bahagia. Saya jadi lebih mudah merasa bahagia atas sega…

Kenapa Saya Tak Percaya Perselingkuhan, dan Pencurian

Image
Meski berulang kali mencoba untuk memproteksi diri dari berbagai konten negatif yang ada di media massa, terkadang saya gagal juga dan masih bisa membaca beragam tulisan yang sebetulnya tak ingin saya baca, salah satunya adalah mengenai pemberitaan skandal perselingkuhan seorang artis berinisial JD dengan laki-laki yang telah berkeluarga. Saya rasa saya tak perlu menceritakan lebih jauh dan detail mengenai kejadian tersebut, karena sebagai manusia, saya tak pernah tahu duduk perkara yang sebenarnya.

Tapi sejujurnya, saya tak pernah percaya dengan konsep perselingkuhan, maupun pencurian. Dan juga "malapetaka-malapetaka" sejenisnya.
Buat saya pribadi, kita terlahir telanjang dan ketika nanti mati pun telanjang, sendirian tanpa teman, tak membawa apapun. Hal ini berarti kita sebetulnya tak memiliki apa-apa yang bisa kita anggap sebagai "kepunyaan". Semua murni pinjaman.

Pemikiran tersebut saya pahami sebagai dasar untuk selalu bersikap lila legawa, menerima segala bai…

Cerita Hari Ini

Image
Hampir lima tahun sudah saya mempelajari seluk beluk plant-based food dan alasan di baliknya tentu karena permasalahan lingkungan yang kompleks, termasuk untuk "membayar" rasa bersalah akibat animal cruelty dalam industri yang saya gerakkan.
Semoga suatu saat bisa sepenuhnya meninggalkan produksi kulit. Secepatnya. Sedari kecil, saya memang pecinta hewan, keluarga membiasakan anak-anaknya untuk menghargai makhluk hidup dan alam raya. Bung Karno, yang sedari dulu saya idolakan pun, memiliki welas asih yang luar biasa pada hewan, bahkan sewaktu kecil beliau pernah secara tak sengaja menyenggol sarang burung di atas pohon dan mau memungut serta mengembalikannya lagi sembari meminta maaf pada induk burung yang malang. Kisah ini diceritakan pada Cindy Adams melalui Penyambung Lidah Rakyat. Di lain waktu, Bung bahkan berujar bahwa untuk menepuk nyamuk pun ia tak tega. Mungkin hal ini didasari oleh latar belakang keluarganya yang beragama Hindu.

Selain karena alasan lingkungan, ant…