Tuesday, March 21, 2017

Entah untuk sementara, entah untuk selamanya

Memiliki banyak sahabat adalah hal yang paling saya syukuri. Dimanapun saya berada, perhatian dan dukungan mereka selalu ada. Bahkan sejak dulu masih di bangku sekolah hingga kini saya merantau di benua lain. Tak terkecuali laki-laki ini.

Awalnya dia tak pernah terdeteksi dalam radar, bahkan mendengar namanya pun saya jarang. Hanya tahu ada anak basket beken yang masuk SMA yang sama dengan saya di tahun 2012 itu. Pengagumnya? Banyak. Saya tak termasuk. Anak olahraga bukan tipe saya waktu itu. Saya adalah pebisnis dan petualang, saya banyak membaca dan banyak menulis, saya bermain teater, dan dia atlet sejati. Hidupnya hanya tentang pertandingan dan turnamen-turnamen. Namanya kerap dipanggil untuk maju menerima penghargaan di podium upacara tiap hari Senin. Tribun gedung olahraga selalu riuh oleh pekikan namanya. Meski kami sama-sama dikenal di sekolah melalui bidang masing-masing, kami tak pernah ada niatan saling mengenal. Ternyata cerita hidup mempertemukan kami di kelas yang sama di bangku kelas 2 SMA. Sebagaimana halnya anak-anak ilmu sosial, kami berdua gemar bercerita dan jadi bintang kelas. Sepanjang berkutat di jam sekolah, kami dan teman-teman banyak bergurau dan mengobrol, namun selepas pelajaran usai, tak ada lagi interaksi. Dia kembali dengan urusan basketnya, dan saya selalu jadi anak baik yang langsung pulang, mengurus bisnis yang saya kelola dari rumah.

Hingga akhirnya kami duduk di kelas 3 SMA dan kembali ada di dalam kelas yang sama. Entah kenapa suatu hari kami mengobrol berdua dan menemukan terlalu banyak kecocokan dalam cerita kami. Bukan membicarakan tentang percintaan remeh seperti anak SMA lainnya, kami justru banyak bercerita tentang keluarga dan kehidupan kami, mulai dari orangtua, pandangan politik, hingga spiritualitas. Sangat menyenangkan ternyata mengobrol dengannya, saya tak pernah menemui orang sedewasa ini, dan sepertinya ia pun memikirkan hal yang sama, sampai akhirnya kami memutuskan untuk menjalin hubungan lebih dekat.

Setahun berlalu, kami sempat mendirikan bisnis dan investasi bersama, namun ternyata hubungan ini tak berhasil. Kami sama-sama punya mimpi besar. Meski pada awalnya kami saling mendukung, kami sadar bahwa hubungan cinta monyet ini harus direlakan dulu, entah untuk sementara, entah untuk selamanya. Cita-cita dan bakti untuk orangtua adalah hal utama, apalagi kami berdua adalah anak pertama dan bukan datang dari keluarga serba ada, kami harus memperjuangkan hidup masing-masing dulu. Setelah berjuang keras menempa diri, selepas SMA ia berhasil diterima sekaligus di universitas nomor satu di Yogyakarta dan perguruan tinggi milik kedinasan di Jakarta. Saya sendiri terbang pindah ke Eropa dan melanjutkan kuliah di Prancis. Dengan demikian, perasaan harus dikorbankan untuk cita-cita, entah untuk sementara, entah untuk selamanya.

Perjumpaan terakhir kami adalah di Bandara Soekarno Hatta, saya ingat betul, hari itu 12 Agustus 2016, siang menjelang sore, dia diantar seorang teman, berdua mengendarai motor dari kos-kosan. Saya menunggunya di salah satu restoran cepat saji, dan kami menghabiskan waktu hanya untuk mengobrol basa-basi, mencoba mengabaikan kenyataan bahwa kami akan berpisah sebentar lagi. Kami, sama-sama perantau belia dari kota kecil bernama Yogyakarta, terdampar dalam risau di ibukota hari itu. Ia mengantar saya yang sendiri menjemput mimpi, dan saya mengucap selamat tinggal pada ia dan pada tanah air yang saya cintai. Terngiang selalu kata-kata yang ia bisikkan di telinga ketika itu,

Kuatlah selalu, ya…”.

Awalnya memang sulit untuk berpisah, tapi hubungan yang lalu itu benar-benar mendewasakan saya. Saya yang dulunya cengeng seperti gadis remaja pada umumnya, kini bisa menyeimbangkan emosi dengan lebih baik karena selalu teringat banyak petuahnya. Saya dulu mudah galau urusan percintaan, kini hanya berkutat dengan kehidupan pribadi yang bahagia dan membahagiakan orang-orang di sekitar saya. Dia pun sama. Bisnis kami masing-masing juga melesat, membawa kami ke puncak kesuksesan masing-masing, orangtua menjadi motivasi terbesar kami sebagai family person, dan banyak hal menyenangkan terjadi di hidup kami belakangan. Jika saya bisa mengucap selamat dan mengungkap rasa bangga untuk semua pencapaiannya kini dalam wujud hadiah, tentu benda-benda berbau basket (http://www.elevenia.co.id/ctg-olahraga-outdoor) akan jadi hal yang mengesankan untuknya.

Si dia, ketika itu, pakai nomor punggung 4.


Saya selalu bersyukur pernah mengenal dia secara dekat, bahkan hingga kini kami masih bersahabat baik. Kami masih sering berbagi cerita, utamanya tentang kondisi masing-masing, apalagi saya berada di belahan Bumi yang berbeda. Dia selalu jadi pendengar yang baik, dan jarak tak pernah melunturkan semua kebaikannya.

Pertemuan dengannya mengajarkan bahwa sangat penting untuk bisa saling membangun dalam sebuah hubungan, saling menguatkan, dan saling menginspirasi, tak melulu tentang senang-senang dan foto-foto mesra menghiasi media sosial. Saya berharap anak-anak muda paham bahwa menjadi power couple adalah relationship goals yang sebenarnya, tentang menjadi saling berarti buat berdua maupun buat lingkungan. Kami dulu membangun bisnis yang memperkerjakan orang di sekitar kami. Kami saling menyemangati untuk berinvestasi demi masa depan yang lebih baik. Dia tak lelah mengingatkan saya untuk selalu jadi perempuan yang kuat namun sederhana. Sedari dulu dia memang tak pernah memberi boneka atau cokelat, karena dia selalu ingat bahwa saya tak menyukai keduanya. Tapi dia memberi saya banyak dukungan, ilmu, dan pelajaran hidup yang benar-benar saya butuhkan. Dia menjadi sahabat baik orangtua saya, sama seperti yang berusaha saya lakukan pada kedua orangtuanya. Dia mengajarkan saya untuk live the life to the fullest, untuk selalu seimbang antara bersyukur dan bekerja keras, dan dialah alasan untuk tiap perasaan yang masih bertahan,

entah untuk sementara, entah untuk selamanya.

Monday, March 20, 2017

Loving life.

“Dari segi spiritual, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi sifat dan watak manusia. la akan mewarisi watak binatang yang dimakan dagingnya itu.” (Krishna, Anand. (2001)
Pertama kali mengenal meditasi dari Bunda, dan saya pilih untuk memulai yoga sejak SMA awal, sejak pertama kali didiagnosa scoliosis. Awalnya saya sedih dan merasa terguncang bahwa cacat seumur hidup ini akan selalu berdiam dalam tubuh saya, namun lambat laun saya mulai tergelitik untuk mempelajari kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Saya pernah menjadi vegetarian selama beberapa tahun, dan saya sempat proaktif menentang jual-beli hewan, breeding, hingga eksploitasi hewan untuk kepentingan entertainment seperti topeng monyet, sirkus lumba-lumba, dan kebun binatang.
Sampai sekarang saya masih pecinta hewan, saya kira semua orang tahu itu, namun kini saya memilih untuk tak terlalu vokal dan memulai kebaikan dari satu elemen besar dalam semesta ini: diri saya sendiri.
Seiring berjalannya waktu, hati saya mulai terbuka untuk belajar dari berbagai tokoh pluralitas yang saya kira cara pandangnya kurang lebih sama mengenai kehidupan. Pada 2014 saya pergi ke Bali untuk meditasi Hindu-Buddha bersama Gde Prama dan pada 2016 lalu saya ikut mengaji bersama Cak Nun. Selain itu, saya makin menemukan jati diri dan menciptakan kebahagiaan melalui hal-hal kecil yang saya temui tiap harinya: angin segar tiap pagi saat meditasi di kamar kos, makanan organik yang bergizi dan sehat, orang-orang yang baik hati dan mencintai saya, kebebasan untuk pergi kemanapun dan melakukan apapun... Semua hal terasa baik dan on track.
Mempelajari kehidupan dan menciptakan kebahagiaan.
Itu dua kata kuncinya. Kata kunci yang membuat saya merasa lebih harmonis dengan dunia sekaligus makin mengagumi Sang Pencipta, meski tanpa agama.
Saya mencintai kehidupan. Saya mencoba berdamai dengan apa yang sering dianggap orang sebagai kekurangan (tubuh kurus dan scoliosis? at least I'm happy!). Saya mencoba membiarkan semuanya mengalir. And it works for me. Tapi memang, perbanyak konsumsi sayur dan buah itu pengaruhnya luar biasa besar, apalagi jika diimbangi dengan olahraga dan meditasi. Benar-benar luar biasa besar, alhamdulillah.
Saya tak membatasi konsumsi daging, namun berusaha menyeimbangkan dengan konsumsi sayur dan buah dalam dosis yang sangat banyak. Dan jangan lupa untuk selalu tutup telinga kalau ada yang komentar, "Ga makan daging lalu proteinnya dari mana? Gimana mau gendut kalo gitu?".
Gapapa. Orang nyinyir ga akan pernah musnah dari muka bumi ini. Toh they don't pay our bills :):)
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.

Difference of being spiritual and religious.

Hayoloh, ini Sri Paus aja ngomong begini... Kira-kira, Gereja makin ditinggalin umatnya ga ya? Disini, bangunan gereja udah banyak yang sepi dan yang datang misa mingguan pun kebanyakan orang-orang tua. Pernah suatu ketika saya misa di gereja di dekat rumah, ga sengaja ketemu temen sekelas, yang ada kita bukan sapa-sapaan dulu tapi malah ketawa-ketawa, "Loh, masih ke gereja juga to kamu?" 馃槀 Saya sih seneng-seneng aja mau ibadah dimanapun sebenernya. Ada gereja dan ada waktu, ya ke gereja, kalo sedang ga mau dan ga mampu, ya udah ga usah pergi. Intinya masalah beginian ga perlu diributkan dan ga perlu diperdebatkan lah, ga bikin mati juga toh? 
Dari kecil saya emang dibesarkan dalam nuansa agama yang kental baik dari pihak keluarga saya yang beragama Islam maupun Katolik, baik yang menganut agama karena faktor keturunan atau memang kedewasaan masing-masing untuk memilih. Hidup dalam lingkungan seperti ini, bersekolah di sekolah swasta bertahun-tahun, saya rasa sudah cukup, sih. Sekitar memasuki usia 15 tahun lah kira-kira waktu itu, saya mulai diberi pencerahan sama orangtua tentang spiritualitas dan religiusitas, bukan lagi tentang agama. Mereka bilang saya sudah cukup mengerti dan bisa diajak berdiskusi.
Orangtua saya tak pernah mencabut akar-akar kebaikan yang ditanam oleh semua kultur dan agama yang pernah saya pelajari. Mereka hanya selalu berusaha mengingatkan untuk tetap realistis dalam berpikir, bertindak, dan serta mengesampingkan ajaran-ajaran guru agama yang dianggap menyimpang dengan nurani saya sendiri.
Semenjak itulah, saya menjadi lumayan kritis dan vokal terhadap kemunafikan-kemunafikan yang saya lihat di balik tameng agama dan rumah-rumah ibadah. Semenjak itulah, saya malah jadi makin mencintai Sang Pencipta dan menganggap bahwa agama bukanlah sarana yang cocok bagi saya pribadi dalam mendekatkan diri dengannya.
Saya tak cocok dengan ritual keagamaan yang bertele-tele dan terlalu utopis, terlalu alkitabiah. Saya lebih suka praktek langsung dan benar-benar menelaah sabda maupun dakwah dalam konteks masa kini. Toh hari gini kita juga udah ga makan belalang dan madu doang kaya Yohanes Pembabtis, kan? (Ya meski keluarga saya karena dari Gunung Kidul suka banget makan belalang sih...) 馃槀
Oh iya, selain kenyataan bahwa gereja disini mulai sepi peminat, ada hal lain yang menohok saya: ujud pribadi dipatok harga! Ya, jadi, jika anda miskin dan ingin ujud anda didoakan oleh pastor sewaktu misa, mungkin anda bermimpi, atau harus menabung dulu. Pasalnya, nyaris 10€ (±Rp 150.000) harus kita keluarkan untuk "memberi tali asih" pada paroki yang bersangkutan. Ya Allah Ya Tuhan YME. Nyari duit kok gitu amat?
Industri dalam jubah agama ternyata sudah digambarkan sejak jaman Yesus Kristus, salah satu manusia paling visioner yang pernah hidup di bumi, idola saya selain Bung Karno dan Ibu Kartini dan beberapa tokoh lainnya.
Pada injil Markus 11:15 tertulis seperti berikut:
"Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya,".
Tanpa mengurangi rasa hormat, saya mau sharing. Beberapa tahun lalu ketika saya masih kecil, saya pernah mengikuti misa di sebuah gereja yang umatnya terkenal rajin beribadah dan sangat aktif dalam kehidupan menggereja. Pada saat homili, pastor membahas mengenai aktivitas perdagangan yang sedang marak ada di halaman atau depan pagar gereja, tak terkecuali gereja yang saya sambangi tersebut. Pastor ini berbicara dengan nada agak tinggi dan membawa-bawa ayat Markus 11:15 itu tadi, "Tuhan Yesus aja marah kok, waktu ada pasar di Bait Allah, lalu kita gimana ini?". Semacam itulah, saya tak ingat pasti, tapi saya ingat bahasan ini sempat memanas di beberapa gereja setelahnya, ya karena ayat ini diterjemahkan secara mentah-mentah.
Begini. Kita hidup 2000 tahun setelah Tuhan Yesus lahir, dan saya pun tak dapat memungkiri bahwa jajanan di depan Gereja Kotabaru dan Masjid Syuhada itu luar biasa menggiurkannya (lumpia gereja Kobar woi ah! Siapa yang ga suka sih?! 馃槀). Produsen dan konsumen sama-sama diuntungkan, kalaupun ada yang diperbaiki, mungkin regulasi dan tata kelola saja agar tak kumuh, tak mengotori sekitar, atau tak menghalangi akses keluar masuk rumah ibadah. Selebihnya? Pantaskah kita ngamuk-ngamuk dan membalikkan gerobak-gerobak mereka, sama seperti yang Tuhan lakukan dulu? Ya nggaklah! Apa bedanya kita sama ormas yang sebelah dong kalo anarkis gitu?
Saya mencoba menelaah dengan lebih relevan, "Tuhan Yesus, sampeyan mau menyampaikan apa sih kepada kita di era sekarang?".
Kemudian saya ingat, kembali ke gereja yang pastornya heboh banget tadi: seseorang pernah cerita ke saya, kalo di gereja itu pernah ada beberapa kasus korupsi. Edyan! Uang persembahan ditilep? Lagi-lagi, gitu amat cari duit?
Kemudian saya ingat lagi, tren hijab fashion yang lagi booming beberapa tahun belakangan. Iya, saya tahu, semua perempuan ingin bersolek dan tampil cantik. Tapi saya juga tahu, designer-designer itu niat utamanya jualan apakah buat dakwah? Ya enggaklah, buat cari duit dong yaaa... Deretan ustad-ustad yang mobil mewahnya berjajar-jajar berkat keluar masuk TV, apa mereka beneran niat dakwah? Ya enggaklah, masuk ke media tujuannya apa? Biar terkenal dong, dapet duit lageee... 馃槀
Saya bicara begini dasarnya malah justru dari kata-kata kitab lho ya... Semua kitab, semua agama, semua Tuhan, semua nabi pasti mengajarkan kesederhanaan. Tuhan Yesus mengajak para rasul untuk meninggalkan harta benda dan keluarga mereka jika mau jadi pengikutNya. Rasulullah hanya tidur di hamparan kulit hewan, bahkan ketika Aisyah melipat beberapa kain dengan harapan Rasulullah bisa tidur dengan lebih nyaman, malah beliau meminta agar lipatan kain-kain tersebut disingkirkan saja.
Lalu, kita?
Bukan berarti kita harus mencontoh sikap Yesus yang mengusir pedagang di Bait Allah. Bukan. Tapi usirlah rasa nafsu berlebihan dalam hati kita: nafsu untuk mencuri, untuk merasa iri, untuk merasa dengki, nafsu untuk membicarakan keburukan sesama.
Bukan berarti kita harus mencontoh keduabelas rasul dengan menjual seluruh harta benda kita bagi orang yang membutuhkan. Bukan. Tapi jual dan singkirkanlah semua rasa gengsi kita untuk bermewah-mewah. Tak ada satu manusiapun yang hidup di bawah langitnya Gusti Allah yang bisa memiliki segalanya, pun kita.
Bukan berarti kita mencontoh Rasulullah dengan tidur di atas hamparan kulit hewan. Bukan. Tapi tidurlah di dalam rumah dengan keadaan yang secukupnya dan harta yang sewajarnya.
Kira-kira seperti itu :) Sabbe satta bhavantu sukkhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.


Documentary Recommendations!

I always wish, our life as human is supposed to be useful for others, not only the other human beings but also animals and environment. Day by day, I learn that every single things we do give impacts not only for ourselves, and that is why we need to think much, think and rethink again, our behavior and daily habits. Last week, I watched three documentary movies which enlightened myself about our society nowadays. (These three movies are available on Netflix, I strongly recommend you to watch them by yourself!)

^_




The first movie was Living on One Dollar - 2013.
It captures social life of Guatemalans and Mayans, but in the same time, I saw my Indonesian people are currently struggling in similar situations, too. Much of our people live on one dollar per day or lower and even Mr President Joko Widodo starts to worry about the Indonesia's social imbalance. Oxfam's last-week released data revealed: The four richest men in Indonesia own as much wealth as the country’s poorest 100 million citizens. And do you guys know where's the region with highest gap between the poorest and wealthiest people situated at? Daerah Istimewa Yogyakarta. MY OWN HOMETOWN.

Gini ratio adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan agregat yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna).

The second one was Food Choices Documentary, which describes really well about how our eating habits affect this poor mother Earth. 



The experts explain understandably reasons why plant-based diet is strongly suggested for modern people and young generation, especially. Medias and fast-food industries play biggest role in cover up the truth behind medical issues: "We need to drink milk to strengthen our bones", "If we're vegans, we won't get enough proteins", "Consuming fishes is way much safer and healthier than other meat"... and other unproved facts. I tell you, my grandmother had symptoms of osteoporosis and her doctor indicated that it was caused by high-calcium milk she had been consuming since years ago. We seem to be the only species of mammals that drink milk after infancy, and definitely the only species that drinks another species' milk.


The last one was The True Cost - 2015, it's a fashion documentary tells us about how cruel the fashion industry actually is.



We often hear that garment manufactures disperse to several developing countries, employ labors with low wages. This is WHY, I always force Little Luna to stand on her own feet, to believe in her own home-based productions, and to empower local people around us.
I don't point these out to blame industries, or to blame James Watt for his steam-engine invention, which later changed our entire life. I just want to remind you (and myself) to balance everything and live thoughtfully, act carefully, or at least... be responsible.
And, does anyone have any other recommended movies about social and environmental awareness?





^_^



Tak pulang bukan berarti tak sayang.

Jadi, bulan ini saya mau pergi ke suatu tempat di Prancis selatan dan minta saran penginapan dorm ke group backpacker Prancis. Saya bilang, as a return, mereka bisa nanya apa aja tentang Indonesia ke saya.
(Saya cantumin juga video bareng sama post pertanyaan itu, karena saya pikir bisa sekaligus jadi sarana promosi pariwisata Indonesia. Btw aneh banget pas lagi browsing videonya di YouTube, saya malah pengen mewek 馃槶馃槶馃槶 Bener-bener Zamrud Khatulistiwa, damn it! How lucky I am to be an Indonesian 馃槶).
Eh ternyata feedback yang didapet dari anggota forum lainnya emang lumayan, saya sampe ditawarin mampir ke Strasbourg, Collioure, dan kota-kota lainnya di Prancis selatan, dipersilakan sambang dan nginep gratis (HEHE alhamdulillah馃槍). Tapi selain itu, banyaaaaaaaak banget yang nanya-nanya beneran tentang Indonesia 馃槏
P.S.: Pernah banget duluuuuu pernah, ada yang bilang ke saya, mereka yang pergi kuliah atau kerja ke luar negeri itu ga nasionalis. Sampe sekarang pun saya sering diingetin, "Besok kalo udah lulus jangan lupa pulang ya, membangun Indonesia". Gitu kata mereka. Ga usah orang-orang biasa, pejabat kalo ketemu mahasiswa asing di luar negeri juga pasti bilang gitu, standar 馃槍 Mungkin mereka lupa, cinta tanah air itu sifatnya abadi. Bela negara harusnya dapat dilakukan dimana aja. Ga harus di Indonesia. Faktanya, ga semua yang bermukim di Indonesia aja bangga kok sama bangsanya sendiri, emang diplomat Indonesia di PBB dan negara-negara sahabat ga membangun bangsa hanya karena ga bermukim di Indonesia? 馃槍
Jadi, bukan apa yang terlihat dari luar (bukan tentang dimana posisi kita saat ini berada), tapi apa yang selalu ada dalam hati (pengabdiannya, pemikirannya, perhatiannya hanya untuk bangsa), saya kira itu yang lebih berharga 馃槍
P.S.S.: Buat orangtua yang suka berat hati buat melepas anaknya pergi, Ayah Bunda saya selalu inget pesen Kahlil Gibran dalam puisi Anakmu Bukan Anakmu. Dalam bahasa Jawa mereka suka bilang, "Anakku wedok kae mung titipan e Gusti Allah, awake dhewe ora ngerti bakal bali opo ora, baline kapan, jarke wae, ndherek Gusti", lalu sementara si adek seneng-seneng aja udah jadi anak tunggal 馃槀





Celebrate every moments.

Makin kemari saya makin tak gemar merayakan momen secara berlebihan. Tapi bukan berarti saya anti perayaan.
Bukan karena saya tak suka bersenang-senang, tapi saya memaknai hidup ini seluruhnya sebagai anugerah, tak peduli hari apapun, saya selalu bahagia menjadi manusia merdeka, menjadi perempuan, menjadi anak dari orangtua saya, menjadi sosok yang disayangi dan diperhatikan orang di sekitar saya.
Saya tak perlu diingatkan sekali setahun bahwa saya bertambah usia. Saya tak perlu diingatkan satu dua kali dalam setahun bahwa saya istimewa karena saya perempuan. Saya tak perlu diingatkan semarak diskon menjelang hari-hari raya. Saya tak merasa perlu membeli bunga dan cokelat dan hadiah sekali setahun di bulan Februari untuk menunjukkan afeksi dan perhatian pada orang-orang yang saya kasihi (plus, saya tak mau melulu diperbudak industri, saya marketeer, saya paham betul bagaimana industri lihai memanfaatkan momen ^_^)
Gusti Allah memberi saya hidup yang indah, dan saya berkewajiban untuk memaknainya tiap hari, tiap saat, dalam tiap hela nafas. Saya memulai lifestyle yang sehat dan bahagia, saya belajar mencintai tiap orang dengan kelebihan dan kekurangan mereka, dalam tiap tindakan baik atau buruk mereka pada saya, itu cara terbaik saya untuk merayakan hidup.
Bagaimana cara anda? Apakah justru sibuk ikut terbawa arus tanpa pernah memaknai hidup yang sebenarnya? Ingat, Cak Nun bilang, hanya ikan mati dan sampah yang tak sanggup melawan arus ^_^
Sabbe satta bhavantu sukkhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.


Don't ruin their excitements.

Orang bertanya tak melulu karena ingin menimba ilmu. Ada yang sekadar mencari tahu dan pada akhirnya mencari celah untuk mencela, dan ini berbahaya.

Orang-orang...
Jangan karena dulu mimpimu tak berhasil kau perjuangkan, lalu sekarang kau mematikan mimpi orang lain.

Jangan berkata “Halah” ketika ada yang menceritakan cita-citanya dengan antusias.
Jangan berkata “Gitu doang” ketika ada yang mempercayakan dirimu sebagai pendengar pertamanya.


Kita tak tahu berapa lama ia mengumpulkan keberanian untuk bermimpi, jangan meruntuhkan kepercayaan diri yang telah sekian lama dibangun. Jika memang tak tertarik, tanggapilah dengan santun lalu undur dirilah. Pencerita itupun tak butuh kamu hanya untuk menghalangi masa depannya.

Tuesday, November 22, 2016

Bahagia Itu Sederhana


Ada hal lucu-lucu, menyenangkan, hingga menegangkan yang terjadi selama saya tinggal sendirian di negara orang. Mungkin kuliah di negara lain buat kebanyakan orang adalah hal biasa, tapi buat saya yang kurus kering kerontang dan tak berbudget banyak, tentu jadi pembeda dari kebanyakan itu. Pernah saya disangka mau mengantar kakak oleh satpam kampus karena badan saya kan, ukurannya relatif mungil jika dibandingkan dengan teman-teman di kampus yang tinggi-tinggi. Lalu, bertahan hidup dengan budget kurang dari Rp 2.000.000,00 sebulan, untuk semua keperluan dapur, rumah tangga, langganan transportasi, dan alat tulis, saya yakin tak semua orang mampu, karena saya pun ngos-ngosan, hahaha... Tapi, bisa nggak? Ya dilihat saja sendiri, sejauh ini saya masih hidup kok, karena kuncinya: berkecukupan, bukan berlebihan.

Lalu, saya mau cerita tentang menjaga dan mengukur diri, nih. Seringkali, ketika saya berkomunikasi dengan teman-teman atau kerabat di Indonesia, mereka sering mengatakan, "Hati-hati, ya.", "Jaga diri, ya", dan sejenisnya. Dan kata-kata ini benar-benar saya usahakan untuk lakukan karena saya tak mau ada sesuatu terjadi dengan saya yang sudah pasti akan merepotkan banyak orang dan menimbulkan khawatir mereka yang berada dikejauhan. Nah, saya tak ingin hal ini terjadi.

Saat saya tertular flu atau merasa tubuh sedang tidak fit, atau saat saya kekurangan uang dan tak bisa makan layak selama seminggu, atau bahkan saat saya mengalami kedua kejadian itu bersamaan, saya usahakan untuk tak menceritakannya pada siapa-siapa. Karena ya, itu tadi. Daripada merepotkan dan membuat khawatir, selagi bisa ditangani sendiri dan masih mampu berjalan kaki, tak perlulah menceritakan apapun kepada siapapun.

Pernah saya jatuh sakit karena perubahan cuaca yang cukup signifikan, setelah berada dalam rumah yang hangat semalaman, keesokan paginya harus berangkat ke kampus dengan cuaca yang cukup buruk dan angin sangat kencang, ketika malam hari kembali ke rumah pun saya tumbang. Tenggorokan sakit, badan meriang, telinga berdenging... Tapi sayang sekali keinginan untuk makan lezat dan memulihkan tenaga terpaksa saya urungkan, setelah melongok ke dapur dan tak mendapati apa-apa disana, di pekan itu memang tak ada wacana berbelanja bagi saya karena di rekening hanya tersisa uang dengan nominal satu digit saja, hahaha. Memutar otak, akhirnya saya sadar bahwa kesehatan adalah yang utama, dan saya tak akan fokus belajar jika badan tak bugar dan perut kosong. Akhirnya saya membuka dompet, alhamdulillah masih tersisa 4 euro dalam keping-keping uang logam yang bisa saya pergunakan untuk berbelanja di Carrefour.

Ya, saya belanja di Carrefour kali ini bukan karena gaya (Carrefour terletak di mall), tapi karena disana tersedia pojok khusus buah dan sayur dengan harga ekonomis, semua di bawah 1 euro.

Saya memaksakan diri mengangkat tubuh (benar-benar seperti falsafah Jawa, "Ora obah ora mamah", "Tidak bergerak maka tidak makan"), dan berjalan kaki menuju halte metro untuk membeli bahan makanan yang sudah saya data dalam hati. Buah dan sayur.

Dengan uang 4 euro, akhirnya saya pulang menenteng tas belanja berisi satu kilo buah apel, satu kilo buah pir, satu kilo wortel, dan satu batang cokelat putih untuk teman belajar di rumah. Selesai belanja, saya bergegas pulang karena sudah terlalu lemas untuk mengelilingi mall.

Sampai rumah, karena masih ada beras, tahu, dan kecap, saya memutuskan untuk membuat nasi tim, dengan maksud agar tak begitu susah ditelan oleh tenggorokan yang sedang super sakit. Alhamdulillah lagi, saya tak pernah memasak dengan resep dan hasilnya tak pernah gagal.

(Sombong sedikit ya, karena toh hanya ini yang bisa disombongkan dari saya, hahaha.)

Akhirnya setelah menanak beras, menambahkan sedikit air agar nasi menjadi lebih lunak, mencampur wortel dan tahu dengan kecap dan garam, lalu membumbui nasi dengan daun bawang, kemudian mencampur semua bahan bersamaan, dan menambah keju emmenthal leleh setelah mematikan api... Saya makan dengan penuh syukur dan lagi-lagi membatin (seperti yang selalu saya rasakan tiap ada hal baik yang ditemukan di Lille, termasuk tiap saya mengicipi hasil masakan sendiri yang entah kenapa jauh lebih nikmat dibanding ketika di Yogyakarta dulu), "Alhamdulillah, semesta baik, bahagia itu sederhana..."

Kadang hal-hal remeh yang membahagiakan, yang saya temukan dalam berbagai himpitan situasi, membuat saya belajar jadi lebih sabar, dewasa, menghargai apapun wujud rejeki, dan mampu mengenali diri sendiri. Hahaha, kepedean. Ya, itu menurut saya. Tak tahu ya, penilaian orang seperti apa. Tapi yang pasti, saya mempelajari begitu banyak hal disini. Saya belajar menerima keadaan, meski kadang masih diselingi keluh kesah pada orang-orang terdekat, meski kadang saya masih suka marah-marah dalam hati, tapi saya sungguh beruntung diberi kesempatan memaksimalkan segala yang sudah diberikan semesta, meski tak sebanyak milik orang lain.

***


Terima kasih untuk Ayah Bundaku yang selalu mengajariku bertahan hidup dan mensyukuri apa yang ada, karena ketika aku dilahirkan dan kelak aku mati pun tak ada hal yang ku bawa selain kepribadian yang beriman, meski hanya sebesar sesawi.

Monday, November 21, 2016

Jakarta, Tak Hanya Sekadar Ibukota

Sedap sekali di sore-sore seperti ini, sepulang kampus, di luar hujan, dan memasuki kamar kost membuat kedua pipi saya kembali menghangat. Trims, Semesta, selalu ada rasa syukur semerbak dari dalam hati, menguar mencipta sudut-sudut lengkung di bibir. Ah, kedua tangan ini masih menggigil kaku, rupanya. Saya meletakkan tas, melepas sepatu boots dan mantol, mencuci tangan dan kaki, berganti baju, lalu bergegas menyeduh teh hangat dengan madu. Tak terlalu panas, namun cukup mengusir gigil dari tubuh. Biasanya, sepulang saya dari kampus, pasti akan langsung ngobrol dengan teman-teman di Indonesia via LINE dan menelepon Bunda, tapi mulai kemarin, rutinitas itu berbeda. Telepon genggam saya ngadat (lagi), dan saya kini memilih menghabiskan waktu dengan produktif, mencipta karya atau mengerjakan tugas. Biasanya juga, saya gemar mendengarkan musik dari aplikasi Spotify, namun karena keadaan, saya akhirnya kembali membuka situs YouTube karena ada satu channel yang saya suka disana: Indielokal.

Lama tak mengintip channel ini, rupa-rupanya ada playlist terbaru yang belum pernah saya dengar; Indielokal Playlist #04 - Balada Untuk Sunda Kelapa.


Sunda Kelapa, ya? Jakarta...

Sambil mereguk teh madu hangat dalam cangkir di genggaman saya, pikiran berkelana di antara memori-memori yang berjajar, kembali saling bertautan, mengingatkan saya pada apa saja dan siapa saja di Jakarta yang paling membekas bagi saya...

Jakarta, tak hanya sekadar ibukota bagi keluarga kami. Orangtua saya, keduanya dilahirkan di Jakarta pada awal tahun 1970-an, dan keempat Kakek-Nenek saya, semuanya kini masih menetap di daerah Jakarta Timur. Tiap liburan sekolah, saya senang menghabiskan waktu di Jakarta. Ada sepupu-sepupu, Paman, dan Bibi, yang selalu dengan gembira mengajak saya kemanapun saya mau, meski ya, sebenarnya Jakarta tak banyak beda dengan Yogyakarta yang kian hari kian metropolis. Salah satu kenangan yang paling membekas adalah ketika Kakek Nenek saya, orangtua dari Bunda, masih segar bugar, mereka senang mengajak saya ke tempat-tempat wisata asli Jakarta, bukan ke mall seperti paman-paman dan bibi-bibi saya. Dulu, sewaktu Kakek masih kuat menyetir, olehnya dan Nenek, saya diantarkannya ke Monumen Nasional, ke Museum Nasional, makan kerak telor, ke Bobo Fair (sayang sekali dulu kami belum punya cukup uang untuk menyaksikan Operet Bobo yang saya idam-idamkan tiap melihat iklannya di Majalah Bobo...), ke Ancol (berkali-kali naik wahana Istana Boneka...) dan Dunia Fantasi dan SeaWorld, ke Taman Mini Indonesia Indah dan naik kereta gantung, menonton film Harry Potter pertama kali di Teater Keong Mas, berkeliling di Kota Tua... Mungkin hanya sekian itu yang berhasil saya ingat dari sebegitu banyaknya usaha Kakek dan Nenek dalam membahagiakan Asyana kecil.

Beranjak sedikit dewasa, ada lagi kenangan yang saya bangun di Kota Jakarta, kini mengenai seseorang, yang rasanya tak pernah jauh, selalu terasa dekat, meski kami terpisah jarak entah berapa ribu kilometer, saya tak ada niat untuk menghitungnya. Ada kenangan yang kami ciptakan, saat kami bertatapan, dengan dua pasang mata yang entah penuh pertanyaan atau jawaban,

"Kapan kita akan bertemu lagi?"
"Akankah usai disini?"
"Akankah semuanya layak diperjuangkan?"
"Akankah jarak melemahkan perasaan?"

Ada kenangan yang kami ciptakan, di tiap pelukan-pelukan terakhir itu. Berharap tiap detiknya melambat, hingga ada makin lama waktu yang tersisa, hingga tak perlu mengucap pisah dengan segera.

Ada kenangan tentang malam-malam indah terbentang, ketika hanya ada kami berdua dan dua mangkuk Bakmi GM di Mall Grand Indonesia, ketika kami bercerita tentang apa saja, ketika kami berpura-pura bahwa kami masih punya banyak waktu tersisa (kami yang mengejar waktu atau waktu yang mengejar kami, saya bahkan tak memahaminya...).

***

Sunda Kelapa menuliskan banyak memori indah dalam benak, tentang cinta dan kerelaan menyisihkan waktu dengan mereka yang ada di hati saya. Di Sunda Kelapa saya jatuh cinta, semoga di Sunda Kelapa nanti saya bisa kembali pulang pada mereka.



"Oh inilah Jakarta...
Jatuh cinta di Jakarta 
Selalu ada kejutannya

Oh inilah Jakarta.. 
Putus cinta di Jakarta 
Tak pernah jelas kelanjutannya 

Oh ini Jakarta..."
(Ramondo Gascaro - Oh Jakarta)

Sunday, November 13, 2016

Asyana Bicara: Tantangan Kuliah di Luar Negeri

'And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.' — Paulo Coelho

Kuliah di luar negeri? Siapa yang tak mau? Tak cuma ilmu dari perspektif berbeda yang bisa kamu dapatkan, tapi kamu juga akan menghadapi banyak situasi baru yang pasti akan membuatmu 'dipaksa' keluar dari zona nyaman. Karena tak mungkin dihindari, maka pertanyaannya sekarang adalah, siapkah kamu menghadapi tantangan-tantangan ini?

Tantangan #1: Kangen Indonesia!
Kelezatan makanan autentik Indonesia tak akan pernah tergantikan

Kalau dipikir-pikir, memang kesempatan kuliah di luar negeri tentu hanya akan diberikan pada mereka yang pintar beradaptasi. Aturan pertama: jangan manja atau cengeng soal perut, deh. Prinsip kami yang kuliah di luar negeri, sejauh makanan itu layak konsumsi dan bergizi (dan tak menguras kantong tentunya, hehehe), sikat aja! Tapi tak jarang ada yang rela memasak karena tak cocok dengan makanan setempat dimana dia kuliah, mungkin juga ingin berhemat, atau mungkin tak banyak pilihan kedai murah meriah untuk mahasiswa. Nah, situasi yang mengharuskan kita beradaptasi inilah yang kadang membuat rindu akan makanan Indonesia yang lezat dan kaya rasa, murah meriah pula! Oh God, rindu terberat itu adalah rindu pada nasi padang! Meski kadang ada ditemukan restoran Indonesia, percayalah, rasanya tak akan sama dengan yang aslinya.
Kerinduan lainnya, tentu akan kebiasaan-kebiasaan di Indonesia. Rindu keramahtamahannya, rindu kehangatan orang-orangnya, rindu ritual-ritual adat yang biasa dilakukan bersama masyarakat, rindu rumah... Rindu macetnya juga nggak, ya?

Tantangan #2: Ngomong Apa, Sih?

Duh, semoga dia ngerti, deh!

Karena mayoritas dari kita dibiasakan untuk lebih sering menyalin tulisan guru di papan dan menghapal teori pelajaran dibanding presentasi atau public speaking, kadang kita kesulitan mengumpulkan keberanian untuk berani speak up, unjuk diri mengungkapkan buah pikiran kita. Apalagi kalau berbicara menggunakan bahasa asing, aduh, pasti yang kepikiran nanti cuma satu: "Grammarnya bener nggak, ya?". Ketika kamu berada di luar negeri, kadang di keseharian, masyarakat setempat nggak akan mempermasalahkan tata bahasa sejauh omonganmu masih dapat dipahami. Tapi, berbeda dengan di dalam kelas, kita akan harus berjuang sedikit lebih keras untuk memahami perkataan dosen. Untuk mengakalinya, recorder menjadi penyelamat! Hati-hati juga saat presentasi, ya! Tugasmu bertambah: membuat dosen dan teman-teman memahami pelafalanmu yang acapkali tak sempurna karena mungkin ada logat bawaan, hihi.


Tantangan #3: Birokrasi? Oh, no!

Tagihan apa ya, yang belum dibayar?

Mandiri hidup sendirian di luar negeri berarti mandiri juga dalam mengurus berbagai kebutuhanmu. Tak cuma urusan kuliah, kamu pasti harus mengatur urusan tempat tinggal, biaya transportasi lokal, asuransi kesehatan, ijin tinggal, perbankan, dan lainnya. Kadang, sistem negara setempat yang sama sekali berbeda dengan di Indonesia bikin pusing tujuh keliling. Duh boro-boro, di Indonesia aja mana pernah ngurus ginian! Nah, justru hal-hal ini yang akan membuatmu menjadi dewasa dan terlatih dalam menangani berbagai urusan di sektor formal. Jangan sungkan untuk banyak bertanya, ya!


Tantangan #4: Do I belong here?

Next question: how to make friends?

Untuk yang pada dasarnya kurang suka berada di tengah keramaian, mungkin tak akan terlalu jadi masalah. Tapi untuk yang suka heboh-heboh lalu tiba-tiba kamu harus pergi ke negara lain, memulai hidup dari nol lagi, di tengah situasi masyarakat yang baru kamu kenal, duduk di kelas dengan teman-teman setempat yang pemikirannya sangat berbeda denganmu... Wah, siap-siap berubah drastis jadi pendiam untuk beberapa waktu! Kadang kamu akan mulai merasa berbeda dan sulit menemukan teman. Tak apa, tetap jadi diri sendiri, semua hanya masalah waktu, kok! Keterasingan itu hanya muncul dalam pemikiran kamu. Buka diri untuk semua peluang, bergabunglah dalam berbagai aktivitas, dan jangan lupa untuk menebar senyum!


Tantangan #5: Homesick? Timezone?

Thing can't be replaced: family

Meski kadang Ayah suka marah-marah, masakan Ibu kalah enak dibanding makanan di cafe, kakak dan adik hobi jahilin kita, ternyata rumah ngangenin juga hihihi. Itulah, kadang kita lupa mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, dan baru akan kehilangan saat jauh, deh. Untungnya, jaman makin modern, kini ada beragam media sosial yang memiliki fitur video call sehingga kita bisa terus terkoneksi dengan keluarga atau pacar nun jauh disana. Selain itu, kita juga harus berdamai dengan zona waktu. Apalagi kalau kamu kuliah di Eropa atau Amerika, sementara keluarga atau pacarmu ada di Indonesia. Wah, harus pintar-pintar mencari waktu yang tepat untuk menelepon nih! Tak jarang salah satu pihak harus mengalah: bangun lebih awal atau tidur lebih larut, hihi semangat ya!


Tantangan #6: Rumah?

Pulang, enggak, pulang, enggak...

Setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kamu beradaptasi, akhirnya kamu akan mulai kerasan dan menemukan zona nyamanmu yang baru. Tapi kadang masalah tak selesai sampai disitu, pertanyaan selanjutnya malah akan menjadi, "Kangen Indonesia, nggak ya?". Wajar banget kalo kamu kepikiran, apalagi pasti ada banyak pihak yang tanya, "Pulang kapan?" atau malah menyarankan untuk tak pulang sama sekali. Beberapa pihak ini menganggap, negeri yang lebih maju tentu lebih liveable dibanding Indonesia, kamu pun bisa lebih berkembang, karya-karyamu lebih dihargai, apalagi yang akhirnya ketemu jodoh orang setempat. Tenang, godaan itu mengintai semua mahasiswa yang kuliah di luar negeri. Masalah mau kembali ke Indonesia atau tidak, itu adalah pertimbangan pribadi. Toh, dunia di jaman sekarang sudah borderless. Tapi yang harus diingat, Indonesia butuh kita! Jadi, dimanapun kamu berada, usahakan sumbangan tenaga dan pikiranmu tetap untuk tanah air tercinta, ya!

Thursday, November 10, 2016

Tinggal di Lille, Prancis: Studio

Memenuhi kebutuhan primer selama hidup di negara orang, kadang memang tak mudah. Ada beberapa tantangan tersendiri, utamanya saat menemukan kendala berkat adat istiadat yang berbeda antara di Tanah Air dan di tanah perantauan.

Jangan khawatir, jangan pernah. Jangan pernah biarkan tantangan-tantangan menjadi distraction untuk fokusmu.

Saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman saya berburu tempat tinggal, bagaimana waktu itu sangat sulit mencari tempat tinggal yang cocok di hati hingga akhirnya saya super kerasan di tempat tinggal yang kini saya huni.

Sejak awal menyiapkan persyaratan administrasi untuk visa pelajar, saya hanya mencantumkan alamat hotel dan AirBnb sebagai tempat tinggal sementara sebelum mencari tempat tinggal tetap. Ya simply karena saya belum berhasil mendapatkan tempat tinggal yang cocok.

Di Prancis, kemudahan untuk mengakses informasi tentang tempat tinggal sebenarnya membuat kita bisa memesan tempat tinggal hingga sebelum keberangkatan. Ada beberapa jenis tempat tinggal yang biasa dihuni mahasiswa disini: apartemen (bisa berbagi tempat dengan mahasiswa lain), rumah (bisa berbagi tempat dengan mahasiswa lain atau ngekos dalam rumah penduduk lokal), studio (kamar yang berisi lengkap dengan kamar mandi dan dapur), dan asrama mahasiswa (ada yang disediakan oleh lembaga CROUS atau disediakan universitas untuk mahasiswanya). Sama persis seperti di Indonesia. Semua informasi mengenai pilihan tempat tinggal dapat kita akses melalui situs-situs tertentu, di antaranya:
Berbagi tempat tinggal dengan mahasiswa lain?
Biasa disebut dengan colocation, berbagi tempat tinggal bisa jadi alternatif karena menurut saya, kamu bisa belajar bersosialisasi dan berkompromi dengan orang lain, apalagi jika berbagi dengan mahasiswa asli setempat, bisa mengasah kemampuan bahasa juga, kan.

Ada hal lain yang perlu diperhatikan, mengenai garant. Ada beberapa pemilik akomodasi yang memberikan persyaratan bahwa kamu harus memiliki penjamin seorang warga negara Prancis, agar jika ada kerugian materiil terhadap akomodasi yang kamu sewa, bisa dibebankan pada yang bersangkutan. Saat seminar keberangkatan, Campus France mewanti-wanti untuk sebisa mungkin menghindari persyaratan garant ini, biasanya yang meminta syarat garant bukan pemilik pribadi, melainkan agen. Contoh agen yang sering saya lihat plang-plangnya di jalan: Foncia, ORPI, C么t茅 Ville, Promovente, dan sebagainya. Mengenai tarif sewa pun biasanya dipatok lebih mahal.

Itu mengenai tempat tinggal privat atau swasta. Lalu dari pemerintah sendiri, mereka membantu mahasiswa melalui lembaga CROUS dengan menempatkan asrama-asrama mahasiswa (r
茅sidence universitaire), mungkin universitasmu juga menyediakan fasilitas yang sama. Namun biasanya, meski harga sewa terbilang cukup murah, asrama-asrama ini diprioritaskan untuk menampung mahasiswa master atau doktoral, atau mahasiswa-mahasiswa penerima beasiswa. Pengajuan sewa asrama CROUS dibuka pada awal Januari dan ditutup pada akhir bulan Mei tiap tahunnya.

Oke, sekarang pengalaman saya. Saya orang yang sangat fleksibel, namun orangtua saya tidak. Mereka menganggap saya terlalu memandang remeh hal-hal yang menurut mereka penting, sementara saya sebenarnya hanya ingin menghemat waktu dengan langsung eksekusi (yang memang kadang merugikan kalau tak dipertimbangkan matang-matang). Pemilihan tempat tinggal sebenarnya sudah kami lakukan sejak jauh-jauh hari
 sebelum keberangkatan melalui situs-situs yang saya sebutkan tadi, namun tetap saja pada akhirnya orangtua tak merestui pilihan saya yang manapun dengan alasan, "Lebih baik lihat secara langsung", yang menurut saya sangat-sangat amat tidak praktis, karena kemudian, Ayah meminta Bunda untuk ikut mengantar saya ke Prancis karena beliau ingin Bunda bisa memastikan kalau tempat tinggal saya nantinya benar-benar seperti harapan.

(Harapannya. :p)

Tapi ya sudah, saya tak begitu mempermasalahkan hal itu karena toh yang penting kan, jadi berangkat, hahaha (euforia). Mbak Fitria dari Campus France Yogyakarta (yang membantu saya dalam buanyak hal, merci, Mbak!) pun menyarankan agar saya mencari tempat tinggal sementara guna keperluan data visa pelajar, apalagi keberangkatan saya sudah mendekati tanggalnya, tepat pada 13 Agustus. Bunda akhirnya sempat berikrar, "Tanggal 17 Agustus kamu sudah harus dapat tempat tinggal" agar semesta mendukung dan tak membuang waktu kelak di Lille. Bunda juga memesan kamar hotel untuk dua hari setelah kedatangan kami dari Indonesia, dan AirBnb untuk kami tinggali selama lima hari, yang jaraknya mendekati kampus saya, Universitas Lille 2.

(Tuh kan, kalau diantar seperti ini, saya akan cenderung jadi manja karena menyadari bahwa saya akan pergi bersama orangtua yang pasti selalu make sure everything's alright)

Begitu sampai di Lille, saya dan Bunda langsung berburu tempat tinggal, berbekal daftar incaran tempat tinggal, peta kota, dan akses internet seadanya, dimanapun kami bisa menemukan WiFi (waktu itu saya belum beli SIM card lokal). Setiap hari kami naik metro dan berjalan kaki mengelilingi pusat kota, mencari bangunan yang dipasang tulisan 脿 louer (disewakan), bertanya pada agen-agen setempat adakah tempat tinggal yang bisa saya sewa tanpa adanya garant (dan semua menjawab, "Tidak ada"), bertanya pada orang-orang yang kami temui di jalan apakah mereka punya informasi mengenai tempat tinggal yang disewakan, pergi ke CROUS di ujung kota untuk menanyakan ketersediaan kamar (dan kembali pulang dengan tangan hampa karena sulit untuk mereka menyediakan kamar bagi mahasiswa sarjana tanpa beasiswa), hingga ada satu hari dimana kami benar-benar harus berhemat karena bekal uang menipis (sampai-sampai merasa sayang jika harus mengeluarkan uang untuk beli karcis metro meski harganya tak sampai 2 euro satuannya). Bunda waktu itu sampai mengatakan, "Hari ini kita harus jalan kaki karena tak ada uang lagi", dan benarlah kami sepanjang hari itu berjalan kaki hingga entah berapa kilometer jauhnya mengelilingi pusat kota Lille.

Sebenarnya, apa yang membuat saya sangat sulit mendapatkan tempat tinggal waktu itu?
Yang pertama, jelas. Kecocokan dengan tarif sewa. Saya sangat idealis dengan hal ini, awalnya bahkan saya mematok target tak lebih dari 250 euro untuk tarif sewa bulanan, yang mana ternyata sangat mustahil. Kedua, akses dengan fasilitas publik termasuk juga tempat perbelanjaan dan halte. Ketiga, jarak dengan kampus. Keempat, lingkungan sekitar tempat tinggal. Lille, mirip seperti Yogyakarta, dihuni oleh beragam jenis penduduk. Disini ada banyak sekali mahasiswa pendatang dan imigran dari negara-negara yang sedang berperang. Itulah mengapa, faktor keamanan menjadi prioritas orangtua saya.

Akhirnya tiba juga tanggal 17 Agustus 2016, saya tak begitu ingat dengan ikrar Bunda saya, sebenarnya. Namun ketika akhirnya saya melihat sebuah iklan di situs Appartager, dengan kriteria-kriteria yang memadai seperti keinginan saya, saya langsung tahu, "This is it".

Sore di hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, saya dan Bunda mampir menuju alamat yang diberikan oleh pemilik, yang sudah saya kontak sebelumnya. Ternyata tempat tinggal ini terletak di atas toko roti, berupa studio (kos-kosan, kalau di Indonesia), dan merupakan bangunan baru dengan dinding yang dicat bernuansa merah muda! Harga studio yang saya taksir relatif murah, 300 euro per bulan (belum termasuk potongan bantuan tempat tinggal dari pemerintah melalui lembaga CAF) untuk kamar seluas 12 meter persegi, dengan perabotan lengkap, fasilitas listrik, pemanas, dan air. Istilahnya, saya tinggal bawa badan saja, hehehe. Bapak pemilik dan bapak penjaga kost sangat teramat ramah dan welcome, tercermin dari fisik bangunan dan studio saya yang terawat, nyaman, bersih juga, fasilitas dalam studio mulai dari kasur, bantal, hingga panci dan peralatan makan pun sudah tersedia lengkap.

Teman-teman dalam satu kost (yang sangat multi etnis; ada orang India, Tiongkok, Rusia, Amerika, Turki, selain saya yang orang Indonesia) juga saling menghargai, sadar diri untuk tak membuat keributan yang berarti. Ada 15 kamar disini, terdiri atas tiga lantai, kamar saya di lantai pertama di atas toko roti (yang setiap pagi selalu menjadi tantangan tersendiri untuk saya karena bapak ibu pemilik roti sangat rajin, sudah mulai memasak sejak pukul lima pagi, menguarkan bau harum adonan ke seluruh penjuru kost).

Saya senang disini? Tentu! Meski pada awalnya, kakak-kakak PPI Nord Pas de Calais mengatakan bahwa daerah sekitar tempat tinggal saya rawan keributan, sejauh ini saya sangat menikmati hari-hari disini karena kekhawatiran mereka tak terbukti (semoga tak akan pernah, hehehe).

Fasilitas kamar studio yang lengkap membuat saya kerasan, apalagi perabotan dapur juga sangat memadai: microwave, kompor listrik, kulkas, ketel listrik, panci-panci, piring-piring, sendok, garpu, pisau, lemari penyimpanan makanan, semua disediakan Bapak Kost, membuat saya jadi gemar memasak semenjak tinggal disini, hehehe.

Jarak kost dengan halte metro pun hanya 100 meter jalan kaki, di dekat kost pun ada pasar dadakan yang rutin buka tiap minggu, warung kelontong seperti di Indonesia (keluarga penjual yang asli Maroko pun sudah hafal dengan saya, hahaha), dekat dengan gereja, dekat dengan halte bus, terletak di seberang kantor administrasi desa, tak sampai 200 meter menuju bank dan kantor pos, dan kawasan restoran cepat saji seperti Pizza Hut dan kebab. Mau ke kampus, mall, atau pasar gede pun hanya 10 menit dengan naik metro.


So livable. So grateful...

Tinggal sendiri dalam studio membuat saya jadi lebih mandiri dan mengerti kapan saatnya membersihkan kamar, mencuci baju dan piring, membuang sampah (karena truk sampah hanya lewat pada hari tertentu), ya intinya jelas jadi lebih mandiri dan berusaha makin mengatur hidup.






Monday, November 7, 2016

Asyana Bicara: Ilmu Parenting

Bukan karena sebagai seorang perempuan saja, lalu saya memiliki concern pada bidang tumbuh kembang anak dan remaja, namun juga sebagai seorang mahasiswi yang bercita-cita untuk kelak ambil bagian dalam diplomasi kenegaraan. Jauh sebelum saya menemukan keterkaitan antara dua bidang ini, saya terlebih dulu dicekoki beragam pengetahuan mengenai dunia anak dan remaja oleh lingkungan sekitar saya, mengingat Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus wanita karier, yang berarti memiliki dua sudut pandang berbeda sebagai seorang perempuan, yang beberapa pemikiran dari kedua sudut pandang tersebut sering diceritakannya pada saya sebagai anak perempuannya. Mirip seperti kalimat mutiara,
When you teach your son, you teach your son's son. (The Talmud)
Karena beliau percaya, perempuan mengemban tongkat estafet pendidikan generasi penerus baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat, yang tentu akan berdampak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlihat terlalu 'wah', tapi prinsip saya, sama seperti yang dikatakan Johnetta Cole, seorang antropolog perempuan berkebangsaan Amerika Serikat,
When you educate a man, you educate an individual. When you educate a woman, you educate a whole family.
Sementara pengetahuan di bidang ilmu sosial, politik, hukum, dan hak asasi manusia yang menjadi concern saya lainnya, saya dapatkan dari beragam lapisan masyarakat. Entah melalui perjumpaan dengan kawan-kawan semasa sekolah (yang mayoritas memilih ilmu sosial sebagai bidang studi lanjutan mereka di perguruan tinggi), menyimak perbincangan kedua orangtua saya di meja makan (mengingat mereka sangat terbuka dan obyektif dalam berpendapat), hingga ketika saya masih tinggal di Yogyakarta dan hampir tiap bepergian selalu naik kendaraan umum, seringkali mendapat cerita atau curhat dari bapak sopir taksi, bapak pengemudi ojek, tukang becak, dan lain-lain. Berbagai sudut pandang mengenai ilmu sosial ini memperkaya pemikiran saya dan membuat saya makin penasaran, bagaimana caranya mengurai keruwetan birokrasi yang telah diwariskan turun temurun dari pemerintahan dan kebiasaan masyarakat di kurun waktu sebelumnya.

Hingga akhirnya saya berulang kali diusik oleh pemikiran yang sama: kuncinya ada pada andil generasi penerus. Lalu, siapa yang menyiapkan generasi penerus ini nantinya? Karena saya seorang perempuan, saya berani menjawab, "Perempuan dan Ibu di masa kini". Melalui apa? Ilmu parenting.

Perkembangan suatu negara tak lepas dari ilmu pengasuhan dan pendidikan anak atau yang lazim disebut dengan ilmu parenting, yang semestinya diketahui meski secara mendasar, oleh orang-orang dewasa yang ingin memiliki buah hati. Memang benar, ilmu tak pernah sepenuhnya kita didapatkan dari bangku formal, begitu juga dengan ilmu parenting, yang justru pembelajarannya akan terus berjalan hingga buah hati menjadi manusia dewasa nantinya. Namun, saya pikir kesiapan orangtua akan tercermin dengan kemauannya mempelajari ilmu parenting sebelum memiliki buah hati, mengingat seorang anak (semestinya) bukanlah sekadar ahli waris atau penerus keturunan, namun juga individu yang memiliki hak dan kewajiban sejak dari dalam kandungan. Memiliki buah hati bukan hanya menjadi kebanggaan, namun di dalamnya juga terkandung tanggung jawab seumur hidup. Saya tak hanya bicara mengenai agama (yang mayoritas menyebutkan bahwa buah hati adalah tabungan dunia akhirat bagi orangtuanya), namun juga tanggung jawab moral terhadap dunia. Anak akan menjadi warga dunia, baik buruk perilakunya akan mempengaruhi kehidupan di dunia, bahkan efek rumah kaca, krisis ekonomi dunia, kejahatan-kejahatan internasional, dan perang pun, saya rasa muasalnya dari kelalaian keluarga dan orangtua. Jika pendidikan dan tumbuh kembang anak dalam keluarga dapat selalu dipertanggungjawabkan oleh orangtuanya, maka bukan tak mungkin perdamaian dunia tercapai.

Terlalu berat? Hahaha, sayangnya, itu realita yang ada. Jadi, dikira menjadi orangtua itu mudah? Tak juga, kan. Tak hanya perkara merencanakan program memiliki anak, lalu mampu menyekolahkan anak, memberinya makanan bergizi, lalu beres. Tapi tenang, tak pernah ada orangtua yang sempurna di dunia ini, manusia adalah makhluk yang hakikatnya terus belajar, kok.

Jadi, menurut saya, ketika kita berbicara tentang anak, kita bicara mengenai dua hal. Yang pertama adalah optimisme mengenai masa depan bangsa. Hal yang paling menggembirakan dalam hidup saya, adalah realita bahwa saya dilahirkan pada era dimana ilmu pengetahuan dan teknologi sedang berkembang dengan pesat-pesatnya. Ada banyak celah yang bisa dimanfaatkan oleh generasi penerus untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Karena, seperti yang diceritakan oleh orangtua saya, pada jaman mereka dulu tak banyak yang bisa dilakukan untuk mengembangkan diri secara maksimal jika mereka terbentur oleh situasi pada saat itu, entah karena faktor ekonomi maupun politik yang cenderung belum stabil. Namun kini, hidup seakan tak memiliki batas. Entah apapun ragam profesi dan dimanapun keberadaannya, generasi kini semakin mungkin untuk mendobrak batas-batas yang menghalangi pengembangan dirinya, semua hanya masalah kepandaian untuk mencari celah dan memanfaatkan peluang. Di kota kelahiran saya, Yogyakarta, kini ada banyak sekali manusia kreatif yang berkumpul membentuk komunitas-komunitas dalam berbagai bidang: pendidikan, kesehatan masyarakat, bantuan hukum, pelestarian seni dan budaya, dan lainnya. Tak hanya di Yogyakarta, di kota-kota lainnya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, mulai keras digaungkan komunitas yang berbasis pada kaki-kaki kerakyatan, dan lebih jauh ada pula sistem ekonomi yang menggerakkan seluruh lapisan masyarakat mulai dari hulu hingga hilir, salah satunya adalah sociopreneurship.

Selain itu, ada pula peluang-peluang untuk mulai menapakkan kaki di dunia internasional dengan jauh lebih mudah dibanding pada jaman generasi-generasi sebelumnya. Tak seperti jaman Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie, yang sewaktu melanjutkan kuliah di Jerman sarat dengan perjuangan yang tak hanya melingkupi permasalahan akademis tapi juga kesulitan dalam komunikasi dengan keluarga di Indonesia atau bahkan tekanan untuk tetap bertahan hidup dalam situasi finansial yang tak selalu menjanjikan. Kini, peluang makin terbuka untuk para mahasiswa dari berbagai bidang, tak hanya ilmu sains dan teknologi, tak melulu harus selalu jadi nomor satu. Yang tak terpintar pun mampu, karena penting adalah mau. Pemberi beasiswa kini tak hanya melihat IQ atau nilai teori pada kertas, namun juga kemampuan mengembangkan diri dan kemampuan sosial komunikasi si calon penerima beasiswa. Karena manusia modern makin menyadari, tak bisa seorang individu dianggap cerdas mutlak atau bodoh mutlak hanya melalui satu bidang ilmu saja. Manusia-manusia modern juga mulai mengerti, bahwa tolok ukur sukses tak selalu mengenai jabatan. Dulu, sedari jaman kakek nenek dan orangtua saya, yang paling dianggap sukses adalah para pegawai negeri sipil: dengan gaji yang selalu cukup dan kelak adanya dana pensiun. Namun kini, arti sukses makin melebar, memasuki ranah passion dan kebahagiaan individual yang dulu jarang sekali digarisbawahi.

Namun selain optimisme, timbul pula dalam hati saya sebuah kekhawatiran, utamanya mengenai sistem yang telah berjalan saat ini, baik yang dapat ditemukan dalam pemerintahan maupun kebiasaan dalam masyarakat. Kekhawatiran ini muncul ketika banyak anak muda yang belum mampu memanfaatkan peluang-peluang yang saya sebutkan di atas tadi untuk kebermanfaatan bagi diri sendiri maupun sekitarnya, namun malah justru melakukan hal-hal yang merugikan, membuang waktu, dan sebagainya.

Saya yakin sejuta persen, anak-anak itu seperti sponge. Mereka menyerap ilmu dengan cepat dari lingkungan, utamanya tentu orangtua atau keluarga, yang pertama kali mengajarkan mereka untuk menjadi baik atau tak baik.

Orangtua atau keluarga, tak melulu mengenai hubungan darah (yang sering digambarkan sebagai keluarga bahagia: Ayah, Ibu, kakak laki-laki, dan adik perempuan, hahaha klise betul!). Karena sudah kerap kita mendengar kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tak hanya melibatkan pasangan orangtua tapi juga dari orangtua kepada anak yang sedarah. Tentu sangat mencederai peran keluarga pada dasarnya: sebagai pelindung dan pemberi kasih sayang pada masing-masing anggota.

Lalu, siapakah orangtua yang saya maksud?

Yang pertama tentu mereka yang memiliki hubungan batin terdekat dengan si anak. Hubungan batin. Kebersamaan. Kehangatan. Hal-hal ini akan membentuk karakter anak menjadi penyayang dan pemerhati, bukan tak mungkin akan membuatnya peka terhadap lingkungan sedari dini; sifat manusia yang dibutuhkan oleh dunia akhir-akhir ini. Mereka yang memiliki hubungan batin terdekat dengan si anak (entah orangtua kandung, orangtua angkat, orangtua asuh, wali, ibu pengelola yayasan panti asuhan, ibu pengelola panti rehabilitasi, you name it) bertanggung jawab paling utama dalam pengembangan karakter anak. Yang menentukan apakah pertanggungjawaban ini dilakukan dengan baik, akan tercermin nantinya pada si anak saat ia memasuki lingkungan masyarakat: saat dia mulai memeluk keyakinan, saat bermain dengan teman sebaya, saat berkomunikasi dengan beragam lapisan masyarakat, dan sebagainya. Jadi, jika basic morals telah didapat dengan baik dari keluarga, anak tak akan mudah terpengaruh kualitas buruk dari lingkungan masyarakat sekitar (bukan tak mungkin, hanya lebih memiliki tameng yang lebih kuat). Tapi jikalau pondasi awal dari keluarga tak kokoh, menurut saya, anak akan jadi lebih mudah mendapatkan pengaruh dari dunia luar, entah itu baik maupun buruk.

Lalu, siapa lagi pihak yang memiliki tanggung jawab sebagai orangtua?

Kita semua.

Ya, kita semua.
Saya masih single, masih berumur 19 tahun, belum (ingin) menikah, masih jauh dari prestasi-prestasi cemerlang, tapi saya adalah orangtua bagi anak-anak di seluruh dunia. Anda mungkin seorang wanita karier yang tak pernah memikirkan untuk hidup berkeluarga, tapi terimalah kenyataan, anda adalah orangtua bagi anak-anak di seluruh dunia, sama seperti saya. Anda mungkin seorang Ayah dengan lima orang anak, tapi anak-anak di seluruh dunia juga anak anda, lho, sadarkah? Halo, teman-teman mahasiswa yang mungkin sedang baca post ini, kalian juga sudah menjadi orangtua lho, bahkan sebelum kalian menyelesaikan skripsi, sadarkah?

Kita adalah orangtua bagi anak-anak di seluruh dunia...
Mereka melihat apa yang kita lakukan.
Mereka menyimak segala yang kita katakan.
Mereka meniru semua yang kita perbuat.

Lalu, apakah yang telah kita lakukan, kita katakan, dan kita perbuat itu layak mereka jadikan panutan? Atau kita, sebagai orangtua, masih terlalu egois memikirkan dunia ini milik kita seorang, generasi kita, dan orang-orang kita, tanpa pernah kita sadari bahwa dunia kelak akan diestafetkan pada mereka generasi penerus? Anak-anak kita?

Jaga perkataan, jaga perbuatan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Ingat,

Kita semua adalah orangtua.

Jika tak mampu mendidik, setidaknya jangan merusak.
Jika tak mampu ikut bertanggungjawab, setidaknya jangan mencela.
Jika tak mampu berbuat baik dan menjadi panutan, lebih baik diam.



Lille, 07 November 2016
11:26 PM