Monday, December 29, 2014

Kadang kita menyebutnya bukan kepura-puraan. Kita hanya berusaha menjadi dewasa dan menempatkan diri sebagaimana mestinya. Kebahagiaan sesuai porsinya, kesedihan sesuai takarannya, kesuksesan sesuai hakikatnya.
Tapi di samping sikap profesional dan manajemen perasaan yang baik, jauh lebih menyenangkan menjadi anak kecil, sepertinya. Tanpa kepura-puraan, melakukan hal apapun tanpa terbebani, tanpa memikirkan mana saja yang boleh dan tidak boleh. Bahagia adalah bahagia, titik.
Namun semestinya kita sadar. Tak selamanya kita menjadi anak kecil, yang duduk diam dalam satu waktu. Waktu terus berjalan dan kepiawaian kita menata hati diuji. Kapan saatnya kita bekerja keras dan kapan saatnya kita meregangkan diri... belajarlah membedakan.

Saya masih butuh waktu dan NIAT untuk melakukannya.

Friday, November 28, 2014

Puyeng deh kalo liat ada kesalahan apa-apa, nudingnya pasti ke pemerintah. Padahal gini, dinalar aja. Negara kita tuh luas banget, Sabang sampe Merauke, kalo mereka yang di atas aja yang majuin, kapan kelarnya? Ya kita jadi rakyat juga bantu, jangan cuma nuntut-nuntut mulu. Iya sih gaji mereka dari pajak kita, tapi negara ini jelas lebih butuh banyak aksi dari rakyatnya.
Coba kalo kita majuin negara ini sama-sama, di berbagai sektor, sesuai kemampuan masing-masing. Pelajar ya belajar bener ga usah demo-demo, biar indeks prestasinya bagus dan menghasilkan generasi muda berkualitas. Ibu-ibu rumah tangga ya menciptakan atmosfer lingkungan rumah yang baik. Bumbu dapur tanem sendiri, pake bahan organik selalu buat meminimalisir penyakit, masak di rumah aja biar hemat, kurangin nonton infotainment dan berita-berita kriminal. Yang berkarier atau profesional ya kerjanya pake hati, pake cinta, jujur, ga boleh pamrih.
Kalo rakyat kita semua mindset dan auranya positif, ga perlu lagi kok nuntut ini itu sambil marah-marah sama pemerintah. Dilihat lagi aja ke dalem diri masing-masing: saya udah bener belom yah kerjanya? Udah maksimal dan ikhlas belom yah? Udah jadi alasan buat orang lain tersenyum belom?
Sekali lagi, masalah BBM ini kan sebenernya bikin kita kreatif dan lebih mengutamakan produksi daripada konsumsi. Diajak inovatif masa ga mau? Bentar lagi MEA 2015 loh hehehe.

Eh btw ini kaosnya unyuuuuuu, ada yang mau beli? Wkwkwk :p

Happy weekend ya semua, be bright, be positive, be you! :)

Monday, November 24, 2014

selamat hari guru 2014

Sedikit cerita lagi tentang impian masa kecil saya, tapi berbeda dengan cita-cita menjadi demonstran, cita-cita yang ini masih keukeuh bertahan di hati saya sejak kecil.

Bertemu dengan banyak orang dalam hidup, saya maknai bukan sebagai sebuah kebetulan. Dan orang-orang ini, adalah bagian terbaik dari hidup saya, membentuk karakter dan pemahaman saya tentang hidup. Mereka ambil bagian dalam mencetak generasi penerus yang cemerlang, dan saya percaya: mereka lebih dari sekedar pahlawan tanpa tanda jasa.

Guru, dalam Bahasa Sansekerta, berarti penghancur kegelapan.

Butet Manurung adalah idola saya sepanjang zaman, saya mengenalnya ketika membaca majalah Bobo sewaktu SD. Realita mengantarkan Butet untuk mengajar anak-anak Suku Anak Dalam, dan ini membuka mata saya bahwa bukan hanya anak-anak di kota saja yang memerlukan pendidikan, tapi juga mereka yang tinggal di pelosok negeri.

Pun juga Anies Baswedan & Ki Hajar Dewantara. Kejujuran yang diajarkan oleh Kak Anies dan konsep nguwongke uwong (memanusiakan manusia) oleh Ki Hajar Dewantara mengajarkan saya bahwa ilmu bukan hanya tentang teori di dalam kelas, tapi juga tentang bagaimana kita belajar di sekolah kehidupan: tentang moral, etika, dan akhlak.

Saya ingin sekali menjadi seperti mereka, yang menginspirasi dan memperkaya ilmu pengetahuan anak-anak Indonesia. Agar mereka berani bermimpi setinggi-tingginya, agar mereka tahu bahwa dunia ini luas dan selalu ada kesempatan untuk melihat keluar.

Have a great day, selamat hari guru untuk esok hari.

Wednesday, November 19, 2014

renungan macet

Sedikit teringat pada suatu masa ketika saya masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanan, seorang ibu guru bertanya mengenai cita-cita saya di masa depan, dan tanpa ragu saya menjawab, "Jadi mahasiswa! Biar bisa demo!"

Dua belas tahun berlalu, cinta saya pada tanah air semakin menguat, dan Soe Hok Gie akan selalu jadi inspirasi saya sampai kapanpun. Tapi sepertinya impian masa kecil saya untuk menjadi seorang mahasiswa pendemo tidak akan dan tidak mau saya wujudkan karena kedewasaan menuntut saya untuk memberi solusi nyata dan menjadi seorang wirausaha muda adalah salah satu jalannya.

Jadilah terang saat yang lain masih sibuk merutuki kegelapan. Jadilah pembeda saat yang lain masih menolak dan malu-malu jadi inspirasi. Karena yang terbaik adalah menjadi bagian dari perubahan, bukan menuntut perubahan.

*tulisan singkat di tengah-tengah kemacetan Jogja karena demo anti kenaikan harga BBM*

Saturday, October 18, 2014

why we should love and respect ourselves first

People commonly say, "Respect others, help others, love others. These are the keys taht unlock our soul".
But my mom teaches me to respect, help, and love myself first for everything that I am. Because if you don't love yourself, how can you expect someone else to?
Buddha said, "You, yourself, as much as anybody in the entire universe, deserve your love and affection. If you truly loved yourself, you could never hurt another".
And btw while I'm writing this blog post, I also wait for the newest book of Dewi Lestari titled "Gelombang", which is the newest sequel of Supernova.
And I'm trying to hold on with these sniffles.




Saturday, October 11, 2014

sore ini, saya berbicara tentang keyakinan

sore ini, saat ini,
saya duduk di samping jendela di Snap Cafe dengan segelas Vanilla Oreo, french fries, dan fruit salad. menunggu rere untuk ketemu setelah saya melewatkan pesta ulang tahunnya minggu lalu.

sore ini, saat ini,
saya tiba-tiba teringat sesuatu. beberapa waktu lalu, saya sempat bertanya pada beberapa teman melalui social media ask.fm tentang perbedaan agama dalam menjalin hubungan. beberapa teman menjawab tidak masalah, namun ada juga yang mengembalikan pertanyaan saya, "selama masih bisa sama yang seiman, kenapa harus sama yang berbeda?"

sore ini, saat ini,
saya menyadari. sangat mungkin terjadi dalam suatu hubungan, dua belah pihak berbeda agama namun satu keyakinan. keyakinan... menurut saya berbeda dengan agama.
"Keyakinan adalah suatu sikap yang ditunjukkan oleh manusia saat ia merasa cukup tahu dan menyimpulkan bahwa dirinya telah mencapai kebenaran." - Wikipedia
sore ini, saat ini,
saya mempertanyakan satu hal: apakah bisa kita memiliki agama yang berbeda, namun satu keyakinan? saya rasa bisa. saya dan arsha sedang membuktikan hal itu. kami saling memilih sebab kami tahu, kami berada di jalan yang sama. mencari perbedaan di antara kami berdua, tentu sangat banyak anda dapat temukan. tapi kami memiliki pandangan yang sama dalam beberapa hal mendasar dan ini membuat saya yakin, bahwa berkomitmen untuk bersama bukan berarti harus menyamakan segala-galanya, termasuk menyamakan hal-hal agamis. saya mendukung dia untuk melaksanakan ajaran agamanya, dan begitu pula dengan arsha. selama kami memiliki kepercayaan maupun keyakinan yang sama, saya rasa... perbedaan agama bukanlah suatu masalah.

sore ini, saat ini,
saya mulai memahami. berjalan meninggalkan masa lalu adalah cara kita untuk mensyukuri apa yang kita miliki sekarang. dan saya beryukur telah menemukanmu.


Tuesday, October 7, 2014

konsep tentang masa sekarang

ibu saya selalu berujar bahwa manusia semestinya hidup dengan apa yang ada sekarang. bukan di masa lalu, dan bukan di masa depan. fokus dengan masa sekarang. 
masa lalu ada, untuk dijadikan bagian dari proses belajar. dan masa depan, termasuk juga di dalamnya mimpi-mimpi, ada untuk dijadikan guideline dalam hidup. menurut saya, dengan fokus dan menapak pada hidup yang sedang berlangsung, akan membawa kita pada esensi sebagai manusia. jangan sampai ada pepatah "urip kuwi mung mampir ngombe" (hidup hanya untuk mampir minum). hidup lebih dari itu... saya ingin kontribusi saya untuk dunia jumlahnya lebih banyak ketimbang jumlah kritik saya. saya ingin dikenang bukan hanya sebagai Scholastica Asyana Eka Putri Prasetio, tapi juga akan karya nyata saya. akan sumbangsih saya.
fokus pada diri sendiri itu penting, saya mulai belajar banyak setelah mulai yoga. sebagai tanda syukur, buat saya. dalam yoga, menggerakkan jari pun harus dilandasi dengan rasa syukur dan ikhlas, konsentrasi penuh. ini mengajarkan saya bahwa jika hal terkecil sekalipun harus diperhatikan, apalagi dengan hal-hal besar. fokus dengan diri sendiri mengajak saya untuk menemukan esensi sebagai manusia.
bertapak pada masa sekarang, tidak perlu menyesali masa lalu dan mencemaskan masa depan. dalam hubungannya dengan ajaran agama, tuhan mana yang tidak menjanjikan akhir yang indah dalam kehidupan umat manusia? semesta tidak pernah jahat, ia selalu memberi apa yang kita butuhkan. jadi, untuk apa mencemaskan masa depan


Monday, October 6, 2014

listening is caring

secara alamiah, manusia selalu ingin didengarkan dan diperhatikan. begitupun juga saya, dan orang-orang di sekitar saya. itulah kenapa kadang saya bingung juga... orang banyak bicara kaya saya gini masih dipercaya sama orang-orang terdekat buat tempat curhat dan lain-lain dan lain-lain :") dari kecil sepertinya saya sering dicurhatin, dari masalah keluarga teman-teman saya di rumah sampai hal sepele yang paling sering dicurhatin, masalah cinta kali ya hahaha. tapi saya masih suka mikir juga "apa ya hidup saya udah se-stable itu dan saya harus jawab apa kalo ada yang curhat masalah ini?". ternyata, semakin kesini saya semakin sadar, kalau saya nggak mesti memberi usul sama orang-orang untuk masalah yang mereka hadapi, karena pada kenyataannya, jawaban yang mereka cari sudah ada dalam nuraninya masing-masing. kebahagiaan dan pilihan ada di tangan mereka, tugas saya hanya mendengarkan, dan sebisa mungkin mengarahkan mereka untuk memahami hati nurani nya sendiri.
hidup saya nggak sebaik yang dilihat orang. tentu ada masalah dan kondisi dimana saya pernah di bawah, nggak mau melakukan apa-apa, dan lebih berminat untuk mengurung diri di kamar. tapi, apa ya, kejadian itu langka sekali dan bahkan jarang terjadi. saya nggak pernah memperlakukan suatu masalah sebagai masalah, tapi sebagai partner untuk menapaki proses kehidupan sebagai manusia. berat euy. ku jadi maloe :))
ya memang kok, masalah kok dipikirin, kegeeran banget ntar dia :(
nah mungkin ini yang sering dilihat sama kawan-kawan saya, dan membuat mereka percaya kalau saya dapat jadi pendengar yang baik. well, saya nggak sebaik itu juga sebenernya :p saya kan hanya melakukan apa yang memang seharusnya dilakukan oleh seorang manusia: memanusiakan manusia lain. melakukan hal yang lazim aja dianggap sebagai suatu yang istimewa ya, jaman sekarang :p
mostly, kawan-kawan saya suka cerita tentang masalah akademis dan percintaan (hoam). bikin ketawa banget emang. akademis saya aja parah banget, saya bahkan masih bimbang mau lanjut kuliah apa break sementara. percintaan saya juga apa banget, saya mah nggak picky, yang penting nyaman aja, udah, selesai. (dan entah kenapa semesta ini, tapi saya ya selalu nyantol sama yang saya kagumi. lucky me? hahaha #ehmaap :p) tapi ada juga sih yang curhat ke masalah yang bener-bener serius. ada yang pernah cerita dia dibully dan sering mikir buat suicide, ada juga yang cerita tentang orang tuanya yang berantem terus, ada juga yang hobby cerita malem-malem sambil nangis-nangis tentang pilihan hidupnya yang berat... unik-unik pokoknya. dan kadang bikin saya kaget juga, apa yang terlihat di permukaan ternyata beda sama apa yang mereka rasain di dalamnya.
"siap dichat malam-malam dan menerima konsultasi hingga dini hari", itu yang selalu kawan-kawan bilang tentang saya. ya memang kok, mereka mau cerita kapan aja, jam berapa aja, saya siap mendengarkan, kalau itu memang membuat beban mereka terasa lebih ringan. saya percaya kok, bantuan sekecil apapun akan berguna untuk mereka yang membutuhkan. apalagi hanya dengan menyediakan telinga, hati, dan sejenak waktu saya, masa nggak sanggup?
have a nice day! ;)

"The most basic and powerful way to connect to another person is to listen. Just, listen. Perhaps the most important thing we ever give each other is our attention" - Rachel Naomi Remen

Sunday, October 5, 2014

Shortest trip ever: Dieng!

Menyadari sepenuhnya bahwa saya terlahir di tengah-tengah keluarga traveler, akhirnya kelamaan saya paham juga kalau orangtua saya tidak bisa berlama-lama menjalani rutinitas tanpa menyelinginya dengan bepergian jarak jauh. And here I am: Dieng Plateau!
Cukup gila sebenarnya dengan perencanaan yang tidak matang dan persiapan yang serba mepet. Sewaktu hari Kamis, ayah pulang kerja dan meminta kami untuk menyiapkan bekal dan pakaian secukupnya, karena akhir pekan akan dihabiskan di Dieng. Merelakan beberapa jadwal yang telah disusun masak-masak sebelumnya, akhirnya saya menyanggupi dan berjanji dalam hati untuk menikmati perjalanan nanti, betapapun menyesalnya saya terutama karena tidak bisa hadir di pesta ulang tahun sahabat yang paling saya sayangi. Sempat kesal juga karena sempat ada perubahan rencana yang tadinya mau berangkat Jumat malam malah jadi Sabtu pagi :") Tapi tidak apa, akhirnya hari Jumat saya habiskan bersama Arsha.
(((tapi ternyata kepergok banyak orang)))
(((tapi gapapa)))
(Terima kasih banyak ya sudah buat saya tertawa lagi )


Kalo lagi suntuk di jalan ngapain? Yang satu tidur, yang satu selfie.
Perhentian pertama... antara Parakan dan Temanggung. Eh nemu hidden paradise as known as tempat ngopi bermutu. Kenapa aku bilang bermutu? Karena dia jual robusta eh, di Parakan ada robusta eh :') Terharu. Namanya SiGandoel. Aku pun menemukan Matcha Latte yang creamy abiz dan ga terlalu maniz. Ku bahagia. Lalu ku makan tempura. Tumben Na ga otak-otak? Izh tau aja si. Iya e, otak-otaknya abis :(
Ini loh tempat ngopi asiknya... Sigandoel apa ya kalo ga salah. Selepas Parakan pasti nemu kok.



Hot chocolate

Matcha Latte.
Antara nyangka ga nyangka di pelosok gini ada matcha enak banget :( Creamy, ga terlalu manis... pas banget pokoknya. Nagih!


Di sepanjang jalan... cuma ketemu sama perkebunan, perkebunan, dan perkebunan. Bosen sih, tapi kadang ngerasa terharu juga kok bisa Indonesia (baru Wonosobo loh ini) punya perkebunan yang seluas dan sekaya ini. Pantes banyak orang luar yang mupeng :')






Pertama nyampe Dieng, kita langsung ke gardu pandang. Sebenernya ga terlalu jelas karena kabut lumayan tebel, tapi aku senanggg. Karena udaranya di atas tuh bersih dan baik untuk pernafasanku.



Selalu ada sate di tempat dingin. Godaan banget kalo si bapak tukang sate mulai ngipas-ngipasin padahal yo gak ada yang beli :p
Abis dari gardu pandang, kami sekeluarga ke Dieng Plateau Theater. Disini kami nonton dokumenter tentang Dieng dan makan kentang goreng which is the icon dari Dieng :9 Juicy kentangnya, mungkin karena selalu fresh dan... pengaruh laper hahaha. Selain makan dan nonton, beruntung banget aku bisa ketemu sama adek kecil yang rambutnya gimbal, anak dari si bapak ibu penjual kentang goreng. Aku sempet ngira ini anak ga pernah mandi apa gimana... terus kelamaan aku sadar, "Sik... kayaknya ada mitos gimbal itu deh tapi di Bromo apa Dieng ya?". Jadi ternyata, di Dieng itu ada suatu tradisi khas dimana ada anak dalam sebuah keluarga yang bisa jadi rambutnya gimbal. Ga mesti sejak lahir sih, tapi biasanya pas udah rada gede dan diawali dengan panas tinggi. Ibu kentang goreng cerita, kedua anaknya gimbal semua. Yang kedua ini dulu panas tinggi selama semingguan, dan sembuhnya ya pas gimbalnya udah keluar. Katanya ga boleh dipotong kalo anaknya belom minta. Anaknya yang pertama (sekitar umur 7 tahunan kalo aku liat sih wakaka #soktau) dulu juga gimbal tapi udah dipangkas dan cukur rambutnya itu pake upacara. Yang paling menyenangkan dari sisi aku sebagai seorang anak sih... pas upacara itu, si anak boleh minta apa aja sama orang tua nya :p Kalo si anak pertama minta 3 ayam sama ikan yang banyak, nah anak yang kedua yang baru umur 1,5 tahun ini minta 10 ayam sama 10 ikan. Berabe kalo minta nya macem2:)) Oh iya, aku juga baru nyadar kalo penduduk di Dieng ini pipinya kemerahan semua kaya orang Eskimo :3







Setelah dari Dieng Plateau Theater, kami mampir ke... Kawah Sikidang! Nah baunya ini loh Ano sama ayah rewel mulu nyampe maskernya pada didobel. Aing mah sante ae. Terus disini juga banyak yang jual cabe dieng. Kata ibunya yang jual sih pedesnya nampol di mulut doang, jadi ga bikin sakit perut. Tapi entahlah... saya lupa beli :( Banyak yang jual carica juga, nah ini saya beli yang udah jadi. Lima ribu segelas. 

Itu cabenya yang warna merah-ijo-oranye atas
Yang bawah itu kentang kecil-kecil khas Dieng

(((KEBIBIR)))

Eksotis sekali, dan saya suka komposisi warnanya
#apeu

Hitz! Mah kaya di Padang Arafah ga si? #abaikan

Keliatan kan mana yang anak kota dan anak adventure? Saya yang adventure, maksudnya.

Udah tereak2 "Dad me want to ride pony!" di deket abang kuda nya, eh malah ga dibolehin. Malo3 abiz-_-

Yea, sekalian #OOTD:
- INA jersey (Fanani)
- Classic batik bag (Little Luna)
- Union Jack leggings (Forever21)
- Batik shoes (Little Luna)


Setelah dari Kawah Sikidang, kami ke...





TELAGA WARNA!
Yeay, meski tiketnya rada-rada (buat lokal 7k dan buat asing 100k, NYAHAHA), tapi overall tempatnya asik buat foto-foto... kalo lebih dirawat lagi. Yakali ada orang ngerokok, bakar sampah, dan buang sampah disini :( Ku sedih.










Akhirnya, setelah tepar dan lempoh ini dua kaki... kami lanjut turun Dieng menuju Kota Wonosobo dan nginep di Hotel Surya Asia, yang katanya hotel paling bagus. Tapi tetep sedih karena ga sesuai dugaan dan ga sesuai harga aja. Kami pake yang double bed tanpa AC dan kena IDR 400,000 per night. Aga aga kurang ena gitu mb, mz... Tapi yah berhubung ga ada pilihan ya udah :p Rada malem, aku sama bunda jalan-jalan malem gituh nyari makanan (lagi) karena entah perutku kok tau aja lagi di luar kota jadi minta makan mulu. Dan kami menemukan ini!!


Yang punya tante tionghoa gitu dan baik bener :')
Sayang lupa ngefotoin daftar menu sama harganya. Yang pasti, ternyata ronde Wonosobo itu beda sama ronde di Jogja. Kalo di Jogja isinya kan roti tawar, kolang-kaling, kacang, sama rondenya. Kalo di Wonosobo, isinya cuma agar-agar sama ronde dan rasanya cenderung pahit karena jahenya kuat banget. Tapi enak karena Wonosobo kan dingin :3