Tuesday, June 24, 2014

weapon

pernah nggak sih rasanya capek banget sama hidup? rasanya apa yang kita lakuin tuh nggak ada bener-benernya.
pernah nggak ada di dalam kondisi antara sadar dan nggak sadar? rasanya kayak kita ada di dimensi lain dan badan rasanya enteng banget, melayang.
pernah nggak sih liat ke langit dan ngerasa sangat amat kecil? kayak rasanya jiwa kita dihisap sama langit yang gelap.
merenungkan hal-hal yang di luar nalar kadang buat aku adalah suatu refleksi. tentang betapa kecilnya kita dibanding alam semesta ini, tapi kenapa bisa kita mempengaruhi semesta. dia kadang mendengar apa yang tidak kita katakaan. semesta merasakan apa yang ada di dalam batin. dan kadang, semesta melakukan apa yang hanya kita harapkan.
sebenernya, semesta ada di dalam pikiran kita sendiri. ketika kita kalah oleh semesta, sebenernya kita kalah oleh pemikiran-pemikiran kita. aku pernah baca, bahwa sebenernya senjata paling mematikan di dunia adalah kekuatan pikiran. jangan pernah membayangkan hal-hal yang tidak kamu inginkan untuk terjadi. dan gunakan kekuatan pikiran untuk hal-hal yang memang benar-benar kamu inginkan.
ketika kamu dicemooh orang, dan kamu kalah... sebenernya kamu kalah sama pikiranmu sendiri. mereka mau mencemooh kayak gimana, kalo pikiranmu kuat, seharusnya kamu nggak tumbang. aku ingat kata Bung Karno, "Bebek-bebek selalu berjalan dalam kerumunan, tapi seekor elang terbang sendirian".

Buat D,
You're beautiful and I love you as the way you are. Don't ever change for any reason.


media

Media memiliki peranan penting dlam perkembangan hidup umat manusia dan belakangan ini kisruh pilpres bikin media lokal kita ikutan kisruh juga. Beberapa media rela dikuliti transparansi dan netralitasnya hanya gara-gara iming-iming duit yang mengalir dari beberapa elite partai. Media-media ini, baik cetak maupun elektronik, dipaksa untuk mengarahkan pembaca/pendengar/penonton mereka untuk cenderung memilih ke salah satu calon presiden dan calon wakil presiden.

Nggak usah disebut pun semua juga tau kalo Metro TV kepunyaan Surya Paloh (Nasdem) itu selalu memberitakan yang baik-baik tentang Jokowi-JK, begitu halnya dengan Tempo dan harian Kompas. Bagaimana dengan capres cawapres urut nomer satu? TV One, ANTv, serta media-media milik MNC Group nggak pernah absen buat menyisipkan nama Prabowo di setiap penggal acara mereka. Orang-orang yang deket sama aku pasti tau kalo aku simpatik sama program-programnya Jokowi-JK. Tapi untuk urusan ke-nggak-netral-an media, bahkan untuk melirik Metro TV atau baca Kompas pun aku mual. Capek ya rasanya liat orang semua ngomong tentang copras capres copras capres. Kalo masih dalam batas wajar, aku nggak masalah. Bahagia malah. Masyarakat kita sekarang udah mulai melek politik (bahkan ada yang saking merasa taunya, dia sampai sok tau hehehe) dan ini mau nggak mau bikin pejabat-pejabat dungu kita (AKHIRNYA) sadar, orang Indonesia (AKHIRNYA, LAGI) udah nggak bisa dibego-begoin lagi sama janji-janji palsu. Tapi kalo ngomonginnya udah bawa-bawa bumbu tambahan, muji-muji calon secara berlebihan, bawa-bawa black campaign (screw that Obor Rakyat thingy! Usut sampai tuntas!), APALAGI PAKE BAWA-BAWA AGAMA... bah! Saya cuma bisa elus dada sambill bilang, "Kuun, fa ya kuun...". Apalah politik ini, agama dimasuk-masukkannya pula. Udah taun dua ribu ampat belas dan agama masih jadi tolok ukur kecerdasan seseorang? Kalo anda menganggap ini benar, pergi aja lah jadi Indonesia. Penghambat pemangunan kita sebenernya ya orang-orang macam anda. Adi Soemarmo dan Adisutjipto berbeda agama, tapi mereka sama-sama penerbang ulung, pahlawan kita. Ganjar Pranowo dan Basuki Tjahaja Purnama? Meskipun yang kedua (masih sebatas) pelaksana tugas, tapi keduanya sama-sama gubernur yang hebat lagi inovatif. Padahal yang satu Muslim dan yang satu Kristen, (maaf) Cina pula! Ngaruh? Enggak, kan.

Kembali lagi ke masalah media. Minggu lalu, Mahar bahkan sampai mengirim pesan singkat yang intinya nanya, "Media apa yang sekarang masih netral?". Iya, aku lelah nonton televisi, terutama nonton media lokal. Aku masih mendingan, masih dikasih rejeki lebih buat berlangganan layanan TV kabel jadi masih ada pilihan untuk nonton berita-berita berkualitas, kayak CNN, Bloomberg, Aljazeera News, dan bahkan masih bisa dihibur lewat tayangan asing di Star World. Tapi Mahar dan bahkan banyak keluarga-keluarga lainnya di Nusantara ini nggak punya layanan TV kabel. Gila banget membayangkan masyarakat kita dijejali pemikiran-pemikirannya dengan tayangan murahan yang singkat kata, sangat membodohi publik. Sebelum adanya kisruh pilpres ini, tayangan-tayangan gak bermutu sebenarnya juga sudah ada. Contoh paling gampangnya adalah SINETRON! Yang bisa menyebutkan keuntungan sinetron masa kini dengan kehidupan anda, silakan angkat tangan! Aku masih ingat betul waktu aku kecil, ada beberapa sinetron edukatif di televisi. Ya, ada Keluarga Cemara dan beberapa tayangan lagi di TVRI. Sekarang, kemana perginya tayangan-tayangan bermutu itu? Ya digantikanlah dengan acara-acara pembodohan massal yang sekarang tujuan penayangannya berubah: dari pendidikan masyarakat menjadi meraup rating setinggi-tingginya. Masyarakat kita dibodohi dan dijadikan budak rating! Shit!

Selain sinetron, mungkin aku juga paling jemu dan muak sama acara nyanyi-nyanyi nggak jelas yang sekarang kehadirannya udah kayak minum obat aja: pagi, siang, sore, malem, bangun tidur, sebelum tidur, waktu sahur, waktu buka puasa... heran ya?! Setiap stasiun televisi punya itu dan aku pernah denger dari Alwan dan Mahar, satu-satunya acara musik bermutu di televisi itu ya cuma Radioshow di TV One, itu pun sudah berhenti bergaung. Aku (terus terang aja) paling muak sama acara nyanyi-nyanyi karena:
1) Lagu-lagunya kebanyakan nggak mendidik, cinta-cintaan, dan hanya lagu-lagu selera pasar, nggak menjual idealisme sedikitpun. Dikira nggak miris apa, dengerin anak-anak kecil nyanyiin lagu yang liriknya nggak pernah jauh dari percintaan?
2) Ngapain sih kalo lagi ada artis nyanyi on air, penonton-penonton bayaran di studio harus nari-nari alay? Aku nggak mempermasalahkan tariannya yang alay, tapi siapa yang nggak muak dengan tarian macem gitu? Mungkin kalo diganti sama Poco-Poco atau SKJ, bakal lain ceritanya. #apasih
3) Pembawa acaranya!!! Hiks. Mereka lagi-mereka lagi. Kadang mereka nggak sadar kalo mereka jadi public figures dan malah disorot kehidupan pribadinya di infotainment. Sadar nggak kalo banyak orang yang mengidolakan mereka? (Bukan aku yang jelas). Dan mereka malah keluar-masuk pengadilan, ditangkep karena skandal atau narkoba... please. Kalo mereka dijadiin contoh sama anak-anak yang gak ngerti apa-apa, GIMANA?
Kangen banget sama era '90-an yang penuh sama acara musik anak-anak. Segmennya jelas, gitu lah. Inget Tralala Trilili-nya Agnes Monica? Atau Bando di TVRI? Puji Tuhan, senangnya pernah merasakan era kayak gitu :) Di masaku dulu juga masih banyak artis cilik: Trio Kwek Kwek, Kevin & Karyn, Sherina, Tasya, Tina Toon, Agnes Monica, Joshua Suherman, Sonia Eryka, Chiquita Meidy, Marshanda... dan mereka ya nyanyiin lagu-lagu sesuai dengan usia mereka. Salah satu sebabnya ya mungkin dulu masih jaya-jayanya pengarang lagu anak-anak. Kayak Bu Kasur, Pak A.T. Mahmud, Kak Elfa Secoria... Dang! Aku masih inget! Mungkin saking unforgettable nya masa-masa keemasan itu :')

Stasiun televisi yang ditunggangi parpol, udah. Sinetron, udah. Acara musik alay, juga udah. Apa lagi ya? *nyari bahan celaan*

Ya intinya begini. Hari ini, aku masih stay di Kecamatan Pujon, Kota Batu, Jawa Timur. Dan kalo sampeyan tau, disini sinyalnya macem pacar aja: kadang ada, kadang enggak. Kadang setia, kadang lupa. Ya udahlah ya. Agak emosi juga lama-lama karena mau connect internet pun kayaknya kudu manjat pohon pinus yang turah-turah disini. Huaaa. Akhirnya nggak ada pilihan lain buat stay di kamar, nyemil (sempet belanja dulu di Indomaret di ibukota kecamatan), dan... nyalain televisi. Haisss, nggak ada kata-kata yang keluar dari mulut ini. Aku cuma bisa ternganga, melongo. Gila. Mata ini udah dibiasain sama berita-berita dan acara televisi yang udah difilter, sekarang harus balik lagi ke peradaban, bersama media-media lokal. Walah, sakitnya tuh disini. Saestu. Aku ngeganti channel ke channel A, isinya acara musik alay. Ke channel B, ternyata lagi ada audisi penyanyi dangdut. Channel C, isinya debat tim sukses capres - cawapres (TIMSESNYA, BUKAN CALONNYA. EW BANGET, KEBELET EKSIS. HELLO DEAR PAK T*ANTOWI?). Channel D, isinya acara bincang-bincang TAPI BUKAN kayak bincang-bincangnya Oprah atau Rachel Ray. Channel E, ini yang paling parah: acara musik alay yang pake ejek-ejekan dan joget-joget nggak mendidik alias YK*S! Tebak sendiri kepanjangannya (halah). Batinku, perasaan ini acara udah ditegur KPI, udah diprotes aktivis, masih aja tayang. Ealah otak... otak.

Sedih banget adalah, saat aku dan keluargaku masih punya kesempatan buat memilih antara apa yang akan kami tonton/dengar/baca, dan media mana yang akan kami gunakan sebagai sara buat nyari informasi. Tapi di luar sana, banyak orang yang nggak seberuntung kami. Mungkin banyak juga orang-orang yang walaupun mereka nggak langganan TV kabel, mereka masih bisa menyaring informasi dan berpikir cerdas dalam mengambil berita. Mereka ini masih bisa memilih dan berpikir kritis terhadap pilihannya. Lha, orang-orang yang kayak gitu cuma sedikit. Sisanya? Di pedesaan, di pinggiran, masyarakat kita masih belum bisa berpikir sejauh itu. Adanya apa, ya mereka terima. Dikasih apa, yang mereka mau-mau aja. Buat mereka, sinetron mungkin hiburan terbaik dan dengan acara musik alay, mereka bisa melupakan sejenak pikiran-pikiran stress yang ada. Menghibur iya, tapi mendidik?

Aku mohon, sangat amat memohon sekali. Jangan sampai tujuan nasional negara kita hanya tercantum dengan manisnya di Pembukaan UUD 1945 tanpa ada tindak lanjut yang pas. 'Mencerdaskan kehidupan bangsa'. Alangkah menyenangkannya jika pemilik modal dan pengembang stasiun televisi nggak cuma mentingin rating sesaat. Ya, sesaat aja kan rating itu? Tapi kecerdasan manusia, bisa ngasih efek besar buat dunia. Kalo pemikiran masyarakatnya maju, negara pun ikut maju. Kalo masyarakatnya bodoh, negara kita kapan berkembangnya?

Aku, dan mungkin beberapa orang lain, mulai lelah dicekoki sama acara televisi yang nggak mendidik, headline koran yang isinya berita tentang negatif terus (KORUPSI DISINI, KORUPSI DISANA, SI INI DIBUNUH, SI ITU DIPERKOSA, ANAK KECIL DICULIK, PENCURIAN DI BANK BLABLA), lagu-lagu percintaan menye, dan banyak lagi media yang aku rasa kurang pas baik dalam isi maupun tujuan kehadirannya :') Seharusnya media mampu mengajak masyarakat untuk berkembang secara pikiran maupun aksi nyata, karena kuasa media itu GEDE banget. Media mampu menggerakkan perlawanan, menjatuhkan tongkat kekuasaan, memutar balikkan opini masyarakat... Siapa yang nggak seneng liat masyarakat kita mampu berpikir positif dan melakukan aksi-aksi nyata demi kemajuan bumi pertiwi?
Semoga perubahan segera dapat dimulai, oleh siapapun, dan mungkin juga bisa dimulai duluan sama kamu yang baca tulisan ini :)

Salam.

Pujon, 24 Juni 2014
11:20 P.M.



Monday, June 23, 2014

solo - batu

hari ini, 22 juni 2014, aku memulai perjalanan panjang dari solo menuju batu.
bangun (lumayan) pagi untuk ukuran liburku, sekitar jam 7 pagi. diburu-buru dulu sama bunda biar ambil sarapan murah di Legi Authentic and Asian Cuisine. Aku suka deh konsep restoran yang satu ini. Jadi dia ngasih harga promo IDR 5,000 untuk semua menu dari jam 7 a.m - 10 a.m. Setelah itu harga normal (bukan harga pelajar/mahasiswa yang jelas) dan nanti, jam 10 p.m sampe 12 a.m., bakal ada promo IDR 10,000 all menus. Nice marketing trick. Jadi tiap pagi sama malem mereka menganut prinsip "dikit tapi banyak". Jadi untungnya dikit-dikit tapi barang yang dijual banyak. Hehehe jadi kalap deh aku sama bunda kalo sarapan pagi disitu. Pagi ini aku ambil double mie telor, nasi gorengnya yang udah well-known dan recommended, mun tahu (soup krim isi tahu yang lembut), mie goreng, hot capucinno, sama juice orange. Enaaak, kenyaaang, dan cuma abis IDR 35,000 ^^
Abis kelar makan, balik lagi ke kost-kostannya ayah buat istirahat bentar. Aku nggak tau kalo ternyata bakal dijemput travel jam 10 a.m. Aku kira bakal dijemput siangan atau sorean gitu eh lagi enak-enaknya rebahan tiba-tiba ada mba-mba sms ke nomerku, "Maaf bu, travel sudah on the way". Njir. Maksudnya? Pertama, doi manggil 'ibu' dan kedua, beneran sekarang? Arghhh kasur ini terlalu berharga buat ditinggalkan maygawwwwd.
Terus ya udah deh aku kasih tau bunda dan beliau langsung ribet dan aku ketularan ribet bawa segala sesuatu barang karena ini nih ga enaknya kalo ga solo travelling: ribet! Apalagi sama emak atau keluarga (--, )
Perjalanan pertama kali dalam hidup nih naik travel, and I promise this will be the last one, too. Beneran. Lebih demen naik kereta kalo aku. Udah lebih murah, lebih cepet, ga kena macet. Coba tebak berapa lama nih perjalanan Solo - Malang? Yep, berangkat jam 10 a.m., nyampe jam 7 p.m. Gila, emang. Mungkin karena udah mau masuk bulan puasa sekaligus liburan akhir semester, banyak yang pulkam dan jalan-jalan apa gimana, nyampe di hutan dan di kampung pun ada yang namanya macettt. Bayangin aja tulang punggung sama tulang ekorku nyampe kering hehehe tapi asiknya, namanya pengalaman pertama ya gitu, emm... nggumun. Mana travelnya bagus banget lagi (senengnya, dapet armada yang paling baru), tarif IDR 100,000 aku naik Dieng Transport jurusan Solo - Malang udah dapet makan siang di restoran (menu standar: nasi, sop, tahu/ayam/nugget) dan mampir dulu ke Pare sama Kediri dan mas-mas yang duduk di belakangku ganteng #apaan.
Setelah nyampe di Batu, aku sama bunda turun di Desa Pujon, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur. Langsung disergap hawa dingin yang menusuk tulang, asli dingin abis, pake sweater tipis-tipis gitu ga mempan waks. Dijemput ayah di deket patung sapi dan langsung ke penginapan kami: Hotel Panorama Green View yihaaa!
Bagus nih tempatnya. Emm... ya ga bagus-bagus amat sih, ga berbintang juga. Tapi untuk ukuran di desa, lumayanlah. Aku dapet kamar IDR 300,000 per malam, tapi ayahku mengeluarkan jurus-jurus marketingnya jadilah semua temen ayah direkomendasikan buat nginep disini dan akhirnya, lelang tawar-menawar berhenti di angka, IDR 250,000 per night. Mayaaan, IDR 50,000-nya bisa buat cari makan hahaha. Kamarnya juga lumayan, nggak pengap khas hotel tua atau selimutnya bikin gatel-gatel, no complains at all. Ada TV tabungnya segala hahaha (nostalgia banget) dan jendelanya gede tapi sayang bukan green view jadinya, soalnya adanya kabut mulu disini. Karena dingin, nggak perlu lah ada AC disini, gila po. Mau mandi aja mikir dua kali hehehe. Ada dua lantai disini, yang lantai bawah nggak pake air panas dan yang lantai atas ada air panasnya. Ya jelas aku ambil kamar di atas dong ya hehe.
Setelah sampai kamar, aku bersih-bersih badan dan naruh-naruh barang karena bawaanku lu-ma-yan ba-nyak. Karena emang Little Luna ada rencana mau photo shoot segala disini, memanfaatkan lah ya. Ayah sama bundaku langsung tancap gas nengok adek di Bumi Perkemahan Coban Rondo buat ngasih ransum-ransum yang dia butuhin. Sounds 'dimanjain', emang. Dan aku juga berkali-kali mock ke dia di belakang seakan-akan, "Apa banget sih camping apaan tiap hari dijengukin gitu" dan ah, mau gimana sih ya. Ini camping emang lama banget, sekitar 9 hari termasuk perjalanan, dan ini his first trip dan badannya emang nggak sekuat temen-temennya. Tapi kan ya emang, ah please, orang tuaku keukeuh buat nemenin dia -_- Lama-lama aku sadar juga kalo apa yang dia lakoni ini sebenernya buat nunjukin kalo dia bisa. Taulah aku kan sering ikut ini-itu dan dapet hadiah macem-macem, masuk media macem-macem, it's like I make him envy or something jadi dia bilang dia pengen nunjukin kalo dia bisa jadi kayak aku. Idgaf bro, you do this well. Ini yang bikin orang tuaku 'agak' panik.
Bukan agak ding, tapi 'emang'. Kudu diajarin nih anak emang kayanya, gimana buat jadi dirinya sendiri :') Yah besok lah kalo liburan ini telah usai. #KemudianSibukSekolahLagi #KemudianGakSempetNgomongKeAdek
Bumi perkemahannya gede. Banget. Ya bayangin aja 2500-an bocah dari seluruh sekolah Katolik di Indonesia beserta juru masaknya masing-masing (Yup, mereka dimasakin sama juru masak so it's not even a camping actually),  beserta pembimbing-pembimbingnya, beserta guru-gurunya. Wih gila. Baru tau ada buper segede ini #ndeso.
Disini anak-anak dibagi jadi beberapa kampung (zona perkemahan): Kampung Sinai, Kampung Golgota, Kampung Opo Meneh, tur siji meneh Kampung Opo Lali. Adekku ada di Kampung Golgota dan... iiiiih tenda mereka lucu-lucu banget! Kontingen Kevikepan Bali bahkan bawa pura pura-pura. Nah piye wi. Pura (rumah ibadat masyarakat Hindu) yang wujudnya hanya pura-pura (bukan yang sebenarnya). Lha tempatnya adekku, ga dihias apa-apa, berantakan banget lagi! #dasarcowok hehehe. Di sisi lain bumi perkemahan, ada juga Scout Shops. Jadi ini tiap kevikepan jual barang-barang misal merchandise atau camilan buat (sepertinya)... usaha dana.
APA?!
Usaha dana.
APA NA?! :))
................. usaha dana.
Lucu sekali (lagi-lagi) Kevikepan Bali, mereka jual udeng (ikat kepala khas Bali) segala. Ada juga (bahkan) Alfamart, versi primitif. Jadi biasanya mereka ber-AC atau minimal bawa container itu ya kalo misal ada event atau apa, tapi berhubung deretan Scout Shops ini semi permanen, jadi mereka juga menyesuaikan gitu. Kapan lagi liat Alfamart atapnya dari daun rumbia? Dagangannya sih tetep, bahkan mereka tetep jual merchandise World Cup 2014. Hehehe ngakak lah pokoknya.
Di sisi lain buper, ada juga food court (meh banget -_-) jadi ada warung bakso, pop mie, sate, dan kawan-kawan khas tempat wisata alam. Blah, camping opo iki :') Tapi ya aku sempet mampir sih nemenin bunda makan bakso dan aku sambbil makan Happy Tos #samaajawoy

Ya, beginilah, orang kota masuk hutan. Mau camping aja tinggal mancal, seluruh kota seakan dibawa ke hutan.
Lucu lucu miris :')
Tapi ya teuteup, bangga banget lah sama adekku. Dia gak minta dianterin/ditemenin, aku sekeluarga dateng kan emang karena orang tuaku yang super panikan dan super posesif -_-
Salute, semoga dia gak kapok pramuka!
Salam pramuka!

Some pins which sold in Scout Shop

Coban Rondo, Batu, East Java
Hehehe ada stiker siapa itu ya


Sering ke restoran Italia, tapi belom pernah makan ini. Ada yang tau apa ini? Enak banget, nyobainnya di Ristorante O Solo Mio, Jl Slamet Riyadi, Surakarta

Makanya aku suka banget nyusurin Jalan Slamet Riyadi, Surakarta

Di Surakarta emang apa-apa serba batik: gapura kampung, tiang listrik, nyampe toilet umum

Akhirnya kesampean juga mampir museum ini, sayang beberapa ruangan lagi direnovasi