Saturday, September 27, 2014

Tiga belas alasan kenapa saya bacotan masalah tolak reklamasi

1) Reklamasi mengancam fungsi dan nilai konservasi kawasan Teluk Benoa. Ini Bumi. Ini lingkungan hidup. Kalo satu lingkungan rusak, impactnya ke lingkungan di sekitarnya apa? Ikut rusak juga. Sama kayak global warming lah. Jangan kira es di kutub itu mencair bukan karena asap pabrik-pabrik juga. Asal kamu tahu, perilakumu sehari-hari justru jadi pengaruh utama. Kamu makan sayur impor? Ngangkutnya kan pake pesawat atau kapal, itu ngaruh banget ke emisi yang disumbangkan buat efek rumah kaca. Kamu ngambil sabun pas cuci tangan tapi air kerannya ga dimatiin? Coba aja sehari kamu tiga kali cuci tangan dan dilakuin terus-menerus selama hidup kamu. Parah banget dampaknya. Di daerah Indonesia timur (ga usah jauh-jauh Afrika), mereka nungguin air bersih lamanya kayak gimana, kamu yang udah dikasih air harusnya bersyukur dengan melakukan penghematan air. Syukur-syukur bikin sumur resapan atau mengolah limbah biar bisa dipake lagi (air cucian beras buat nyiram tanaman, misalnya).

2) Reklamasi menyebabkan berkurangnya fungsi Teluk Benoa sebagai penampung air banjir. Bandara I Gusti Ngurah Rai tempat singgah pertama kita tiap berlibur, juga bisa banget kena dampaknya. Malu dong masa bandara internasional kebanjiran? Karena ulah manusia pula?

3) Reklamasi dengan membentuk pulau baru akan menjadikan Pulau Bali sebagai pulau yang rentan bencana. Pengaruh gempa dan getaran ya, jelas banget.

4) Terumbu karang terancam rusak, karena pengaruh teluk yang kehilangan fungsinya sebagai penyangga ekosistem laut. Sedih ga sih? Tuhan udah tempatin kita di zamrud khatulistiwa, isi lautnya kaya, tapi kita nya ga bisa jagain amanah? Ga bisa menempatkan diri sebagai makhluk yang punya akal sehat buat ngerawat dan mencintai?

5) Reklamasi akan mengubah kondisi perairan termasuk suhu dan salinitas, ini yang bikin mangrove jadi harus menyesuaikan diri dan mengubah struktur komunitas mereka. Sangat disayangkan... Pak Presiden sepertinya baru Juni tahun lalu nanem mangrove di Teluk Benoa. Ajak-ajak Ronaldo pula. Eh sekarang malah mendukung proyek reklamasi dengan nerbitin Perpres no. 51. Belum juga nyampe setahun, ya Tuhan... Namanya manusia memang cepet berubahnya kalo udah masalah memoles citra atau mewujudkan ambisi pribadi.



6) Memperparah abrasi, inget ya poin nomor lima berhubungan langsung sama poin ini. Fungsi mangrove jadi gak maksimal untuk menahan abrasi. Siapa suka banget sama pantai di Bali? Pasti tahu kan ya Pantai Sanur. Dia jadi salah satu pantai yang terancam sama abrasi. Dikasih Tuhan pantai sebagus itu, tapi ga dirawat? Percuma.

7) Karena keanekaragaman hayati terganggu, maka kehidupan ekonomi sosial masyarakat terganggu juga. Banyak loh ya masyarakat Bali yang menjadikan pantai sebagai center of their world: tempat ibadah, rumah, sumber pendapatan... Kalo pantai rusak karena abrasi, mereka gimana dong?

8) Investor dapet tanah dengan harga murah, sementara masyarakat menderita karena mahalnya kerugian yang harus mereka terima. Selama ini sudah berusaha hidup berdampingan dengan alam... kok malah gini jadinya. Pantai itu vital buat masyarakat Bali. Aktivitas keagamaan, ekonomi, adat, kebudayaan, semua disitu.

9) Didasarkan pada peraturan pemerintah yang terlihat jelas didompleng oleh kepentingan beberapa pihak, awam pun harusnya tahu. Sama seperti yang sudah aku sebut di atas bahwa SBY cepet banget muntirnya... ya emang gitu. Ini semua proyek terskenario. Investor, gubernur, presiden. Kok gubernur dan presiden mau ngelulusin proyek ini? Orang-orang yang duduk di belakang proyek ini berduit semua, makanya mudah untuk mereka minta pemerintah buat nerbitin peraturan.



10) Pembangunan gak berimbang, Bali Selatan sudah overload dan menurutku, cukuplah segini. Bali Selatan sekarang udah sering macet kan ya, ini pengaruh kepadatan penduduk juga, banyak pendatang yang dateng dan bermukimnya di Bali Selatan. Investor pada bikin hotel dan resort juga di Bali Selatan. Aku ngomong ini bukan tanpa alasan, justru pemerintah sendiri kok yang bilang kalo Bali Selatan udah terlampau padat dan gubernur bahkan udah memutuskan penghentian sementara pembangunan Bali Selatan. Nah ini kok malah pada muntir dan mau-mau aja diajakin investor? Kan aneh.



11) Takut proyeknya bakal mangkrak dan menimbulkan kerugian, sama seperti proyek-proyek lainnya. Pecatu Graha deh contohnya. Korbannya lagi-lagi rakyat, kan.



12) Hanya ingin mengingatkan kembali tentang Coral Triangle Initiative yang dicanangkan oleh WWF dengan menetapkan Teluk Benoa sebagai salah satu kawasan konservasi

13) Daya tarik Pulau Bali (buat saya, terutama) adalah harmonisnya hubungan makhluk hidup di Bali dengan alamnya. Ada keseimbangan antara kehidupan spiritual dan duniawi, inilah karakter Bali. Dalam hidup selalu ada hal yang kita pilih dan dengan berat hati mengesampingkan hal-hal lain. Jika kehidupan duniawi diprioritaskan, bagaimana dengan kehidupan spiritual masyarakat Bali selanjutnya? Budayanya? Adatnya?


Tuesday, September 2, 2014

Matahari & Bulan

Dan ketika matahari bertanya pada angin yang berhembus di bawah sinarnya,
"Mengapa aku tidak dapat bertemu bulan meski kami hanya sehampar langit jauhnya?"
Tiupan angin menjawabnya,
"Bulan dan matahari ada, untuk saling melengkapi. Meski nyatanya saling menatap, tanpa bisa menyentuh. Saling tersenyum, tanpa bisa bercerita. Saling memuji, walau tanpa suara."

Dan akan rindu yang menggantung di ujung dahan-dahan patah
Meretak di antara dedaunan kering
Angin berputar, mencari jawaban
Mengapa matahari dan bulan tidak akan pernah bersatu
Saling menjaga, bergantian
Saling memberi, memantulkan
Tapi, ya
Sampai kapanpun tak akan pernah bersatu


"Bukan tak percaya diri, tapi aku tahu diri
Biarkan ku memelukmu tanpa memelukmu
Mengagumimu dari jauh
Aku menjagamu, tanpa menjagamu
Menyayangimu dari jauh..."
- Tulus, Mengagumimu dari Jauh

Akhirnya dipublish juga

Saya adalah seorang sosialis. Idola saya adalah Bung Karno, atau Sukarno, atau Kusno. Saya dan dia punya banyak kesamaan: memiliki hidup yang berwarna, paling tidak bisa berteman dengan golongan tertentu saja, dan mencintai keberagaman. Saya memiliki banyak teman dari berbagai suku, bangsa, dan budaya. Saya bahkan mengenal teman-teman Lesbian, Gay, Bisexual, and Transgender (LGBT). Saya menghargai mereka yang beragama maupun yang tidak. Saya percaya bahwa darimana pun dia berasal, apa warna kulitnya, dan bagaimana aksennya dalam berbicara, tidak pernah mempengaruhi kompetensi dan kualitas seseorang. Saya percaya bahwa kekuatan seseorang terletak pada kemampuan dan kecakapannya, bukan orientasi gendernya. Saya tidak setuju jika orang selain agama Islam tidak dapat menjadi presiden, karena buat saya, seseorang yang tidak beragama sekali pun memiliki hak yang sama. Tiada pembeda.
Saya tidak setuju jika hal-hal tak tergapai manusia macam pernikahan dan agama diurus oleh negara. Buat saya, pernikahan dan agama sifatnya pribadi dan bukan administratif. Akan menjadi lebih baik jika sebuah kementrian keagamaan dibubarkan daripada mengurus halal-haramnya sesuatu dan menjadi sarang korupsi. Saya percaya bahwa hubungan manusia dan tuhannya tidak perlu dicampuri oleh negara. Setiap manusia memiliki tolok ukur akan tuhannya masing-masing dan mereka yang tidak bertuhan pun telah memiliki nurani untuk memilah mana yang baik dan buruk. Lagipula, apalah ukuran sebuah kebaikan dan keburukan?
Pencipta tolok ukur bukanlah tuhan lagi, tapi society. Manusia adalah tuhan atas dirinya sendiri.
Saya bukanlah seorang atheis, jika setelah membaca tulisan di atas anda akan menjadi tercengang. Saya memiliki agama turunan dari orangtua saya, dan saya menghormati semua agama terlebih I come from interfaith family. Jadi... agama saya adalah pluralisme. Saya percaya surga dan neraka, dan alkitab dan tuhan, baik dan buruk, yin dan yang... semuanya sesungguhnya ada di dalam diri kita masing-masing. Untuk apa kita takut akan tuhan dan neraka? Apakah tuhan itu menakutkan dan bagaimana kamu tahu neraka itu panas bahkan sebelum pernah kesana? Because they said so. Sebagai manusia, ketika saya melakukan sebuah hal yang dianggap sebuah kesalahan oleh bumi manusia, saya bukannya takut akan neraka dan hukuman di dalamnya. Saya takut terhadap nurani yang akan saya nodai sebab surga letaknya di dalam nurani.

Hasil permenungan ini diperoleh dari tujuh belas tahun kehidupan. Melalui pertemuan-pertemuan manusia dan tuhannya tiap saat. Masih perlu diperbaiki dan bahkan mungkin saya tidak akan mampu menyetarai Sukarno.
Oh iya, namanya Sukarno, bukan Soekarno.

(bdk: Cindy Adams. 2007. Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Bung Karno-Media Pressindo)