Friday, November 28, 2014

Puyeng deh kalo liat ada kesalahan apa-apa, nudingnya pasti ke pemerintah. Padahal gini, dinalar aja. Negara kita tuh luas banget, Sabang sampe Merauke, kalo mereka yang di atas aja yang majuin, kapan kelarnya? Ya kita jadi rakyat juga bantu, jangan cuma nuntut-nuntut mulu. Iya sih gaji mereka dari pajak kita, tapi negara ini jelas lebih butuh banyak aksi dari rakyatnya.
Coba kalo kita majuin negara ini sama-sama, di berbagai sektor, sesuai kemampuan masing-masing. Pelajar ya belajar bener ga usah demo-demo, biar indeks prestasinya bagus dan menghasilkan generasi muda berkualitas. Ibu-ibu rumah tangga ya menciptakan atmosfer lingkungan rumah yang baik. Bumbu dapur tanem sendiri, pake bahan organik selalu buat meminimalisir penyakit, masak di rumah aja biar hemat, kurangin nonton infotainment dan berita-berita kriminal. Yang berkarier atau profesional ya kerjanya pake hati, pake cinta, jujur, ga boleh pamrih.
Kalo rakyat kita semua mindset dan auranya positif, ga perlu lagi kok nuntut ini itu sambil marah-marah sama pemerintah. Dilihat lagi aja ke dalem diri masing-masing: saya udah bener belom yah kerjanya? Udah maksimal dan ikhlas belom yah? Udah jadi alasan buat orang lain tersenyum belom?
Sekali lagi, masalah BBM ini kan sebenernya bikin kita kreatif dan lebih mengutamakan produksi daripada konsumsi. Diajak inovatif masa ga mau? Bentar lagi MEA 2015 loh hehehe.

Eh btw ini kaosnya unyuuuuuu, ada yang mau beli? Wkwkwk :p

Happy weekend ya semua, be bright, be positive, be you! :)

Monday, November 24, 2014

selamat hari guru 2014

Sedikit cerita lagi tentang impian masa kecil saya, tapi berbeda dengan cita-cita menjadi demonstran, cita-cita yang ini masih keukeuh bertahan di hati saya sejak kecil.

Bertemu dengan banyak orang dalam hidup, saya maknai bukan sebagai sebuah kebetulan. Dan orang-orang ini, adalah bagian terbaik dari hidup saya, membentuk karakter dan pemahaman saya tentang hidup. Mereka ambil bagian dalam mencetak generasi penerus yang cemerlang, dan saya percaya: mereka lebih dari sekedar pahlawan tanpa tanda jasa.

Guru, dalam Bahasa Sansekerta, berarti penghancur kegelapan.

Butet Manurung adalah idola saya sepanjang zaman, saya mengenalnya ketika membaca majalah Bobo sewaktu SD. Realita mengantarkan Butet untuk mengajar anak-anak Suku Anak Dalam, dan ini membuka mata saya bahwa bukan hanya anak-anak di kota saja yang memerlukan pendidikan, tapi juga mereka yang tinggal di pelosok negeri.

Pun juga Anies Baswedan & Ki Hajar Dewantara. Kejujuran yang diajarkan oleh Kak Anies dan konsep nguwongke uwong (memanusiakan manusia) oleh Ki Hajar Dewantara mengajarkan saya bahwa ilmu bukan hanya tentang teori di dalam kelas, tapi juga tentang bagaimana kita belajar di sekolah kehidupan: tentang moral, etika, dan akhlak.

Saya ingin sekali menjadi seperti mereka, yang menginspirasi dan memperkaya ilmu pengetahuan anak-anak Indonesia. Agar mereka berani bermimpi setinggi-tingginya, agar mereka tahu bahwa dunia ini luas dan selalu ada kesempatan untuk melihat keluar.

Have a great day, selamat hari guru untuk esok hari.

Wednesday, November 19, 2014

renungan macet

Sedikit teringat pada suatu masa ketika saya masih duduk di bangku Taman Kanak-Kanan, seorang ibu guru bertanya mengenai cita-cita saya di masa depan, dan tanpa ragu saya menjawab, "Jadi mahasiswa! Biar bisa demo!"

Dua belas tahun berlalu, cinta saya pada tanah air semakin menguat, dan Soe Hok Gie akan selalu jadi inspirasi saya sampai kapanpun. Tapi sepertinya impian masa kecil saya untuk menjadi seorang mahasiswa pendemo tidak akan dan tidak mau saya wujudkan karena kedewasaan menuntut saya untuk memberi solusi nyata dan menjadi seorang wirausaha muda adalah salah satu jalannya.

Jadilah terang saat yang lain masih sibuk merutuki kegelapan. Jadilah pembeda saat yang lain masih menolak dan malu-malu jadi inspirasi. Karena yang terbaik adalah menjadi bagian dari perubahan, bukan menuntut perubahan.

*tulisan singkat di tengah-tengah kemacetan Jogja karena demo anti kenaikan harga BBM*