Saturday, December 19, 2015

Between the politics and the meditation

Sekitar Mei 2015 saya mengikuti sebuah rangkaian kegiatan spiritual (meditasi retreat) yang terbuka bagi publik dengan latar belakang keyakinan apapun, meski saat itu mengambil tempat di Brahmavihara Arama, Bali, yang merupakan tempat ibadah para pemeluk agama Buddha. Kegiatan ini bernama Kidung Kasih Sayang dan biasanya terbagi dalam beberapa kali pelaksanaan dalam satu tahun, waktu itu saya ikut yang kelas remaja. Berangkat seorang diri, memantapkan hati, menghabiskan sekitar hampir seminggu untuk juga menjelajahi daerah Bali Utara. Jujur itu mungkin kali pertama saya menjamah daerah Bali Utara karena sebelum-sebelumnya, di telinga saya, Bali adalah Kuta, Ubud, Bedugul, dan daerah-daerah wisata lainnya. Agak kagok, karena perencanaan dan pelaksanaan kurang sejalan, sehingga mengakibatkan pembengkakan juga di segi biaya saat berwisata karena ternyata, dsana tidak terdapat angkutan umum yang memadai (dan daerahnya sangat naik turun jadi lebih tidak mungkin lagi untuk berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya) sehingga saya terpaksa menyewa mobil dengan sopir juga jiahahaha payah...

Tapi untuk penyelenggaraan kegiatan di viharanya sendiri sama sekali tidak mahal. Biaya yang dipatok pun seikhlasnya (bahkan masih ada yang nggak ikhlas lho waktu itu teman saya ada yang masih hitung-hitungan sebelum memasukkan amplop ke kotak) padahal, tempatnya sangat indah, bersih terawat, pekerjanya banyak, dan sudah termasuk dua kali makan per harinya (meditasi ini tidak mengenal makan malam karena dianggap manusia hidup seperlunya, bahkan untuk makan pun tidak perlu berlebihan). Sangat menyenangkan berada di vihara tersebut, saya bisa puaaaas banget merenung dan bermeditasi pasca hiruk pikuk Ujian Nasional. Tempatnya super indah, kalau saya kapitalis banget pasti udah saya bikin hotel buat honeymoon kali tuh hahahaha... Benar-benar no gadget, no kebisingan, dan semua orang sangat ringan tangan dalam membantu akomodasi saya, mengingat saya adalah pendatang yang belum begitu mengenal medan dan s e n d i r i a n.

Nah, kebetulan yang mau saya ceritakan disini bukan tentang perjalanannya yang super menyenangkan itu (one day saya cerita ya, di post tersendiri), tapi tentang apa yang saya dapatkan dari kegiatan rohani itu dan apa materi yang masih terngiang sampai sekarang. Alhamdulillah berarti waktu itu bener-bener mendengarkan ya hahaha karena beberapa anak jatuh tertidur lho, kalau memang tidak terbiasa berkontemplasi dan tiba-tiba diajak untuk saat hening dari subuh saat bintang masih terlihat jelas (I've promised to myself to come back again gara-gara bintangnya itu, ya ampun bertaburan banget. Mungkin efek letaknya yang di desa jadi jauh dari lampu-lampu kota, ya) hingga tengah malam pun masih ada yang berminat meditasi hahaha saya sih secukupnya aja.

Pengarah meditasi waktu itu adalah Guru Gde Prama, seorang motivator nasional, spiritualis, dan penulis asli Bali, yang dulu sewaktu mudanya juga pernah merambah dunia bisnis dan korporasi. Di hari terakhir perjumpaan dengan Guru Gde, saya menyempatkan diri untuk melontarkan pertanyaan di sesi tanya jawab anonim (dengan cara menuliskan pertanyaan di secarik kertas, dikumpulkan kembali, dan diberikan pada Guru Gde untuk disharingkan jawabannya), tapi jawaban yang diberikan oleh Guru Gde belum dapat memuaskan rasa penasaran saya.

Cita-cita saya sedari kecil adalah berkecimpung di dunia politik untuk mengubah dunia politik yang akrab dengan akal-akalan menjijikkan dan uang kotor menjadi bidang yang ramah publik, bersih, dan menjadi jantung dari kebudayaan masyarakat. Dan saya sudah mulai dikenalkan oleh Bunda saya mengenai meditasi dan kontemplasi sejak kira-kira tiga atau empat tahun yang lalu. Adapun pada kenyataannya, politik dan religiusitas kadang tidak bisa menyatu, prinsip dasar keduanya kadang berseberangan, dan implementasinya pun tidak bisa disejajarkan.

Pada sebuah sesi di meditasi retreat tersebut, saya memberanikan diri bertanya (toh juga akhirnya pun saya tulis di post ini hahaha), "Guru, apakah mungkin bisa menjadi seorang politikus yang bersih dan tetap melakukan kontemplasi dalam kesehariannya?". Jawabannya lumayan masuk akal, tapi masih cenderung menggantung bagi saya. "Bekerja di bidang politik itu banyak sekali godaannya. Dan sangat sedikit politikus yang mampu bermeditasi dan berkontemplasi secara murni. Tapi bukan tidak mungkin jika anda memang betul-betul memiliki keinginan kuat untuk terus bermeditasi, semesta akan mengikuti dengan caranya sendiri."

Dan kemudian, Guru Gde beralih pada pertanyaan anonim selanjutnya.

Saya sangat membenci orang yang menjawab pertanyaan dengan menimbulkan pertanyaan selanjutnya yang lebih memusingkan dibanding pertanyaan sebelumnya hahaha :))

Siang ini, saya berbincang-bincang dengan Bunda perihal pembangunan di negara ini. Sudah sejak lama tanda tanya besar memenuhi benak saya, "Apa pembangunan di masa ini, benar-benar sebuah pembangunan yang diinginkan oleh founding fathers kita dahulu? Apakah ini memang benar-benar jalan yang harus ditempuh dulu oleh Indonesia?" karena jujur saja, Bunda saya selalu bilang, pembangunan di negara ini kadang terlampau modern dan lupa diri, lupa identitas. Kita lupa bahwa negara ini bersandar pada budaya lokal sejak dulu kala. Kita kaya karena kita beragam. Kita negara besar karena kita punya kultur yang mendarah daging yang jumlahnya sangat besar yang tidak pernah dimiliki oleh negara manapun sebelumnya.


  • Enam triliun rupiah digelontorkan tahun ini untuk membangun tanah Papua: lahan pertanian, pelabuhan, dan berbagai infrastruktur lainnya. Yang artinya? Membabat hutan-hutan lebat itu, memusnahkan rumah ribuan spesies-spesies itu...
  • Suku Anak Dalam di Jambi akan direlokasi dalam satu lingkungan agar (katanya) memudahkan akses dari dalam suku dengan pemerintah. Yang artinya? Pembangunan dalam arti sempit membawa kita menuju suatu paham yang menitikberatkan pada perubahan kearifan, perubahan kebudayaan...
  • Seratus hotel masih akan dibangun di Yogyakarta. Yang artinya? Hai, masih ada cukupkah air untukmu mandi dan minum sampai setidaknya beberapa puluh tahun ke depan?
  • Lebih dari seribu izin usaha pertambangan (IUP) di Pulau Jawa diterbitkan dalam kurun waktu 10 tahun (2003 hingga 2013), mencakup izin untuk mengonversi daerah tangkapan air, hutan, pertanian dan lainnya...

Sambil kita lupakan sejenak target pendapatan dan belanja daerah,
pertumbuhan PDB,
dan segala macam hal yang berhubungan dengan uang lainnya.

Hai.


Pembangunan
seperti
itukah?

Pembangunan dengan crane...
Beton...
Dan gedung-gedung pencakar langitkah?

Pembangunan-pembangunan ini, membuat kita lupa akan identitas kita yang sebenarnya. Identitas kerakyatan kita, keberagaman lokal kita. Gedung-gedung pencakar langit menutupi rumahmu dari sinar matahari yang biasanya menangkap celah di rerimbunan pohon di halaman. Hotel-hotel yang menyedot air tanahmu. Pembangunan jalan yang merontokkan daun-daun hijau hutan khatulistiwamu. Beton-beton yang menggantikan lapangan bermainmu di waktu kecil.

Dear founding fathers...
Saya harap suatu saat anda-anda berkenan masuk ke alam bawah sadar saya, berkenan mampir ke dalam bunga tidur saya, untuk memberi jawaban akan pertanyaan yang selama ini memenuhi benak saya yang kecil ini...

"Pembangunan seperti apa yang sudah sedari dahulu diharapkan?"

Pembangunan moralkah?
Pembangunan spiritualkah?
Pembangunan sektor-sektor infrastrukturkah?

Siapa yang memberi izin...
Siapa yang mengarahkan pembangunan...

Tak lain tak bukan... politikus.

Masih butuh waktu cukup banyak bagi saya untuk belajar, membangun demi pembangunan infrastruktur (yang katanya harus merata, entah bagaimana standar "merata" itu sebenarnya) atau melaksanakan pembangunan di kualitas sumber daya manusianya. Kalaupun menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia, standar seperti apa yang diharapkan... Mengingat tidak semua orang memahami bahwa uang tidak bisa dimakan dan hutan tidak tumbuh dalam waktu semalam, dan mengingat jumlah populasi spesies Homo sapiens bertambah tiap detiknya, tentu akan sangat menantang untuk meningkatkan awareness akan hal-hal mendasar tersebut...

*But hey, Homo sapiens sendiri dalam bahasa Latin artinya: wise person :)
Jadi, sedari awal memang kita sudah diharapkan untuk be wise rupanya hahaha*

I hope it's possible to combine equitably between political sciences and meditation habits.
Semesta selalu punya jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi orang "gila".

Semoga tuhan, siapapun dia, dan semesta yang indah dan baik hati ini, masih berkenan menyimak perenungan-perenungan gila saya...

Friday, December 18, 2015

Urip kuwi kudu urup

Berkali-kali saya merenungkan, dan berkali-kali pula nihil yang saya dapatkan, saat saya berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup manusia di masa ini. Terkadang hidup berjalan terlalu rumit untuk dimengerti: ada waktu dimana kita sanggup mengontrol, kadang kita hanya sanggup untuk mengikuti, tapi tak jarang juga kita tertatih-tatih.

Hidup tidak pernah statis. Selalu ada atas dan bawah, awal dan akhir, alpha dan omega. Mungkin, pada awalnya, mungkin, maksud hidup tidaklah serumit itu. Bahagia, bermanfaat, mengalir. Mungkin, itu adalah esensi awalnya. Tapi semakin kesini, semakin tidak jelas. Ada yang menggunakan hidupnya untuk urusan dunia semata, ada yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menghidupi hidupnya. Tak jarang orang semacam itu menjadi perangkap bagi dirinya sendiri: hidup, tapi tak hidup. Bernyawa, tapi seakan mati. Bernafas, tapi jiwanya redup.

Hidup tidak selalu menyenangkan. Manusia seperti kita, kadang perlu ditegur dengan kesedihan agar kita ingat untuk senantiasa membahagiakan orang lain. Kadang kita perlu ditegur dengan sakit-penyakit agar kita senantiasa mensyukuri sehat. Kadang kita perlu ditegur dengan kegagalan agar kita tahu bagaimana nikmatnya sari pati proses berjuang. Kadang kita perlu ditegur bahkan dengan kepergian orang-orang yang kita sayangi agar kita sadar betapa dekat jarak antara kehidupan dan kematian, pertemuan dan perpisahan.

Pun sebaliknya.

Hidup tidak selalu membosankan. Ada hal-hal menarik dan warna-warna baru di sekitar jika kita membuka lebar-lebar cakrawala pikiran dan bukannya selalu terpaku pada pola yang itu-itu saja. Life begins at the end of your comfort zone.

Ini bukan tentang bagaimana kehidupan di muka bumi ini berjalan.
Bahkan tanpamu sekalipun, kehidupan akan tetap berlangsung.
Ini tentang ilmu kehidupanmu sendiri, tentang bagaimana kamu menghidupi hidupmu.

Terlalu singkat hidupmu kalau hanya untuk mampir ngombe.
Dan saya yakin sejuta persen kalau tuhanmu atau siapapun yang menciptakanmu itu, tidak menciptakan kamu hanya untuk mampir ngombe. It's more than that.
Urip iku sejatine kudu urup.

Thursday, December 17, 2015

Guess how much I love books?

Manusia dengan usia produktif tentu punya banyak tanggung jawab dan pekerjaan. Apalagi kalau manusia itu adalah seorang (calon) mahasiswa, seorang anak perempuan, seorang wiraswasta, dan entahlah saking bundet ruwetnya kadang nggak bisa dideskripsikan dengan label tertentu. Perkara mencari uang dan ilmu di sektor formal memang nggak akan ada habisnya, mengingat tanpa kedua hal tersebut pun mustahil untuk hidup dalam taraf berkecukupan, setidaknya menurut standar saya hehehe. Kegiatan-kegiatan yang sangat duniawi ini kalau nggak diimbangi dengan hal yang menentramkan jiwa tentu akan berakibat fatal, contohnya saya: kurang tidur, kurang makan, kurang piknik, dan akibatnya pun kurang waktu untuk mikir jodoh. Errrr, nggak juga ding, yang terakhir hahahaha. Perempuan keren nggak akan pusing-pusing mikir jodoh, camkan ya :p

Saya pribadi, berusaha untuk mencari jalan aman dengan berolahraga secukupnya dan sebisa mungkin mengonsumsi makanan bergizi seimbang serta detoksifikasi. Karena untuk cari-cari waktu luang demi mendapatkan ketentraman (contoh: liburan kesana kemari sepanjang weekend, bela-belain hiking untuk refreshing, ikut sembahyang di gua sana-sini, dst) jujur saya udah nggak sanggup. Waktu saya terbeban cukup banyak untuk mengejar materi bahasa Prancis (dan saya berani bandingkan sama teman-teman yang sudah kuliah sekarang, mereka bahkan mostly lebih terlihat santai dibandingkan saya HADUH wkwk tapi ini persepsi pribadi saja ya :p) dan tentu saja pikiran sudah habis juga untuk work smart mengelola beberapa bidang usaha.

Beberapa 'pelarian' saya antara lain juga sharing di blog ini, ketemu teman-teman SMA, bermain musik, menyanyi, dan tentu saja hobi saya sejak kecil: membaca!

Sewaktu saya masih duduk di bangku TK sampai SD, kebahagiaan utama saya adalah saat kakek menyambangi kami di Jogja (waktu itu saya masih cucu satu-satunya jadi ya ampun dimanja banget HEHEHE) dan selalu mengajak ke toko buku Gramedia untuk membeli buku apapun yang saya mau, sepuasnya. Saya kira ini adalah kebiasaan baik yang memang sewajarnya dimulai sedari dini dan tentu saja relevan sampai kapanpun. Momen usia emas (0-6 tahun) adalah momen paling tepat untuk memberi pengertian dasar mengenai moral dan pengetahuan umum, daaaan bahagianya, buku-buku anak jaman sekarang sudah begitu kompleks dalam mengangkat suatu topik, mengingat jaman saya dulu masih agak susah untuk mencari ensiklopedi bergambar yang sangat menarik seperti yang sekarang mudah sekali ditemukan. Jika anda sebagai orangtua mampu membelikan mainan-mainan dan gadget mahal untuk putra-putri anda, mengapa juga tidak menjadikan aktivitas membeli buku dan membacakan dongeng sebagai kebiasaan baik? Aktivitas story telling dan retell (menceritakan dongeng yang mengandung nilai moral pada anak dan anak diharapkan dapat menceritakan kembali sesuai pemahamannya), selain dapat menambah ilmu pengetahuan, tentu juga dapat menjalin kehangatan dalam keluarga.

Kebiasaan baik yang ditularkan oleh kakek saya masih saya teruskan sampai saat ini (dan tentu akan saya lanjutkan juga ke anak cucu saya kelak) meski kadang saya sudah nggak bisa lagi alokasikan satu hari full untuk menyelesaikan satu buku seperti waktu di SMP dulu karena biar bagaimanapun juga kesibukannya sudah cukup berbeda. Saya sampai saat ini masih ada hutang beberapa buku alias baru sempet kebeli aja tapi halaman pertama pun belum tersentuh hahaha...

Dan dari beberapa buku ini sudah sangat dapat menggambarkan kepribadian saya tentang bagaimana selama ini saya berpikir dan bertindak serta mengambil keputusan, kadang saya rasa-rasa juga, genre buku yang paling banyak kita baca adalah cerminan dari kepribadian kita sendiri. Meski tentu saja kita harus selalu membuka diri terhadap genre yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari kebiasaan kita. Ehehe bener lho, kalau kita mau jadi orang hebat, ada beberapa tips yang pernah saya dengar:

Become friends with people who aren't your age. Hang out with people whose first language isn't the same as yours. Get to know someone who doesn't come from your social class. This is how you see the world. This is how you grow.

Tapi ada juga seorang motivator yang pernah bilang, "Coba sekali-kali baca buku yang genrenya beda banget sama kehidupan anda". Memperluas cakrawala pengetahuan memang tidak pernah salah, that's why I always get excited over new things easily.

Buku pertama yang mengantri untuk minta segera dijamah adalah...

L'accro du shopping dit oui -Sophie Kinsella
Mungkin ada yang pernah baca series of The Confessions of Shopaholic yang dari masih single mingle boros parah sampai akhirnya menikah dan punya anak? Ada juga versi filmnya, ya. Saya udah khatam baca semua bukunya waktu SMP (sumpah ini saking masih belum ada gawean ya waktu SMP) tapi in Indonesian dan kemarin disodorkan versi Prancisnya ini oleh Madame Yuli langsung say yes aja tanpa tahu kapan ada waktu buat baca hahaha. Lumayan sih buat selingan semacam Princess Diaries gitu nggak usah diambil pusing waktu bacanya, pocket book juga jadi ya... kalau diumpamakan sebagai camilan, potato chips kali ya, ringan dan nggak bikin eneg, tapi bikin batuk kalau kebanyakan #apalah

Buku kedua, saya punya...

Let It Snow -John Green, Maureen Johnson, Lauren Myracle
Sebenernya nggak tau kenapa beli buku ini mungkin karena waktu itu kalap diskon di Periplus (gapapa boros kan buat beli buku :p #halah) tapi lumayan buat selingan besok waktu mudik Natal.

Buku ketiga, buku favorit yang paling nggak sabar buat saya baca...

The Alpha Girl's Guide -Henry Manampiring
Jadi saya follow si penulis ini, panggilan akrabnya sih Om Piring (sok kenal) (iyain aja) di media sosial ask.fm dan buat saya beliau ini lumayan inspiratif untuk awam yang bener-bener mulai dari nol, belajar tentang emansipasi perempuan di era modern seperti sekarang. Jaman berubah, serba instan, perempuan makin cerdas dan so on dan so on tapi kembali lagi ke satu hal, dan kasusnya sama seperti saya: sekali bersinggungan dengan kisah asmara mendayu-dayu, rentan terkena gangguan psikologis yang kolokan dan nggak berguna. Sama sekali. Dan buku ini mengajak kita kaum perempuan untuk lebih meningkatkan awareness dan rasa cinta pada diri sendiri bahwasanya kita tuh lebih worth it daripada laki-laki manapun #ler, Ya intinya buku bagus yang wajib dibaca semua kaum perempuan anti patriarki. #PrincessAgainstPatriarchy

Wednesday, October 21, 2015

Generasi Macam Apa Yang Sedang Mereka Ciptakan

Jujur terselip rasa khawatir setiap mendengar perbincangan-perbincangan masyarat mengenai isu-isu terkini.

Khawatir.

Apakah generasi saya mampu memajukan dan memperbaiki keadaan yang telah anda, bapak ibu kami, ciptakan?

Jika bahkan untuk nilai di rapor pun kami terbiasa diajari untuk selalu dapat nilai A atau 100 atau 10, entah bagaimanapun caranya?

Jika bahkan anda sebagai orangtua masih belum dapat mengajak kami untuk berdiskusi, menerima pendapat kami, bahkan untuk permasalahan yang remeh sekalipun?

Jika bahkan anda sebagai orangtua, sebagai alat kontrol utama dalam hidup kami, sebagai panutan kami, dengan sengaja memboncengkan kami tanpa pelindung kepala atau bahkan membelikan kami kendaraan di saat kami belum mencapai usia yang legal untuk berkendara di mata hukum?

Jika bahkan anda berkata "Ayah malu, ibu malu" saat kami belum berhasil mendapatkan prestasi di bidang yang anda berdua inginkan sementara bidang tersebut memang bukanlah passion kami untuk berkarya?

Generasi muda macam apa yang sedang anda-anda ciptakan?

Saya mohon.
Pengerjaan rumah kami, saya dan anak-anak generasi penerus, sangatlah menantang. Untuk pulih, negara ini perlu dibangun oleh generasi yang optimis, mandiri, jujur, dan tangguh. Jangan manjakan kami, jangan permudah kami untuk mendapatkan apa yang kami inginkan tanpa kerja keras. Jangan juga tekan kami untuk selalu menjadi nomor satu dalam bidang yang bukan minat kami.

Interpretasi orangtua mengenai kasih sayang terhadap anaknya memang berbeda. Tapi saat kita dihadapkan pada tujuan yang sama, mimpi yang sama, harapan yang sama, yaitu Indonesia yang lebih sejahtera baik badan maupun jiwanya, terutama agar Indonesia dapat menjadi rumah yang nyaman bagi anak cucu anda, ada baiknya anda refleksikan kembali: apakah kasih sayang anda adalah kasih sayang yang membangun atau justru memanjakan.

Indonesia tidak butuh generasi manja; yang pegang gadget hanya untuk sosial media yang kurang perlu, yang malas (atau bahkan tidak tahu caranya!) menggunakan transportasi publik, yang berpangku tangan pada bocoran-bocoran ujian, yang dengan mudahnya menadahkan tangan untuk meminta uang jajan dengan jumlah tidak wajar tanpa diberi kesepakatan apapun...

Ini sedikit tulisan saya, inspirasinya pun datang dari lingkungan saya, tidak perlu cari sampai ke pelosok. Disini pun banyak kok orangtua yang bangga saat anaknya diterima di kampus A meski memberi "sumbangan" lebih banyak, lebih bahagia saat anaknya bisa nyetir mobil saat masih di bawah 17 tahun dan bukannya malah mengajari cara naik transportasi publik, dan banyak keprihatinan lainnya.

Saya ga mau menyindir siapa-siapa. Saya hanya mikir puanjangggg efek ke depannya. Kita ga bisa ubah generasi tua, dan lagipula masa depan bangsa ini ada di tangan generasi muda. Ayo. Optimis. :)

Everyone is An Agent of Change, in A Positive Way

Meanwhile masyarakat ribet sama #UdahCapek dan satu-tahun-gagal embuh opo kuwi, meanwhile pada sambat ke hewan-hewan, meanwhile menteri-menteri saling tuding menuding dan ikut campur di bukan bidangnya, meanwhile upeti-upeti di atas tanah sengketa masih jalan terooosss...
Ini ibu satu tetep fokus ngurusin kerjaannya dong!
Tuh kan coba semua fokus maksimal dan bahagia di bidangnya masing-masing, ga perlu waton tunjuk dan akan sangat meminimalisir pesimisme :))
Kamu berharap apa dari satu tahun kalo kamu suruh presiden doang yang berubah jadi tambah tegas? Dan kamu ga bantu bikin perubahan? Dia super tegas ala ala militer pun kalo masyarakatnya pesimis ya ngga akan berhasil lah.
Mending berkarya, memberdayakan lokal menuju kompetisi global. Pandai menulis, menulislah. Pandai menggambar, menggambarlah. Pandai memotret, memotretlah. Berjuta pemikiran positif jika digabungkan pasti akan membuat perubahan besar. Be the change you wish to see in the world.


Thursday, October 8, 2015

How about... A decision maker?

Kenapa politik? Kenapa jadi politikus?

Jurusan yang kadang paling akhir buat dipilih di SNMPTN.
Kolom surat kabar yang paling sering dilewatin buat dibaca.
Pekerjaan yang sering dicemooh sama orang banyak.
Sosok yang dianggap punya banyak wajah untuk banyak kesempatan.

Hehe, tidak.
Tidak seperti itu.

Semua jurusan perkuliahan itu baik (selama kita rajin belajar) dan semua bidang pekerjaan itu mulia (selama halal).

Lalu, apa yang salah dengan menjadi seorang politikus?

---------------------------
Saya pribadi, Asyana Prasetio, sejak Taman Kanak-kanak sudah ditanamkan rasa bela negara yang tinggi oleh kedua kakek-nenek saya. Karena tidak mungkin meneruskan sebagai seorang TNI/POLRI (yaiyalah badan gue mana kuaaaad), Asyana kecil jadi rajin mikir, "Aku harus jadi apa ya biar bisa majuin negara?". Dibantu oleh Bunda yang baik hati, Asyana kecil akhirnya menemukan bahwa setiap pekerjaan adalah baik adanya dan setiap perbuatan mulia pasti ada pahalanya. "Oh, maka, jadi apapun aku, selama aku jujur dan ngga lupa berbuat baik, pasti akan selalu bermanfaat buat negara". Akhirnya Asyana kecil terus mencari lagi, setidaknya sudah ada satu poin penting yang dia genggam: dia boleh jadi apapun.

Pernah suatu hari di bangku TK, Ibu Guru Atiek bertanya, " Apa cita-cita kalian?". Asyana kecil mengangkat tangannya dan menjawab tanpa ragu, "Jadi demonstran! Biar bisa demo ke pemerintah!" dan Ibu Guru seolah tanpa mendengar, mengajukan pertanyaan yang sama, sekali lagi, pada anak muridnya yang lain. Asyana kecil terkejut dan berpikir, "Apakah ingin menjadi demonstran bukanlah suatu cita-cita?". Karena ia tahu, menjadi demonstran adalah mulia. Bapak mantan presiden diturunkan jabatannya oleh demonstran. Undang-undang direvisi karena tuntutan demonstran. Orang-orang takut pada demonstran. Apa yang salah?

Sepuluh tahun kemudian, Asyana bukan lagi seorang anak kecil. Namun gambaran bagaimana menjadi "sosok yang bermanfaat" bukan lagi menjadi seorang demonstran, baginya. Ia semakin tahu, yang mulia bukannya menjadi peminta-minta, tapi jadi pemberi. Yang mulia bukannya jadi demonstran, tapi jadi pengambil keputusan yang amanah. Yang mulia bukannya jadi perutuk bangsanya sendiri, tapi jadi pemberi solusi. Asyana tahu, ia akan menjadi seorang politikus, suatu hari nanti.
---------------------------

"Politikus?! Banyak musuhnya, Na!"
"Politikus? Mau makan apa?"
"Awas, rawan godaan, bahaya."
"Nggak ada cita-cita yang lebih jelas?"

Bertahun-tahun berselang, dan semua kasus yang membelit politikus-politikus di negara ini justru semakin memantapkan nurani saya untuk mengambil peran di dunia politik: harus ada orang-orang baik untuk mengubah, harus ada yang memutus mata rantai dunia politik kita yang menjijikkan.

Saya jelas bukan tipe manusia yang panjang sabar, bahkan hanya dengan berdebat kusir melawan orang yang kurang pemahamannya pun, kadang bisa bikin saya pusing. Tapi saya juga bukan tipe seorang follower. Saya paling anti terhadap apatisme dan keleluasaan ongkang-ongkang kaki sementara masih banyak hal yang harus diperbaiki di negeri ini.

Kembali lagi. Kenapa harus jadi politikus?

Begini. Ketika ada banyak orang lebih senang untuk bergerak dalam diam, lebih puas saat bisa menggerutu lebih banyak,  lebih plong saat memproduksi keluhan yang tidak membangun... harus ada orang-orang yang mau menampung semua gerutuan dan keluhan itu, untuk kemudian mengambil kebijakan yang tepat. Dan satu-satunya cara untuk melakukan hal tersebut adalah dengan menjadi seorang pengambil kebijakan.

Dunia politik berbahaya? Banyak godaan?

Sesungguhnya, setiap pekerjaan memiliki resikonya sendiri-sendiri, godaannya sendiri-sendiri. Dan sesungguhnya pula, tidak ada niat baik yang tak diridhoi oleh Tuhan.

Dan tentu saja!
Ga ada yang lebih sexy dibanding seorang perempuan cantik dengan otak cerdas, punya kemampuan mendebat dan negosisasi yang mumpuni, dan duduk di kursi pemerintahan membela hak-hak rakyatnya. I'll be that kind of woman!

Wednesday, October 7, 2015

Selamat ulang tahun yang ke-259!

Apa yang ada dalam pikiran saya pertama kali setelah membaca artikel tentang Bus Wisata Domapan...

Iya, saya pesimis. Biarlah sesekali saya pelihara rasa pesimis, sekali saja, untuk semua "pembangunan" di kota ini, yang sedang dilakukan besar-besaran akhir-akhir ini.

Bertahun-tahun rakyat menuntut: transportasi umum, fasilitas publik, ruang ekspresi, kenyamanan bagi kaum difabel... Apa pernah didengar?

Jalan-jalan di kota kami tetap berlubang. Trotoar ramah difabel tetap belum terwujud. Pengemis masih memenuhi tiap perempatan kota.

Tapi crane-crane raksasa terus menjarah kota kami. Gedung-gedung bertingkat, yang entah punya siapa, lambat laun terus menggantikan lapangan-lapangan bermain anak-anak kami. Ijin pembangunan terus diberikan entah oleh siapa dan bagi siapa.

Percayalah, Pak Sultan, Pak Haryadi.
Kami ngga butuh semua "pembangunan" dan "kecantikan" sebanyak ini.
Kami tahu, kota ini adalah kota pariwisata. Tapi apa pernah anda berdua menyadari, bahwa yang dirindukan oleh turis-turis itu bukanlah pembangunan gedung-gedung bertingkat? Mereka rindu, mereka pulang ke Jogja, karena masyarakatnya, karena budayanya.

Pak Sultan, Pak Haryadi.
Buka kedua matamu. Uang berapapun yang masuk ke kantong anda tak akan pernah bisa membeli jantung dan hati kota ini: kebudayaan dan masyarakatnya.

Jogja tak lagi berhati nyaman, Jogja berhenti nyaman.

Sugeng tanggap warsa, selamat ulang tahun!

Saturday, August 1, 2015

MOS: Masalah klasik dari tahun ke tahun.

Jujur ya, ketika tadi pertama kali denger ada berita anak SMP meninggal dunia karena MOS, saya ngga begitu kaget. Sedih sekali, tapi ga kaget. Jujur, klasik sekali. Di belahan dunia mana yang di sekolah tidak terdapat senioritas? Apalagi, di negara dunia ketiga? Jelas masih banyak. Harapan ada, Mendikbud Anies Baswedan meneken surat pernyataan untuk menghapus segala bentuk perploncoan, penganiayaan, dan pelecehan selama Masa Orientasi Siswa berlangsung. Tapi, mata rantai itu terlanjur membelit dunia pendidikan kita. Kalau Pak Anies memutus rantai itu sendirian, kapan selesainya? Atau malah, emang bisa selesai? No. Absolutely no. Kita lah yang seharusnya bahu-membahu memutus mata rantai itu. Saya tidak menganjurkan MOS ditiadakan. MOS perlu untuk memberi kesempatan siswa untuk beradaptasi, tapi senioritas dengan kedok "MOS"? Ya jelas enggak dong.

Kita ga bisa minta presiden dan depdikbud buat tuntasin semua senioritas di Indonesia. Banyaaaak sekali yang harus mereka urus, ga imbang jumlah pemerintah dengan rakyatnya. Mulailah segala sesuatu dari lingkup yang paling kecil: keluarga.

Maaf ya kalau kurang berkenan.

Tapi menurut pendapat saya, senioritas yang memakan korban bukan 100% salah sekolah atau OSIS, karena penanaman karakter nomor satu terdapat pada keluarga. Terserah pihak sekolah mau bikin MOS sekeras apa, kalau memang murid tidak bisa dipaksakan untuk ikut, dia boleh berkata tidak. Tolong ya, untuk para orangtua, sebaiknya anak diajarkan untuk kritis terhadap hal-hal yang tidak tepat porsi dan situasinya. Agar ga bisa segampang itu untuk bilang iya pada senioritas berkedok MOS.

Kalau memang dari awal anak tidak cocok dengan MOS, ya sudah, tidak perlu datang untuk hari-hari selanjutnya. Mau dimarahi bagaimanapun, tujuan wali murid bayar SPP kan buat anaknya belajar. Hak kita untuk memilih dan bersuara kok 😊

Kalo satu bertindak pasti yang lain bertindak. Keluhan anak kadang emang terdengar sepele (atau kadang mereka suka kasih bumbu, saya akuin aja, saya juga masih keitung anak soalnya 😊), tapi anak-anak ga pernah bohong. Ketika mereka bilang ga nyaman, mereka akan bilang. Begitu juga sebaliknya. Coba letakkan gadget anda sebentar dan biasakan saling sharing tanpa distraction apapun, mereka akan merasa dilindungi dan nyaman cerita sama orangtua.

Banyak anak yang dengan rela tidak rela ikut diplonco dengan alasan "Takut dibilang culun". Wajar kok, manusia kan selalu ingin diakui oleh lingkungannya. Tapi, ajak anak untuk berprestasi positif hingga pengakuan itu datang dengan sendirinya. Ga perlu kok kita mengemis pengakuan dari orang-orang yang suka seenak jidat memperlakukan orang lain. Derajatnya sama, kenapa harus ngemis sih?

Di sisi lain, kalau memang sekolah menghendaki diselenggarakan MOS untuk membentuk karakter dan mental anak agar tangguh dan ga manja, bisa kok dengan mengajarkan entrepreneurship atau kunjungan sosial. Saya percaya, efeknya sama. Justru anak akan jadi belajar bersyukur juga

Pendapat saya sebagai anak baru lulus sekolah aja kok, kalau tidak berkenan ya gapapa. Sebenarnya yang pertama-tama bisa memutus rantai senioritas itu penanaman moral di keluarga 😊 Bukan hanya sekolah.

Wednesday, July 29, 2015

BRANDING ITU PENTING BANGET

Hai! Ga usah pake bertele-tele, "Wah udah lama ga nulis nih" bla-bla-bla karena itu super khas blog anak SMP banget hahaha.

Banyak temen yang nanya soal branding. Apa sih branding itu? Branding adalah trik marketing. Aku ga sepinter Pak Hermawan Kertajaya yang emang bidangnya di marketing buat jelasin teori macem gituan. Tapi sepenangkepku, branding itu adalah semacam make up. Kamu melakukan hal-hal yang kamu pengen bikin orang langsung ngeh dan inget sama brand kamu tiap mereka liat hal itu. Branding doesn't mean pencitraan which they are completely different. Branding itu berguna untuk membesarkan nama brand kamu. Bisa berupa kegiatan, iklan, touch up, innovation, dan lain-lain.

Salah satu produk favorit aku yang menurutku selalu sukses dalam ngelakuin branding adalah...

WALLS CORNETTO

LIKE

WHAT

...

Mereka tuh ya, kalo bikin ad ga pernah tanggung-tanggung. Antaranya pake artis besar, konsepnya unik, atau theme songnya terngiang-ngiang terus. RAN ft. Shilla? Dulu booming banget via "Tunjukkan Rasa Cintamu" dan konser RED-nya Taylor Swift pasti bikin Unilever laku keras hahaha. Sukak! Konsep mereka ga pernah monoton dan selalu ceria. Yang terbaru... Pagi ini aku lagi search materi kuliah di YouTube eh ndilalah disuguhin dulu ad sama YouTube, biasanya langsung aku skip kan kalo ga pantes gitu kaya pembalut atau apa tapi ini kok keknya lucu HEHE ternyata iklannya Cornetto.

Tentang a friendzoned-couple gitu sih terus mau ngajakin prom tapi gagu banget.
Entah aku yang kemakan situasi apa gimana tapi yang jelas I'm not the only one who desperately searched the theme songs on Google sumpah pas ketemu lagunya (Tell Her by Rizzle Kicks sama Heat The Moment by Hotel Flamingo), aku liat di kolom comment... ternyata banyak bener yang bahagia akhirnya nemu lagu bagus setelah liat ad nya Cornetto. Gila! Keren abis sih ini! Nih aku kasih videonya, lucuk bener ga boong:



Tuesday, June 2, 2015

Kenapa kita harus baik sama semua orang? Kenapa kita harus inget kebaikan orang lain dan mulai belajar buat melupakan kesalahan mereka yang mungkin pernah mengecewakan kita? Aku rasa selepas kita SMA dan mulai memasuki dunia perkuliahan, itulah saatnya buat kita memperluas jaringan. Entah untuk apa, jaringan akan menentukan keberhasilan kita juga. Sebagai makhluk sosial, kita ga akan pernah bisa kerja sendirian, kita selalu butuh bantuan orang lain meski kadang wujud bantuannya ga terlihat dan ga begitu signifikan. Jejaring ga bisa dibeli, meski ada ya yang loyal karena dia sering dijajanin, ditraktir, dicontekin...Tapi believe me, uang ga akan jamin semuanya ada dalam kendali kamu. Kamu bisa bikin dunia dalam genggamanmu, itu gampang banget. Tinggal kita kerja keras kaya robot, peralat orang sana-sini, suap sana-sini, korup... Tapi apa hasilnya barokah? Manfaat? Engga kan.

Semua yang didapetin secara instan, hilangnya akan instan juga. Tapi kalo kerja pake hati, bangun relasi pelan-pelan, attitude dijaga terus... Pasti hasilnya akan keliatan bagus beberapa waktu ke depan. Ga cepet, proses itu ga cepet dan cenderung menyakitkan. Kamu akan ditempa, dibentuk sedemikian rupa. Dan percayalah. Orang-orang yang ada saat kamu di bawah bakalan beda sama mereka yang ada saat kamu di atas.

Sunday, May 17, 2015

International Day against Homophobia and Transphobia

Gay atau bukan, saya rasa ga akan berpengaruh banyak sama kualitas dan kinerja seseorang. Pejabat straight banyak yang korup, tentu lebih ga banget dibanding artis gay yang berkarya dan beramal bagi banyak orang.
Menyimpang dari agama?
"Bagimu agamamu, bagiku agamaku". Orientasi seksual seseorang TIDAK ADA hubungannya sama sekali dengan agama yang dianut. Kadang memang kita perlu melongok ke dalam diri masing-masing sebelum meneriaki orang lain.
Dan menjadi gay bukan sebuah pilihan, sama seperti kebanyakan orang yang terlahir straight, apakah kita memilih untuk jadi straight? No, we didn't.

It's the International Day against Homophobia and Transphobia. We stand with everyone fighting against discrimination and their equal rights.

We're all human. All equal.

Tuesday, May 5, 2015

Mba Veyo & flat shoes kupu-kupu


One of the most inspiring woman I've ever met is my lovely Mba Anik Ve Sulistiyani Sasongko. Aku pernah cerita ya, aku pernah kehilangan sahabatku, Agnes, karena kanker? Nah Mba Veyo ini adalah sosok yang memotivasi sahabatku hingga saat-saat terakhir hidupnya. Mereka kebetulan sama-sama mengidap kanker yang sama, kanker tulang.

Mba Veyo ini juga yang ngajak aku pertama kali untuk ambil bagian di dunia kanker anak, dunia yang awalnya asing banget buat aku.

Sekarang, Mba Veyo masih aktif jadi motivator di RSUD Sardjito, Yogyakarta, keliling-keliling kota juga (ngukur dalan atau mengukur jalan kalo kami bilangnya, saking banyaknya waktu yang dihabiskan di jalan), dan sudah banyak sekali teman-teman yang disemangati oleh Mba Veyo. Mba Veyo selalu punya keinginan-keinginan mulia untuk adik-adik penderita kanker, ia juga salah satu inisiator Yayasan Kasih Anak Kanker Jogja.

Seminggu yang lalu aku tawarkan sepatu batik buat Mba Veyo, kebetulan Mba Veyo juga suka banget pakai batik. Mba Veyo langsung pilih batik oranye kupu-kupu, binatang favoritnya. Kupu-kupu menginspirasi Mba Veyo untuk hinggap dimana-mana, memberi warna pada hidup orang yang ditemuinya, dan selalu berkarya meski dalam keterbatasan.

Kalian juga bisa bantu adik-adik penderita kanker melalui Mba Veyo, langsung hubungi kami aja ✨

Monday, May 4, 2015

How to start? #MarketeensID

Hai! Maaf ingkar janji, I supposed to post this yesterday but I was too busy so yeah, so sorry 😞

Okay, let's get start it!
First lesson is, "How to start?".
Ini adalah pertanyaan utama yang paling banyak diutarakan sama temen-temen yang mau memulai bisnisnya. Banyak yang udah punya ide bagus, tapi bingung mau mulai darimana, mau merealisasikan bagaimana... Banyak yang udah punya bayangan, tapi konsepnya belom jelas, tujuannya masih jangka pendek. Oke, kalian tau ga, bikin bisnis itu gampang banget. Kalian bisa bikin warung di depan rumah, bantu orang melakukan suatu pekerjaan dengan dibayar, bahkan part time di kios-kios kecil, itu juga bisnis. Gampang, kan? Tapi, bikin bisnis yang jangka panjang, bisa jadi investasi, dan modal masa depan... nah itu yang menantang! Dan kalian pilih mana? Selamanya kerja keras dengan penghasilan stagnan atau penghasilanmu meningkat terus hingga akhirnya pensiun usia dini, dan besok tua ga khawatir lagi sama kerepotan dana ini-itu? Pasti yang kedua, kan? Nah, buat dapetin itu semua, ga ada yang instan. Selalu ada proses dan pengorbanan untuk mencapai kesuksesan yang kamu dambakan. Mau sukses? Ayo, mulai dari sekarang. Tentu ga ada kata terlambat, usia berapapun adalah kebaikan. Namun, kenapa ga kita mulai sejak dini aja?

Buat bisnis yang punya umur panjang, it's challenging. I didn't say it's difficult lho ya hehehe, buang kata-kata negatif dari hidup kamu, itu step pertama ☺ Loh, beneran, Na? Iya, beneran. Tantangan seorang pebisnis, baik marketing maupun entrepreneur, pasti bakalan banyak banget ke depannya. Kalo kamu terus melihara hal-hal negatif, pasti yang dateng kamu juga hal-hal negatif.

Saking menantangnya, memikirkan konsep dan rencana bisnismu ke depan, harus sematang mungkin, loh. Inget 3 masalah pokok ekonomi modern?
 • What: apa yang akan kamu produksi,
 • How: bagaimana cara memproduksinya, dan
 • For whom: siapa target pemasaran atau pengguna jasa kamu.

What.
Kamu bisa mulai menjual atau memproduksi barang atau menawarkan jasa sesuai hobby kamu, kesukaan kamu, passion kamu. Ini hal paling dekat sama kamu dan yang kamu paham betul. Jadi, ke depannya, aku harap kamu bisa enjoy saat melakukan pekerjaan kamu. Karena buat apa sih kita kerja dengan penuh tekanan? Stress? Pasti hasilnya juga ga bakal semaksimal yang kamu harapkan. Kamu seorang gitaris band? Kamu bisa mulai dengan hal-hal yang berhubungan dengan perantara jual-beli gitar bekas, gitar bertandatangan, atau jual pick gitar yang unik-unik. Atau, bisa juga lihat sekitar kita, peluang is everywhere! Ibumu seorang penjahit? Coba deh bikin kerajinan dari perca, yang belom pernah ada sebelumnya. Pake internet kan? Cari ide dari Pinterest, segudang!
See? Semudah itu kok kalo mau mikir barang apa yang akan mulai kamu bisniskan. Biasanya, setelah nemu "What", kalian akan dipertemukan dengan masalah ekonomi modern yang kedua, yaitu...


How.
Gimana cara dapetin modalnya? Gimana cara muter modal? Gimana cara bikin barangnya? Pake tenaga kerja apa engga? Pake bahan apa aja? Hahaha, "How" ini emang biasanya paling lama buat dipikirin, karena kita mikir mulai dari kualitas hingga kuantitas, produk hingga service, dan bahkan Cash on Delivery (COD) atau shipping (pengiriman via kurir) pun udah harus dipikirin dari awal. Untuk kamu yang bener-bener mulai dari awal, tanpa modal, tanpa ilmu sama sekali... pokoknya bener-bener nol, tenang aja. Dulu aku juga gitu. Pak Chairul Tanjung yang sekarang punya Trans Corp dan Bu Susi Pudjiastuti Menteri Perikanan dan Kelautan dulu juga gitu. Pokoknya ga boleh kecil hati, peluang is everywhere! Opsi pertama, pinjem modal dari orangtua atau orang yang kalian percaya. Tapi, aku pribadi kurang menganjurkan hal ini kalau kalian tipe orang yang:
• ga suka dikejar deadline,
• ga suka diperintah,
• ga suka dimonitor, dan
• ga suka dikejar-kejar.
Karena dear my friends, bisnis adalah bisnis dan keluarga adalah keluarga. We have to be professional, kalau kita ga mau menyimpan rasa pekewuh atau rasa ingin balas budi nantinya. Dan aku yakin, orang tua kalian pasti bakal lebih bangga kalo kalian mulai semua dengan modal sendiri ☺ Terus cara ngumpulin modalnya gimana, Na? Gampang banget, peluang is everywhere! Menyisihkan uang jajanmu? Menjadi reseller di toko favoritmu? Itu cuma salah dua cara yang paling banyak dipakai oleh mereka yang mau mulai pakai modal sendiri. Aku prefer pake cara yang kedua, mungkin karena aku orangnya boros dan paling susah disuruh nabung. Celengan dan rekening jebol mulu, investasi aja baru mulai umur 18 ini hahaha... Jadi reseller atau dropshiper itu gampang banget! Banyak toko yang mengizinkan kalian buat share foto barang dagangan mereka, dan bahkan ngasih discount khusus kalau kalian berhasil menjual barang itu, meski kadang-kadang ada target penjualan tertentu. Ga masalah! Inget, kita cinta challenges! Makin ditantang, makin demen! Nah, kalian bisa share foto barang itu mungkin ke lingkungan terdekat kalian dulu. Ask your customers to pay their bills first, baru deh kalian transfer ke suppliernya. Tanpa modal kan? Nanti, keuntungan-keuntungan itu kalian tabung, buat jadi modal bisnis impian kalian! ☺ Untuk kualitas, jadikan prioritas. Dan sementara untuk kuantitas barang, sebaiknya menyesuaikan dulu saat kalian memulai bisnis. Kalo udah mulai berjalan, baru tambah terus targetnya! Jangan pernah puas sama apa yang udah kalian dapetin, challenge yourself!  Untuk tenaga kerja, kalo baru mulai sih ga usah macem-macem cari pegawai dulu. Kalian kudu jadi aktif di masa-masa awal bisnis kalian jalan, buat monitor langsung tentunya. Dan selalu inget, apapun yang kalian lakukan, bagaimanapun challengingnya suatu fase, SERVICE IS NUMBER ONE. Buat materi selanjutnya yah ini, kita bakal bahas, kenapa sih service atau pelayanan itu penting banget dan kenapa bad mood itu haram 😉

For whom.
Emang sih, untuk awal-awal buka bisnis, pasti akan menantang sekali rasanya: menemukan pangsa pasar yang tepat, menemukan komunitas, menentukan segmentasi... Tapi tenang, hukum alam akan banyak bantu kamu disini. Itulah, kenapa konsep kamu harus matang. Karena kalo kamu udah matang, prinsip kamu ga akan goyah, dan yang mendekatimu nanti adalah benar-benar orang yang niat, bukan cuma mau hit and run atau nanya-nanya doang 😝 Misal kamu jual tas branded, nih ya. Harga udah jelas, standar tas branded. Segmen udah jelas, misal katakanlah mamah-mamah muda sosialita yang gemar arisan. Nah, kalo udah kaya gitu, apakah bapak-bapak lansia yang jarang keluar rumah bakal mampir ke toko kamu? Ga mungkin itu ga ada, tapi probabilitasnya sangaaaat kecil. Itu hukum alam. Mereka yang ga berkepentingan akan tereliminasi. Kalo udah kaya gitu, enak. Kamu bisa fokus buat memasarkan produk kamu ke lingkungan tertentu aja, ga perlu buang-buang tenaga buat nawarin produk ke konsumen yang ga punya daya beli. Tapiiiiii...... tidak menutup kemungkinan kalau kamu punya produk yang menjangkau semua kalangan. Contohnya, cokelat khas sebuah daerah. Siapa sih yang ga makan cokelat? Dari anak-anak sampai orang tua pun beli, yang di daerah itu pun beli buat oleh-oleh, begitu juga dengan pelancong yang berkunjung. Bisnis yang menjangkau semua kalangan resikonya cukup besar (sedikit lebih lelah karena harus memasuki konsumen semua kalangan, yang kadang ga jelas daya belinya kuat apa enggak), tapi kalau kamu berhasil, kamu bisa jadi pionir. Dan ini yang lagi aku kembangin buat konsepnya Little Luna, one stop service. Ya ada fashion Nusantara buat semua umur, makanan lokal buat semua kalangan... pokoknya ingin merangkul segala lapisan.

Oke, segini dulu. Kita sambung besok yah!

Sunday, May 3, 2015

Ujian Nasional SMP ✨

Seingat saya, Ujian Nasional SMP adalah salah satu penentu terbesar dalam hidup saya sejauh ini. Saya adalah tipikal orang perfeksionis, dan kadang hal ini justru jadi bumerang bagi saya sendiri. Saya selalu ingin memberikan usaha terbaik saya, hingga hasil akhirnya pun nanti akan sesuai dengan yang diharapkan. Sewaktu SMP, saya ingat betul penyesalan saya ketika tidak berhasil masuk ke SMP idaman saya waktu itu, dan berniat "balas dendam", masuk ke salah satu SMA favorit di Yogyakarta.
Tuhan mencipta dan menghendaki semua indah pada waktunya. Mungkin memang waktu itu saya belum sedewasa sekarang, sehingga Tuhan tidak mengabulkan keinginan saya semudah itu. Keinginan saya baru terkabul di SMA ini, ketika akhirnya saya berhasil masuk ke SMA 8 Yogyakarta, yang semakin meningkatkan kualitas saya sebagai manusia.
Semakin saya renungkan, memang benar adanya jika hasil akhir akan selalu sesuai dengan proses.

Ibu-ibu... edukasi formal hanya bertugas untuk mengantarkan anak anda menjemput impiannya. Besok UN SMP akan dilaksanakan, tentu kita mengharap hasil yang terbaik. Namun, apabila jika hasil yang didapat belum sesuai harapan, teruslah semangati putra-putri anda. Percayalah, saya pernah merasakan betapa terkekangnya saya ketika kecil dipaksa untuk mempelajari hal yang tidak saya sukai.
Saya tahu, keinginan orangtua adalah anaknya mendapatkan yang terbaik. Namun, terbaik menurut orangtua belum tentu terbaik bagi anak. Jika putra-putri anda belum berhasil di satu bidang yang anda harapkan, doronglah ia untuk berprestasi di bidang kesukaannya yang lain. Nilai dalam rapor memang perlu, namun pemahaman dan implementasi saya kira adalah hal yang utama dalam pendidikan.

Semoga sukses untuk adik-adik sekalian, sukses berarti bahagia dengan apa yang kita kerjakan. Semoga semua selalu ingat bahwa Tuhan selalu melihat proses kita. Bukan hasil akhir. Dan jangan lupa, selalu lawan ketidakjujuran, integritas negara ini adalah prioritas nomor satu.

Selamat memulai pekan yang baru!✨

Friday, May 1, 2015

Introducing #MarketeensID

Aiiiih, such a wonderful week for me! Everything is perfect in His time, really. Kamis aja deh: dari pagi masih diberi kesempatan untuk bangun pagi, lalu pergi ke Royal Ambarrukmo untuk menerima piagam entrepreneur, dan ditutup dengan kegembiraan ulang tahun Wina yang ke delapan belas, hampir semua sahabatku dateng semua. I'm soooo blessed! Alhamdulillah for every single thing.

Dan yang menyempurnakan kebahagiaanku, adalah dengan melihat teman-teman sedikit banyak mulai menyadari peranan entrepreneurship bagi diri mereka sebagai kaum muda. Bangga sekali dengan kesadaran dan minat yang mulai tumbuh itu. Teman-teman juga ada yang aktif banget chat ke aku, nanya-nanya soal bisnis dan kiat-kiat memulai kegiatan entrepreneur. Nah, karena rata-rata pertanyaannya sama, sepertinya aku akan mulai rutin bahas di blog ini tentang young entrepreneurship. Selain biar pertanyaan yang sama ga diulang-ulang, tentu juga biar temen yang lain pada ikutan belajar, ga cuma yang private chat ke aku aja. Bakal aku kasih label #MarketeensID, aku harap bakal berguna buat temen-temen yang mau mulai bisnis, marketing, investasi, atau bahkan menarik minat kalian yang sebenernya cuma mau baca atau kepo-kepo aja :p Gapapaaaa, kepo bermanfaat kan ga salah!

Sekian ya, semoga bisa aku mulai tulisan pertamaku di #MarketeensID besok siang ;)



Wednesday, April 29, 2015

waduh. semua ayah mikir gini po?

aku belom mau nikah -_- masih panjang -_- tapi terharu ga sih baca surat semacem ini? mungkin inilah alasan kenapa ayahku selalu menungguku pulang bahkan hingga larut malam. rela menjemputku dimana pun, jam berapa pun. mulai dari aku kecil, pertama kali bersekolah, hingga sekarang aku sudah lebih dewasa: pertemuan ini, pertunjukan itu, kompetisi ini, presentasi itu. alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama ayahku, alhamdulillah ayah masih diberi kesehatan dan umur panjang. semoga hingga seterusnya pun ayah selalu ada untukku, untuk menemaniku hingga semua mimpiku menghampiri satu-persatu.


"Untuk orang yang akan menemani putriku, yang akan menua bersama hingga maut datang menjemput.



Halo, nak. Sebelumnya aku tidak pernah bertemu denganmu, tapi aku tahu bagaimana efek kehadiranmu di hidup putriku karena aku melihat ada perubahan di diri putriku. Tahukah kamu kalau dia jadi lebih lama ketika mandi? Aku tahu setiap kali ia membawa berbagai produk kecantikannya masuk ke kamar mandi, dia pasti akan menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi. Tahukah kamu dia menghabiskan waktunya di depan laptop untuk belajar membuat masakan kesukaanmu? Satu kali, dua kali, tiga kali dia mencoba dan aku serta istriku dan seisi keluarga sering jadi kelinci percobaannya. Tahukah kamu bahwa dia sering grogi sebelum pergi bersamamu? Dia menghabiskan waktu berjam-jam di kamarnya cuma memilih baju terbaik dan dandan secantik mungkin. Padahal menurutku, apapun yang dipakai putriku, ia selalu terlihat cantik. Tahukah kamu bahwa dia sering pulang, masuk ke rumah dengan senyum yang sangat lebar setiap kali pulang dari pergi bersamamu? Senyum itu dulu cuma jadi milikku dan istriku, ketika kami membelikannya boneka kesukaannya. Senyum itu cuma jadi milikku dan istriku ketika ia tampil di pentas sekolah dan berhasil menemukan kami di tengah keramaian.



Aku tidak marah, aku juga tidak iri. Aku tahu, suatu hari momen ini akan datang. Momen dimana aku akan memegang tangannya untuk yang terakhir kali dan menyerahkannya kepadamu. Momen dimana aku akan pensiun jadi pahlawannya dan kamu yang akan menggantikan peranku itu. Walau aku tahu, dia akan selalu menganggapku sebagai pahlawan nomor satu dalam hidupnya. Tapi percayalah, nak. Dia juga akan mengandalkan dirimu.

Jadi, aku cuma ingin berpesan. Maafkan kalau aku memang cerewet, tapi percayalah, istriku bisa menulis sebuah novel 1.000 halaman dan aku mungkin hanya akan menulis dua sampai tiga halaman saja. Nak, putriku mungkin bukan perempuan paling sempurna yang akan kamu temui di dunia, dia juga bukan perempuan paling cantik yang mungkin hadir di hidupmu. Tapi kamu harus yakin dan percaya sebelum menghabiskan sisa hidupmu bersama dirinya, dia lah satu-satunya perempuan yang memang pas dan cocok untuk hidup bersamamu setiap hari. Yakinkan dirimu bahwa dia satu-satunya perempuan yang bisa membantumu menjadi lelaki yang lebih kuat, lebih baik dan lebih dewasa setiap hari. Aku tahu, hidup kalian nanti tidak akan selalu penuh dengan tawa seperti yang kalian jalani sekarang, tapi aku ingin kalian berdua tetap memegang erat tangan satu sama lain, jangan pernah lepaskan, sehebat apapun badai yang menerpa kalian.



Tolong pertahankan senyum lebar yang selalu ia pasang setelah bertemu dirimu, karena aku dan istriku tidak akan selalu di sana untuk membuatnya tersenyum.

Tolong bantu dia untuk berdiri dan berjalan, bahkan berlari ketika dia terjatuh seperti yang aku dan istriku lakukan ketika dia masih jadi putri kecil kami.

Tolong tegur dan peringati putriku kalau dia memang berjalan ke arah yang salah, seperti yang aku dan istriku lakukan ketika dia salah mengambil jalan dalam hidup.



Yang terpenting, buat putriku selalu merasa dia berada di rumah ketika bersamamu. Tidak ada yang lebih penting selain rumah karena di sana tempat kalian berteduh, berlindung dan berkumpul bersama. Rumah adalah tempat pelarian terakhirmu. Buat dia nyaman, buat dia bahagia karena aku dan istriku tidak akan selalu di sini untuk membahagiakannya. Aku tidak bisa memberikan cinta seperti yang kamu berikan kepadanya, jadi aku yakin kamu punya kemampuan untuk mengerti dirinya.

Baiklah, aku sekarang sudah terdengar seperti istriku. Terima kasih sudah mendengarkan pesan panjangku ini. Aku sudah lebih lega sekarang seraya melihat kalian berdua menua bersama-sama.



Ditulis penuh rasa syukur dan bahagia,

Calon Ayah Mertuamu."

Friday, April 24, 2015

Semua Perempuan Wajib Melakukan Perawatan... Vrai ou Faux?

Semua perempuan itu dilahirkan dengan kecantikan yang menyertai. Pertanyaannya adalah, apakah mereka mampu merawat kecantikan itu setelah dewasa?
Era modern, konsep "cantik" semestinya bukan lagi tentang kulit putih, rambut hitam, dan tubuh semampai. Tapi "cantik" adalah tentang karakter. Tentang pembawaan diri dan bagaimana kita merawat apa yang diberikan oleh Tuhan.
Perawatan itu perlu ngga sih? Perlu banget. Sangat perlu. Perawatan bukanlah pergi ke klinik kecantikan dan menjalani tahap-tahap "perawatan" dengan obat-obat kimia atau mesin-mesin canggih. Justru akan merusak kecantikan alami kita. Perawatan sesungguhnya telah diberikan oleh Tuhan secara sendirinya. Melalui apa? Sayuran, buah-buahan, kebahagiaan, kesempatan berolahraga, rasa syukur, dan hal-hal positif lainnya. Bukan bahan kimia.
Perawatan-perawatan seperti inilah yang perlu kita lakukan. Tujuannya yang pertama kali tentu untuk merawat, bukan mencari kesempurnaan dan agar dipandang oleh banyak orang. Menjadi pusat perhatian pasti akan kita alami secara otomatis jika kita telah menjadi perempuan yang terawat secara fisik dan memiliki karakter atau pembawaan diri yang baik.
Bagaimana dengan perasaan bangga? Pride? Kadang ada yang meminta kita dandan atau merawat diri agar "nggak malu-maluin". Pertama-tama, tanamkan rasa percaya diri dulu kalau kamu cantik, kita semua cantik. Tujuannya agar apa? Agar kita bersyukur dengan apa yang kita miliki dan bangga dengan kecantikan alami kita. Kepandaian berdandan adalah bonus. Membanggakan orangtua, pacar, atau suami saat di sebuah acara adalah bonus. Menjadi pusat perhatian saat menjemput anak di sekolah adalah bonus. Decak kagum "Wah dia cantik banget" adalah bonus. Yang terutama dan pertama adalah: kebanggaan dan kenyamanan diri kita sendiri dulu sebagai perempuan.
Merawat diri tidaklah mahal. Pergi ke perpustakaan untuk memberi asupan pada otak kita? Tidak mahal. Membeli buah atau sayur (harus organik dan lokal, ya) di pasar atau supermarket? Tidak mahal. Membuat lulur atau scrub dari kopi bubuk? Tidak mahal. Membuat masker dari buah-buahan yang ada? Tidak mahal. Memberi senyum pada orang yang kita temui sehari-hari? Tidak mahal. Beramal semampu kita? Tidak mahal.
Rawatlah diri kita sesederhana mungkin, sealami mungkin, sebahagia mungkin. Hasilnya tentu akan berbeda dengan perawatan klinik yang mengharuskanmu memakai obat-obat kimia dan membuat semuanya menjadi serba instan. Aku percaya semua yang didapat secara instan akan berlalu dengan instan pula. Namun semua yang butuh perjuangan, butuh kesabaran, butuh ketelatenan, dan memerlukan proses... akan everlasting.
Selamat berakhir pekan, Cantik!

Wednesday, April 15, 2015

UN Bocor

Aku sedih banget deh ini, beneran.
Aku sama temen-temenku kebetulan taunya telat kalo ada bocoran UN jadi ga bisa lapor apa-apa. Dan temenku yang udah tau duluan ada yang diem aja, ada yang takut, ada yang make tanpa sadar, dan ada yang ga berani lapor. Di luar itu, bocoran ini udah diunduh sama banyak siswa hingga dibahas di lembaga bimbingan belajar. Udah sejauh itu loh. Dan anda tahu? Semuanya 100% sama persis sama isi kertas ujian yang ada di meja aku pas UN kemaren.
Aku ga ngerti. Sebenernya orang tua jaman sekarang menuntut apa sih dari anaknya? Aku bersyukur orang tuaku ga pernah memaksa aku untuk selalu dapet nilai bagus dan ranking di kelas, yang penting aku paham dan bisa kasih implementasi nyata di masyarakat.
Kalo orang tua nuntut-nuntut anaknya terus, anak jadi merasa kebebani buat "membanggakan orangtuanya". Dan hasilnya apa? Mereka akan menghalalkan segala cara buat dapet nilai bagus. Lalu prosesnya dinilai ga? Enggak.
Aku cuma mau bilang aja, jangan sampai masyarakat kita terbiasa untuk mendidik anak menjadi koruptor. Ajak mereka buat menjalani pendidikan sebagaimana mestinya, seperti ajaran Ki Hajar Dewantara, pendidikan yang nguwongke uwong, memanusiakan manusia.
Semoga semua pihak sadar karena ini bukan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah. Integritas negara bergantung pada integritas masyarakatnya. Jangan pernah racuni generasi penerus kita.
- Tulisan ini, agar semakin banyak orangtua yang paham, kami sebagai anak sama sekali ga suka dipaksa. Arahkan kami, jangan tekan kami. Kami punya minat dan bakat yang beda-beda, dengarkan. Jangan matikan.

Sunday, March 29, 2015

I learn to be more faithful

Kalau mau dibilang bodoh, mungkin saya bodoh, dibutakan cinta? Kalau ada yang bilang saya kurang kerjaan, mungkin benar. Tapi saya sedang dalam tahap belajar menyayangi dengan tulus, tanpa mengharap balasan apa-apa. Saya sedang belajar percaya bahwa ketulusan pasti berbuah kebahagiaan. Jika ternyata kelak bahagia itu tidak datang dari dia, saya pun tidak masalah. Mungkin orang lain yang akan mengembalikannya.
Seseorang yang bersama saya sekarang, telah membuat saya sendiri belajar banyak hal. Saya belajar untuk menyayangi dengan seratus persen, saya belajar lebih sabar, bahkan saya belajar menyempurnakan peran saya sebagai perempuan.
Mengapa saya berusaha total dalam menyayanginya? Saya telah memilih dan setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Dan inilah konsekuensinya: mendampinginya dengan ikhlas. Saya takut menyesal jika tidak ada waktu lagi untuk berbuat sebaik-baiknya terhadap dia. Dan mungkin, saya terlalu malas untuk mengulangi semuanya lagi, memulai dari awal, mencari kenyamanan pada orang yang baru... Mencari memang tidak akan ada habisnya. Lantas, bukankah akan lebih baik jadinya jika saya mensyukuri apa yang telah ada sekarang, menjaganya, dan memberikan seratus persen diri saya?
Mencari yang lain memang mudah, mengapa kita tidak mencoba yang lebih sulit... being faithful, misalnya?

Thursday, March 12, 2015

tulisan ini khusus, sangat khusus, bahkan telah ku pertimbangkan secara matang, akan ku persembahkan untuk orang-orang terbaik yang pernah hadir di masa lalu...

hai :)
mungkin sudah berhari-hari
berminggu-minggu
berbulan-bulan
atau mungkin dalam tahun yang telah berganti dengan tahun selanjutnya
kita sudah tak lagi saling berjumpa

people changes
feelings fade
people comes and goes
everything is moving forward
and there's nothing I can do to stop
and if only I could, I wont try

there were...
a lot of worries
a lot of mistakes
a lot of untrusted promises
a lot of doubt
a lot of misunderstandings

"I'm sorry for everything..."

I mean...
bukan salah kalian, ketika kalian tidak lagi ada dalam hidupku
bukan salahku juga, ketika aku memilih untuk berjalan keluar dari semua kebiasaan-kebiasaan kita
tapi memang, masanya telah habis
telah habis
buku cerita kita telah tamat
telah tamat
dan yang tersisa hanyalah kenangan-kenangan
yang seperti kotak musik klasik
selalu dan akan selalu ku putar ketika aku rindu
ketika aku rindu...
dan rindu...

hingga suatu saat aku akan lupa pada rindu itu
hingga suatu saat akan ada orang-orang baru yang datang dalam kehidupan kalian, sama seperti orang-orang baru yang mengisi cerita hidupku selanjutnya
hingga suatu saat kita semua saling menyadari bahwa frekuensi kita tidaklah sama lagi
bahkan mendekati pun tidak

namun,
terima kasih banyak telah menciptakan banyak momen tak terlupakan, kenangan indah, kebahagiaan yang berkesan, dan perasaan yang tidak mungkin dapat aku jelaskan.
aku harap kalian akan selalu berbahagia,
kini, esok, selamanya.
semoga kita dapat saling dipertemukan lagi dalam lain putaran waktu selanjutnya
entah dalam persimpangan atau persinggahan sejenak
entah dalam sebuah pertemuan tidak disengaja
entah dalam kesempatan yang lama ditunggu

entahlah, kapanpun itu...
a bientot! :)

Wednesday, February 18, 2015

tulisan dikit aja

Ga berani saya ngejelek-jelekin, ngata-ngatain negara sendiri. Even the government, even the laws, even the bureaucracy, dan segala even lainnya, saya ga nyampe hati buat kasih kritik yang pedes-pedes. Mau presiden kita siapa dan gimana kerjanya pun, saya berusaha untuk komentar seperlunya dan hanya komentar jika ada yang tanya.

Kenapa?

Karena saya ngerasa saya belom kerja banyak buat bantu negara ini makin maju. Belajar masih suka males-malesan, masih suka konsumsi produk impor, masih boros listrik dan air, masih boros kertas, kemana-mana masih naik kendaraan pribadi, bahkan pake mobil cuma keisi jok depan. Entah cuma sama ayah atau sama ibu aja.

Bukan apa yang diberikan negara untukmu, tapi apa yang kamu berikan untuk negaramu.

Kita dikasih sama Tuhan negara yang makmur. Air bersih, udara bersih, tanah yang subur, pokoknya apa-apa kaya dan terjamin. Sekata-kata orang deh, saya mah teuteup... dibesarkan oleh ibu pertiwi Indonesia. Makan dari hasil bumi dan hidup dari kekayaan alam tanah air saya sendiri.

Kira-kira seperti itu hehehe...

Sunday, February 8, 2015

dedaunan

"Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.

Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.

Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawa pergi entah kemana."

- Tere Liye, "Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin"

Kadang tidak semua pelajaran hidup kita terima dalam bentuk kebahagiaan, justru kita belajar banyak dari yang namanya kegagalan, kesakitan, kekecewaan. Dan kesuksesan adalah bagaimana kita bangkit dari keterpurukan-keterpurukan itu.

Selamat memulai pekan yang baru lagi, be an inspiration, always ♡

Saturday, January 24, 2015

Sejak sah menjadi siswa paling senior di bangku SMA dan sebentar lagi memasuki masa kuliah, pertanyaan serupa sering terdengar, "Ingin kuliah dimana?" "Abis ini lanjut kemana?" "Ambil UGM?"

Sedari kecil, saya selalu punya mimpi untuk keliling dunia, dan entah bagaimanapun jalannya nanti, saya percaya kerja keras yang akan memberangkatkan saya ke banyak kota di dunia. Kehidupan selalu berjalan dan keadaan menjadi semakin dinamis, hingga akhirnya saya sadar bahwa perjalanan itu harus dimulai secepat mungkin, seawal mungkin, mulai dari sekarang. Keinginan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri sudah ada di alam bawah sadar saya, hingga pertama kali saya mengajukan beasiswa ke pemerintah Singapura sewaktu SMP dan menjadi kandidat nasional pertukaran pelajar AFS sewaktu kelas 2 SMA, sayang sekali semuanya belum terlaksana sesuai rencana. Tapi saya beruntung telah mendarat dengan selamat di babak akhir seleksi AFS dan dari komunitas ini pula saya mendapatkan petuah menginspirasi dari Anies Baswedan selaku returnee. Karena sewaktu seleksi, kami para kandidat telah dipersiapkan untuk menguatkan diri jika saat kembali ke Indonesia kami harus mengulang kelas, tidak bisa naik kelas dan seangkatan dengan teman-teman sebaya. Kak Anies berkata, kami layaknya ketapel. Kami ditarik sedikit lebih mundur agar dapat melontar lebih jauh kelak. Dan petuah ini terus saya pegang meski saya urung berangkat dan hingga saat saya memutuskan untuk cuti kuliah setahun.

Banyak yang meragukan sistem bentukan saya, pemikiran saya, gagasan saya mengenai masa depan saya sendiri, hingga kemampuan finansial saya. Namun disini saya katakan seperti pada mereka yang pernah mengemukakan keraguan secara terus terang bahkan di depan saya langsung, I believe I can, and I will. Cuti kuliah setahun bukan alternatif, tapi jalan utama bagi saya, jika memang jalan ini bisa mengantar saya menuju mimpi yang ingin saya dapatkan. Ketika anda menemukan seseorang dengan gagasan liarnya memutuskan untuk mengambil jalan lain di luar standar anda, apakah hal tersebut salah? Tidak. Sistem saya seringkali dipertanyakan sebab saya menempuh jalan yang berbeda dengan orang kebanyakan. Dan, saya tidak pernah ingin menjadi seperti orang kebanyakan. Saya adalah saya, berikut kemampuan dan pemikiran pribadi yang membedakan saya dengan manusia lain manapun di dunia ini.

Saya ingin menjadi ketapel. Saya ingin melontar lebih jauh dan lebih jauh lagi dari orang kebanyakan. Bukan berarti saya berkata bahwa segala yang diciptakan dalam standar dan tersistem adalah buruk. Semua pilihan adalah baik. Namun, sama halnya dengan saya yang menghargai segala sistem struktural orang kebanyakan, mengapakah orang kebanyakan tidak dapat memahami keberadaan saya di luar sistem? At least, menghargai dan tidak mengusik.

Tidak apa-apa, hidup ini terlalu indah dan cemoohan orang lain tidak akan berpengaruh apapun jika kita sudah mampu meyakinkan diri kita sendiri.

Friday, January 23, 2015

berhenti memproduksi keluhan

Terhitung sejak disumpahnya Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, saya dan jutaan pendukung pasangan ini pun berganti identitas dari yang semula merupakan relawan pendukung Jokowi-JK menjadi rakyat biasa. Perlu diketahui bahwasanya saya tidak pernah menyesali keputusan saya untuk memberikan dukungan pada Jokowi-JK sebab saya tidak mencari presiden dan wakil presiden yang paling sempurna, namun yang terbaik di antara pilihan yang ada saat itu. Dan akan justru menjadi penyesalan yang besar apabila saat Pemilu kemarin saya memutuskan untuk jadi bagian dari masyarakat golongan putih. Karena dengan demikian, saya tidak akan memiliki hak untuk menuntut capres-cawapres pilihan saya. Saya tidak berhak menuntut keinginan saya agar dikabulkan, karena I did not even vote!

My beloved readers, kita semua perlu mengingat satu hal. Pemimpin yang dilambungkan oleh suara rakyat, bukan tidak mungkin dapat jatuh oleh suara rakyat juga. Pendukung maupun relawan semasa Jokowi-JK menjadi capres dan cawapres tidak bisa selamanya menjadi pemandu sorak bagi pasangan ini. Rakyat tetaplah rakyat, tuan di negeri mereka sendiri. Negara demokrasi menjunjung tinggi aspirasi rakyat dengan dibatasi tanggung jawab. Masa kampanye, pemilu, dan pengambilan sumpah berlalu. Massa pendukung kembali menjadi rakyat yang memiliki tanggung jawab atas pilihannya: mendukung kebijakan baik, mengoreksi kebijakan kurang baik. Dari sini kita akan belajar bagaimana menjadi rakyat yang tidak hanya banyak menuntut atau bahkan tidak peduli sama sekali, tapi menyadari perannya sebagai pengawas jalannya birokrasi pemerintahan di republik ini.

Menumbuhkan rasa sadar dan tanggung jawab inilah yang terkadang sulit dilakukan. Kita terbiasa memproduksi keluhan demi keluhan, malas ambil bagian, malas unjuk diri, malas mengeluarkan suara. Kita terbiasa puas menjadi penonton, penyorak, pendukung, pencemooh, atau dengan munafiknya memerankan semua sekaligus. Kita tidak terbiasa untuk singsingkan lengan dan turun tangan, terjun langsung membangun negeri ini agar menjadi lebih baik. Kita berharap banyak, tapi bekerja sedikit. Kita bicara banyak, tapi realisasi nol besar.

Harapan-harapan masyarakat agar negeri ini menjadi lebih baik; lambungkanlah. Tidak ada yang salah dengan menerbangkan harapan setinggi-tingginya. Namun bantu pemerintahmu, beri andil bagi negaramu, ikutlah bergerak.

Saya percaya, nasib bangsa ini bergantung pada tangannya sendiri. Bukan pada pemerintahnya, bukan pada bahan bicara dari negeri seberang, bukan pada tudingan-tudingan pengkhianat. Saya percaya, jika saja semua warga negara mau bekerja dengan tulus bagi bangsanya, pemerintahan yang bersih bukan tidak mungkin akan segera terwujud.

Sama seperti cita-cita pendiri bangsa kita di masa lampau. Dari Patih Gadjah Mada, Ki Hajar Dewantara, Soekarno, hingga saat ini sampai pada era kita generasi muda. Berbeda jaman, berbeda pula bentuk perjuangannya. Yang sama? Semangatnya membangun bangsa.

Thursday, January 15, 2015

kembali menemukan kebahagiaan

betapa beruntungnya saya, dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang mau mendengar dan mendukung keinginan saya, terutama juga mengajarkan bagaimana untuk selalu memelihara semangat dan rasa syukur meski di tengah-tengah keterbatasan.

keluarga saya bukan keluarga yang sedari awal berdiri di atas. kami membangun segalanya dari bawah: ayah saya, ibu saya, dan saya, kami pernah ada pada kondisi tidak seberuntung sekarang. segala pengalaman dan kenyataan masa kecil ketika semuanya belum senikmat sekarang mendasari kesadaran saya yang perlahan muncul: kerja keras mengantarkan kita pada kesuksesan, tapi... lalu apa?

saya yakin setiap orang mengidentifikasi sebuah kata "sukses" dengan persepsi mereka masing-masing. banyak uangkah? memiliki rumah mewahkah? mengendarai kendaraan mahalkah? menenteng tas bermerekkah? identifikasi-identifikasi ini tidak salah. tiap individu memiliki pendapat berbeda. namun bagi beberapa orang, "sukses" tidak sedangkal itu.

saya diajari sejak kecil untuk tidak merengek-rengek atas dasar keinginan semata dan selalu diajak untuk mengucap syukur atas seberapapun rejeki yang diterima. saya berhutang besar pada kedua orangtua saya untuk hal ini. memang perasaan menerima sewaktu kecil rasanya tidak semudah sekarang.

saya tidak memiliki rumah-rumahan Barbie dan tidak mendaftar kursus ballet seperti teman-teman saya. saya tidak pernah diajak melancong keluar negeri dan tidak pernah merayakan ulang tahun di restoran cepat saji. dan tentu saja saat itu, sebagai anak kecil, saya tetap memiliki keinginan untuk mendapat hal-hal itu semua tanpa peduli seberapa keras kerja orang tua saya yang pada waktu itu belum semapan sekarang.

namun perasaan-perasaan dan pengalaman belajar hidup prihatin ini yang menempa akal budi serta nurani saya bahwa... apa sih harta itu? oke, hasil kerja keras kita. hasil usaha juang kita. tapi saat kita mati nanti, apa iya harta akan kita bawa serta? apa mungkin harta akan everlasting dan akan selalu jadi nomor satu dalam kehidupan manusia?

hampir delapan belas tahun saya hidup di dunia ini, saya belajar banyak, dan saya mulai menyadari tanggung jawab saya sebagai manusia. spesifiknya, juga sebagai seorang perempuan, seorang terdidik, seorang anak, dan kelak seorang ibu.

adalah tanggung jawab seorang manusia untuk selalu berbagi pada manusia lainnya. berbagi cinta, kasih sayang, perhatian, senyuman, telinga, hati, pelukan, ciuman, kebutuhan jasmani...

karena tuhanku pun berkata bahwa ia ada dalam orang-orang yang setiap harinya mengalami perjumpaan dengan kita.

sukses bagi saya ialah...
saat saya berhasil menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitar saya

saat orang-orang terdekat saya mensyukuri kehadiran saya sebagai partner yang baik

saat saya berhasil memusatkan penuh pikiran saya pada keinginan-keinginan dan berjuang keras untuk meraihnya

saat saya berhasil membantu orang lain membuka peluang dan kemungkinan atas keberhasilan mereka sendiri

membantu perempuan lain untuk mandiri dan mampu berjuang bagi hak mereka sendiri, adalah tanggung jawab PEREMPUAN INDEPENDEN

membantu negara mewujudkan kecerdasan kehidupan bangsa, adalah tanggung jawab SEMUA WARGA NEGARA TERDIDIK

dua hal itu yang ingin saya wujudkan secara nyata, sesederhana apapun bentuknya, tapi saya berharap gambaran saya cukup jelas: membangun perusahaan yang memberdayakan banyak tenaga kerja dan mengabdikan diri bagi anak-anak di pelosok yang membutuhkan guru di sekolah mereka.

adalah sukses hidup mati, sehat jiwa raga, dan bahagia lahir batin bagi saya jika kedua hal tersebut dapat terwujud. saya tahu jalannya masih panjang, dan hal terbaik yang dapat saya lakukan sampai saat ini adalah: memberi fokus penuh dan keyakinan total pada apa yang saya lakukan sekarang.

karena saya selalu ingat, proses terbaik akan mengajak saya menyusuri jalan terbaik sehingga saya akan sampai pada tujuan terbaik pula.

P.S.: kepada semesta dan tuhanku yang maha segalanya, kuucapkan terima kasihku untuk kenikmatan-kenikmatan hidup yang boleh aku rasakan. semoga bahagia bagi semua makhluk. namaste.

Tuesday, January 13, 2015

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

-Kahlil Gibran

Monday, January 12, 2015

Hal terbaik di seluruh dunia adalah saat kita membuka usaha, kita juga menawarkan lapangan pekerjaan untuk orang lain, terutama menggugah rasa kemandirian para perempuan untuk berjuang bagi diri mereka sendiri.
Kebahagiaan yang mereka sampaikan adalah kehangatan bagi hati saya. Karena tidak ada yang lebih membahagiakan di samping melihat orang yang kita sayangi bahagia. Terutama jika kita adalah alasan dari kebahagiaan itu.

Happy Tuesday. Jadilah inspirasi & kebahagiaan untuk sesama, hari ini dan seterusnya..

Sunday, January 11, 2015

saya percaya, hidup harus jadi bermakna
bukan hanya sekadar mampir ngombe
bukan hanya sekadar diisi ala kadarnya
bukan hanya untuk dijalani seturut air mengalir

saya percaya, hidup di masa sekarang adalah hal terpenting
bukan di masa lalu
bukan juga di masa depan
hidup adalah tentang jiwa yang seratus persen menyadari dan mensyukuri keberadaannya saat ini

saya tahu, kenyataan tidak selalu berbanding lurus dengan apa yang kita teorikan
tapi kenyataan selalu dihasilkan melalui proses kehidupan dan pilihan-pilihan
hasil terbaik akan lahir dari perjuangan yang terbaik dan proses belajar terbaik
apa yang kita dapat sekarang, tak pernah jauh dari apa yang kita lakukan dulu

seseorang berkata pada saya, "tidak perlu mencemaskan masa depan, tidak perlu mencemaskan apa yang belum dapat kau tanggung. jangan pernah berpikir mendambakan hasil terbaik dan jadi nomor satu, tapi lakukan apa yang dapat kau lakukan sekarang dengan seratus persen cinta di dalamnya."

dan ya, saya percaya.

Wednesday, January 7, 2015

pandangan tentang keperempuanan

Kemarin siang sambil mengerjakan kegiatan toko seperti biasa, saya sempatkan buka media sosial Path untuk sekadar mengintip timeline inner circle saya: sahabat, my lover, dan saudara-saudara. Karena saya rasa belum ada update dan feed yang cukup menarik, saya non-aktifkan inner circle dan menemukan seorang teman mengunggah sebuah video. Saya tidak segera menontonnya karena masih banyak hal yang harus saya kerjakan. Tapi sebelumnya saya sempat menekan tombol 'save', karena caption yang diberikan sepertinya cukup menarik, tentang against violence.
Dua hari berselang dan malam ini, saya teringat tentang video yang sudah saya unduh dari Path. Saya sempatkan menonton, dan... ya, ada sih air mata yang sempat saya seka sedikit hehehe. Sedikit, kok.

Video ini menarik dan pesannya tergambarkan dengan cukup baik. Mengesankan. Tidak banyak orang yang memiliki persepsi yang matang mengenai kekerasan terhadap perempuan.

Oke sebelumnya, disini saya akan bilang dulu kalau saya bukanlah seorang feminist. Saya menganggap, kekerasan baik terhadap anak, orang dewasa, entah berapapun umurnya dan apa jenis kelaminnya, kekerasan tetaplah kekerasan. Tapi memang, sering saya bersikap keras saat berbicara mengenai hak-hak perempuan dan LGBT karena hak mereka inilah yang paling sering dianggap sebelah mata. Perempuan dan LGBT, mereka bukanlah "hanya" atau "cuma". Kedudukannya sama dengan laki-laki (disini saya tidak akan membahas mengenai kedudukan gender di ranah agama, melainkan di bidang hukum dan kemanusiaan, bidang politik, bidang sosial, dan bidang lainnya yang tidak berhubungan dengan kepercayaan suatu aliran tertentu), bahkan perempuan cenderung dapat melakukan lebih banyak hal sekaligus secara fokus dibandingkan dengan laki-laki, tapi untuk hal ini saya hanya mengambil mayoritas kejadian di masyarakat.

Kembali ke cerita di video ini, disini beberapa anak laki-laki diwawancarai satu persatu oleh Fanpage.it mengenai hal-hal dasar mengenai masa depan mereka: cita-cita dan motivasi mereka. Hingga pada satu momen wawancara, seorang anak perempuan cantik diperkenalkan kepada mereka dan mereka diminta untuk mendeskripsikan anak perempuan ini. Ada yang mengagumi rambutnya, matanya, sepatunya, bahkan ada anak laki-laki yang mengatakan bahwa anak perempuan ini cantik seutuhnya (YHA W JUGA MAU DIBILANG GITU *maap salah fokus*).
Para anak laki-laki ini kemudian diminta untuk mengelus lengan anak perempuan tadi dan menyentuh pipinya. Mereka menurut. Namun saat diminta untuk menampar anak perempuan ini, mereka semua serentak menolak. Saya tertegun pada scene ini karena mereka serempak mengatakan "No!", dan bahkan ada yang beralasan "Women should not be hit even by flowers". Well, dude. Lajeng kula mbrebes mili.

Kami, kaum perempuan, tidak pernah dan memang semestinya tidak memohon apalagi mengemis perhatian, perlindungan, kasih sayang, dan kebahagiaan dari laki-laki. Kami bisa mendapatkan semua itu dari orang-orang lain di sekitar kami, bahkan dari diri kami sendiri. We can even protect ourselves, tapi sebagai manusia yang melahirkan manusia keturunannya, sudah sepantasnya perempuan dihargai dan diperlakukan sama seperti bagaimana manusia sewajarnya ingin diperlakukan. Perlu saya ingatkan kembali mengenai penciptaan perempuan pertama yakni Hawa yang diambil dari tulang rusuk Nabi Adam. Bahwa memang sesungguhnya perempuan tidak diambil dari tulang kepala karena tidak untuk memimpin laki-laki atau diciptakan dari tulang betis agar dapat direndahkan derajatnya oleh laki-laki. Perempuan diciptakan sebagai partner laki-laki dalam hidup. Sementara perkara perlindungan, kasih sayang, perhatian... bukankah sudah memang sepantasnya untuk saling melindungi, menyayangi, dan memperhatikan? Bukan saja perempuan yang harus selalu dilindungi. Sadarlah kalian wahai kaum hawa, laki-lakimu pun butuh dilindungi, percayalah :)))

Sedikit share aja. Saya dan lover pernah bercengkerama sedikit mengenai hidup kami, sekarang maupun ke depannya. Bercengkerama, oke. Tidak seserius itu, sih hahaha. Saya orangnya prinsipil dan idealis, terutama soal pandangan hidup. Saya tidak akan main-main dengan orang yang tidak tahu caranya berkomitmen. Dan pernah saya tekankan di awal, kalau sejak kecil saya paling anti dengan asap rokok. Bagi saya, merokok memang hak perokok tapi saya juga berhak mendapatkan udara bersih untuk paru-paru saya. Saya minta dia untuk membuang jauh-jauh pikiran tentang merokok, bahkan untuk menghirup asapnya pun jangan. Saya bilang, ini bukan perkara saya sok aktivis, sok sehat, sok bersih. Ini semata karena saya menghargai hidupnya sebagaimana saya menghargai hidup saya sendiri. Jika saya membiarkan dia merokok lebih lama dan membunuh dirinya perlahan, sama saja saya seperti orang paling jahat sedunia, yang membiarkan kekasihnya mati digerogoti nikotin dan jutaan zat berbahaya lainnya. Saya tidak mau. Saya tidak sejahat dan sebodoh itu. Saya ingin melindungi dia. Dan ya, seperti yang saya katakan sebelumnya. Partner memang harus saling menjaga, mengingatkan, melindungi. Bukan hanya laki-laki kepada perempuannya saja.

Video ini membuka mata kita bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan adalah ada, namun seolah kita berpura tidak melihatnya. Dia ada di sekeliling kita: siulan dari pojokan jalan saat ada perempuan hendak menyeberang, teriakan kasar sopir angkutan pada perempuan di pinggir jalan, makian suami pada istrinya, bentakan ayah pada anaknya, ejekan mengenai fisik pada teman sekelas,  tamparan dari laki-laki pada kekasihnya... abusive and disrespectful. We just try to deny these facts, don't we?

Kekerasan, sekecil apapun, setak terlihat apapun untukmu, tentu selalu memberi dampak besar bagi kehidupan si korban. Perasaan trauma, sedih, kecewa terhadap diri sendiri, bahkan ketakutan berlebihan dapat terjadi. Selain membentengi diri dengan pengetahuan tentang kemanusiaan sedari dini, kita perlu juga berani berbicara, speak up. Kekuatan terbesar adalah ketika satu suara berbicara mewakili mereka yang tidak mampu berkata-kata. Dan saya percaya, suara itu mampu menghasilkan perubahan besar.

Saya harap, masih dapat diberi kesempatan berumur panjang dan berpendidikan tinggi, sehingga dapat membantu para perempuan dan anak-anak di dunia untuk memperjuangkan hak-haknya.



Friday, January 2, 2015

Ketika ada yang bertanya,
kenapa saya harus sekolah tinggi-tinggi
kenapa saya harus belajar kerja keras sejak usia muda
kenapa saya punya cita-cita besar
kenapa saya membaca buku tebal-tebal
kenapa saya menulis sastra
kenapa saya ingin keliling dunia...
"Perempuan seharusnya 3M: macak, manak, masak"
"Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, cari aja suami yang kaya"

Everyone's looking for their rich husband but one day I'll be a rich wife for my husband. (UN aja belom HAHAHAH)

Kalau kata Mba Dian Sastro (((mba))) (((sok kenal))), "Perempuan cerdas akan melahirkan anak-anak cerdas pula".

Happy weekendddd!♡♡♡