Saturday, January 24, 2015

Sejak sah menjadi siswa paling senior di bangku SMA dan sebentar lagi memasuki masa kuliah, pertanyaan serupa sering terdengar, "Ingin kuliah dimana?" "Abis ini lanjut kemana?" "Ambil UGM?"

Sedari kecil, saya selalu punya mimpi untuk keliling dunia, dan entah bagaimanapun jalannya nanti, saya percaya kerja keras yang akan memberangkatkan saya ke banyak kota di dunia. Kehidupan selalu berjalan dan keadaan menjadi semakin dinamis, hingga akhirnya saya sadar bahwa perjalanan itu harus dimulai secepat mungkin, seawal mungkin, mulai dari sekarang. Keinginan untuk melanjutkan sekolah di luar negeri sudah ada di alam bawah sadar saya, hingga pertama kali saya mengajukan beasiswa ke pemerintah Singapura sewaktu SMP dan menjadi kandidat nasional pertukaran pelajar AFS sewaktu kelas 2 SMA, sayang sekali semuanya belum terlaksana sesuai rencana. Tapi saya beruntung telah mendarat dengan selamat di babak akhir seleksi AFS dan dari komunitas ini pula saya mendapatkan petuah menginspirasi dari Anies Baswedan selaku returnee. Karena sewaktu seleksi, kami para kandidat telah dipersiapkan untuk menguatkan diri jika saat kembali ke Indonesia kami harus mengulang kelas, tidak bisa naik kelas dan seangkatan dengan teman-teman sebaya. Kak Anies berkata, kami layaknya ketapel. Kami ditarik sedikit lebih mundur agar dapat melontar lebih jauh kelak. Dan petuah ini terus saya pegang meski saya urung berangkat dan hingga saat saya memutuskan untuk cuti kuliah setahun.

Banyak yang meragukan sistem bentukan saya, pemikiran saya, gagasan saya mengenai masa depan saya sendiri, hingga kemampuan finansial saya. Namun disini saya katakan seperti pada mereka yang pernah mengemukakan keraguan secara terus terang bahkan di depan saya langsung, I believe I can, and I will. Cuti kuliah setahun bukan alternatif, tapi jalan utama bagi saya, jika memang jalan ini bisa mengantar saya menuju mimpi yang ingin saya dapatkan. Ketika anda menemukan seseorang dengan gagasan liarnya memutuskan untuk mengambil jalan lain di luar standar anda, apakah hal tersebut salah? Tidak. Sistem saya seringkali dipertanyakan sebab saya menempuh jalan yang berbeda dengan orang kebanyakan. Dan, saya tidak pernah ingin menjadi seperti orang kebanyakan. Saya adalah saya, berikut kemampuan dan pemikiran pribadi yang membedakan saya dengan manusia lain manapun di dunia ini.

Saya ingin menjadi ketapel. Saya ingin melontar lebih jauh dan lebih jauh lagi dari orang kebanyakan. Bukan berarti saya berkata bahwa segala yang diciptakan dalam standar dan tersistem adalah buruk. Semua pilihan adalah baik. Namun, sama halnya dengan saya yang menghargai segala sistem struktural orang kebanyakan, mengapakah orang kebanyakan tidak dapat memahami keberadaan saya di luar sistem? At least, menghargai dan tidak mengusik.

Tidak apa-apa, hidup ini terlalu indah dan cemoohan orang lain tidak akan berpengaruh apapun jika kita sudah mampu meyakinkan diri kita sendiri.

Friday, January 23, 2015

berhenti memproduksi keluhan

Terhitung sejak disumpahnya Bapak Joko Widodo dan Bapak Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, saya dan jutaan pendukung pasangan ini pun berganti identitas dari yang semula merupakan relawan pendukung Jokowi-JK menjadi rakyat biasa. Perlu diketahui bahwasanya saya tidak pernah menyesali keputusan saya untuk memberikan dukungan pada Jokowi-JK sebab saya tidak mencari presiden dan wakil presiden yang paling sempurna, namun yang terbaik di antara pilihan yang ada saat itu. Dan akan justru menjadi penyesalan yang besar apabila saat Pemilu kemarin saya memutuskan untuk jadi bagian dari masyarakat golongan putih. Karena dengan demikian, saya tidak akan memiliki hak untuk menuntut capres-cawapres pilihan saya. Saya tidak berhak menuntut keinginan saya agar dikabulkan, karena I did not even vote!

My beloved readers, kita semua perlu mengingat satu hal. Pemimpin yang dilambungkan oleh suara rakyat, bukan tidak mungkin dapat jatuh oleh suara rakyat juga. Pendukung maupun relawan semasa Jokowi-JK menjadi capres dan cawapres tidak bisa selamanya menjadi pemandu sorak bagi pasangan ini. Rakyat tetaplah rakyat, tuan di negeri mereka sendiri. Negara demokrasi menjunjung tinggi aspirasi rakyat dengan dibatasi tanggung jawab. Masa kampanye, pemilu, dan pengambilan sumpah berlalu. Massa pendukung kembali menjadi rakyat yang memiliki tanggung jawab atas pilihannya: mendukung kebijakan baik, mengoreksi kebijakan kurang baik. Dari sini kita akan belajar bagaimana menjadi rakyat yang tidak hanya banyak menuntut atau bahkan tidak peduli sama sekali, tapi menyadari perannya sebagai pengawas jalannya birokrasi pemerintahan di republik ini.

Menumbuhkan rasa sadar dan tanggung jawab inilah yang terkadang sulit dilakukan. Kita terbiasa memproduksi keluhan demi keluhan, malas ambil bagian, malas unjuk diri, malas mengeluarkan suara. Kita terbiasa puas menjadi penonton, penyorak, pendukung, pencemooh, atau dengan munafiknya memerankan semua sekaligus. Kita tidak terbiasa untuk singsingkan lengan dan turun tangan, terjun langsung membangun negeri ini agar menjadi lebih baik. Kita berharap banyak, tapi bekerja sedikit. Kita bicara banyak, tapi realisasi nol besar.

Harapan-harapan masyarakat agar negeri ini menjadi lebih baik; lambungkanlah. Tidak ada yang salah dengan menerbangkan harapan setinggi-tingginya. Namun bantu pemerintahmu, beri andil bagi negaramu, ikutlah bergerak.

Saya percaya, nasib bangsa ini bergantung pada tangannya sendiri. Bukan pada pemerintahnya, bukan pada bahan bicara dari negeri seberang, bukan pada tudingan-tudingan pengkhianat. Saya percaya, jika saja semua warga negara mau bekerja dengan tulus bagi bangsanya, pemerintahan yang bersih bukan tidak mungkin akan segera terwujud.

Sama seperti cita-cita pendiri bangsa kita di masa lampau. Dari Patih Gadjah Mada, Ki Hajar Dewantara, Soekarno, hingga saat ini sampai pada era kita generasi muda. Berbeda jaman, berbeda pula bentuk perjuangannya. Yang sama? Semangatnya membangun bangsa.

Thursday, January 15, 2015

kembali menemukan kebahagiaan

betapa beruntungnya saya, dilahirkan di tengah-tengah keluarga yang mau mendengar dan mendukung keinginan saya, terutama juga mengajarkan bagaimana untuk selalu memelihara semangat dan rasa syukur meski di tengah-tengah keterbatasan.

keluarga saya bukan keluarga yang sedari awal berdiri di atas. kami membangun segalanya dari bawah: ayah saya, ibu saya, dan saya, kami pernah ada pada kondisi tidak seberuntung sekarang. segala pengalaman dan kenyataan masa kecil ketika semuanya belum senikmat sekarang mendasari kesadaran saya yang perlahan muncul: kerja keras mengantarkan kita pada kesuksesan, tapi... lalu apa?

saya yakin setiap orang mengidentifikasi sebuah kata "sukses" dengan persepsi mereka masing-masing. banyak uangkah? memiliki rumah mewahkah? mengendarai kendaraan mahalkah? menenteng tas bermerekkah? identifikasi-identifikasi ini tidak salah. tiap individu memiliki pendapat berbeda. namun bagi beberapa orang, "sukses" tidak sedangkal itu.

saya diajari sejak kecil untuk tidak merengek-rengek atas dasar keinginan semata dan selalu diajak untuk mengucap syukur atas seberapapun rejeki yang diterima. saya berhutang besar pada kedua orangtua saya untuk hal ini. memang perasaan menerima sewaktu kecil rasanya tidak semudah sekarang.

saya tidak memiliki rumah-rumahan Barbie dan tidak mendaftar kursus ballet seperti teman-teman saya. saya tidak pernah diajak melancong keluar negeri dan tidak pernah merayakan ulang tahun di restoran cepat saji. dan tentu saja saat itu, sebagai anak kecil, saya tetap memiliki keinginan untuk mendapat hal-hal itu semua tanpa peduli seberapa keras kerja orang tua saya yang pada waktu itu belum semapan sekarang.

namun perasaan-perasaan dan pengalaman belajar hidup prihatin ini yang menempa akal budi serta nurani saya bahwa... apa sih harta itu? oke, hasil kerja keras kita. hasil usaha juang kita. tapi saat kita mati nanti, apa iya harta akan kita bawa serta? apa mungkin harta akan everlasting dan akan selalu jadi nomor satu dalam kehidupan manusia?

hampir delapan belas tahun saya hidup di dunia ini, saya belajar banyak, dan saya mulai menyadari tanggung jawab saya sebagai manusia. spesifiknya, juga sebagai seorang perempuan, seorang terdidik, seorang anak, dan kelak seorang ibu.

adalah tanggung jawab seorang manusia untuk selalu berbagi pada manusia lainnya. berbagi cinta, kasih sayang, perhatian, senyuman, telinga, hati, pelukan, ciuman, kebutuhan jasmani...

karena tuhanku pun berkata bahwa ia ada dalam orang-orang yang setiap harinya mengalami perjumpaan dengan kita.

sukses bagi saya ialah...
saat saya berhasil menjadi inspirasi bagi orang-orang di sekitar saya

saat orang-orang terdekat saya mensyukuri kehadiran saya sebagai partner yang baik

saat saya berhasil memusatkan penuh pikiran saya pada keinginan-keinginan dan berjuang keras untuk meraihnya

saat saya berhasil membantu orang lain membuka peluang dan kemungkinan atas keberhasilan mereka sendiri

membantu perempuan lain untuk mandiri dan mampu berjuang bagi hak mereka sendiri, adalah tanggung jawab PEREMPUAN INDEPENDEN

membantu negara mewujudkan kecerdasan kehidupan bangsa, adalah tanggung jawab SEMUA WARGA NEGARA TERDIDIK

dua hal itu yang ingin saya wujudkan secara nyata, sesederhana apapun bentuknya, tapi saya berharap gambaran saya cukup jelas: membangun perusahaan yang memberdayakan banyak tenaga kerja dan mengabdikan diri bagi anak-anak di pelosok yang membutuhkan guru di sekolah mereka.

adalah sukses hidup mati, sehat jiwa raga, dan bahagia lahir batin bagi saya jika kedua hal tersebut dapat terwujud. saya tahu jalannya masih panjang, dan hal terbaik yang dapat saya lakukan sampai saat ini adalah: memberi fokus penuh dan keyakinan total pada apa yang saya lakukan sekarang.

karena saya selalu ingat, proses terbaik akan mengajak saya menyusuri jalan terbaik sehingga saya akan sampai pada tujuan terbaik pula.

P.S.: kepada semesta dan tuhanku yang maha segalanya, kuucapkan terima kasihku untuk kenikmatan-kenikmatan hidup yang boleh aku rasakan. semoga bahagia bagi semua makhluk. namaste.

Tuesday, January 13, 2015

Anakmu bukanlah milikmu,
mereka adalah putra putri sang Hidup,
yang rindu akan dirinya sendiri.

Mereka lahir lewat engkau,
tetapi bukan dari engkau,
mereka ada padamu, tetapi bukanlah milikmu.

Berikanlah mereka kasih sayangmu,
namun jangan sodorkan pemikiranmu,
sebab pada mereka ada alam pikirannya sendiri.

Patut kau berikan rumah bagi raganya,
namun tidak bagi jiwanya,
sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan,
yang tiada dapat kau kunjungi,
sekalipun dalam mimpimu.

Engkau boleh berusaha menyerupai mereka,
namun jangan membuat mereka menyerupaimu,
sebab kehidupan tidak pernah berjalan mundur,
ataupun tenggelam ke masa lampau.

Engkaulah busur asal anakmu,
anak panah hidup, melesat pergi.

Sang Pemanah membidik sasaran keabadian,
Dia merentangkanmu dengan kuasaNya,
hingga anak panah itu melesat jauh dan cepat.

Bersukacitalah dalam rentangan tangan Sang Pemanah,
sebab Dia mengasihi anak-anak panah yang melesat laksana kilat,
sebagaimana dikasihiNya pula busur yang mantap.

-Kahlil Gibran

Monday, January 12, 2015

Hal terbaik di seluruh dunia adalah saat kita membuka usaha, kita juga menawarkan lapangan pekerjaan untuk orang lain, terutama menggugah rasa kemandirian para perempuan untuk berjuang bagi diri mereka sendiri.
Kebahagiaan yang mereka sampaikan adalah kehangatan bagi hati saya. Karena tidak ada yang lebih membahagiakan di samping melihat orang yang kita sayangi bahagia. Terutama jika kita adalah alasan dari kebahagiaan itu.

Happy Tuesday. Jadilah inspirasi & kebahagiaan untuk sesama, hari ini dan seterusnya..

Sunday, January 11, 2015

saya percaya, hidup harus jadi bermakna
bukan hanya sekadar mampir ngombe
bukan hanya sekadar diisi ala kadarnya
bukan hanya untuk dijalani seturut air mengalir

saya percaya, hidup di masa sekarang adalah hal terpenting
bukan di masa lalu
bukan juga di masa depan
hidup adalah tentang jiwa yang seratus persen menyadari dan mensyukuri keberadaannya saat ini

saya tahu, kenyataan tidak selalu berbanding lurus dengan apa yang kita teorikan
tapi kenyataan selalu dihasilkan melalui proses kehidupan dan pilihan-pilihan
hasil terbaik akan lahir dari perjuangan yang terbaik dan proses belajar terbaik
apa yang kita dapat sekarang, tak pernah jauh dari apa yang kita lakukan dulu

seseorang berkata pada saya, "tidak perlu mencemaskan masa depan, tidak perlu mencemaskan apa yang belum dapat kau tanggung. jangan pernah berpikir mendambakan hasil terbaik dan jadi nomor satu, tapi lakukan apa yang dapat kau lakukan sekarang dengan seratus persen cinta di dalamnya."

dan ya, saya percaya.

Wednesday, January 7, 2015

pandangan tentang keperempuanan

Kemarin siang sambil mengerjakan kegiatan toko seperti biasa, saya sempatkan buka media sosial Path untuk sekadar mengintip timeline inner circle saya: sahabat, my lover, dan saudara-saudara. Karena saya rasa belum ada update dan feed yang cukup menarik, saya non-aktifkan inner circle dan menemukan seorang teman mengunggah sebuah video. Saya tidak segera menontonnya karena masih banyak hal yang harus saya kerjakan. Tapi sebelumnya saya sempat menekan tombol 'save', karena caption yang diberikan sepertinya cukup menarik, tentang against violence.
Dua hari berselang dan malam ini, saya teringat tentang video yang sudah saya unduh dari Path. Saya sempatkan menonton, dan... ya, ada sih air mata yang sempat saya seka sedikit hehehe. Sedikit, kok.

Video ini menarik dan pesannya tergambarkan dengan cukup baik. Mengesankan. Tidak banyak orang yang memiliki persepsi yang matang mengenai kekerasan terhadap perempuan.

Oke sebelumnya, disini saya akan bilang dulu kalau saya bukanlah seorang feminist. Saya menganggap, kekerasan baik terhadap anak, orang dewasa, entah berapapun umurnya dan apa jenis kelaminnya, kekerasan tetaplah kekerasan. Tapi memang, sering saya bersikap keras saat berbicara mengenai hak-hak perempuan dan LGBT karena hak mereka inilah yang paling sering dianggap sebelah mata. Perempuan dan LGBT, mereka bukanlah "hanya" atau "cuma". Kedudukannya sama dengan laki-laki (disini saya tidak akan membahas mengenai kedudukan gender di ranah agama, melainkan di bidang hukum dan kemanusiaan, bidang politik, bidang sosial, dan bidang lainnya yang tidak berhubungan dengan kepercayaan suatu aliran tertentu), bahkan perempuan cenderung dapat melakukan lebih banyak hal sekaligus secara fokus dibandingkan dengan laki-laki, tapi untuk hal ini saya hanya mengambil mayoritas kejadian di masyarakat.

Kembali ke cerita di video ini, disini beberapa anak laki-laki diwawancarai satu persatu oleh Fanpage.it mengenai hal-hal dasar mengenai masa depan mereka: cita-cita dan motivasi mereka. Hingga pada satu momen wawancara, seorang anak perempuan cantik diperkenalkan kepada mereka dan mereka diminta untuk mendeskripsikan anak perempuan ini. Ada yang mengagumi rambutnya, matanya, sepatunya, bahkan ada anak laki-laki yang mengatakan bahwa anak perempuan ini cantik seutuhnya (YHA W JUGA MAU DIBILANG GITU *maap salah fokus*).
Para anak laki-laki ini kemudian diminta untuk mengelus lengan anak perempuan tadi dan menyentuh pipinya. Mereka menurut. Namun saat diminta untuk menampar anak perempuan ini, mereka semua serentak menolak. Saya tertegun pada scene ini karena mereka serempak mengatakan "No!", dan bahkan ada yang beralasan "Women should not be hit even by flowers". Well, dude. Lajeng kula mbrebes mili.

Kami, kaum perempuan, tidak pernah dan memang semestinya tidak memohon apalagi mengemis perhatian, perlindungan, kasih sayang, dan kebahagiaan dari laki-laki. Kami bisa mendapatkan semua itu dari orang-orang lain di sekitar kami, bahkan dari diri kami sendiri. We can even protect ourselves, tapi sebagai manusia yang melahirkan manusia keturunannya, sudah sepantasnya perempuan dihargai dan diperlakukan sama seperti bagaimana manusia sewajarnya ingin diperlakukan. Perlu saya ingatkan kembali mengenai penciptaan perempuan pertama yakni Hawa yang diambil dari tulang rusuk Nabi Adam. Bahwa memang sesungguhnya perempuan tidak diambil dari tulang kepala karena tidak untuk memimpin laki-laki atau diciptakan dari tulang betis agar dapat direndahkan derajatnya oleh laki-laki. Perempuan diciptakan sebagai partner laki-laki dalam hidup. Sementara perkara perlindungan, kasih sayang, perhatian... bukankah sudah memang sepantasnya untuk saling melindungi, menyayangi, dan memperhatikan? Bukan saja perempuan yang harus selalu dilindungi. Sadarlah kalian wahai kaum hawa, laki-lakimu pun butuh dilindungi, percayalah :)))

Sedikit share aja. Saya dan lover pernah bercengkerama sedikit mengenai hidup kami, sekarang maupun ke depannya. Bercengkerama, oke. Tidak seserius itu, sih hahaha. Saya orangnya prinsipil dan idealis, terutama soal pandangan hidup. Saya tidak akan main-main dengan orang yang tidak tahu caranya berkomitmen. Dan pernah saya tekankan di awal, kalau sejak kecil saya paling anti dengan asap rokok. Bagi saya, merokok memang hak perokok tapi saya juga berhak mendapatkan udara bersih untuk paru-paru saya. Saya minta dia untuk membuang jauh-jauh pikiran tentang merokok, bahkan untuk menghirup asapnya pun jangan. Saya bilang, ini bukan perkara saya sok aktivis, sok sehat, sok bersih. Ini semata karena saya menghargai hidupnya sebagaimana saya menghargai hidup saya sendiri. Jika saya membiarkan dia merokok lebih lama dan membunuh dirinya perlahan, sama saja saya seperti orang paling jahat sedunia, yang membiarkan kekasihnya mati digerogoti nikotin dan jutaan zat berbahaya lainnya. Saya tidak mau. Saya tidak sejahat dan sebodoh itu. Saya ingin melindungi dia. Dan ya, seperti yang saya katakan sebelumnya. Partner memang harus saling menjaga, mengingatkan, melindungi. Bukan hanya laki-laki kepada perempuannya saja.

Video ini membuka mata kita bahwa kasus kekerasan terhadap perempuan adalah ada, namun seolah kita berpura tidak melihatnya. Dia ada di sekeliling kita: siulan dari pojokan jalan saat ada perempuan hendak menyeberang, teriakan kasar sopir angkutan pada perempuan di pinggir jalan, makian suami pada istrinya, bentakan ayah pada anaknya, ejekan mengenai fisik pada teman sekelas,  tamparan dari laki-laki pada kekasihnya... abusive and disrespectful. We just try to deny these facts, don't we?

Kekerasan, sekecil apapun, setak terlihat apapun untukmu, tentu selalu memberi dampak besar bagi kehidupan si korban. Perasaan trauma, sedih, kecewa terhadap diri sendiri, bahkan ketakutan berlebihan dapat terjadi. Selain membentengi diri dengan pengetahuan tentang kemanusiaan sedari dini, kita perlu juga berani berbicara, speak up. Kekuatan terbesar adalah ketika satu suara berbicara mewakili mereka yang tidak mampu berkata-kata. Dan saya percaya, suara itu mampu menghasilkan perubahan besar.

Saya harap, masih dapat diberi kesempatan berumur panjang dan berpendidikan tinggi, sehingga dapat membantu para perempuan dan anak-anak di dunia untuk memperjuangkan hak-haknya.



Friday, January 2, 2015

Ketika ada yang bertanya,
kenapa saya harus sekolah tinggi-tinggi
kenapa saya harus belajar kerja keras sejak usia muda
kenapa saya punya cita-cita besar
kenapa saya membaca buku tebal-tebal
kenapa saya menulis sastra
kenapa saya ingin keliling dunia...
"Perempuan seharusnya 3M: macak, manak, masak"
"Perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, cari aja suami yang kaya"

Everyone's looking for their rich husband but one day I'll be a rich wife for my husband. (UN aja belom HAHAHAH)

Kalau kata Mba Dian Sastro (((mba))) (((sok kenal))), "Perempuan cerdas akan melahirkan anak-anak cerdas pula".

Happy weekendddd!♡♡♡