Wednesday, April 29, 2015

waduh. semua ayah mikir gini po?

aku belom mau nikah -_- masih panjang -_- tapi terharu ga sih baca surat semacem ini? mungkin inilah alasan kenapa ayahku selalu menungguku pulang bahkan hingga larut malam. rela menjemputku dimana pun, jam berapa pun. mulai dari aku kecil, pertama kali bersekolah, hingga sekarang aku sudah lebih dewasa: pertemuan ini, pertunjukan itu, kompetisi ini, presentasi itu. alhamdulillah masih diberi kesempatan untuk menghabiskan waktu bersama ayahku, alhamdulillah ayah masih diberi kesehatan dan umur panjang. semoga hingga seterusnya pun ayah selalu ada untukku, untuk menemaniku hingga semua mimpiku menghampiri satu-persatu.


"Untuk orang yang akan menemani putriku, yang akan menua bersama hingga maut datang menjemput.



Halo, nak. Sebelumnya aku tidak pernah bertemu denganmu, tapi aku tahu bagaimana efek kehadiranmu di hidup putriku karena aku melihat ada perubahan di diri putriku. Tahukah kamu kalau dia jadi lebih lama ketika mandi? Aku tahu setiap kali ia membawa berbagai produk kecantikannya masuk ke kamar mandi, dia pasti akan menghabiskan waktu yang lama di kamar mandi. Tahukah kamu dia menghabiskan waktunya di depan laptop untuk belajar membuat masakan kesukaanmu? Satu kali, dua kali, tiga kali dia mencoba dan aku serta istriku dan seisi keluarga sering jadi kelinci percobaannya. Tahukah kamu bahwa dia sering grogi sebelum pergi bersamamu? Dia menghabiskan waktu berjam-jam di kamarnya cuma memilih baju terbaik dan dandan secantik mungkin. Padahal menurutku, apapun yang dipakai putriku, ia selalu terlihat cantik. Tahukah kamu bahwa dia sering pulang, masuk ke rumah dengan senyum yang sangat lebar setiap kali pulang dari pergi bersamamu? Senyum itu dulu cuma jadi milikku dan istriku, ketika kami membelikannya boneka kesukaannya. Senyum itu cuma jadi milikku dan istriku ketika ia tampil di pentas sekolah dan berhasil menemukan kami di tengah keramaian.



Aku tidak marah, aku juga tidak iri. Aku tahu, suatu hari momen ini akan datang. Momen dimana aku akan memegang tangannya untuk yang terakhir kali dan menyerahkannya kepadamu. Momen dimana aku akan pensiun jadi pahlawannya dan kamu yang akan menggantikan peranku itu. Walau aku tahu, dia akan selalu menganggapku sebagai pahlawan nomor satu dalam hidupnya. Tapi percayalah, nak. Dia juga akan mengandalkan dirimu.

Jadi, aku cuma ingin berpesan. Maafkan kalau aku memang cerewet, tapi percayalah, istriku bisa menulis sebuah novel 1.000 halaman dan aku mungkin hanya akan menulis dua sampai tiga halaman saja. Nak, putriku mungkin bukan perempuan paling sempurna yang akan kamu temui di dunia, dia juga bukan perempuan paling cantik yang mungkin hadir di hidupmu. Tapi kamu harus yakin dan percaya sebelum menghabiskan sisa hidupmu bersama dirinya, dia lah satu-satunya perempuan yang memang pas dan cocok untuk hidup bersamamu setiap hari. Yakinkan dirimu bahwa dia satu-satunya perempuan yang bisa membantumu menjadi lelaki yang lebih kuat, lebih baik dan lebih dewasa setiap hari. Aku tahu, hidup kalian nanti tidak akan selalu penuh dengan tawa seperti yang kalian jalani sekarang, tapi aku ingin kalian berdua tetap memegang erat tangan satu sama lain, jangan pernah lepaskan, sehebat apapun badai yang menerpa kalian.



Tolong pertahankan senyum lebar yang selalu ia pasang setelah bertemu dirimu, karena aku dan istriku tidak akan selalu di sana untuk membuatnya tersenyum.

Tolong bantu dia untuk berdiri dan berjalan, bahkan berlari ketika dia terjatuh seperti yang aku dan istriku lakukan ketika dia masih jadi putri kecil kami.

Tolong tegur dan peringati putriku kalau dia memang berjalan ke arah yang salah, seperti yang aku dan istriku lakukan ketika dia salah mengambil jalan dalam hidup.



Yang terpenting, buat putriku selalu merasa dia berada di rumah ketika bersamamu. Tidak ada yang lebih penting selain rumah karena di sana tempat kalian berteduh, berlindung dan berkumpul bersama. Rumah adalah tempat pelarian terakhirmu. Buat dia nyaman, buat dia bahagia karena aku dan istriku tidak akan selalu di sini untuk membahagiakannya. Aku tidak bisa memberikan cinta seperti yang kamu berikan kepadanya, jadi aku yakin kamu punya kemampuan untuk mengerti dirinya.

Baiklah, aku sekarang sudah terdengar seperti istriku. Terima kasih sudah mendengarkan pesan panjangku ini. Aku sudah lebih lega sekarang seraya melihat kalian berdua menua bersama-sama.



Ditulis penuh rasa syukur dan bahagia,

Calon Ayah Mertuamu."

Friday, April 24, 2015

Semua Perempuan Wajib Melakukan Perawatan... Vrai ou Faux?

Semua perempuan itu dilahirkan dengan kecantikan yang menyertai. Pertanyaannya adalah, apakah mereka mampu merawat kecantikan itu setelah dewasa?
Era modern, konsep "cantik" semestinya bukan lagi tentang kulit putih, rambut hitam, dan tubuh semampai. Tapi "cantik" adalah tentang karakter. Tentang pembawaan diri dan bagaimana kita merawat apa yang diberikan oleh Tuhan.
Perawatan itu perlu ngga sih? Perlu banget. Sangat perlu. Perawatan bukanlah pergi ke klinik kecantikan dan menjalani tahap-tahap "perawatan" dengan obat-obat kimia atau mesin-mesin canggih. Justru akan merusak kecantikan alami kita. Perawatan sesungguhnya telah diberikan oleh Tuhan secara sendirinya. Melalui apa? Sayuran, buah-buahan, kebahagiaan, kesempatan berolahraga, rasa syukur, dan hal-hal positif lainnya. Bukan bahan kimia.
Perawatan-perawatan seperti inilah yang perlu kita lakukan. Tujuannya yang pertama kali tentu untuk merawat, bukan mencari kesempurnaan dan agar dipandang oleh banyak orang. Menjadi pusat perhatian pasti akan kita alami secara otomatis jika kita telah menjadi perempuan yang terawat secara fisik dan memiliki karakter atau pembawaan diri yang baik.
Bagaimana dengan perasaan bangga? Pride? Kadang ada yang meminta kita dandan atau merawat diri agar "nggak malu-maluin". Pertama-tama, tanamkan rasa percaya diri dulu kalau kamu cantik, kita semua cantik. Tujuannya agar apa? Agar kita bersyukur dengan apa yang kita miliki dan bangga dengan kecantikan alami kita. Kepandaian berdandan adalah bonus. Membanggakan orangtua, pacar, atau suami saat di sebuah acara adalah bonus. Menjadi pusat perhatian saat menjemput anak di sekolah adalah bonus. Decak kagum "Wah dia cantik banget" adalah bonus. Yang terutama dan pertama adalah: kebanggaan dan kenyamanan diri kita sendiri dulu sebagai perempuan.
Merawat diri tidaklah mahal. Pergi ke perpustakaan untuk memberi asupan pada otak kita? Tidak mahal. Membeli buah atau sayur (harus organik dan lokal, ya) di pasar atau supermarket? Tidak mahal. Membuat lulur atau scrub dari kopi bubuk? Tidak mahal. Membuat masker dari buah-buahan yang ada? Tidak mahal. Memberi senyum pada orang yang kita temui sehari-hari? Tidak mahal. Beramal semampu kita? Tidak mahal.
Rawatlah diri kita sesederhana mungkin, sealami mungkin, sebahagia mungkin. Hasilnya tentu akan berbeda dengan perawatan klinik yang mengharuskanmu memakai obat-obat kimia dan membuat semuanya menjadi serba instan. Aku percaya semua yang didapat secara instan akan berlalu dengan instan pula. Namun semua yang butuh perjuangan, butuh kesabaran, butuh ketelatenan, dan memerlukan proses... akan everlasting.
Selamat berakhir pekan, Cantik!

Wednesday, April 15, 2015

UN Bocor

Aku sedih banget deh ini, beneran.
Aku sama temen-temenku kebetulan taunya telat kalo ada bocoran UN jadi ga bisa lapor apa-apa. Dan temenku yang udah tau duluan ada yang diem aja, ada yang takut, ada yang make tanpa sadar, dan ada yang ga berani lapor. Di luar itu, bocoran ini udah diunduh sama banyak siswa hingga dibahas di lembaga bimbingan belajar. Udah sejauh itu loh. Dan anda tahu? Semuanya 100% sama persis sama isi kertas ujian yang ada di meja aku pas UN kemaren.
Aku ga ngerti. Sebenernya orang tua jaman sekarang menuntut apa sih dari anaknya? Aku bersyukur orang tuaku ga pernah memaksa aku untuk selalu dapet nilai bagus dan ranking di kelas, yang penting aku paham dan bisa kasih implementasi nyata di masyarakat.
Kalo orang tua nuntut-nuntut anaknya terus, anak jadi merasa kebebani buat "membanggakan orangtuanya". Dan hasilnya apa? Mereka akan menghalalkan segala cara buat dapet nilai bagus. Lalu prosesnya dinilai ga? Enggak.
Aku cuma mau bilang aja, jangan sampai masyarakat kita terbiasa untuk mendidik anak menjadi koruptor. Ajak mereka buat menjalani pendidikan sebagaimana mestinya, seperti ajaran Ki Hajar Dewantara, pendidikan yang nguwongke uwong, memanusiakan manusia.
Semoga semua pihak sadar karena ini bukan sepenuhnya tanggung jawab pemerintah. Integritas negara bergantung pada integritas masyarakatnya. Jangan pernah racuni generasi penerus kita.
- Tulisan ini, agar semakin banyak orangtua yang paham, kami sebagai anak sama sekali ga suka dipaksa. Arahkan kami, jangan tekan kami. Kami punya minat dan bakat yang beda-beda, dengarkan. Jangan matikan.