How to start? #MarketeensID

Hai! Maaf ingkar janji, I supposed to post this yesterday but I was too busy so yeah, so sorry 😞

Okay, let's get start it!
First lesson is, "How to start?".
Ini adalah pertanyaan utama yang paling banyak diutarakan sama temen-temen yang mau memulai bisnisnya. Banyak yang udah punya ide bagus, tapi bingung mau mulai darimana, mau merealisasikan bagaimana... Banyak yang udah punya bayangan, tapi konsepnya belom jelas, tujuannya masih jangka pendek. Oke, kalian tau ga, bikin bisnis itu gampang banget. Kalian bisa bikin warung di depan rumah, bantu orang melakukan suatu pekerjaan dengan dibayar, bahkan part time di kios-kios kecil, itu juga bisnis. Gampang, kan? Tapi, bikin bisnis yang jangka panjang, bisa jadi investasi, dan modal masa depan... nah itu yang menantang! Dan kalian pilih mana? Selamanya kerja keras dengan penghasilan stagnan atau penghasilanmu meningkat terus hingga akhirnya pensiun usia dini, dan besok tua ga khawatir lagi sama kerepotan dana ini-itu? Pasti yang kedua, kan? Nah, buat dapetin itu semua, ga ada yang instan. Selalu ada proses dan pengorbanan untuk mencapai kesuksesan yang kamu dambakan. Mau sukses? Ayo, mulai dari sekarang. Tentu ga ada kata terlambat, usia berapapun adalah kebaikan. Namun, kenapa ga kita mulai sejak dini aja?

Buat bisnis yang punya umur panjang, it's challenging. I didn't say it's difficult lho ya hehehe, buang kata-kata negatif dari hidup kamu, itu step pertama ☺ Loh, beneran, Na? Iya, beneran. Tantangan seorang pebisnis, baik marketing maupun entrepreneur, pasti bakalan banyak banget ke depannya. Kalo kamu terus melihara hal-hal negatif, pasti yang dateng kamu juga hal-hal negatif.

Saking menantangnya, memikirkan konsep dan rencana bisnismu ke depan, harus sematang mungkin, loh. Inget 3 masalah pokok ekonomi modern?
 • What: apa yang akan kamu produksi,
 • How: bagaimana cara memproduksinya, dan
 • For whom: siapa target pemasaran atau pengguna jasa kamu.

What.
Kamu bisa mulai menjual atau memproduksi barang atau menawarkan jasa sesuai hobby kamu, kesukaan kamu, passion kamu. Ini hal paling dekat sama kamu dan yang kamu paham betul. Jadi, ke depannya, aku harap kamu bisa enjoy saat melakukan pekerjaan kamu. Karena buat apa sih kita kerja dengan penuh tekanan? Stress? Pasti hasilnya juga ga bakal semaksimal yang kamu harapkan. Kamu seorang gitaris band? Kamu bisa mulai dengan hal-hal yang berhubungan dengan perantara jual-beli gitar bekas, gitar bertandatangan, atau jual pick gitar yang unik-unik. Atau, bisa juga lihat sekitar kita, peluang is everywhere! Ibumu seorang penjahit? Coba deh bikin kerajinan dari perca, yang belom pernah ada sebelumnya. Pake internet kan? Cari ide dari Pinterest, segudang!
See? Semudah itu kok kalo mau mikir barang apa yang akan mulai kamu bisniskan. Biasanya, setelah nemu "What", kalian akan dipertemukan dengan masalah ekonomi modern yang kedua, yaitu...


How.
Gimana cara dapetin modalnya? Gimana cara muter modal? Gimana cara bikin barangnya? Pake tenaga kerja apa engga? Pake bahan apa aja? Hahaha, "How" ini emang biasanya paling lama buat dipikirin, karena kita mikir mulai dari kualitas hingga kuantitas, produk hingga service, dan bahkan Cash on Delivery (COD) atau shipping (pengiriman via kurir) pun udah harus dipikirin dari awal. Untuk kamu yang bener-bener mulai dari awal, tanpa modal, tanpa ilmu sama sekali... pokoknya bener-bener nol, tenang aja. Dulu aku juga gitu. Pak Chairul Tanjung yang sekarang punya Trans Corp dan Bu Susi Pudjiastuti Menteri Perikanan dan Kelautan dulu juga gitu. Pokoknya ga boleh kecil hati, peluang is everywhere! Opsi pertama, pinjem modal dari orangtua atau orang yang kalian percaya. Tapi, aku pribadi kurang menganjurkan hal ini kalau kalian tipe orang yang:
• ga suka dikejar deadline,
• ga suka diperintah,
• ga suka dimonitor, dan
• ga suka dikejar-kejar.
Karena dear my friends, bisnis adalah bisnis dan keluarga adalah keluarga. We have to be professional, kalau kita ga mau menyimpan rasa pekewuh atau rasa ingin balas budi nantinya. Dan aku yakin, orang tua kalian pasti bakal lebih bangga kalo kalian mulai semua dengan modal sendiri ☺ Terus cara ngumpulin modalnya gimana, Na? Gampang banget, peluang is everywhere! Menyisihkan uang jajanmu? Menjadi reseller di toko favoritmu? Itu cuma salah dua cara yang paling banyak dipakai oleh mereka yang mau mulai pakai modal sendiri. Aku prefer pake cara yang kedua, mungkin karena aku orangnya boros dan paling susah disuruh nabung. Celengan dan rekening jebol mulu, investasi aja baru mulai umur 18 ini hahaha... Jadi reseller atau dropshiper itu gampang banget! Banyak toko yang mengizinkan kalian buat share foto barang dagangan mereka, dan bahkan ngasih discount khusus kalau kalian berhasil menjual barang itu, meski kadang-kadang ada target penjualan tertentu. Ga masalah! Inget, kita cinta challenges! Makin ditantang, makin demen! Nah, kalian bisa share foto barang itu mungkin ke lingkungan terdekat kalian dulu. Ask your customers to pay their bills first, baru deh kalian transfer ke suppliernya. Tanpa modal kan? Nanti, keuntungan-keuntungan itu kalian tabung, buat jadi modal bisnis impian kalian! ☺ Untuk kualitas, jadikan prioritas. Dan sementara untuk kuantitas barang, sebaiknya menyesuaikan dulu saat kalian memulai bisnis. Kalo udah mulai berjalan, baru tambah terus targetnya! Jangan pernah puas sama apa yang udah kalian dapetin, challenge yourself!  Untuk tenaga kerja, kalo baru mulai sih ga usah macem-macem cari pegawai dulu. Kalian kudu jadi aktif di masa-masa awal bisnis kalian jalan, buat monitor langsung tentunya. Dan selalu inget, apapun yang kalian lakukan, bagaimanapun challengingnya suatu fase, SERVICE IS NUMBER ONE. Buat materi selanjutnya yah ini, kita bakal bahas, kenapa sih service atau pelayanan itu penting banget dan kenapa bad mood itu haram 😉

For whom.
Emang sih, untuk awal-awal buka bisnis, pasti akan menantang sekali rasanya: menemukan pangsa pasar yang tepat, menemukan komunitas, menentukan segmentasi... Tapi tenang, hukum alam akan banyak bantu kamu disini. Itulah, kenapa konsep kamu harus matang. Karena kalo kamu udah matang, prinsip kamu ga akan goyah, dan yang mendekatimu nanti adalah benar-benar orang yang niat, bukan cuma mau hit and run atau nanya-nanya doang 😝 Misal kamu jual tas branded, nih ya. Harga udah jelas, standar tas branded. Segmen udah jelas, misal katakanlah mamah-mamah muda sosialita yang gemar arisan. Nah, kalo udah kaya gitu, apakah bapak-bapak lansia yang jarang keluar rumah bakal mampir ke toko kamu? Ga mungkin itu ga ada, tapi probabilitasnya sangaaaat kecil. Itu hukum alam. Mereka yang ga berkepentingan akan tereliminasi. Kalo udah kaya gitu, enak. Kamu bisa fokus buat memasarkan produk kamu ke lingkungan tertentu aja, ga perlu buang-buang tenaga buat nawarin produk ke konsumen yang ga punya daya beli. Tapiiiiii...... tidak menutup kemungkinan kalau kamu punya produk yang menjangkau semua kalangan. Contohnya, cokelat khas sebuah daerah. Siapa sih yang ga makan cokelat? Dari anak-anak sampai orang tua pun beli, yang di daerah itu pun beli buat oleh-oleh, begitu juga dengan pelancong yang berkunjung. Bisnis yang menjangkau semua kalangan resikonya cukup besar (sedikit lebih lelah karena harus memasuki konsumen semua kalangan, yang kadang ga jelas daya belinya kuat apa enggak), tapi kalau kamu berhasil, kamu bisa jadi pionir. Dan ini yang lagi aku kembangin buat konsepnya Little Luna, one stop service. Ya ada fashion Nusantara buat semua umur, makanan lokal buat semua kalangan... pokoknya ingin merangkul segala lapisan.

Oke, segini dulu. Kita sambung besok yah!

Comments

Popular posts from this blog

Gimana Caranya Kuliah S1 di Prancis?

Cita-Cita Kartini: Personal project dedicated for a heaven called Indonesia

Kesan-kesan dan Cerita Tentang Kelas Inspirasi Yogyakarta 2016