Saturday, August 1, 2015

MOS: Masalah klasik dari tahun ke tahun.

Jujur ya, ketika tadi pertama kali denger ada berita anak SMP meninggal dunia karena MOS, saya ngga begitu kaget. Sedih sekali, tapi ga kaget. Jujur, klasik sekali. Di belahan dunia mana yang di sekolah tidak terdapat senioritas? Apalagi, di negara dunia ketiga? Jelas masih banyak. Harapan ada, Mendikbud Anies Baswedan meneken surat pernyataan untuk menghapus segala bentuk perploncoan, penganiayaan, dan pelecehan selama Masa Orientasi Siswa berlangsung. Tapi, mata rantai itu terlanjur membelit dunia pendidikan kita. Kalau Pak Anies memutus rantai itu sendirian, kapan selesainya? Atau malah, emang bisa selesai? No. Absolutely no. Kita lah yang seharusnya bahu-membahu memutus mata rantai itu. Saya tidak menganjurkan MOS ditiadakan. MOS perlu untuk memberi kesempatan siswa untuk beradaptasi, tapi senioritas dengan kedok "MOS"? Ya jelas enggak dong.

Kita ga bisa minta presiden dan depdikbud buat tuntasin semua senioritas di Indonesia. Banyaaaak sekali yang harus mereka urus, ga imbang jumlah pemerintah dengan rakyatnya. Mulailah segala sesuatu dari lingkup yang paling kecil: keluarga.

Maaf ya kalau kurang berkenan.

Tapi menurut pendapat saya, senioritas yang memakan korban bukan 100% salah sekolah atau OSIS, karena penanaman karakter nomor satu terdapat pada keluarga. Terserah pihak sekolah mau bikin MOS sekeras apa, kalau memang murid tidak bisa dipaksakan untuk ikut, dia boleh berkata tidak. Tolong ya, untuk para orangtua, sebaiknya anak diajarkan untuk kritis terhadap hal-hal yang tidak tepat porsi dan situasinya. Agar ga bisa segampang itu untuk bilang iya pada senioritas berkedok MOS.

Kalau memang dari awal anak tidak cocok dengan MOS, ya sudah, tidak perlu datang untuk hari-hari selanjutnya. Mau dimarahi bagaimanapun, tujuan wali murid bayar SPP kan buat anaknya belajar. Hak kita untuk memilih dan bersuara kok 😊

Kalo satu bertindak pasti yang lain bertindak. Keluhan anak kadang emang terdengar sepele (atau kadang mereka suka kasih bumbu, saya akuin aja, saya juga masih keitung anak soalnya 😊), tapi anak-anak ga pernah bohong. Ketika mereka bilang ga nyaman, mereka akan bilang. Begitu juga sebaliknya. Coba letakkan gadget anda sebentar dan biasakan saling sharing tanpa distraction apapun, mereka akan merasa dilindungi dan nyaman cerita sama orangtua.

Banyak anak yang dengan rela tidak rela ikut diplonco dengan alasan "Takut dibilang culun". Wajar kok, manusia kan selalu ingin diakui oleh lingkungannya. Tapi, ajak anak untuk berprestasi positif hingga pengakuan itu datang dengan sendirinya. Ga perlu kok kita mengemis pengakuan dari orang-orang yang suka seenak jidat memperlakukan orang lain. Derajatnya sama, kenapa harus ngemis sih?

Di sisi lain, kalau memang sekolah menghendaki diselenggarakan MOS untuk membentuk karakter dan mental anak agar tangguh dan ga manja, bisa kok dengan mengajarkan entrepreneurship atau kunjungan sosial. Saya percaya, efeknya sama. Justru anak akan jadi belajar bersyukur juga

Pendapat saya sebagai anak baru lulus sekolah aja kok, kalau tidak berkenan ya gapapa. Sebenarnya yang pertama-tama bisa memutus rantai senioritas itu penanaman moral di keluarga 😊 Bukan hanya sekolah.