Wednesday, October 21, 2015

Generasi Macam Apa Yang Sedang Mereka Ciptakan

Jujur terselip rasa khawatir setiap mendengar perbincangan-perbincangan masyarat mengenai isu-isu terkini.

Khawatir.

Apakah generasi saya mampu memajukan dan memperbaiki keadaan yang telah anda, bapak ibu kami, ciptakan?

Jika bahkan untuk nilai di rapor pun kami terbiasa diajari untuk selalu dapat nilai A atau 100 atau 10, entah bagaimanapun caranya?

Jika bahkan anda sebagai orangtua masih belum dapat mengajak kami untuk berdiskusi, menerima pendapat kami, bahkan untuk permasalahan yang remeh sekalipun?

Jika bahkan anda sebagai orangtua, sebagai alat kontrol utama dalam hidup kami, sebagai panutan kami, dengan sengaja memboncengkan kami tanpa pelindung kepala atau bahkan membelikan kami kendaraan di saat kami belum mencapai usia yang legal untuk berkendara di mata hukum?

Jika bahkan anda berkata "Ayah malu, ibu malu" saat kami belum berhasil mendapatkan prestasi di bidang yang anda berdua inginkan sementara bidang tersebut memang bukanlah passion kami untuk berkarya?

Generasi muda macam apa yang sedang anda-anda ciptakan?

Saya mohon.
Pengerjaan rumah kami, saya dan anak-anak generasi penerus, sangatlah menantang. Untuk pulih, negara ini perlu dibangun oleh generasi yang optimis, mandiri, jujur, dan tangguh. Jangan manjakan kami, jangan permudah kami untuk mendapatkan apa yang kami inginkan tanpa kerja keras. Jangan juga tekan kami untuk selalu menjadi nomor satu dalam bidang yang bukan minat kami.

Interpretasi orangtua mengenai kasih sayang terhadap anaknya memang berbeda. Tapi saat kita dihadapkan pada tujuan yang sama, mimpi yang sama, harapan yang sama, yaitu Indonesia yang lebih sejahtera baik badan maupun jiwanya, terutama agar Indonesia dapat menjadi rumah yang nyaman bagi anak cucu anda, ada baiknya anda refleksikan kembali: apakah kasih sayang anda adalah kasih sayang yang membangun atau justru memanjakan.

Indonesia tidak butuh generasi manja; yang pegang gadget hanya untuk sosial media yang kurang perlu, yang malas (atau bahkan tidak tahu caranya!) menggunakan transportasi publik, yang berpangku tangan pada bocoran-bocoran ujian, yang dengan mudahnya menadahkan tangan untuk meminta uang jajan dengan jumlah tidak wajar tanpa diberi kesepakatan apapun...

Ini sedikit tulisan saya, inspirasinya pun datang dari lingkungan saya, tidak perlu cari sampai ke pelosok. Disini pun banyak kok orangtua yang bangga saat anaknya diterima di kampus A meski memberi "sumbangan" lebih banyak, lebih bahagia saat anaknya bisa nyetir mobil saat masih di bawah 17 tahun dan bukannya malah mengajari cara naik transportasi publik, dan banyak keprihatinan lainnya.

Saya ga mau menyindir siapa-siapa. Saya hanya mikir puanjangggg efek ke depannya. Kita ga bisa ubah generasi tua, dan lagipula masa depan bangsa ini ada di tangan generasi muda. Ayo. Optimis. :)

Everyone is An Agent of Change, in A Positive Way

Meanwhile masyarakat ribet sama #UdahCapek dan satu-tahun-gagal embuh opo kuwi, meanwhile pada sambat ke hewan-hewan, meanwhile menteri-menteri saling tuding menuding dan ikut campur di bukan bidangnya, meanwhile upeti-upeti di atas tanah sengketa masih jalan terooosss...
Ini ibu satu tetep fokus ngurusin kerjaannya dong!
Tuh kan coba semua fokus maksimal dan bahagia di bidangnya masing-masing, ga perlu waton tunjuk dan akan sangat meminimalisir pesimisme :))
Kamu berharap apa dari satu tahun kalo kamu suruh presiden doang yang berubah jadi tambah tegas? Dan kamu ga bantu bikin perubahan? Dia super tegas ala ala militer pun kalo masyarakatnya pesimis ya ngga akan berhasil lah.
Mending berkarya, memberdayakan lokal menuju kompetisi global. Pandai menulis, menulislah. Pandai menggambar, menggambarlah. Pandai memotret, memotretlah. Berjuta pemikiran positif jika digabungkan pasti akan membuat perubahan besar. Be the change you wish to see in the world.


Thursday, October 8, 2015

How about... A decision maker?

Kenapa politik? Kenapa jadi politikus?

Jurusan yang kadang paling akhir buat dipilih di SNMPTN.
Kolom surat kabar yang paling sering dilewatin buat dibaca.
Pekerjaan yang sering dicemooh sama orang banyak.
Sosok yang dianggap punya banyak wajah untuk banyak kesempatan.

Hehe, tidak.
Tidak seperti itu.

Semua jurusan perkuliahan itu baik (selama kita rajin belajar) dan semua bidang pekerjaan itu mulia (selama halal).

Lalu, apa yang salah dengan menjadi seorang politikus?

---------------------------
Saya pribadi, Asyana Prasetio, sejak Taman Kanak-kanak sudah ditanamkan rasa bela negara yang tinggi oleh kedua kakek-nenek saya. Karena tidak mungkin meneruskan sebagai seorang TNI/POLRI (yaiyalah badan gue mana kuaaaad), Asyana kecil jadi rajin mikir, "Aku harus jadi apa ya biar bisa majuin negara?". Dibantu oleh Bunda yang baik hati, Asyana kecil akhirnya menemukan bahwa setiap pekerjaan adalah baik adanya dan setiap perbuatan mulia pasti ada pahalanya. "Oh, maka, jadi apapun aku, selama aku jujur dan ngga lupa berbuat baik, pasti akan selalu bermanfaat buat negara". Akhirnya Asyana kecil terus mencari lagi, setidaknya sudah ada satu poin penting yang dia genggam: dia boleh jadi apapun.

Pernah suatu hari di bangku TK, Ibu Guru Atiek bertanya, " Apa cita-cita kalian?". Asyana kecil mengangkat tangannya dan menjawab tanpa ragu, "Jadi demonstran! Biar bisa demo ke pemerintah!" dan Ibu Guru seolah tanpa mendengar, mengajukan pertanyaan yang sama, sekali lagi, pada anak muridnya yang lain. Asyana kecil terkejut dan berpikir, "Apakah ingin menjadi demonstran bukanlah suatu cita-cita?". Karena ia tahu, menjadi demonstran adalah mulia. Bapak mantan presiden diturunkan jabatannya oleh demonstran. Undang-undang direvisi karena tuntutan demonstran. Orang-orang takut pada demonstran. Apa yang salah?

Sepuluh tahun kemudian, Asyana bukan lagi seorang anak kecil. Namun gambaran bagaimana menjadi "sosok yang bermanfaat" bukan lagi menjadi seorang demonstran, baginya. Ia semakin tahu, yang mulia bukannya menjadi peminta-minta, tapi jadi pemberi. Yang mulia bukannya jadi demonstran, tapi jadi pengambil keputusan yang amanah. Yang mulia bukannya jadi perutuk bangsanya sendiri, tapi jadi pemberi solusi. Asyana tahu, ia akan menjadi seorang politikus, suatu hari nanti.
---------------------------

"Politikus?! Banyak musuhnya, Na!"
"Politikus? Mau makan apa?"
"Awas, rawan godaan, bahaya."
"Nggak ada cita-cita yang lebih jelas?"

Bertahun-tahun berselang, dan semua kasus yang membelit politikus-politikus di negara ini justru semakin memantapkan nurani saya untuk mengambil peran di dunia politik: harus ada orang-orang baik untuk mengubah, harus ada yang memutus mata rantai dunia politik kita yang menjijikkan.

Saya jelas bukan tipe manusia yang panjang sabar, bahkan hanya dengan berdebat kusir melawan orang yang kurang pemahamannya pun, kadang bisa bikin saya pusing. Tapi saya juga bukan tipe seorang follower. Saya paling anti terhadap apatisme dan keleluasaan ongkang-ongkang kaki sementara masih banyak hal yang harus diperbaiki di negeri ini.

Kembali lagi. Kenapa harus jadi politikus?

Begini. Ketika ada banyak orang lebih senang untuk bergerak dalam diam, lebih puas saat bisa menggerutu lebih banyak,  lebih plong saat memproduksi keluhan yang tidak membangun... harus ada orang-orang yang mau menampung semua gerutuan dan keluhan itu, untuk kemudian mengambil kebijakan yang tepat. Dan satu-satunya cara untuk melakukan hal tersebut adalah dengan menjadi seorang pengambil kebijakan.

Dunia politik berbahaya? Banyak godaan?

Sesungguhnya, setiap pekerjaan memiliki resikonya sendiri-sendiri, godaannya sendiri-sendiri. Dan sesungguhnya pula, tidak ada niat baik yang tak diridhoi oleh Tuhan.

Dan tentu saja!
Ga ada yang lebih sexy dibanding seorang perempuan cantik dengan otak cerdas, punya kemampuan mendebat dan negosisasi yang mumpuni, dan duduk di kursi pemerintahan membela hak-hak rakyatnya. I'll be that kind of woman!

Wednesday, October 7, 2015

Selamat ulang tahun yang ke-259!

Apa yang ada dalam pikiran saya pertama kali setelah membaca artikel tentang Bus Wisata Domapan...

Iya, saya pesimis. Biarlah sesekali saya pelihara rasa pesimis, sekali saja, untuk semua "pembangunan" di kota ini, yang sedang dilakukan besar-besaran akhir-akhir ini.

Bertahun-tahun rakyat menuntut: transportasi umum, fasilitas publik, ruang ekspresi, kenyamanan bagi kaum difabel... Apa pernah didengar?

Jalan-jalan di kota kami tetap berlubang. Trotoar ramah difabel tetap belum terwujud. Pengemis masih memenuhi tiap perempatan kota.

Tapi crane-crane raksasa terus menjarah kota kami. Gedung-gedung bertingkat, yang entah punya siapa, lambat laun terus menggantikan lapangan-lapangan bermain anak-anak kami. Ijin pembangunan terus diberikan entah oleh siapa dan bagi siapa.

Percayalah, Pak Sultan, Pak Haryadi.
Kami ngga butuh semua "pembangunan" dan "kecantikan" sebanyak ini.
Kami tahu, kota ini adalah kota pariwisata. Tapi apa pernah anda berdua menyadari, bahwa yang dirindukan oleh turis-turis itu bukanlah pembangunan gedung-gedung bertingkat? Mereka rindu, mereka pulang ke Jogja, karena masyarakatnya, karena budayanya.

Pak Sultan, Pak Haryadi.
Buka kedua matamu. Uang berapapun yang masuk ke kantong anda tak akan pernah bisa membeli jantung dan hati kota ini: kebudayaan dan masyarakatnya.

Jogja tak lagi berhati nyaman, Jogja berhenti nyaman.

Sugeng tanggap warsa, selamat ulang tahun!