Saturday, December 19, 2015

Between the politics and the meditation

Sekitar Mei 2015 saya mengikuti sebuah rangkaian kegiatan spiritual (meditasi retreat) yang terbuka bagi publik dengan latar belakang keyakinan apapun, meski saat itu mengambil tempat di Brahmavihara Arama, Bali, yang merupakan tempat ibadah para pemeluk agama Buddha. Kegiatan ini bernama Kidung Kasih Sayang dan biasanya terbagi dalam beberapa kali pelaksanaan dalam satu tahun, waktu itu saya ikut yang kelas remaja. Berangkat seorang diri, memantapkan hati, menghabiskan sekitar hampir seminggu untuk juga menjelajahi daerah Bali Utara. Jujur itu mungkin kali pertama saya menjamah daerah Bali Utara karena sebelum-sebelumnya, di telinga saya, Bali adalah Kuta, Ubud, Bedugul, dan daerah-daerah wisata lainnya. Agak kagok, karena perencanaan dan pelaksanaan kurang sejalan, sehingga mengakibatkan pembengkakan juga di segi biaya saat berwisata karena ternyata, dsana tidak terdapat angkutan umum yang memadai (dan daerahnya sangat naik turun jadi lebih tidak mungkin lagi untuk berjalan kaki dari satu tempat ke tempat lainnya) sehingga saya terpaksa menyewa mobil dengan sopir juga jiahahaha payah...

Tapi untuk penyelenggaraan kegiatan di viharanya sendiri sama sekali tidak mahal. Biaya yang dipatok pun seikhlasnya (bahkan masih ada yang nggak ikhlas lho waktu itu teman saya ada yang masih hitung-hitungan sebelum memasukkan amplop ke kotak) padahal, tempatnya sangat indah, bersih terawat, pekerjanya banyak, dan sudah termasuk dua kali makan per harinya (meditasi ini tidak mengenal makan malam karena dianggap manusia hidup seperlunya, bahkan untuk makan pun tidak perlu berlebihan). Sangat menyenangkan berada di vihara tersebut, saya bisa puaaaas banget merenung dan bermeditasi pasca hiruk pikuk Ujian Nasional. Tempatnya super indah, kalau saya kapitalis banget pasti udah saya bikin hotel buat honeymoon kali tuh hahahaha... Benar-benar no gadget, no kebisingan, dan semua orang sangat ringan tangan dalam membantu akomodasi saya, mengingat saya adalah pendatang yang belum begitu mengenal medan dan s e n d i r i a n.

Nah, kebetulan yang mau saya ceritakan disini bukan tentang perjalanannya yang super menyenangkan itu (one day saya cerita ya, di post tersendiri), tapi tentang apa yang saya dapatkan dari kegiatan rohani itu dan apa materi yang masih terngiang sampai sekarang. Alhamdulillah berarti waktu itu bener-bener mendengarkan ya hahaha karena beberapa anak jatuh tertidur lho, kalau memang tidak terbiasa berkontemplasi dan tiba-tiba diajak untuk saat hening dari subuh saat bintang masih terlihat jelas (I've promised to myself to come back again gara-gara bintangnya itu, ya ampun bertaburan banget. Mungkin efek letaknya yang di desa jadi jauh dari lampu-lampu kota, ya) hingga tengah malam pun masih ada yang berminat meditasi hahaha saya sih secukupnya aja.

Pengarah meditasi waktu itu adalah Guru Gde Prama, seorang motivator nasional, spiritualis, dan penulis asli Bali, yang dulu sewaktu mudanya juga pernah merambah dunia bisnis dan korporasi. Di hari terakhir perjumpaan dengan Guru Gde, saya menyempatkan diri untuk melontarkan pertanyaan di sesi tanya jawab anonim (dengan cara menuliskan pertanyaan di secarik kertas, dikumpulkan kembali, dan diberikan pada Guru Gde untuk disharingkan jawabannya), tapi jawaban yang diberikan oleh Guru Gde belum dapat memuaskan rasa penasaran saya.

Cita-cita saya sedari kecil adalah berkecimpung di dunia politik untuk mengubah dunia politik yang akrab dengan akal-akalan menjijikkan dan uang kotor menjadi bidang yang ramah publik, bersih, dan menjadi jantung dari kebudayaan masyarakat. Dan saya sudah mulai dikenalkan oleh Bunda saya mengenai meditasi dan kontemplasi sejak kira-kira tiga atau empat tahun yang lalu. Adapun pada kenyataannya, politik dan religiusitas kadang tidak bisa menyatu, prinsip dasar keduanya kadang berseberangan, dan implementasinya pun tidak bisa disejajarkan.

Pada sebuah sesi di meditasi retreat tersebut, saya memberanikan diri bertanya (toh juga akhirnya pun saya tulis di post ini hahaha), "Guru, apakah mungkin bisa menjadi seorang politikus yang bersih dan tetap melakukan kontemplasi dalam kesehariannya?". Jawabannya lumayan masuk akal, tapi masih cenderung menggantung bagi saya. "Bekerja di bidang politik itu banyak sekali godaannya. Dan sangat sedikit politikus yang mampu bermeditasi dan berkontemplasi secara murni. Tapi bukan tidak mungkin jika anda memang betul-betul memiliki keinginan kuat untuk terus bermeditasi, semesta akan mengikuti dengan caranya sendiri."

Dan kemudian, Guru Gde beralih pada pertanyaan anonim selanjutnya.

Saya sangat membenci orang yang menjawab pertanyaan dengan menimbulkan pertanyaan selanjutnya yang lebih memusingkan dibanding pertanyaan sebelumnya hahaha :))

Siang ini, saya berbincang-bincang dengan Bunda perihal pembangunan di negara ini. Sudah sejak lama tanda tanya besar memenuhi benak saya, "Apa pembangunan di masa ini, benar-benar sebuah pembangunan yang diinginkan oleh founding fathers kita dahulu? Apakah ini memang benar-benar jalan yang harus ditempuh dulu oleh Indonesia?" karena jujur saja, Bunda saya selalu bilang, pembangunan di negara ini kadang terlampau modern dan lupa diri, lupa identitas. Kita lupa bahwa negara ini bersandar pada budaya lokal sejak dulu kala. Kita kaya karena kita beragam. Kita negara besar karena kita punya kultur yang mendarah daging yang jumlahnya sangat besar yang tidak pernah dimiliki oleh negara manapun sebelumnya.


  • Enam triliun rupiah digelontorkan tahun ini untuk membangun tanah Papua: lahan pertanian, pelabuhan, dan berbagai infrastruktur lainnya. Yang artinya? Membabat hutan-hutan lebat itu, memusnahkan rumah ribuan spesies-spesies itu...
  • Suku Anak Dalam di Jambi akan direlokasi dalam satu lingkungan agar (katanya) memudahkan akses dari dalam suku dengan pemerintah. Yang artinya? Pembangunan dalam arti sempit membawa kita menuju suatu paham yang menitikberatkan pada perubahan kearifan, perubahan kebudayaan...
  • Seratus hotel masih akan dibangun di Yogyakarta. Yang artinya? Hai, masih ada cukupkah air untukmu mandi dan minum sampai setidaknya beberapa puluh tahun ke depan?
  • Lebih dari seribu izin usaha pertambangan (IUP) di Pulau Jawa diterbitkan dalam kurun waktu 10 tahun (2003 hingga 2013), mencakup izin untuk mengonversi daerah tangkapan air, hutan, pertanian dan lainnya...

Sambil kita lupakan sejenak target pendapatan dan belanja daerah,
pertumbuhan PDB,
dan segala macam hal yang berhubungan dengan uang lainnya.

Hai.


Pembangunan
seperti
itukah?

Pembangunan dengan crane...
Beton...
Dan gedung-gedung pencakar langitkah?

Pembangunan-pembangunan ini, membuat kita lupa akan identitas kita yang sebenarnya. Identitas kerakyatan kita, keberagaman lokal kita. Gedung-gedung pencakar langit menutupi rumahmu dari sinar matahari yang biasanya menangkap celah di rerimbunan pohon di halaman. Hotel-hotel yang menyedot air tanahmu. Pembangunan jalan yang merontokkan daun-daun hijau hutan khatulistiwamu. Beton-beton yang menggantikan lapangan bermainmu di waktu kecil.

Dear founding fathers...
Saya harap suatu saat anda-anda berkenan masuk ke alam bawah sadar saya, berkenan mampir ke dalam bunga tidur saya, untuk memberi jawaban akan pertanyaan yang selama ini memenuhi benak saya yang kecil ini...

"Pembangunan seperti apa yang sudah sedari dahulu diharapkan?"

Pembangunan moralkah?
Pembangunan spiritualkah?
Pembangunan sektor-sektor infrastrukturkah?

Siapa yang memberi izin...
Siapa yang mengarahkan pembangunan...

Tak lain tak bukan... politikus.

Masih butuh waktu cukup banyak bagi saya untuk belajar, membangun demi pembangunan infrastruktur (yang katanya harus merata, entah bagaimana standar "merata" itu sebenarnya) atau melaksanakan pembangunan di kualitas sumber daya manusianya. Kalaupun menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia, standar seperti apa yang diharapkan... Mengingat tidak semua orang memahami bahwa uang tidak bisa dimakan dan hutan tidak tumbuh dalam waktu semalam, dan mengingat jumlah populasi spesies Homo sapiens bertambah tiap detiknya, tentu akan sangat menantang untuk meningkatkan awareness akan hal-hal mendasar tersebut...

*But hey, Homo sapiens sendiri dalam bahasa Latin artinya: wise person :)
Jadi, sedari awal memang kita sudah diharapkan untuk be wise rupanya hahaha*

I hope it's possible to combine equitably between political sciences and meditation habits.
Semesta selalu punya jalan untuk mewujudkan mimpi-mimpi orang "gila".

Semoga tuhan, siapapun dia, dan semesta yang indah dan baik hati ini, masih berkenan menyimak perenungan-perenungan gila saya...

Friday, December 18, 2015

Urip kuwi kudu urup

Berkali-kali saya merenungkan, dan berkali-kali pula nihil yang saya dapatkan, saat saya berusaha memahami apa yang sebenarnya terjadi dalam hidup manusia di masa ini. Terkadang hidup berjalan terlalu rumit untuk dimengerti: ada waktu dimana kita sanggup mengontrol, kadang kita hanya sanggup untuk mengikuti, tapi tak jarang juga kita tertatih-tatih.

Hidup tidak pernah statis. Selalu ada atas dan bawah, awal dan akhir, alpha dan omega. Mungkin, pada awalnya, mungkin, maksud hidup tidaklah serumit itu. Bahagia, bermanfaat, mengalir. Mungkin, itu adalah esensi awalnya. Tapi semakin kesini, semakin tidak jelas. Ada yang menggunakan hidupnya untuk urusan dunia semata, ada yang bahkan tidak tahu bagaimana cara menghidupi hidupnya. Tak jarang orang semacam itu menjadi perangkap bagi dirinya sendiri: hidup, tapi tak hidup. Bernyawa, tapi seakan mati. Bernafas, tapi jiwanya redup.

Hidup tidak selalu menyenangkan. Manusia seperti kita, kadang perlu ditegur dengan kesedihan agar kita ingat untuk senantiasa membahagiakan orang lain. Kadang kita perlu ditegur dengan sakit-penyakit agar kita senantiasa mensyukuri sehat. Kadang kita perlu ditegur dengan kegagalan agar kita tahu bagaimana nikmatnya sari pati proses berjuang. Kadang kita perlu ditegur bahkan dengan kepergian orang-orang yang kita sayangi agar kita sadar betapa dekat jarak antara kehidupan dan kematian, pertemuan dan perpisahan.

Pun sebaliknya.

Hidup tidak selalu membosankan. Ada hal-hal menarik dan warna-warna baru di sekitar jika kita membuka lebar-lebar cakrawala pikiran dan bukannya selalu terpaku pada pola yang itu-itu saja. Life begins at the end of your comfort zone.

Ini bukan tentang bagaimana kehidupan di muka bumi ini berjalan.
Bahkan tanpamu sekalipun, kehidupan akan tetap berlangsung.
Ini tentang ilmu kehidupanmu sendiri, tentang bagaimana kamu menghidupi hidupmu.

Terlalu singkat hidupmu kalau hanya untuk mampir ngombe.
Dan saya yakin sejuta persen kalau tuhanmu atau siapapun yang menciptakanmu itu, tidak menciptakan kamu hanya untuk mampir ngombe. It's more than that.
Urip iku sejatine kudu urup.

Thursday, December 17, 2015

Guess how much I love books?

Manusia dengan usia produktif tentu punya banyak tanggung jawab dan pekerjaan. Apalagi kalau manusia itu adalah seorang (calon) mahasiswa, seorang anak perempuan, seorang wiraswasta, dan entahlah saking bundet ruwetnya kadang nggak bisa dideskripsikan dengan label tertentu. Perkara mencari uang dan ilmu di sektor formal memang nggak akan ada habisnya, mengingat tanpa kedua hal tersebut pun mustahil untuk hidup dalam taraf berkecukupan, setidaknya menurut standar saya hehehe. Kegiatan-kegiatan yang sangat duniawi ini kalau nggak diimbangi dengan hal yang menentramkan jiwa tentu akan berakibat fatal, contohnya saya: kurang tidur, kurang makan, kurang piknik, dan akibatnya pun kurang waktu untuk mikir jodoh. Errrr, nggak juga ding, yang terakhir hahahaha. Perempuan keren nggak akan pusing-pusing mikir jodoh, camkan ya :p

Saya pribadi, berusaha untuk mencari jalan aman dengan berolahraga secukupnya dan sebisa mungkin mengonsumsi makanan bergizi seimbang serta detoksifikasi. Karena untuk cari-cari waktu luang demi mendapatkan ketentraman (contoh: liburan kesana kemari sepanjang weekend, bela-belain hiking untuk refreshing, ikut sembahyang di gua sana-sini, dst) jujur saya udah nggak sanggup. Waktu saya terbeban cukup banyak untuk mengejar materi bahasa Prancis (dan saya berani bandingkan sama teman-teman yang sudah kuliah sekarang, mereka bahkan mostly lebih terlihat santai dibandingkan saya HADUH wkwk tapi ini persepsi pribadi saja ya :p) dan tentu saja pikiran sudah habis juga untuk work smart mengelola beberapa bidang usaha.

Beberapa 'pelarian' saya antara lain juga sharing di blog ini, ketemu teman-teman SMA, bermain musik, menyanyi, dan tentu saja hobi saya sejak kecil: membaca!

Sewaktu saya masih duduk di bangku TK sampai SD, kebahagiaan utama saya adalah saat kakek menyambangi kami di Jogja (waktu itu saya masih cucu satu-satunya jadi ya ampun dimanja banget HEHEHE) dan selalu mengajak ke toko buku Gramedia untuk membeli buku apapun yang saya mau, sepuasnya. Saya kira ini adalah kebiasaan baik yang memang sewajarnya dimulai sedari dini dan tentu saja relevan sampai kapanpun. Momen usia emas (0-6 tahun) adalah momen paling tepat untuk memberi pengertian dasar mengenai moral dan pengetahuan umum, daaaan bahagianya, buku-buku anak jaman sekarang sudah begitu kompleks dalam mengangkat suatu topik, mengingat jaman saya dulu masih agak susah untuk mencari ensiklopedi bergambar yang sangat menarik seperti yang sekarang mudah sekali ditemukan. Jika anda sebagai orangtua mampu membelikan mainan-mainan dan gadget mahal untuk putra-putri anda, mengapa juga tidak menjadikan aktivitas membeli buku dan membacakan dongeng sebagai kebiasaan baik? Aktivitas story telling dan retell (menceritakan dongeng yang mengandung nilai moral pada anak dan anak diharapkan dapat menceritakan kembali sesuai pemahamannya), selain dapat menambah ilmu pengetahuan, tentu juga dapat menjalin kehangatan dalam keluarga.

Kebiasaan baik yang ditularkan oleh kakek saya masih saya teruskan sampai saat ini (dan tentu akan saya lanjutkan juga ke anak cucu saya kelak) meski kadang saya sudah nggak bisa lagi alokasikan satu hari full untuk menyelesaikan satu buku seperti waktu di SMP dulu karena biar bagaimanapun juga kesibukannya sudah cukup berbeda. Saya sampai saat ini masih ada hutang beberapa buku alias baru sempet kebeli aja tapi halaman pertama pun belum tersentuh hahaha...

Dan dari beberapa buku ini sudah sangat dapat menggambarkan kepribadian saya tentang bagaimana selama ini saya berpikir dan bertindak serta mengambil keputusan, kadang saya rasa-rasa juga, genre buku yang paling banyak kita baca adalah cerminan dari kepribadian kita sendiri. Meski tentu saja kita harus selalu membuka diri terhadap genre yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari kebiasaan kita. Ehehe bener lho, kalau kita mau jadi orang hebat, ada beberapa tips yang pernah saya dengar:

Become friends with people who aren't your age. Hang out with people whose first language isn't the same as yours. Get to know someone who doesn't come from your social class. This is how you see the world. This is how you grow.

Tapi ada juga seorang motivator yang pernah bilang, "Coba sekali-kali baca buku yang genrenya beda banget sama kehidupan anda". Memperluas cakrawala pengetahuan memang tidak pernah salah, that's why I always get excited over new things easily.

Buku pertama yang mengantri untuk minta segera dijamah adalah...

L'accro du shopping dit oui -Sophie Kinsella
Mungkin ada yang pernah baca series of The Confessions of Shopaholic yang dari masih single mingle boros parah sampai akhirnya menikah dan punya anak? Ada juga versi filmnya, ya. Saya udah khatam baca semua bukunya waktu SMP (sumpah ini saking masih belum ada gawean ya waktu SMP) tapi in Indonesian dan kemarin disodorkan versi Prancisnya ini oleh Madame Yuli langsung say yes aja tanpa tahu kapan ada waktu buat baca hahaha. Lumayan sih buat selingan semacam Princess Diaries gitu nggak usah diambil pusing waktu bacanya, pocket book juga jadi ya... kalau diumpamakan sebagai camilan, potato chips kali ya, ringan dan nggak bikin eneg, tapi bikin batuk kalau kebanyakan #apalah

Buku kedua, saya punya...

Let It Snow -John Green, Maureen Johnson, Lauren Myracle
Sebenernya nggak tau kenapa beli buku ini mungkin karena waktu itu kalap diskon di Periplus (gapapa boros kan buat beli buku :p #halah) tapi lumayan buat selingan besok waktu mudik Natal.

Buku ketiga, buku favorit yang paling nggak sabar buat saya baca...

The Alpha Girl's Guide -Henry Manampiring
Jadi saya follow si penulis ini, panggilan akrabnya sih Om Piring (sok kenal) (iyain aja) di media sosial ask.fm dan buat saya beliau ini lumayan inspiratif untuk awam yang bener-bener mulai dari nol, belajar tentang emansipasi perempuan di era modern seperti sekarang. Jaman berubah, serba instan, perempuan makin cerdas dan so on dan so on tapi kembali lagi ke satu hal, dan kasusnya sama seperti saya: sekali bersinggungan dengan kisah asmara mendayu-dayu, rentan terkena gangguan psikologis yang kolokan dan nggak berguna. Sama sekali. Dan buku ini mengajak kita kaum perempuan untuk lebih meningkatkan awareness dan rasa cinta pada diri sendiri bahwasanya kita tuh lebih worth it daripada laki-laki manapun #ler, Ya intinya buku bagus yang wajib dibaca semua kaum perempuan anti patriarki. #PrincessAgainstPatriarchy