Tuesday, November 22, 2016

Bahagia Itu Sederhana


Ada hal lucu-lucu, menyenangkan, hingga menegangkan yang terjadi selama saya tinggal sendirian di negara orang. Mungkin kuliah di negara lain buat kebanyakan orang adalah hal biasa, tapi buat saya yang kurus kering kerontang dan tak berbudget banyak, tentu jadi pembeda dari kebanyakan itu. Pernah saya disangka mau mengantar kakak oleh satpam kampus karena badan saya kan, ukurannya relatif mungil jika dibandingkan dengan teman-teman di kampus yang tinggi-tinggi. Lalu, bertahan hidup dengan budget kurang dari Rp 2.000.000,00 sebulan, untuk semua keperluan dapur, rumah tangga, langganan transportasi, dan alat tulis, saya yakin tak semua orang mampu, karena saya pun ngos-ngosan, hahaha... Tapi, bisa nggak? Ya dilihat saja sendiri, sejauh ini saya masih hidup kok, karena kuncinya: berkecukupan, bukan berlebihan.

Lalu, saya mau cerita tentang menjaga dan mengukur diri, nih. Seringkali, ketika saya berkomunikasi dengan teman-teman atau kerabat di Indonesia, mereka sering mengatakan, "Hati-hati, ya.", "Jaga diri, ya", dan sejenisnya. Dan kata-kata ini benar-benar saya usahakan untuk lakukan karena saya tak mau ada sesuatu terjadi dengan saya yang sudah pasti akan merepotkan banyak orang dan menimbulkan khawatir mereka yang berada dikejauhan. Nah, saya tak ingin hal ini terjadi.

Saat saya tertular flu atau merasa tubuh sedang tidak fit, atau saat saya kekurangan uang dan tak bisa makan layak selama seminggu, atau bahkan saat saya mengalami kedua kejadian itu bersamaan, saya usahakan untuk tak menceritakannya pada siapa-siapa. Karena ya, itu tadi. Daripada merepotkan dan membuat khawatir, selagi bisa ditangani sendiri dan masih mampu berjalan kaki, tak perlulah menceritakan apapun kepada siapapun.

Pernah saya jatuh sakit karena perubahan cuaca yang cukup signifikan, setelah berada dalam rumah yang hangat semalaman, keesokan paginya harus berangkat ke kampus dengan cuaca yang cukup buruk dan angin sangat kencang, ketika malam hari kembali ke rumah pun saya tumbang. Tenggorokan sakit, badan meriang, telinga berdenging... Tapi sayang sekali keinginan untuk makan lezat dan memulihkan tenaga terpaksa saya urungkan, setelah melongok ke dapur dan tak mendapati apa-apa disana, di pekan itu memang tak ada wacana berbelanja bagi saya karena di rekening hanya tersisa uang dengan nominal satu digit saja, hahaha. Memutar otak, akhirnya saya sadar bahwa kesehatan adalah yang utama, dan saya tak akan fokus belajar jika badan tak bugar dan perut kosong. Akhirnya saya membuka dompet, alhamdulillah masih tersisa 4 euro dalam keping-keping uang logam yang bisa saya pergunakan untuk berbelanja di Carrefour.

Ya, saya belanja di Carrefour kali ini bukan karena gaya (Carrefour terletak di mall), tapi karena disana tersedia pojok khusus buah dan sayur dengan harga ekonomis, semua di bawah 1 euro.

Saya memaksakan diri mengangkat tubuh (benar-benar seperti falsafah Jawa, "Ora obah ora mamah", "Tidak bergerak maka tidak makan"), dan berjalan kaki menuju halte metro untuk membeli bahan makanan yang sudah saya data dalam hati. Buah dan sayur.

Dengan uang 4 euro, akhirnya saya pulang menenteng tas belanja berisi satu kilo buah apel, satu kilo buah pir, satu kilo wortel, dan satu batang cokelat putih untuk teman belajar di rumah. Selesai belanja, saya bergegas pulang karena sudah terlalu lemas untuk mengelilingi mall.

Sampai rumah, karena masih ada beras, tahu, dan kecap, saya memutuskan untuk membuat nasi tim, dengan maksud agar tak begitu susah ditelan oleh tenggorokan yang sedang super sakit. Alhamdulillah lagi, saya tak pernah memasak dengan resep dan hasilnya tak pernah gagal.

(Sombong sedikit ya, karena toh hanya ini yang bisa disombongkan dari saya, hahaha.)

Akhirnya setelah menanak beras, menambahkan sedikit air agar nasi menjadi lebih lunak, mencampur wortel dan tahu dengan kecap dan garam, lalu membumbui nasi dengan daun bawang, kemudian mencampur semua bahan bersamaan, dan menambah keju emmenthal leleh setelah mematikan api... Saya makan dengan penuh syukur dan lagi-lagi membatin (seperti yang selalu saya rasakan tiap ada hal baik yang ditemukan di Lille, termasuk tiap saya mengicipi hasil masakan sendiri yang entah kenapa jauh lebih nikmat dibanding ketika di Yogyakarta dulu), "Alhamdulillah, semesta baik, bahagia itu sederhana..."

Kadang hal-hal remeh yang membahagiakan, yang saya temukan dalam berbagai himpitan situasi, membuat saya belajar jadi lebih sabar, dewasa, menghargai apapun wujud rejeki, dan mampu mengenali diri sendiri. Hahaha, kepedean. Ya, itu menurut saya. Tak tahu ya, penilaian orang seperti apa. Tapi yang pasti, saya mempelajari begitu banyak hal disini. Saya belajar menerima keadaan, meski kadang masih diselingi keluh kesah pada orang-orang terdekat, meski kadang saya masih suka marah-marah dalam hati, tapi saya sungguh beruntung diberi kesempatan memaksimalkan segala yang sudah diberikan semesta, meski tak sebanyak milik orang lain.

***


Terima kasih untuk Ayah Bundaku yang selalu mengajariku bertahan hidup dan mensyukuri apa yang ada, karena ketika aku dilahirkan dan kelak aku mati pun tak ada hal yang ku bawa selain kepribadian yang beriman, meski hanya sebesar sesawi.

Sunday, November 13, 2016

Asyana Bicara: Tantangan Kuliah di Luar Negeri

'And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.' — Paulo Coelho

Kuliah di luar negeri? Siapa yang tak mau? Tak cuma ilmu dari perspektif berbeda yang bisa kamu dapatkan, tapi kamu juga akan menghadapi banyak situasi baru yang pasti akan membuatmu 'dipaksa' keluar dari zona nyaman. Karena tak mungkin dihindari, maka pertanyaannya sekarang adalah, siapkah kamu menghadapi tantangan-tantangan ini?

Tantangan #1: Kangen Indonesia!
Kelezatan makanan autentik Indonesia tak akan pernah tergantikan

Kalau dipikir-pikir, memang kesempatan kuliah di luar negeri tentu hanya akan diberikan pada mereka yang pintar beradaptasi. Aturan pertama: jangan manja atau cengeng soal perut, deh. Prinsip kami yang kuliah di luar negeri, sejauh makanan itu layak konsumsi dan bergizi (dan tak menguras kantong tentunya, hehehe), sikat aja! Tapi tak jarang ada yang rela memasak karena tak cocok dengan makanan setempat dimana dia kuliah, mungkin juga ingin berhemat, atau mungkin tak banyak pilihan kedai murah meriah untuk mahasiswa. Nah, situasi yang mengharuskan kita beradaptasi inilah yang kadang membuat rindu akan makanan Indonesia yang lezat dan kaya rasa, murah meriah pula! Oh God, rindu terberat itu adalah rindu pada nasi padang! Meski kadang ada ditemukan restoran Indonesia, percayalah, rasanya tak akan sama dengan yang aslinya.
Kerinduan lainnya, tentu akan kebiasaan-kebiasaan di Indonesia. Rindu keramahtamahannya, rindu kehangatan orang-orangnya, rindu ritual-ritual adat yang biasa dilakukan bersama masyarakat, rindu rumah... Rindu macetnya juga nggak, ya?

Tantangan #2: Ngomong Apa, Sih?

Duh, semoga dia ngerti, deh!

Karena mayoritas dari kita dibiasakan untuk lebih sering menyalin tulisan guru di papan dan menghapal teori pelajaran dibanding presentasi atau public speaking, kadang kita kesulitan mengumpulkan keberanian untuk berani speak up, unjuk diri mengungkapkan buah pikiran kita. Apalagi kalau berbicara menggunakan bahasa asing, aduh, pasti yang kepikiran nanti cuma satu: "Grammarnya bener nggak, ya?". Ketika kamu berada di luar negeri, kadang di keseharian, masyarakat setempat nggak akan mempermasalahkan tata bahasa sejauh omonganmu masih dapat dipahami. Tapi, berbeda dengan di dalam kelas, kita akan harus berjuang sedikit lebih keras untuk memahami perkataan dosen. Untuk mengakalinya, recorder menjadi penyelamat! Hati-hati juga saat presentasi, ya! Tugasmu bertambah: membuat dosen dan teman-teman memahami pelafalanmu yang acapkali tak sempurna karena mungkin ada logat bawaan, hihi.


Tantangan #3: Birokrasi? Oh, no!

Tagihan apa ya, yang belum dibayar?

Mandiri hidup sendirian di luar negeri berarti mandiri juga dalam mengurus berbagai kebutuhanmu. Tak cuma urusan kuliah, kamu pasti harus mengatur urusan tempat tinggal, biaya transportasi lokal, asuransi kesehatan, ijin tinggal, perbankan, dan lainnya. Kadang, sistem negara setempat yang sama sekali berbeda dengan di Indonesia bikin pusing tujuh keliling. Duh boro-boro, di Indonesia aja mana pernah ngurus ginian! Nah, justru hal-hal ini yang akan membuatmu menjadi dewasa dan terlatih dalam menangani berbagai urusan di sektor formal. Jangan sungkan untuk banyak bertanya, ya!


Tantangan #4: Do I belong here?

Next question: how to make friends?

Untuk yang pada dasarnya kurang suka berada di tengah keramaian, mungkin tak akan terlalu jadi masalah. Tapi untuk yang suka heboh-heboh lalu tiba-tiba kamu harus pergi ke negara lain, memulai hidup dari nol lagi, di tengah situasi masyarakat yang baru kamu kenal, duduk di kelas dengan teman-teman setempat yang pemikirannya sangat berbeda denganmu... Wah, siap-siap berubah drastis jadi pendiam untuk beberapa waktu! Kadang kamu akan mulai merasa berbeda dan sulit menemukan teman. Tak apa, tetap jadi diri sendiri, semua hanya masalah waktu, kok! Keterasingan itu hanya muncul dalam pemikiran kamu. Buka diri untuk semua peluang, bergabunglah dalam berbagai aktivitas, dan jangan lupa untuk menebar senyum!


Tantangan #5: Homesick? Timezone?

Thing can't be replaced: family

Meski kadang Ayah suka marah-marah, masakan Ibu kalah enak dibanding makanan di cafe, kakak dan adik hobi jahilin kita, ternyata rumah ngangenin juga hihihi. Itulah, kadang kita lupa mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, dan baru akan kehilangan saat jauh, deh. Untungnya, jaman makin modern, kini ada beragam media sosial yang memiliki fitur video call sehingga kita bisa terus terkoneksi dengan keluarga atau pacar nun jauh disana. Selain itu, kita juga harus berdamai dengan zona waktu. Apalagi kalau kamu kuliah di Eropa atau Amerika, sementara keluarga atau pacarmu ada di Indonesia. Wah, harus pintar-pintar mencari waktu yang tepat untuk menelepon nih! Tak jarang salah satu pihak harus mengalah: bangun lebih awal atau tidur lebih larut, hihi semangat ya!


Tantangan #6: Rumah?

Pulang, enggak, pulang, enggak...

Setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kamu beradaptasi, akhirnya kamu akan mulai kerasan dan menemukan zona nyamanmu yang baru. Tapi kadang masalah tak selesai sampai disitu, pertanyaan selanjutnya malah akan menjadi, "Kangen Indonesia, nggak ya?". Wajar banget kalo kamu kepikiran, apalagi pasti ada banyak pihak yang tanya, "Pulang kapan?" atau malah menyarankan untuk tak pulang sama sekali. Beberapa pihak ini menganggap, negeri yang lebih maju tentu lebih liveable dibanding Indonesia, kamu pun bisa lebih berkembang, karya-karyamu lebih dihargai, apalagi yang akhirnya ketemu jodoh orang setempat. Tenang, godaan itu mengintai semua mahasiswa yang kuliah di luar negeri. Masalah mau kembali ke Indonesia atau tidak, itu adalah pertimbangan pribadi. Toh, dunia di jaman sekarang sudah borderless. Tapi yang harus diingat, Indonesia butuh kita! Jadi, dimanapun kamu berada, usahakan sumbangan tenaga dan pikiranmu tetap untuk tanah air tercinta, ya!

Thursday, November 10, 2016

Tinggal di Lille, Prancis: Studio

Memenuhi kebutuhan primer selama hidup di negara orang, kadang memang tak mudah. Ada beberapa tantangan tersendiri, utamanya saat menemukan kendala berkat adat istiadat yang berbeda antara di Tanah Air dan di tanah perantauan.

Jangan khawatir, jangan pernah. Jangan pernah biarkan tantangan-tantangan menjadi distraction untuk fokusmu.

Saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman saya berburu tempat tinggal, bagaimana waktu itu sangat sulit mencari tempat tinggal yang cocok di hati hingga akhirnya saya super kerasan di tempat tinggal yang kini saya huni.

Sejak awal menyiapkan persyaratan administrasi untuk visa pelajar, saya hanya mencantumkan alamat hotel dan AirBnb sebagai tempat tinggal sementara sebelum mencari tempat tinggal tetap. Ya simply karena saya belum berhasil mendapatkan tempat tinggal yang cocok.

Di Prancis, kemudahan untuk mengakses informasi tentang tempat tinggal sebenarnya membuat kita bisa memesan tempat tinggal hingga sebelum keberangkatan. Ada beberapa jenis tempat tinggal yang biasa dihuni mahasiswa disini: apartemen (bisa berbagi tempat dengan mahasiswa lain), rumah (bisa berbagi tempat dengan mahasiswa lain atau ngekos dalam rumah penduduk lokal), studio (kamar yang berisi lengkap dengan kamar mandi dan dapur), dan asrama mahasiswa (ada yang disediakan oleh lembaga CROUS atau disediakan universitas untuk mahasiswanya). Sama persis seperti di Indonesia. Semua informasi mengenai pilihan tempat tinggal dapat kita akses melalui situs-situs tertentu, di antaranya:
Berbagi tempat tinggal dengan mahasiswa lain?
Biasa disebut dengan colocation, berbagi tempat tinggal bisa jadi alternatif karena menurut saya, kamu bisa belajar bersosialisasi dan berkompromi dengan orang lain, apalagi jika berbagi dengan mahasiswa asli setempat, bisa mengasah kemampuan bahasa juga, kan.

Ada hal lain yang perlu diperhatikan, mengenai garant. Ada beberapa pemilik akomodasi yang memberikan persyaratan bahwa kamu harus memiliki penjamin seorang warga negara Prancis, agar jika ada kerugian materiil terhadap akomodasi yang kamu sewa, bisa dibebankan pada yang bersangkutan. Saat seminar keberangkatan, Campus France mewanti-wanti untuk sebisa mungkin menghindari persyaratan garant ini, biasanya yang meminta syarat garant bukan pemilik pribadi, melainkan agen. Contoh agen yang sering saya lihat plang-plangnya di jalan: Foncia, ORPI, Côté Ville, Promovente, dan sebagainya. Mengenai tarif sewa pun biasanya dipatok lebih mahal.

Itu mengenai tempat tinggal privat atau swasta. Lalu dari pemerintah sendiri, mereka membantu mahasiswa melalui lembaga CROUS dengan menempatkan asrama-asrama mahasiswa (r
ésidence universitaire), mungkin universitasmu juga menyediakan fasilitas yang sama. Namun biasanya, meski harga sewa terbilang cukup murah, asrama-asrama ini diprioritaskan untuk menampung mahasiswa master atau doktoral, atau mahasiswa-mahasiswa penerima beasiswa. Pengajuan sewa asrama CROUS dibuka pada awal Januari dan ditutup pada akhir bulan Mei tiap tahunnya.

Oke, sekarang pengalaman saya. Saya orang yang sangat fleksibel, namun orangtua saya tidak. Mereka menganggap saya terlalu memandang remeh hal-hal yang menurut mereka penting, sementara saya sebenarnya hanya ingin menghemat waktu dengan langsung eksekusi (yang memang kadang merugikan kalau tak dipertimbangkan matang-matang). Pemilihan tempat tinggal sebenarnya sudah kami lakukan sejak jauh-jauh hari
 sebelum keberangkatan melalui situs-situs yang saya sebutkan tadi, namun tetap saja pada akhirnya orangtua tak merestui pilihan saya yang manapun dengan alasan, "Lebih baik lihat secara langsung", yang menurut saya sangat-sangat amat tidak praktis, karena kemudian, Ayah meminta Bunda untuk ikut mengantar saya ke Prancis karena beliau ingin Bunda bisa memastikan kalau tempat tinggal saya nantinya benar-benar seperti harapan.

(Harapannya. :p)

Tapi ya sudah, saya tak begitu mempermasalahkan hal itu karena toh yang penting kan, jadi berangkat, hahaha (euforia). Mbak Fitria dari Campus France Yogyakarta (yang membantu saya dalam buanyak hal, merci, Mbak!) pun menyarankan agar saya mencari tempat tinggal sementara guna keperluan data visa pelajar, apalagi keberangkatan saya sudah mendekati tanggalnya, tepat pada 13 Agustus. Bunda akhirnya sempat berikrar, "Tanggal 17 Agustus kamu sudah harus dapat tempat tinggal" agar semesta mendukung dan tak membuang waktu kelak di Lille. Bunda juga memesan kamar hotel untuk dua hari setelah kedatangan kami dari Indonesia, dan AirBnb untuk kami tinggali selama lima hari, yang jaraknya mendekati kampus saya, Universitas Lille 2.

(Tuh kan, kalau diantar seperti ini, saya akan cenderung jadi manja karena menyadari bahwa saya akan pergi bersama orangtua yang pasti selalu make sure everything's alright)

Begitu sampai di Lille, saya dan Bunda langsung berburu tempat tinggal, berbekal daftar incaran tempat tinggal, peta kota, dan akses internet seadanya, dimanapun kami bisa menemukan WiFi (waktu itu saya belum beli SIM card lokal). Setiap hari kami naik metro dan berjalan kaki mengelilingi pusat kota, mencari bangunan yang dipasang tulisan à louer (disewakan), bertanya pada agen-agen setempat adakah tempat tinggal yang bisa saya sewa tanpa adanya garant (dan semua menjawab, "Tidak ada"), bertanya pada orang-orang yang kami temui di jalan apakah mereka punya informasi mengenai tempat tinggal yang disewakan, pergi ke CROUS di ujung kota untuk menanyakan ketersediaan kamar (dan kembali pulang dengan tangan hampa karena sulit untuk mereka menyediakan kamar bagi mahasiswa sarjana tanpa beasiswa), hingga ada satu hari dimana kami benar-benar harus berhemat karena bekal uang menipis (sampai-sampai merasa sayang jika harus mengeluarkan uang untuk beli karcis metro meski harganya tak sampai 2 euro satuannya). Bunda waktu itu sampai mengatakan, "Hari ini kita harus jalan kaki karena tak ada uang lagi", dan benarlah kami sepanjang hari itu berjalan kaki hingga entah berapa kilometer jauhnya mengelilingi pusat kota Lille.

Sebenarnya, apa yang membuat saya sangat sulit mendapatkan tempat tinggal waktu itu?
Yang pertama, jelas. Kecocokan dengan tarif sewa. Saya sangat idealis dengan hal ini, awalnya bahkan saya mematok target tak lebih dari 250 euro untuk tarif sewa bulanan, yang mana ternyata sangat mustahil. Kedua, akses dengan fasilitas publik termasuk juga tempat perbelanjaan dan halte. Ketiga, jarak dengan kampus. Keempat, lingkungan sekitar tempat tinggal. Lille, mirip seperti Yogyakarta, dihuni oleh beragam jenis penduduk. Disini ada banyak sekali mahasiswa pendatang dan imigran dari negara-negara yang sedang berperang. Itulah mengapa, faktor keamanan menjadi prioritas orangtua saya.

Akhirnya tiba juga tanggal 17 Agustus 2016, saya tak begitu ingat dengan ikrar Bunda saya, sebenarnya. Namun ketika akhirnya saya melihat sebuah iklan di situs Appartager, dengan kriteria-kriteria yang memadai seperti keinginan saya, saya langsung tahu, "This is it".

Sore di hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, saya dan Bunda mampir menuju alamat yang diberikan oleh pemilik, yang sudah saya kontak sebelumnya. Ternyata tempat tinggal ini terletak di atas toko roti, berupa studio (kos-kosan, kalau di Indonesia), dan merupakan bangunan baru dengan dinding yang dicat bernuansa merah muda! Harga studio yang saya taksir relatif murah, 300 euro per bulan (belum termasuk potongan bantuan tempat tinggal dari pemerintah melalui lembaga CAF) untuk kamar seluas 12 meter persegi, dengan perabotan lengkap, fasilitas listrik, pemanas, dan air. Istilahnya, saya tinggal bawa badan saja, hehehe. Bapak pemilik dan bapak penjaga kost sangat teramat ramah dan welcome, tercermin dari fisik bangunan dan studio saya yang terawat, nyaman, bersih juga, fasilitas dalam studio mulai dari kasur, bantal, hingga panci dan peralatan makan pun sudah tersedia lengkap.

Teman-teman dalam satu kost (yang sangat multi etnis; ada orang India, Tiongkok, Rusia, Amerika, Turki, selain saya yang orang Indonesia) juga saling menghargai, sadar diri untuk tak membuat keributan yang berarti. Ada 15 kamar disini, terdiri atas tiga lantai, kamar saya di lantai pertama di atas toko roti (yang setiap pagi selalu menjadi tantangan tersendiri untuk saya karena bapak ibu pemilik roti sangat rajin, sudah mulai memasak sejak pukul lima pagi, menguarkan bau harum adonan ke seluruh penjuru kost).

Saya senang disini? Tentu! Meski pada awalnya, kakak-kakak PPI Nord Pas de Calais mengatakan bahwa daerah sekitar tempat tinggal saya rawan keributan, sejauh ini saya sangat menikmati hari-hari disini karena kekhawatiran mereka tak terbukti (semoga tak akan pernah, hehehe).

Fasilitas kamar studio yang lengkap membuat saya kerasan, apalagi perabotan dapur juga sangat memadai: microwave, kompor listrik, kulkas, ketel listrik, panci-panci, piring-piring, sendok, garpu, pisau, lemari penyimpanan makanan, semua disediakan Bapak Kost, membuat saya jadi gemar memasak semenjak tinggal disini, hehehe.

Jarak kost dengan halte metro pun hanya 100 meter jalan kaki, di dekat kost pun ada pasar dadakan yang rutin buka tiap minggu, warung kelontong seperti di Indonesia (keluarga penjual yang asli Maroko pun sudah hafal dengan saya, hahaha), dekat dengan gereja, dekat dengan halte bus, terletak di seberang kantor administrasi desa, tak sampai 200 meter menuju bank dan kantor pos, dan kawasan restoran cepat saji seperti Pizza Hut dan kebab. Mau ke kampus, mall, atau pasar gede pun hanya 10 menit dengan naik metro.


So livable. So grateful...

Tinggal sendiri dalam studio membuat saya jadi lebih mandiri dan mengerti kapan saatnya membersihkan kamar, mencuci baju dan piring, membuang sampah (karena truk sampah hanya lewat pada hari tertentu), ya intinya jelas jadi lebih mandiri dan berusaha makin mengatur hidup.






Monday, November 7, 2016

Asyana Bicara: Ilmu Parenting

Bukan karena sebagai seorang perempuan saja, lalu saya memiliki concern pada bidang tumbuh kembang anak dan remaja, namun juga sebagai seorang mahasiswi yang bercita-cita untuk kelak ambil bagian dalam diplomasi kenegaraan. Jauh sebelum saya menemukan keterkaitan antara dua bidang ini, saya terlebih dulu dicekoki beragam pengetahuan mengenai dunia anak dan remaja oleh lingkungan sekitar saya, mengingat Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus wanita karier, yang berarti memiliki dua sudut pandang berbeda sebagai seorang perempuan, yang beberapa pemikiran dari kedua sudut pandang tersebut sering diceritakannya pada saya sebagai anak perempuannya. Mirip seperti kalimat mutiara,
When you teach your son, you teach your son's son. (The Talmud)
Karena beliau percaya, perempuan mengemban tongkat estafet pendidikan generasi penerus baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat, yang tentu akan berdampak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlihat terlalu 'wah', tapi prinsip saya, sama seperti yang dikatakan Johnetta Cole, seorang antropolog perempuan berkebangsaan Amerika Serikat,
When you educate a man, you educate an individual. When you educate a woman, you educate a whole family.
Sementara pengetahuan di bidang ilmu sosial, politik, hukum, dan hak asasi manusia yang menjadi concern saya lainnya, saya dapatkan dari beragam lapisan masyarakat. Entah melalui perjumpaan dengan kawan-kawan semasa sekolah (yang mayoritas memilih ilmu sosial sebagai bidang studi lanjutan mereka di perguruan tinggi), menyimak perbincangan kedua orangtua saya di meja makan (mengingat mereka sangat terbuka dan obyektif dalam berpendapat), hingga ketika saya masih tinggal di Yogyakarta dan hampir tiap bepergian selalu naik kendaraan umum, seringkali mendapat cerita atau curhat dari bapak sopir taksi, bapak pengemudi ojek, tukang becak, dan lain-lain. Berbagai sudut pandang mengenai ilmu sosial ini memperkaya pemikiran saya dan membuat saya makin penasaran, bagaimana caranya mengurai keruwetan birokrasi yang telah diwariskan turun temurun dari pemerintahan dan kebiasaan masyarakat di kurun waktu sebelumnya.

Hingga akhirnya saya berulang kali diusik oleh pemikiran yang sama: kuncinya ada pada andil generasi penerus. Lalu, siapa yang menyiapkan generasi penerus ini nantinya? Karena saya seorang perempuan, saya berani menjawab, "Perempuan dan Ibu di masa kini". Melalui apa? Ilmu parenting.

Perkembangan suatu negara tak lepas dari ilmu pengasuhan dan pendidikan anak atau yang lazim disebut dengan ilmu parenting, yang semestinya diketahui meski secara mendasar, oleh orang-orang dewasa yang ingin memiliki buah hati. Memang benar, ilmu tak pernah sepenuhnya kita didapatkan dari bangku formal, begitu juga dengan ilmu parenting, yang justru pembelajarannya akan terus berjalan hingga buah hati menjadi manusia dewasa nantinya. Namun, saya pikir kesiapan orangtua akan tercermin dengan kemauannya mempelajari ilmu parenting sebelum memiliki buah hati, mengingat seorang anak (semestinya) bukanlah sekadar ahli waris atau penerus keturunan, namun juga individu yang memiliki hak dan kewajiban sejak dari dalam kandungan. Memiliki buah hati bukan hanya menjadi kebanggaan, namun di dalamnya juga terkandung tanggung jawab seumur hidup. Saya tak hanya bicara mengenai agama (yang mayoritas menyebutkan bahwa buah hati adalah tabungan dunia akhirat bagi orangtuanya), namun juga tanggung jawab moral terhadap dunia. Anak akan menjadi warga dunia, baik buruk perilakunya akan mempengaruhi kehidupan di dunia, bahkan efek rumah kaca, krisis ekonomi dunia, kejahatan-kejahatan internasional, dan perang pun, saya rasa muasalnya dari kelalaian keluarga dan orangtua. Jika pendidikan dan tumbuh kembang anak dalam keluarga dapat selalu dipertanggungjawabkan oleh orangtuanya, maka bukan tak mungkin perdamaian dunia tercapai.

Terlalu berat? Hahaha, sayangnya, itu realita yang ada. Jadi, dikira menjadi orangtua itu mudah? Tak juga, kan. Tak hanya perkara merencanakan program memiliki anak, lalu mampu menyekolahkan anak, memberinya makanan bergizi, lalu beres. Tapi tenang, tak pernah ada orangtua yang sempurna di dunia ini, manusia adalah makhluk yang hakikatnya terus belajar, kok.

Jadi, menurut saya, ketika kita berbicara tentang anak, kita bicara mengenai dua hal. Yang pertama adalah optimisme mengenai masa depan bangsa. Hal yang paling menggembirakan dalam hidup saya, adalah realita bahwa saya dilahirkan pada era dimana ilmu pengetahuan dan teknologi sedang berkembang dengan pesat-pesatnya. Ada banyak celah yang bisa dimanfaatkan oleh generasi penerus untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Karena, seperti yang diceritakan oleh orangtua saya, pada jaman mereka dulu tak banyak yang bisa dilakukan untuk mengembangkan diri secara maksimal jika mereka terbentur oleh situasi pada saat itu, entah karena faktor ekonomi maupun politik yang cenderung belum stabil. Namun kini, hidup seakan tak memiliki batas. Entah apapun ragam profesi dan dimanapun keberadaannya, generasi kini semakin mungkin untuk mendobrak batas-batas yang menghalangi pengembangan dirinya, semua hanya masalah kepandaian untuk mencari celah dan memanfaatkan peluang. Di kota kelahiran saya, Yogyakarta, kini ada banyak sekali manusia kreatif yang berkumpul membentuk komunitas-komunitas dalam berbagai bidang: pendidikan, kesehatan masyarakat, bantuan hukum, pelestarian seni dan budaya, dan lainnya. Tak hanya di Yogyakarta, di kota-kota lainnya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, mulai keras digaungkan komunitas yang berbasis pada kaki-kaki kerakyatan, dan lebih jauh ada pula sistem ekonomi yang menggerakkan seluruh lapisan masyarakat mulai dari hulu hingga hilir, salah satunya adalah sociopreneurship.

Selain itu, ada pula peluang-peluang untuk mulai menapakkan kaki di dunia internasional dengan jauh lebih mudah dibanding pada jaman generasi-generasi sebelumnya. Tak seperti jaman Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie, yang sewaktu melanjutkan kuliah di Jerman sarat dengan perjuangan yang tak hanya melingkupi permasalahan akademis tapi juga kesulitan dalam komunikasi dengan keluarga di Indonesia atau bahkan tekanan untuk tetap bertahan hidup dalam situasi finansial yang tak selalu menjanjikan. Kini, peluang makin terbuka untuk para mahasiswa dari berbagai bidang, tak hanya ilmu sains dan teknologi, tak melulu harus selalu jadi nomor satu. Yang tak terpintar pun mampu, karena penting adalah mau. Pemberi beasiswa kini tak hanya melihat IQ atau nilai teori pada kertas, namun juga kemampuan mengembangkan diri dan kemampuan sosial komunikasi si calon penerima beasiswa. Karena manusia modern makin menyadari, tak bisa seorang individu dianggap cerdas mutlak atau bodoh mutlak hanya melalui satu bidang ilmu saja. Manusia-manusia modern juga mulai mengerti, bahwa tolok ukur sukses tak selalu mengenai jabatan. Dulu, sedari jaman kakek nenek dan orangtua saya, yang paling dianggap sukses adalah para pegawai negeri sipil: dengan gaji yang selalu cukup dan kelak adanya dana pensiun. Namun kini, arti sukses makin melebar, memasuki ranah passion dan kebahagiaan individual yang dulu jarang sekali digarisbawahi.

Namun selain optimisme, timbul pula dalam hati saya sebuah kekhawatiran, utamanya mengenai sistem yang telah berjalan saat ini, baik yang dapat ditemukan dalam pemerintahan maupun kebiasaan dalam masyarakat. Kekhawatiran ini muncul ketika banyak anak muda yang belum mampu memanfaatkan peluang-peluang yang saya sebutkan di atas tadi untuk kebermanfaatan bagi diri sendiri maupun sekitarnya, namun malah justru melakukan hal-hal yang merugikan, membuang waktu, dan sebagainya.

Saya yakin sejuta persen, anak-anak itu seperti sponge. Mereka menyerap ilmu dengan cepat dari lingkungan, utamanya tentu orangtua atau keluarga, yang pertama kali mengajarkan mereka untuk menjadi baik atau tak baik.

Orangtua atau keluarga, tak melulu mengenai hubungan darah (yang sering digambarkan sebagai keluarga bahagia: Ayah, Ibu, kakak laki-laki, dan adik perempuan, hahaha klise betul!). Karena sudah kerap kita mendengar kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tak hanya melibatkan pasangan orangtua tapi juga dari orangtua kepada anak yang sedarah. Tentu sangat mencederai peran keluarga pada dasarnya: sebagai pelindung dan pemberi kasih sayang pada masing-masing anggota.

Lalu, siapakah orangtua yang saya maksud?

Yang pertama tentu mereka yang memiliki hubungan batin terdekat dengan si anak. Hubungan batin. Kebersamaan. Kehangatan. Hal-hal ini akan membentuk karakter anak menjadi penyayang dan pemerhati, bukan tak mungkin akan membuatnya peka terhadap lingkungan sedari dini; sifat manusia yang dibutuhkan oleh dunia akhir-akhir ini. Mereka yang memiliki hubungan batin terdekat dengan si anak (entah orangtua kandung, orangtua angkat, orangtua asuh, wali, ibu pengelola yayasan panti asuhan, ibu pengelola panti rehabilitasi, you name it) bertanggung jawab paling utama dalam pengembangan karakter anak. Yang menentukan apakah pertanggungjawaban ini dilakukan dengan baik, akan tercermin nantinya pada si anak saat ia memasuki lingkungan masyarakat: saat dia mulai memeluk keyakinan, saat bermain dengan teman sebaya, saat berkomunikasi dengan beragam lapisan masyarakat, dan sebagainya. Jadi, jika basic morals telah didapat dengan baik dari keluarga, anak tak akan mudah terpengaruh kualitas buruk dari lingkungan masyarakat sekitar (bukan tak mungkin, hanya lebih memiliki tameng yang lebih kuat). Tapi jikalau pondasi awal dari keluarga tak kokoh, menurut saya, anak akan jadi lebih mudah mendapatkan pengaruh dari dunia luar, entah itu baik maupun buruk.

Lalu, siapa lagi pihak yang memiliki tanggung jawab sebagai orangtua?

Kita semua.

Ya, kita semua.
Saya masih single, masih berumur 19 tahun, belum (ingin) menikah, masih jauh dari prestasi-prestasi cemerlang, tapi saya adalah orangtua bagi anak-anak di seluruh dunia. Anda mungkin seorang wanita karier yang tak pernah memikirkan untuk hidup berkeluarga, tapi terimalah kenyataan, anda adalah orangtua bagi anak-anak di seluruh dunia, sama seperti saya. Anda mungkin seorang Ayah dengan lima orang anak, tapi anak-anak di seluruh dunia juga anak anda, lho, sadarkah? Halo, teman-teman mahasiswa yang mungkin sedang baca post ini, kalian juga sudah menjadi orangtua lho, bahkan sebelum kalian menyelesaikan skripsi, sadarkah?

Kita adalah orangtua bagi anak-anak di seluruh dunia...
Mereka melihat apa yang kita lakukan.
Mereka menyimak segala yang kita katakan.
Mereka meniru semua yang kita perbuat.

Lalu, apakah yang telah kita lakukan, kita katakan, dan kita perbuat itu layak mereka jadikan panutan? Atau kita, sebagai orangtua, masih terlalu egois memikirkan dunia ini milik kita seorang, generasi kita, dan orang-orang kita, tanpa pernah kita sadari bahwa dunia kelak akan diestafetkan pada mereka generasi penerus? Anak-anak kita?

Jaga perkataan, jaga perbuatan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Ingat,

Kita semua adalah orangtua.

Jika tak mampu mendidik, setidaknya jangan merusak.
Jika tak mampu ikut bertanggungjawab, setidaknya jangan mencela.
Jika tak mampu berbuat baik dan menjadi panutan, lebih baik diam.



Lille, 07 November 2016
11:26 PM

Saturday, October 29, 2016

Toussaint Trip to Amsterdam (1)

Cerita perjalanan kali ini bermula dari akun Instagram program talkshow favorit saya Mata Najwa yang mengunggah poster Mata Najwa Goes to Netherlands, membuat saya waktu itu langsung pesan tempat tanpa pikir panjang. Ya iyalah, gratis dan pulang membawa banyak inspirasi, siapa yang tak mau? Sekali datang, langsung berjumpa dengan beberapa idola pula: Mba Nana, Kang Emil, Pak Ganjar, dan Prof Rhenald.






Lalu selanjutnya saya berburu tiket untuk pergi ke Amsterdam. Sebenarnya saya tak perlu berpikir terlalu jauh, sih. Sembilan puluh sembilan persen kemungkinan saya akan bertolak dengan bus, kecuali kereta api super cepat memberikan harga 10 euro sekali jalan yang mana kemungkinannya sangat kecil, ya satu persen sisanya itu, hahaha. Untuk bepergian selama dua kali ke Paris dan sekali ke Amsterdam kemarin, saya selalu menggunakan OUIBUS, dengan pertimbangan harga yang efisien bagi traveler nyambi mahasiswi seperti saya. Ada beberapa pilihan lain dengan rentang harga yang sama, seperti BlaBlaCar (menumpang mobil orang yang juga hendak bepergian ke tujuan yang sama), FlixBus, OUIBUS, atau isilines (armada milik perusahaan swasta sejenis Joglosemar atau Cipaganti). Ada juga moda transportasi lain seperti pesawat atau kereta super cepat. Demi alasan kenyamanan (karena buat saya, yang terpenting selama perjalanan adalah sleep a lot dan eat a lot untuk menghemat energi ketika nanti jalan-jalan di kota tujuan, yang jelas kurang nyaman kalau dilakukan dalam mobil orang lain), maka saya pilih naik OUIBUS yang ketika itu tarifnya paling murah dibanding pilihan armada yang lain. Tarif berangkat kena 19 euro dan pulang kena 15 euro.


Tiket berangkat
Tiket pulang

Perjalanan berangkat dan pulang ditempuh selama masing-masing enam jam dari Lille menuju Amsterdam, dengan beberapa perhentian: Anvers, Rotterdam, dan Amsterdam. Berangkat dan pulang, saya duduk di kursi paling belakang. Namun, karena bus lintas negara ini dilengkapi dengan koneksi WiFi (meski dibatasi hanya sampai 60 MB saja per gawai), colokan listrik, dan toilet (lengkap dengan tissue toilet dan wastafel), tak ada hal berarti yang dapat mengusik kenikmatan perjalanan jarak jauh saya. Kecuali faktor sesama penumpang yang terkadang memang untung-untungan: bisa satu bus dengan sesama penumpang yang mencintai ketenangan atau yang berisik, hehehe.

Hari Jumat dimana saya bertolak ke Amsterdam adalah hari terakhir saya kuliah sebelum libur musim gugur. Kami mendapat jatah libur nyaris dua pekan, atau lazim disebut Vacances de Toussaint. Selepas kuliah di pagi hari, saya bergegas pulang untuk mengambil barang-barang bawaan yang telah saya kemas semalam sebelumnya, dan berangkat lagi menuju Gare Lille Europe, tempat OUIBUS akan menjemput. Perlu perhitungan waktu yang cermat karena metro (sebagai transportasi utama saya di Lille) dan stasiun sedang lumayan sesak karena bukan saya saja yang hendak pergi berlibur.


Setelah perjalanan darat yang panjang (termasuk satu kali istirahat di daerah Breda, dimana kami bisa mampir di rest area yang ada McDonald'snya disana), akhirnya saya sampai juga di Amsterdam, tepatnya di Stasiun Sloterdijk, saat hari sudah mulai beranjak gelap. Beruntungnya, ada seorang teman yang menawarkan diri menjemput saya disana. Sebenarnya dia bukan seorang teman yang baru saya kenal, kedua orangtua kami telah saling mengenal sejak kami belum lahir, namun kemudian dia malah jadi adik kelas saya di SMP Pangudi Luhur dan SMA 8 Yogyakarta. (Sonja Moerbeek dan keluarga Moerbeek, terima kasih banyak telah menerima saya!). Sonja tinggal bersama temannya di Amsterdam, namun karena di saat yang bersamaan di Belanda pun sedang libur musim gugur, teman serumah Sonja menginap di rumah bibinya. Malam pertama sesampai saya di rumah Sonja, kami berbincang lama sekali hingga larut malam, kemudian beranjak tidur karena keesokan paginya kami ingin mampir ke Rijksmuseum dulu sebelum ke acara Mata Najwa On Stage.

Oh iya, untuk menuju rumah Sonja dari Stasiun Sloterdijk, kami naik kereta Sprinter yang harga tiketnya sekitar 3.50 euro untuk sekali jalan, lalu berlanjut jalan kaki hingga ke rumah. Daerah perumahan keluarga Moerbeek sangat tenang dan aman, namun suhu yang dingin membuat kami selalu bergegas saat hendak bepergian. Kebetulan saat saya bertandang ke Amsterdam, suhu berkisar antara 1 derajat hingga 8 derajat, lebih dingin dari Lille di waktu yang sama.



Pagi di hari kedua, kami berdua bangun kesiangan, hahaha. Mungkin karena malam sebelumnya kami tidur terlalu larut. Berencana untuk berangkat pagi jam 08.00, malah baru bangun jam 08.30, untungnya Sonja dan saya memang tidak grusa-grusu dan memang hanya berencana ke Rijksmuseum. Saya sarapan dengan roti tawar bermargarin (pain de mie au beurre) yang saya bawa dari rumah (setiap bepergian, saya selalu sedia air putih dan roti, banyak roti, dalam tas, sangat berguna untuk saya yang ingin berhemat dan selalu menjaga kesehatan agar asam lambung tak kumat), lalu bersiap-siap sambil tak lupa membawa hadiah yang ingin saya sampaikan ke Mba Nana.

Sebelum berangkat, Sonja dan saya juga menyiapkan sepeda yang akan saya pakai selama saya berkeliling-keliling Amsterdam, selain memberikan juga kunci sepeda, kunci rumah, dan kartu akses museum (Museumkaart) agar saya bisa berkunjung ke museum-museum secara gratis. Sonja berulang kali mewanti-wanti, "Pokoknya kalau bersepeda disini, berani aja. Karena disini banyak turis yang kadang juga tak hafal jalan, jadi kita harus percaya diri". Dan ternyata benar, pertama kali bersepeda di Amsterdam, lumayan agak kaget. Karena sama seperti orang-orang Prancis yang doyan jalan kaki cepat-cepat, para pengguna sepeda di Amsterdam juga mengayuh dengan kecepatan tinggi, tak jarang membunyikan bel jika ada pesepeda lain di depannya yang dianggap terlalu lambat (padahal menurut saya juga sudah lumayan cepat). Beruntungnya saya, karena sejak kecil sudah dibiasakan naik sepeda (dan sekarang jadi salah satu olahraga yang paling saya gemari), saya tak menemukan banyak kesulitan dalam mengayuh sepeda di kota Amsterdam. Lumayan puas juga, bisa bersepeda dengan kecepatan tinggi tanpa harus bersaing berebut jalan dengan pengguna kendaraan bermotor seperti yang sering membuat saya naik darah ketika bersepeda di Yogyakarta, karena di Amsterdam, para pesepeda diberi akses sendiri yang lumayan lebar.

Mampir pertama kali ke Rijksmuseum, kami berfoto dulu di depan tulisan ikon 'I Amsterdam' di Museumplein setelah memarkir sepeda. Di Rijksmuseum sendiri, ada beberapa lukisan ternama seperti Nightwatch karya Rembrandt, yang memang ketika kami berada disana, sedang dikerubungi banyak orang. Saya dan Sonja tak berkeliling ke semua bagian museum karena kami tak begitu paham mengenai seni, namun ada beberapa bagian museum yang menarik bagi kami, salah satunya adalah koleksi mengenai kebudayaan Indonesia disana. Meski tak asing lagi dengan akulturasi budaya Belanda dan Indonesia, namun melihat secara langsung sekelumit kisah mengenai bangsa sendiri di tanah orang lain, tetap menarik bagi saya.


De Nachtwacht (Nightwatch) karya Rembrandt Harmenszoon van Rijn, 1642

St Ursula and Her Handmaidens, 1525

Domestic altar with the Last Supper, 1550

The Marriage at Cana karya Jan Cornelisz Vermeyen, 1530


Eyewitnesses of Waterloo karya Jan Willem Pieneman, 1824

Five Javanese Court Officials,1820
Bahkan motif batik yang digunakan pun dilukis dengan detil.

Model of Javanese marketplace, 1830






Tuesday, September 13, 2016

Merantau ke Benua Eropa

Setelah sekian lama sekali tidak menulis, ternyata saya rindu juga! Begitu banyak cerita yang sebenarnya bisa disampaikan, terutama karena saya baru saja bermigrasi ke Benua Eropa, berikut masa-masa adaptasi yang juga terjadi, mungkin hanya saya alami sekali seumur hidup. Nuansa baru, relasi baru, pandangan dan pemikiran baru, sedikit demi sedikit hal-hal ini makin memperkaya pola pikir saya. Hidup di rantau ternyata tak selalu ada dalam frekuensi yang stagnan. Ada halang rintang, ada senang-senang. Semua lengkap saya rasakan, semua kejadian saya pahami betul-betul, agar kiranya dapat mengambil hal baik dan mengikhlaskan hal buruk demi waktu yang masih terus berjalan.

Merantau ke Benua Eropa bukan hanya sebagai perwujudan mimpi masa kanak-kanak, akan tetapi juga jadi sarana penyalur berkat dari dan bagi banyak orang. Keberhasilan sepasang kaki ini melangkah keluar dari Bandara Charles de Gaulle bukan hanya karena kerja keras Asyana semata, tapi juga orang-orang yang berada di belakangnya, yang selalu mendukung dan mendoakan agar semua jerih payah terbayar lunas, dan ya, alhamdulillah, memang terbayarkan lunas. Seandainya saja ada kata-kata yang mampu melampaui makna “terima kasih” untuk mengungkapkan rasa hormat dan dedikasi saya pada orang-orang terdekat, maka akan saya sampaikan tanpa main-main. Seandainya saja saya mampu membayar semua kebaikan mereka dengan seluruh hidup saya, pasti akan saya lakukan. Meski pada kenyataannya, hidup mati saya tak akan pernah sepadan dengan semua itu.

Merantau ke Benua Eropa menjadi sebuah awal dan akhir. Awalan untuk hidup yang baru, semangat baru, dan pembawa harapan bagi orang-orang di sekitar saya. Disini saya memulai semuanya dari titik nol, ketika ilmu saya masih jauh dari kata mumpuni, ketika kemampuan saya masih tak layak bersanding, mirip Andrea Hirata atau Bacharuddin Jusuf Habibie di awal masa perantauan mereka. Saya tak mengenal siapa-siapa, saya tak membawa bekal apa-apa, dan saya tak memahami medan mana-mana. Mempelajari banyak hal baru yang belum pernah saya ketahui sebelumnya, bukan hanya mengenai pelajaran di bangku kuliah, tapi juga mengenai kemampuan beradaptasi dan bertahan hidup. Mengemas waktu dan tenaga dengan sedemikian cermatnya, agar bisa menyeimbangkan berbagai macam kegiatan di kampus, pekerjaan rumah, hingga pekerjaan di luar rumah untuk mencari uang tambahan. Mengelola keuangan dan pola makan hidup sehat, menjadikan saya mau tak mau, suka tak suka, memelihara niat untuk memfasihkan diri dengan pola keuangan dan pola makan yang sehat, selain untuk kebaikan saat ini, saya harap kedua hal ini dapat juga menjadi investasi masa depan bagi saya dan anak-anak yang kelak saya lahirkan. Namun merantau sekaligus juga menjadi akhir dari segala masa kanak-kanak, dengan diiring doa agar saya bisa mengembangkan kedewasaan secara optimal dengan pergi jauh merantau. Dan hal tersebut benar adanya. Semesta tak lagi menyediakan waktu untuk bermalas-malasan, berkeluh kesah, ataupun melancong melepas lelah. Ketika tiba masanya untuk berjuang, semesta meminta untuk saya berjuang dengan sepenuh hati. Tak sekedar bekerja keras, tapi juga bekerja cerdas hingga tuntas. Memusatkan fokus hanya pada hal-hal yang pantas dipikirkan, tanpa perlu menjadikan hal lainnya sebagai beban.

Merantau ke Benua Eropa mengingatkan saya akan rumah, tanah kelahiran saya, tentang keluarga saya, teman-teman, dan hal-hal terbaik yang hanya saya temui saat saya pulang nanti. Betapa hangat rumah adalah hal yang menjadi kerinduan tiap manusia perantau, betapa makanan rumah adalah makanan paling mewah, dan bagaimana bayangan akan peluk hangat dari orang-orang terdekat menjadi penyembuh di kala kesepian mendera para manusia perantau. Rumah adalah penyemangat untuk terus berjuang dari jauh, agar kelak keberhasilan bisa mengantar saya kembali pulang.

Merantau ke Benua Eropa mengajak saya untuk menelisik lagi ke dalam hati, mengingatkan agar tak lupa akan tak pernah absennya orang-orang terbaik yang mau merelakan waktu mengontak saya, menelepon, menanyakan kabar, meski ada ruang waktu yang berbeda di antara kami. Saya kembali disadarkan bahwa saya dicintai, diperhatikan, dan diingat meski dari jauh. Kepedulian macam ini selalu berhasil menghangatkan hati saya, karena perasaan terbaik yang dapat dialami oleh manusia adalah saat ia menyadari bahwa ia dicintai oleh banyak hati.

Merantau ke Benua Eropa mencatatkan sejarah baru dalam hidup saya, cerita panjang tentang pembuktian terhadap diri sendiri, cerita panjang tentang mimpi yang berhasil menjadi nyata, cerita panjang yang kelak akan sangat berharga untuk diceritakan untuk anak cucu. Memang benar, saya dikuatkan oleh banyak pihak, dan saya sangat berhutang budi untuk itu, tapi kekuatan terbesar dalam diri manusia sesungguhnya ada dalam dirinya sendiri.

Ini cerita tentang saya dan cita-cita saya yang perlahan mulai terwujud, meski satu per satu dan tak diberikan serentak, karena nikmat bercita-cita adalah mengenai perjuangannya, prosesnya. Banyak hal yang dipelajari disana.

Mana ceritamu? :)


Bermula dari gambar Eiffel yang saya cetak waktu masih SMP, saya bawa kemana-mana, saya taruh di dompet, semata-mata agar saya ingat bahwa saya sedang memperjuangkan sesuatu. Dan berujung saat pertengahan Agustus kami saling bertatap muka untuk pertama kali secara langsung, setelah bertahun-tahun terkoneksi di alam bawah sadar. Pernah membayangkan bagaimana rasanya? Sangat magis, percayalah, kalian harus coba :)

Monday, May 23, 2016

Ini Untuk Kamu, Yang Sedang Merasa Gagal

Coba sebutkan satu saja nama seseorang yang anda tahu persis, belum pernah menemui satu kegagalan pun dalam hidupnya. Bisa? Sama, saya juga tidak :)

Bahkan Bill Gates pernah melewati beberapa fase yang lazim disebut “kegagalan” oleh banyak orang: dropout dari Harvard University dan pernah bekerja untuk salah satu perusahaan yang kemudian gulung tikar.

Albert Einstein baru bisa berkomunikasi lisan pada usia 9 tahun dan sempat ditolak untuk melanjutkan pendidikan di salah satu politeknik terkemuka di Zurich.

Thomas Alva Edison berhasil mempelajari seribu kesalahannya dalam menciptakan bola lampu, hingga akhirnya kemudian berhasil menemukan formula yang tepat pada percobaan yang ke seribu satu.

Dan saya, ah saya. Nama saya belum sebesar nama-nama di atas dan karya saya belum dikenal oleh banyak orang. Tapi tentu saja, seperti orang-orang lainnya, saya pernah juga mengalami beberapa pembelajaran yang mungkin bisa disebut sebagai kegagalan. Dan saya juga tidak selalu berada dalam kondisi siap ketika menemui hal-hal macam itu. Ada beberapa fase dimana saya tentu sempat bertanya-tanya, “Kenapa saya? Apa kesalahan yang pernah saya lakukan hingga bisa diberi kegagalan seperti ini? Apa ini ganjaran atas perbuatan di masa lalu saya yang kurang mengenakkan bagi orang lain?”, dan pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus berlanjut hingga akhirnya saya mampu berpikir jernih dan kembali memutar otak untuk tidak berkubang pada permasalahan yang sama, namun bagaimana mengubah pola pikir untuk menganggap jalan untuk keluar dari masalah tersebut adalah jalan yang sama untuk meraih keberhasilan.

Saya perlahan-lahan mulai belajar bahwa hal-hal extraordinary yang berada di luar dugaan kita sebagai manusia, hal-hal yang biasa disebut “kegagalan” ini adalah hal yang lumrah dialami oleh siapapun, tanpa kecuali, selama masih hidup di dunia. Memang, mungkin hal-hal ini memiliki kaitan tertentu dengan perbuatan yang pernah kita lakukan di masa lampau. Bukan seperti ganjaran atau balasan, sebab saya yakin semesta bekerja dengan sangat baik hati, bahkan ‘hukuman’ pun bukan pilihan kata yang tepat untuk menggambarkan sebuah kegagalan. Hal-hal yang disebut kegagalan ini lebih kurang mirip seperti hubungan sebab-akibat. Kita berproses dengan tidak maksimal, tentu hasil yang didapat tidak akan maksimal juga. Kita tidak memiliki waktu dan perhatian yang cukup untuk mendidik buah hati dengan baik, maka proses pembelajaran mereka juga jadi tidak optimal.

Setelah sedikit banyak mulai paham bahwa kegagalan itu lumrah, lazim, common, b aja... Terus gimana dong menyikapi datangnya hal-hal macam itu?

Gagal itu pasti, selain jatah gagal harus dihabiskan dulu kalau kata Pak Dahlan Iskan, yang mempengaruhi semesta kita masing-masing sebenarnya bukan gagalnya itu, tapi bagaimana reaksi kita terhadapnya: menolak dan terus-menerus meratapi kesalahan, atau belajar menerima dan bersedia untuk mengoreksi kembali.

Karena hal-hal extraordinary hanya datang pada orang-orang yang siap untuk jadi extraordinary, saya percaya kalau diperlukan taktik-taktik dan sikap-sikap yang extraordinary juga dalam menghadapinya. Cara yang ordinary itu seperti apa? Banyak! Galau terus-terusan, baper ndak mau move on, takut mencoba lagi, terkungkung dalam rasa rendah diri... Nah, kan menjijikkan sekali!

Kita manusia-manusia extraordinary harus pakai cara tergila mungkin: jadikan gagal sebagai pondasi keberhasilan.

Gagal dijadikan pondasi keberhasilan itu maksudnya gimana? Bukannya dimana-mana, keberhasilan yang besar itu dihasilkan dari keberhasilan kecil yang kita lakukan setiap harinya? Not really. Ungkapan itu ada benarnya, tapi kalau dari gagal aja kita sudah bisa membangun optimisme, lalu optimisme itu dipupuk terus, dikit demi sedikit dibangun dan diupgrade, toh ujung jalannya akan sama juga kan? Keberhasilan yang besar.

Michael Jordan has amazingly said,

“I've missed more than 9,000 shots in my career. I've lost almost 300 games. 26 times, I've been trusted to take the game-winning shot and missed. I've failed over and over and over again in my life. And that is why I succeed.”

Another extraordinary person with extraordinary thoughts!


Jadi, untukmu, yang sedang merasa terpuruk atau resah gelisah tak tentu arah, diombang-ambingkan dan merasa dipermainkan keadaan, coba mindsetnya dibalik. Jangan mau diperalat situasi, tapi peralat situasi, cari celah dan manfaatkan baik-baik.

It’s not only about the timing, it takes courage, too. Life is like a game of uncertainty, assume well and play good.

Thursday, April 7, 2016

Kenapa Sebuah Negara Harus Punya Kaum Perempuan Yang Cerdas?

Sudah sekitar beberapa tahun belakangan pikiran saya sering dipenuhi dengan materi-materi gender, feminisme, kekerasan dalam rumah tangga, kesejahteraan keluarga, dan lain-lain. Pertama-tama perlu saya utarakan bahwa saya bukan seorang feminis. Saya tidak menyukai semua hal yang dilakukan secara berlebihan dan eksklusif: ekstrimis, feminis, sosialis, dan -is -is lainnya. Saya hanya melakukan apa yang saya anggap bermanfaat bagi orang banyak, tanpa perlu membeda-bedakan. Karena kadang semua hal yang berlebihan itu tidak baik dan tidak jarang menyinggung kepentingan kelompok berlebihan lainnya, menjadi awal mula dari kerenggangan dalam masyarakat.

Saya pribadi tidak setuju dengan feminisme yang berlebihan, sejatinya manusia diciptakan semuanya setara, tidak ada yang mendominasi atau menjadi minoritas. Pun juga menurut ajaran kitab suci beberapa agama, manusia perempuan pertama diciptakan dari tulang rusuk manusia laki-laki pertama supaya saling setara dan mengasihi, bukannya diciptakan dari tulang tengkorak atau bahkan tulang paha. Dapat diartikan bahwa kitab sucipun menggambarkan kesetaraan gender sedari awal.

Saya tidak setuju dengan feminisme yang berlebihan, dimana orang-orang menuntut agar perempuan diistimewakan dengan memberi akses-akses dan ruang-ruang gerak yang lebih luas pada mereka. Saya percaya, hak dan kesempatan baik diberikan pada mereka yang layak berdasarkan kapasitasnya, bukan karena jenis kelamin atau hal-hal fisik lainnya. Ketika ada yang mengusulkan untuk menambah kuota pekerja perempuan pada suatu bidang, saya terus terang kurang setuju. Kuota pekerjaan tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin, karena jika seorang perempuan pantas mendapatkan akses tersebut karena kecakapannya, begitu pula dengan seorang laki-laki.

Makin bias saat manusia modern mulai memberi ruang bagi perempuan untuk parkir di tempat-tempat publik, memberi potongan harga bir di diskotek, layananan gerbong khusus perempuan, dan sebagainya. Perempuan cerdas akan mampu menghargai dirinya dan laki-laki terhormat tentu akan bisa menghargai perempuan. Tapi memang, akses-akses tersebut sepertinya masih dibutuhkan untuk saat ini karena edukasi mengenai kesadaran diri tersebut belum keras digaungkan.

Peran Ibu Kartini seringkali disalahartikan oleh kaumnya sendiri, utamanya di abad 21. Manusia perempuan berlomba-lomba mengatasnamakan "emansipasi wanita" untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan: kesejahteraan, posisi strategis di tempat kerja, bahkan di sektor politik sekalipun. Cuplikan "emansipasi wanita" mulai disalahgunakan justru dengan tidak lagi menaruh respek pada kaum laki-laki, atau bahkan kaum manusia lainnya. Kekerasan dalam rumah tangga tidak lagi ditemukan pada perempuan sebagai korbannya, tapi juga pada laki-laki. Pun mulai umum dibicarakan, istilah "Suami-Suami Takut Istri", merujuk pada kaum suami yang menganggap (atau dianggap?) dirinya tertindas dengan peran istri di rumah. Suami dan istri tidak lagi sebagai rekan satu tim, melainkan seperti bawahan dan atasan. Lalu, apa yang salah disini?

Coba bayangkan, jika negara ini kelak dipenuhi dengan perempuan saja dalam berbagai sektor, tanpa melihat kapasitasnya diletakkan dimana. Atau laki-laki saja. Atau transgender saja. Jelas tidak bisa, it won't work. Pertama-tama yang dilihat tentu kapasitas atau kompetensi yang memadai (tidak perlu muluk, kemahiran bisa dilatih).

Dan di post ini saya tidak akan bicara bagaimana caranya meningkatkan keahlian perempuan-perempuan agar bisa menguasai dunia dari berbagai sektor.

Saya hanya mau cerita, kenapa, dan bagaimana, agar perempuan mendedikasikan penuh pemikiran dan hatinya, hanya untuk hal-hal yang menjadi kebahagiaannya. Sangat tidak mungkin memaksakan semua perempuan masuk ke sektor politik pemerintahan. Pertama, ada kemungkinan beberapa perempuan akan merasa tersiksa karena bekerja di bidang yang bukan menjadi kesukaannya. Kedua, siapa yang akan mengisi jabatan-jabatan di bidang lainnya kalau semua bekerja di bidang politik? Siapa yang akan mendidik anak-anak bangsa? Siapa yang akan membantu menegakkan keadilan kaumnya?

Nah, tentu saja perempuan-perempuan akan bertebaran di berbagai sektor, dan bayangkan, jika mereka semua memiliki akal budi yang cerdas, apa yang akan terjadi? Ya! Kesejahteraan di berbagai sektor juga.

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 mencapai 252 juta jiwa, dan separuhnya berjenis kelamin perempuan. Andaikata semua perempuan mau dan mampu memberdayakan dirinya maupun lingkungan sekitarnya, tentu akan jadi perubahan yang signifikan di berbagai elemen. Saya percaya, kecerdasan seseorang tidak melulu diperoleh dari bangku sekolah, ataupun pendidikan formal lainnya. Cerdas bukan berarti pintar matematika atau berbahasa, cerdas bukan berarti pintar mengaji dan hafal ayat kitab suci, cerdas bukan berarti sekolah di luar negeri atau ikut kursus kesana-kemari.

Cerdas adalah tentang kemampuan berpikir dewasa dan jauh ke depan, menangkap ilmu baru dengan tanggap, dan semangat melakukan hal yang menjadi kesukaannya dan tentu bermanfaat bagi masyarakat. 

Kurang panjang? Wkwkwk. Jadi, menjadi perempuan cerdas di era modern ini ada susahnya dan ada tidaknya. Sangat gampang mengakses semua kepentingan pendidikan di internet jaman sekarang. Sekali dua kali klik, informasi bebas mengalir dari gawai kita. Yang menyulitkan, tentu karena umum sekali ditemukan godaan dan gangguan (distraction), kadangkali kita tidak fokus dengan apa yang sedang kita kerjakan. Menjadi perempuan cerdas bukan berarti kita harus bekerja di sektor formal, menenteng dokumen-dokumen kesana kemari dengan tas apik, memakai kacamata yang bertengger di hidung, atau mengenakan seragam kedinasan.

Saya setuju bahwa ibu rumah tangga dan perempuan karier sama-sama bisa disebut sukses, jika mereka mengerjakan tugasnya sepenuh hati. Efeknya luar biasa. Ibu rumah tangga akan mencetak generasi-generasi pembangun yang unggul, dan perempuan karier akan membantu memajukan bangsa di sektor formal.

Memberi makan otak tidak melulu melalui buku-buku pelajaran. Buku-buku pengembangan diri dan bahkan buku yang mengulas kegemaran kita, bisa jadi fondasi ilmu yang kuat. Tapi, saya pernah baca tulisan seseorang, memang kadang kita perlu membaca buku-buku lain di luar interest kita, semata-mata untuk memperkaya sudut pandang dan pengetahuan kita akan berbagai hal. Saya suka belajar ilmu diplomatik dan hubungan manusia, tapi di lemari saya bertengger juga buku fiksi remaja, buku resep, buku cerita misteri, komik, sampai ensiklopedia golongan darah. Terlihat inkonsisten? Tidak juga, justru saya akan menjadi lebih fleksibel saat berkomunikasi dengan orang dari berbagai macam elemen, berbekal ilmu yang pernah saya baca.

Mengasah kepekaan hati dapat dimulai dari hal-hal sederhana: pergi ke pasar, berinteraksi dengan masyarakat, bergabung dalam komunitas sosial, dan sebagainya. Semoga, kalau semua ibu memiliki kepekaan nurani yang tinggi, tidak akan ada lagi anak-anak yang mencontek di bangku sekolah, anak-anak yang tawuran, anak-anak yang lupa menaruh tata krama hingga membawa-bawa nama jenderal agar diloloskan dari sempritan polisi lalu lintas... Ya semua sederhana saja, karena ibu punya peran yang besar dalam membentuk karakter generasi yang mereka lahirkan. Buka mata dan pikiran dan hati akan segala ilmu, seperti Aisyah binti Abu Bakar, Ibu Kartini, Najwa Shihab, dan banyak perempuan hebat lainnya yang tekun belajar dan mengamalkan banyak ilmu.

Separuh penduduk berjenis kelamin perempuan, mayoritas sudah dan akan menjadi ibu, mustahil kalau peran perempuan bisa dipandang sebelah mata. Jika semua bahu-membahu meningkatkan kompetensinya masing-masing dan generasi yang dicetaknya, efeknya justru akan makin besar dan berlipat ganda. Jangan pernah, sekalipun, menerima pandangan orang bahwa, "Perempuan terlalu cerdas atau sukses akan ditakuti laki-laki". Perempuan yang memiliki level baik cenderung akan mendapatkan pendamping yang setara juga, dan jika akan beranak-cucu, keturunannyapun akan memiliki karakter kecerdasan yang sama (atau bahkan lebih). Mau berpegangan pada ayat?

“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik." (Qs. An Nur:26)

Yuk, kita berdaya, jadi inspirasi, dan bawa perubahan untuk lingkungan. Bukan untuk meninggikan diri di atas laki-laki, tapi untuk menyetarakan peran kita dalam masyarakat. Jangan jadi arogan dan minta diistimewakan. Kita sudah istimewa sejak lahir dan tidak perlu semua orang kita beritahu melalui kata-kata. Tunjukkan dengan sikap dan tindakan yang baik. Semangat berdikari, perempuan Indonesia! :)

Wednesday, April 6, 2016

Gimana Caranya Kuliah S1 di Prancis?


NOTE: Baca artikel ini dulu, in English, jangan malas ya ^^ http://www.thelocal.fr/20150918/2513

Haiiii, terima kasih masih setia menunggu tulisan saya yang bener-bener sesuka hati banget munculnya hahahah *pede banget*

Waktu saya nulis ini, dunia lagi kisruh bahas Ujian Nasional Berbasis Komputer yang (seperti biasa) bocor (atau sengaja dibocorkan), 10 WNI yang disandera di Filipina, sengketa Laut China Selatan yang ga tau akan selesai kapan, Uang Kuliah Tunggal beberapa perguruan tinggi yang (dianggap) makin mencekik asas kerakyatan, dan tentu saja bocornya Panama Papers. Aaaanddd... here I am. Masih berjuang sendirian di tengah-tengah kekisruhan-kekisruhan tadi, berjuang untuk tetap fokus, berjuang pakai kacamata kuda, karena kalau kebanyakan komentar, nanti justru urusan pribadi saya yang terbengkalai. Hahaha emang dasarnya perempuan banyak cakap :p

Jadi post ini saya memutuskan untuk sedikit cerita pengalaman saya mengenai studi saya besok, maaf mungkin yang berpikir tulisan saya akan membosankan, silakan buka post saya yang lainnya aja, tapi saya pribadi yakin sejuta persen kalau post ini pasti (semoga ya) membantu teman-teman yang berniat untuk memulai jenjang pendidikan tinggi di Prancis, sama seperti saya. Karena saya sendiri menemukan kesulitan yang lumayan banyak selama berproses ini, dan saya ga mau orang lain menemukan kesulitan yang sama dan kemudian urung untuk mengembangkan diri lebih maju lagi. Ingat, masalah dan tantangan bukan untuk dikeluhkan apalagi di-skip, tapi untuk dihadapi. Karena makin banyak tantangan yang kita terima, makin terbiasalah kita menghadapi ketidakpastian hidup, dan utamanya ketidakpastian hubungan sama gebetan. Iya. Serius ini.

Poin pertama. Kenapa saya mau kuliah di Prancis? Saya sepertinya udah pernah nulis hal ini tapi daripada pembaca nanti ribet cari-cari lebih baik saya tuliskan sekali lagi, toh tidak rugi apa-apa.

  1. Bosen dan penasaran. Ya. Berkutat dalam zona nyaman, melewati jalan-jalan yang sama, bertatap muka dengan manusia-manusia yang sama, melakukan rutinitas yang sama... Pernah bosen kan? Saya ingat betul waktu itu umur sekitaran SMP, di mobil antar jemput menuju ke sekolah di pagi hari, saya mikir, "Gila, bosen banget rutinitas kaya gini. Bangun pagi, mandi, sarapan, ke sekolah, pulang, lewat jalan yang sama, jam yang sama, lihat-lihat rumah dan pemandangan yang sama...". Dan intinya sejak kecil saya udah mikir, "Kapan saya bisa keluar dari zona nyaman yang memanjakan ini?". FYI, saya sekitar 12 tahun melewati jalur yang sama setiap pagi untuk menuju ke sekolah dari SD sampai SMA: Jl Kaliurang, ring road utara, Jl Gejayan, Jl Timoho. Karena almamater saya searah semua: SD Kanisius Demangan Baru, SMP Pangudi Luhur 1, dan SMA Negeri 8 Yogyakarta. Haduh, merem aja nyampe. Nah, mayoritas siswa di SMA melanjutkan studi ke sebuah PTN ternama nomor satu yang semua pasti udah tahu namanya, melahirkan banyak alumni hebat, salah satunya adalah Presiden RI ke 7 Bapak Joko Widodo. Saya awalnya pengen ambil studi Hubungan Internasional di FISIPnya, tapi saya pikir-pikir, kalo ada chance lain, saya mau coba dong...
  2. Studi disana ternyata murah, mudah, dan menyenangkan! Begitu sih, katanya Lembaga Indonesia Prancis yang masuk ke kelas saya di XI IPS waktu itu, dengan membawa secercah harapan dalam batin saya bahwa, "Kayanya ini nih takdir gue, Prancis!". Mewujudkan mimpi masa kecil, sebenarnya. Sewaktu SD sempet ada masa dimana saya ketika ditanya orang jawabnya, "Mau kuliah di Prancis!" "Caranya gimana, Dek?" "Ga tau, pokoknya mau ke Prancis!". (Dan mungkin semesta terbahak-bahak denger saya bilang gitu tapi mungkin juga dia suka sama anak-anak jadi mimpi gila salah satu anak gila di dunia ikut dia wujudkan. Makasih ya, Semesta!) Saya sempet lupa (dan dipaksa melupakan) mimpi itu karena yaa... memang belum punya info apa-apa waktu kecil itu. Akhirnya setelah LIP masuk dan menerangkan ini itu ngona nganu tentang studi S1 di Prancis, yang saya dengarkan dengan fokus hanya, "Studi di Prancis itu murah!", "Bahasa Prancis digunakan sebagai bahasa internasional!" dan tentu saja, "Bisa jalan-jalan keliling Eropa!". Nah makin berantakan lah isi otak saya, "Motivasinya terus gimana nih?". Tapi dengan informasi yang makin terkumpul, saya mulai fokus untuk memperbaiki nilai Bahasa Prancis dan Pendidikan Kewarganegaraan karena: saya ga pinter matematika, jadi sangat mustahil ambil ekonomi atau akuntansi. Saya ga suka panas-panas, jadi sangat mustahil ambil arkeologi atau antropologi. Saya ga suka menghafal jenis-jenis tanah, jadi geografi juga dicoret. Saya hanya suka: jalan-jalan, anak-anak, dan es krim! Ga tau juga kenapa saya mencantumkan hal yang terakhir, tapi jadilah pemikiran saya waktu itu (dan sampai sekarang): saya mau jadi politikus yang membela kepentingan anak-anak di seluruh dunia! Terdengar keren, tapi ternyata perjuangan di baliknya bikin saya sering bilang, "Aku pengen nikah ajaaaa! Aku pengen dijodohin ajaaaa!!" ke Ayah Bunda wkwk.
  3. Mereka bilang saya ga nasionalis, mereka ga tau aja saya punya misi yang lebih nasionalis daripada mereka yang mencemooh itu. Hahaha lebay! Tapi beneran. Mereka mikir, kuliah disini dengan pake barang-barang branded merk luar negeri adalah nasionalis. Saya pikir, kuliah disana dengan bawa barang-barang lokal buat nyebar virus Indonesianisme, adalah super nasionalis. Prancis, you're gonna say Bonjour to my batik bags ya! ;) Most of the perantau akan ngerasa kangen to the limit saat mereka jauh dari tanah airnya. Pas disini, mereka akan bilang, "Pemerintah ga becus! Macet mulu! Hotel dimana-mana! Mati lampu tiap hari! Mamah kok masaknya ini terus sih?" tapi pas di luar negeri, mereka bakal kangen berat sama hal-hal simple yang cuma bisa ditemui di tanah air, bahkan Indomie dan rokok pun terasa mewah kan disana?
  4. Orang punya otot sukanya nantangin, kalo saya sukanya ditantang. Bukan berantem! Tapi lebih ke, "What's next? Mau ngapain lagi abis ini? Mau pilih jalan unik yang mana?". Karena simply saya ga suka distandarisasi, saya ga suka dianggep biasa, saya ga suka melakukan hal-hal yang dilakukan banyak orang. Mau dikata gila juga terserah, toh saya ga pernah ngemis dibayarin sama komentator-komentator di luar sana. Ya ga? Kenapa mesti minder?


Yaaa, kayanya itu dulu sih, ntar kepanjangan banget postnya malah ga asik. Saya ga bilang bahwa kuliah disini tuh buruk, gimana mau bilang gitu orang temen-temen saya, keluarga saya, mantan-mantan saya (eh apa?), dan bahkan saya pun pernah punya cita-cita kuliah di dalem negeri kok. Tapi kalo anda tanya apa alasan saya, ya itu seperti yang saya bilang di atas. Kalo sampe ada yang mulai bilang saya songong lah, saya sok independen lah, saya sok sok anu anu anu lah, sini saya slenthik beneran mulutnya. Saya udah bilang, saya cuma memaparkan alasan ya, ga lebih. Biar pada termotivasi aja...

... ya kalo ada yang termotivasi sih, hiks.

Nextnya, saya mau jelasin step by step gimana cara kuliah di Prancis versi saya, ingat! Versi saya! Jadi kalo ada yang menemukan masalah pribadi yang beda di sela-sela step-step yang saya kasih, saya ga tau juga, secepatnya cek ke Campus France dan konsultasi sama kakak-kakak kece disana, saya bukan agen. Dan ini pengalaman tahun 2015 sampe 2016, saya lulus tahun 2015 dan daftar kuliah untuk intake 2016/2017.

Saya sebenernya udah pernah singgung sedikit di ASK FM saya, tapi di blog sepertinya emang belom pernah.

Jadi, di Prancis itu ada 3 jalur masuk universitas negeri, sama kaya disini, jadi kadang saya nerangin ke orang disini pake istilah SNMPTN, SBMPTN, sama UM juga hehehe.

Nah yang SNMPTN (fr: Centre Études France? lupa saya) udah clear syarat-syaratnya dari Maret lalu kalo ga salah, dan karena pilihan universitasnya ada 3, pengumumannya bertahap dari April, Mei, Juni. Semua diurusin sama pihak campus france sebagai agen resmi kemendiknas prancis (kalo di jogja di LIP sagan). Bayar IDR 2,500,000 untuk pendaftarannya

SBMPTN (fr: Admission Post-Bac) baru clear urus berkas kemaren akhir Maret karena semua pengiriman berkas kesana, diurus sama calon mahasiswanya. Pengumumannya mungkin akhir Mei. Ga bayar apa-apa kecuali buat ngirim berkas aja. Pakai DHL kira-kira IDR 600,000 per document. Nanti bebas pilih universitasnya dan berapapun jumlahnya, tapi ya itu konsekuensinya tanggung ongkir sejumlah berapa universitas yang kamu apply.

UM (fr: APB Complémentaire) teknis nya juga sama kaya SBMPTN (APB). Tapi pendaftarannya baru besok kira-kira Juni, hanya bisa diikuti sama yang belom keterima SNM/SBM.

Di luar 3 jalur itu, as always masih ada jalur untuk ke universitas swasta, yang emang sangat jauh lebih mehong daripada univ negeri yang biaya kuliahnya cuma 3juta rupiah per taun. Universitas swasta bisa sampe ratusan juta gitu deh tapi fasilitasnya emg beuh... mangstap. Oh iya, sering ada yang nanya, "Di Prancis ada beasiswa untuk S1?". Jawabannya, hampir ga ada beasiswa untuk universitas negeri, karena memang sudah sangat murah dan bahkan ada bantuan untuk tempat tinggal juga. Tapi, kalau universitas swasta kan emang mahal, beberapa menyediakan beasiswa kok. Dan jangan lupa kita punya tanah air tercinta yang bertujuan negara, "Mencerdaskan kehidupan bangsa", jadi asal ada kemauan pasti ada jalan. Jangan jadikan biaya atau waktu sebagai excuse karena saya tau itu hanya alesan buat membenarkan semua kemalasan.

Nah jadi, chance buat kita kuliah di Prancis itu super besar dengan jalur sebanyak itu apalagi anak-anak Indonesia itu dari kecil pressure buat belajarnya udah tinggi, dan outputnya ya lebih pinter2. #LogikaAsyana

Buat ke universitas negeri, selain dibutuhkan nilai UN dan Ujian Sekolah dan bahkan rapor dua tahun terakhir di SMA, kita harus banget punya kualifikasi bahasa Prancis yang memadai, sebut aja tes DELF, dimana kamu akan dilihat seberapa fasih berkomunikasi pakai bahasa Prancis. Ada empat tingkat: A1, A2, B1, B2, dan untuk selesai keempat level tersebut secepat kilat, saya gabung ke kelas percepatan yang cuma 8 bulan aja. Lesnya setiap hari, weekdays, sekitar 6 jam lah rata-rata per hari. Bosen? Jelas. Tapi untungnya ilmu yang dikasih semua bermanfaat banget, super bermanfaat buat kehidupan kuliah besok. Hopefully. Tes DELF susah nggak? Kalo males belajar, ya susah. Kuncinya cuma: latihan, latihan, latihan, tetapkan target. Saya selalu patokin target untuk setiap ujian: UN, DELF, IELTS, dan lomba-lomba apapun. Biar jelas tujuannya. Dan di kelas percepatan ini, semua biaya sudah tercover termasuk ujian-ujiannya, jadi saya pribadi merasa ini nggak bisa dibilang mahal-mahal amatlah. Waktu itu sekitar Rp 12.000.000 untuk 8 bulan pelajaran termasuk buku-buku resmi dan ujian 4 tingkat (Juli 2015). Karena saya udah dapet materi A1, saya masuk langsung ke level A2 dengan biaya Rp 9.000.000.

Untuk universitas swasta, saya dengan gila dan ga sadarnya apply ke salah satu institut politik ternama seantero Eropa, paling bergengsi di Prancis, dan kualifikasi yang diminta adalah kemampuan bahasa Inggris, karena memang mayoritas universitas swasta menggunakan bahasa Inggris untuk kegiatan belajarnya. Di universitas idaman saya itu, diperbolehkan ambil tes TOEFL iBT, IELTS, atau TOEIC. Saya waktu itu ambil IELTS dengan target band 7 di Real English ION'S karena yang di Celtics UII udah penuh. Biayanya Rp 3.200.000 (Maret 2016) dan sempet ikut persiapan IELTS super kilat cuma 10 jam dalam waktu 5 hari, jadi sehari 2 jam pelajaran. Persiapan IELTSnya di ELTI Gramedia dengan biaya Rp 1.450.000 untuk 10 jam privat (Maret 2016).

Hal-hal di luar hal akademis, yang perlu diperhatikan lagi adalah dokumen. Terjemahan dokumen ke Bahasa Prancis saya lakukan hanya dengan penerjemah tersumpah di Jakarta, Bapak Subandi. Waktu itu terjemah biasa kena Rp 100.000 per halaman jadi (November 2015), proses selama seminggu dan udah dikirimin hard copynya sekalian ke rumah via JNE, dan karena satu dan lain hal, saya terpaksa terjemahkan beberapa dokumen lagi dengan jasa terjemah yang ekspress seharga Rp 300.000 per halaman jadi (Maret 2016), prosesnya cuma 4 hari kerja. Apa aja yang perlu diterjemahkan? Rapor SMA 4 atau 6 semester, ijazah bolak-balik, nilai UN, nilai Ujian Sekolah, dan beberapa dokumen lain jika diperlukan (akta kelahiran, sertifikat kejuaraan, dll).

Jangan lupa juga urus paspor duluan biar lebih tenang. Dan datang sepagi mungkin kalau mau bikin paspor secara offline! Sumpah ya kantor imigrasi Jogja ga kira-kira banget antrinya. Dan mereka pun melayani sejumlah masyarakat aja, ga semua yang dateng terlayani. Kalo nomor panggilan habis, ya sudah, datang lagi besoknya. Tapi sistemnya sekarang sudah cepat dan praktis, ga rawan suap dan tilep sana-sini juga, karena pembayaran cetak paspor dilakukan di Bank BNI. Saya lupa kena berapa waktu itu awal 2016, sekitar Rp 350.000 ya kalau ga salah.

Masalah visa dan tiket pesawat saya belom paham juga detilnya akan seperti apa, karena saya harus tunggu Letter of Acceptance dari kampus dulu biar bisa proses keduanya. Sempet mampir ke Jogja Travel Fair untuk liat harga tiket, nemu Emirates bertengger di rate Rp 7.500.000 sekali jalan ke Charles de Gaulles, Paris. Menarik, tapi sayang waktu itu saya belum ada kepastian penerimaan kampus.

Saya sekarang lagi nunggu pengumuman IELTS (prosesnya hanya 13-15 hari dari hari tes, termasuk weekend) dan panggilan interview di Singapore dari institut politik itu, sementara kemarin udah dapet pengumuman dari jalur SNMPTN/CEF kalo saya udah diterima di pilihan pertama: hukum Universitas Lille 2.

Untuk reminder saja, waktu apply SNMPTN/CEF ke Universitas Lille 2: Ilmu Hukum dan Kesehatan, saya 'cuma' bekal ijazah ujian DELF level B1. Padahal, di web universitas tersebut tercantum (dan memang mostly, semua universitas negeri seperti ini juga) hanya menerima kualifiakasi B2. Waktu pendaftaran SNMPTN/CEF itu memang ijazah B2 saya belum keluar. Lalu kok bisa diterima? Saya sendiri kurang paham, tapi saya percaya banget sama pengaruh dari bagus atau tidaknya surat motivasi (motivation letter) dan CV. Meski saya belum punya ijazah B2, saya tunjukkan kalau saya punya niat kuat dan saya sebutkan alasan-alasannya, berikut disertai dengan surat keterangan dari LIP Yogyakarta kalau saya lulus B1 dengan nilai memuaskan (saya waktu itu A2 dapet 92/100 dan B1 dapet 83/100) dan akan ujian B2 pada Maret. Akhirnya, hari ini saya baru dapet kabar kalo B2 saya lulus dengan nilai 65/100. So bersyukur...

Gini ya. Ga ada yang mudah di dunia ini kalau memang kita mau semuanya worth it di akhir. Saya inget banget orangtua saya selalu bilang kalau semua yang berjuang mati-matian di awal, akan cenderung sadar diri pas udah berada di atas kelak, bahwa dia raih semuanya itu ga gampang. Hasilnya apa? Ya semoga aja akan jauh dari kata-kata mudah menyerah, korupsi dan suap, dan tentu akan hidup sederhana. Amin yaa..

Saya ga bilang perjalanan saya mudah atau menyenangkan seratus persen. Ada waktu dimana saya bener-bener pusing mikir tagihan, sementara toko saya hari itu ga rame-rame amat yang berarti rekening saya kosongggggg melomponggggg, pusing dikejar deadline dokumen, bosen belajar di kelas... Tapi saya inget banyak yang doain saya, dukung saya, bahkan bela-belain bantu saya banyak hal... dan untuk merekalah saya berjuang. Makasih banyak untuk semua guru saya di Delayota (Pak Munjid, Bu Ning, Pak Lilik, Pak Mardi, Pak Paidi, Mme Sani, Mas Anas, Bu Rindang, Bu Endar) dan Lembaga Indonesia Prancis (Mme Nirisa, M. Arya, M. Marc, Mme Nawang), tanpa mereka, saya ga bisa jadi seperti sekarang, saya ga akan berani kejar cita-cita saya, saya selamanya akan jadi katak dalam tempurung. Makasih terbanyak untuk orangtua saya yang akhirnya capek punya anak kaya saya makanya saya dibolehin ngapain aja suka-suka saya, mau kemana aja terserah, pokoknya makasih banyak karena selalu mencintai saya segimanapun saya ke Ayah dan Bunda, makasih udah percaya sepenuhnya sama saya. Dan untuk temen-temen yang mendoakan dan sediakan waktu untuk saya kapanpun saya butuh, yang selalu semangatin saya kalo saya lagi lemes, yang selalu kasih saya candaan dan selingan saat saya lagi capek-capeknya... makasih banyak semuanyaaaa!

Tahun lalu, bahkan sampai beberapa waktu lalu, saya ga pernah sangka hidup saya akan seperti ini. Saya ga tau apa itu Prancis, gimana caranya sekolah disana, apa itu DELF dengan nilai minimum 50, apa itu IELTS dengan band 7... Tapi saya mau tau, saya mau coba, dan semesta berkonspirasi bahu-membahu bantu saya dengan cara apapun, itu yang kadang bikin saya ternganga ga nyangka. Makasih banyak :)