Tuesday, January 19, 2016

#Menulis

"Kamu bebas", Dean mengucapkan kata itu di depan Laura. Muka Laura yang sedari tadi menahan bingung, seketika berubah menjadi kaget. Ada air yang menumpuk di pelupuk matanya, yang kemudian diusapnya cepat. Tidak, Laura sudah berjanji untuk tidak akan pernah lagi menangis karena pria.

Lagipula, bukankah ini yang senantiasa Laura inginkan? Sudah sejak dua minggu lalu Laura mengajak bertemu, membahasa kejelasan hubungannya dengan Dean. Jarak yang memisahkan dan lingkungan yang berbeda, semakin mendorong Laura untuk meminta kejelasan.

Laura lelah. Jakarta-Bandung bukanlah jarak yang pendek. Bukan jarak yang memungkinkan mereka untuk mudah bertemu, apalagi berhubungan secara langsung. Laura ingin sekali membebaskan diri dari Dean. Setelah lima tahun bersama dan baik-baik saja.

Lalu akhirnya hari ini datang. Mereka bertemu. Lebih banyak diam yang tercipta daripada percakapan. Laura sadar sudah banyak yang hilang di sana.

Baru saja dua menit yang lalu Dean memutuskan untuk membebaskan Laura. Bukankah seharusnya Laura senang? Bukankah ini yang senantiasa dia inginkan?

Laura tersenyum. "Terima kasih", ujarnya cepat sambil mengemasi barangnya. Dia beranjak pergi, meninggalkan kafe itu. Bandung tidak pernah semenyedihkan itu bagi Laura.

Laura kembali ke Jakarta.

"Jakarta ramai, hatiku sepi..
Jangan kau tanya, mengapa sedih
...
Senja menyambut kota yang lelah ini 
Dan dia bertanya bagaimana harimu"
(Jakarta Ramai -Maudy Ayunda) 



by Ali Achmad Zainuri




In fact, this was a LINE status of my junior in SMA 8 but I found this is too relatable with my personal story haha even the plots and the ending...

Hubungan jarak jauh tak melulu tentang angka. Tapi tentang perasaan yang mengalir dalam prosesnya. Akankah menguat atau memudar.

Tuesday, January 12, 2016

Sepanjang tidak merugikan kepentingan umum, menentukan sesat tidaknya sebuah keyakinan bukanlah wewenang manusia. Bagaimanapun juga tujuan manusia menganut keyakinan tertentu adalah untuk mencapai kebahagiaan. Biarlah tiap manusia mencari bahagianya sendiri, bagaimanapun bentuk ibadahnya, bagaimanapun bahasa yang digunakan, apapun wujud tuhan mereka, bukan urusan manusia lain. Membicarakannya pun tidak berhak, apalagi melabeli dengan status "sesat" atau "menyimpang". Menyantumkan kolom agama dalam identitas pun sebenarnya tidak perlu, apalagi jika sampai menanyakan pada ybs tanpa maksud yang jelas.
Masih banyak hal yang perlu diurus dibanding mengurus keyakinan manusia lain. Indonesia bukan hanya tempat bermukim satu atau enam "agama" besar (katanya), tapi juga ratusan agama nusantara lain yang telah ada jauh sebelum keenam agama tersebut muncul. Berabad-abad nenek moyang kita hidup rukun dalam ratusan keyakinan, tapi kenapa saat kita mengkotakkannya hanya jadi "enam" malah sikap intoleransi semakin berkembang.
Bukan Tuhan yang menciptakan agama, tapi manusia. Tuhan tidak butuh diagungkan sampai menghalalkan segala cara (termasuk melakukan kekerasan atas nama Tuhan, ya ampun so stupid), Tuhan jauuuh lebih agung dari kata-kata yang kamu anggap pujian itu. Pikiran kita yang kecil tidak akan sampai kesana.
Bukan Tuhan yang menghendaki agama menjadi sekat-sekat dalam kehidupan sosial. Bukan Tuhan yang menghendaki agama jadi alasan dalam memutus tali silaturrahmi. Bukan Tuhan yang menghendaki agama jadi alasan dalam menciptakan kelas antara mayoritas dan minoritas.
Tapi, manusia dan egonya.
Fanatisme, dalam hal apapun, tidak pernah dibenarkan. Kamu memang punya kehidupan pribadi, tapi Bumi ini kita diami bersama-sama.
Saya tidak hidup dalam bayang-bayang ritual semu agama apapun, saya hidup dalam keyakinan pribadi saya, bahwa betapa Tuhan itu begitu hebat dan tak tersentuh nalar manusia. Bahwa betapa Tuhan itu sangat baik dan mencintai saya dalam keadaan apapun.
Jangan memaksa orang untuk mengikuti ritual ibadahmu. Berkeyakinan itu tentang keikhlasan dan cinta kasih.
Mau orang lain beragama, atau tidak. Berkeyakinan, atau tidak. Selama mereka berbuat baik dan tidak mengganggu, biarkan. Memang tujuan hidup sebenarnya hanyalah untuk berbuat baik, bukan beragama.
Baik, jika agama jadi sarana untuk mengontrol sikap dan perilaku.
Salah, jika agama jadi tolok ukur satu-satunya dalam menghakimi individu atau kelompok lain.

Bahkan Paus Fransiskus sebagai pimpinan tertinggi Gereja Katolik Roma pun berkata...

You don’t have to believe in God to go to heaven...

Monday, January 11, 2016

Let a privacy be a privacy...

Minggu lalu, saya dan teman-teman (Arifah, Birgitta, Wina, dan Regina) menyempatkan makan siang bersama di salah satu mall di daerah Jl Laksda Adisutjipto dan beruntunglah saya karena berteman dengan begitu banyak orang yang memiliki pemikiran mirip dengan pemikiran saya, salah satunya adalah keempat teman baik saya di atas. Arifah, kini kuliah di Maryville University, sempat bercerita tentang salah satu dosennya yang mengatakan bahwa negara berkembang kini semestinya semakin maju ke arah modern dan meninggalkan kekolotan maupun kekakuan di bidang adat dan agama (bukan berarti berhenti melestarikan adat istiadat atau ciri khas budaya daerah di Indonesia, melainkan menjadi lebih fleksibel dan berkenan untuk membuka cara pandang baru akan kemajuan jaman). Namun beda dengan apa yang beliau temukan di Indonesia, rupa-rupanya beberapa dari masyarakat kita malah justru semakin terlihat kaku akan perubahan, makin merasa insecure akan desakan modernisasi, dan sikap sejenis lainnya. Padahal, sesungguhnya, bukan hanya dalam aspek sosial dan modernisasi ini saja, tapi dalam segala hal pun, jika suatu individu atau kelompok memiliki sikap kepercayaan diri yang cukup, mereka tidak akan menutup diri dari berbagai perubahan atau bahkan bersikap intoleran pada yang berbeda pemahaman.

Confidence is silent, insecurities are loud.

Quote terbaik yang pernah saya temukan, setidaknya quote paling relevan dengan situasi di Indonesia saat ini. Saya lagi-lagi akan berbicara mengenai keberagaman dalam memeluk keyakinan, isu yang menurut saya begitu mendasar karena sila pertama Pancasila bahkan langsung menyatakan kepercayaan akan Tuhan yang satu, tanpa tedeng aling-aling, dan Indonesia sering disebut-sebut (atau menyebut dirinya sendiri?) sebagai negara beragama. Ah, apa iya?

Yang merasa "mayoritas" menindas yang "minoritas", memeluk keyakinan tak lagi bebas, dan tenang dalam keberagaman menjadi salah satu hal paling utopis di masa sekarang. Penyebabnya apa? Ya insecurities, perasaan takut terjajah, perasaan tidak aman. Bahwa yang "mayoritas" ini takut si "minoritas" akan mengancam eksistensi mereka, bahwa "agama" A takut paham "agama" B akan mempengaruhi pengikutnya sehingga banyak yang berpindah "agama"... Yang saya pertanyakan adalah, mengapa? Sebenarnya apa yang paling kita utamakan dalam memeluk keyakinan? Kuantitas pengikut, atau kualitas beribadah? Kekuatan hukum agama, atau menumbuhkan kesadaran terhadap pendewasaan diri?

Saya bukan seorang ahli agama, namun menurut saya dengan kacamata pribadi (tolong jangan lupa digarisbawahi...), semestinya tidak perlu ada jarak antara berbagai keyakinan di Indonesia. Pada dasarnya, patut diketahui, bahwa negara kita yang kaya ini tidak hanya dihuni oleh masyarakat dengan enam "agama" terbesar itu, tapi juga ada yang dikenal dengan sebutan Agama asli Nusantara, yaitu adalah agama yang sudah tercipta jauh sebelum enam agama besar itu dikenal di Nusantara. Data Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 mengungkapkan, dari 245 aliran kepercayaan yang terdaftar, sementara keseluruhan penghayat mencapai 400 ribu jiwa lebih (Wikipedia). Dan menurut saya, mengapa ratusan aliran kepercayaan itu bisa hidup berdampingan dengan rukun dalam jangka waktu yang lama? Sementara saat ini, saat kehidupan mayoritas diisi oleh enam agama besar, justru lebih sering terjadi bentrok dan intoleransi makin meruak. 

Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Centre for Strategic and International Studies (CSIS), pada 2013, menjelaskan bahwa 25 persen responden menyatakan tidak bisa percaya dengan orang yang berbeda agamaPenelitian ini juga mengemukakan pengaruh tingkat pendidikan terhadap sikap toleransi. Lagi-lagi hasilnya mencengangkan karena ternyata semakin tinggi pendidikan hasil yang diperoleh semakin tidak bisa toleran terhadap perbedaan agama. Sebanyak 55,4 persen responden lulusan Sekolah Dasar mengatakan bahwa tidak keberatan bertetangga dengan agama lain, sementara lulusan SMP sebanyak 64,4 persen mengatakan hal yang sama. Prosentase toleran paling tinggi dengan angka 69,8 persen diraih lulusan SMA. Hasil yang mengejutkan menunjukkan bahwa lulusan di atas SMA hanya 50,9 persen yang mengatakan tidak keberatan bertetangga dengan warga beragama lain. (Penelitian CSIS: Tingkat intoleran agama di Indonesia masih tinggi)


Kenapa tidak toleran? Kenapa insecure?


Isu sosial yang sedang hangat-hangatnya terjadi adalah hilangnya beberapa warga Yogyakarta yang diduga disebabkan oleh Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar), sebuah organisasi masyarakat yang disebut-sebut beraliran sesat karena "dianggap menyimpang" dari ajaran agama pada umumnya.


Jujur, kadang saya merasa bertanya-tanya jika memang semudah itu untuk mengatakan sebuah keyakinan adalah sesat. Baik keyakinan apapun, dinamai apapun, bergerak dalam sektor manapun, jika tidak mengganggu kepentingan umum atau mencederai kebebasan memeluk keyakinan, saya rasa sah-sah saja. Itulah mengapa bagi saya, tidaklah begitu perlu untuk mencantumkan kolom agama dalam identitas apapun.

Sebuah keyakinan, jika memang membuat pemeluknya menjadi lebih baik (dalam pemikiran, tindakan, spiritualitas, maupun kepribadian), saya rasa tidak ada masalah, lha wong bukannya memang seperti itu tujuannya?


Kata "keyakinan" tidak selalu merujuk pada basis "agama" lho ya. Beda. Keyakinan itu timbul dari dalam nurani, hasil permenungan dan membaca diri, dan bukannya sebuah keterpaksaan/ketidaknyamanan dalam melakukan ritual "agama" tertentu. Lha terus, yang atheis itu juga bisa disebut dengan memiliki keyakinan dong? Tentu. Yang dianggap sesat itu, juga berkeyakinan? Ya iyalah. Selama kamu nggak diganggu, ibadahmu tidak terancam, kenapa sih harus merasa insecure? Lagipula, siapakah kamu sampai berani menganggap keyakinan lain itu sesat? Siapa tahu isi hati Tuhan? Kalau ternyata nanti di akhirat, "agama" yang kamu idolakan itu (baca: ego) ternyata justru yang sesat di mataNya gimana? Nobody knows. Nobody knows.


Berkeyakinan itu ikhlas. Berkeyakinan itu mengubah kita menjadi manusia yang lebih baik, manusia yang memanusiakan manusia. Nguwongke uwong. Berkeyakinan itu haqul yaqqin. Kamu percaya, ya sudah, percayai saja, dengarkan saja imanmu. Tidak perlu melabeli iman orang lain sesat...


Tuhan itu satu, "Ketuhanan yang maha esa..."


Tidak perlu diperdebatkan, sudah cukup jelas. Tuhanmu, apapun wujudnya, apapun sebutannya, ialah Tuhan.


Biarlah keyakinan menjadi sebuah privasi. Ibadah biarlah hanya manusia dan tuhannya sendiri yang tahu. Tuhan itu penilai yang adil, bahkan surga dan nerakamu sudah diberikanNya sejak kamu masih di dunia. "Surga" adalah hidupmu ini (hadiah terbaik, kan?), dan "neraka" adalah hukum karma (atau dalam roda samsara, atau dalam filosofi cakra manggilingan, apapun sebutannya, semua sama).


Percayalah, pemudi-pemuda negara lain sudah berlomba menciptakan inovasi dan mengembangkan negaranya, dan kita masih mendebatkan hal-hal agamis disini. Agamis dan religius itu berbeda, dan yang kedua itu justru yang kita butuhkan saat ini.


"Tapi agama mengontrol perilaku manusia!"
Biarlah mereka yang senang dikontrol bergabung dengan yang senang dikontrol juga. Mereka yang butuh kontrol akan mencari dengan sendirinya, tidak perlu dipaksa apalagi dicap aneh-aneh. Berilah kesempatan bagi semua orang sama seperti Tuhan memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika manusia sudah terkontrol dengan baik, seratus persen hidupnya sudah baik dan sangat dekat dengan kesempurnaan, apakah label agama menjadi penting lagi untuknya? Tidak.


"Dasar sesat, kamu atheis ya?!"
Enggak, saya memiliki agama karena orangtua saya telah menghendaki saya memeluk agama yang sama dengan mereka sejak saya dilahirkan, dan saya menghormati pilihan mereka sebagai sosok yang mengantarkan saya ke dunia. Tapi saya memiliki pendapat pribadi dan keyakinan pribadi juga, dan saya pun percaya kok, sebenarnya tiap orang juga mengalami hal yang sama :)

Sunday, January 10, 2016

Politik adalah penting tetapi yang lebih penting adalah manusia yang memiliki wawasan teknis dalam bidangnya masing-masing untuk membangun dengan karya-karya nyata.
— Bacharuddin Jusuf Habibie (Habibie & Ainun, hlm. 222)

"Menghadapi Masa Sulit, Jangan Bersedih"

Suka banget sama artikelnya Berdakwah yang ini, pertama kalinya ih aku share hihi bagus deh. Intinya seperti ini, aku sadur beberapa kalimat ya:


La tahzan. Jangan bersedih. Di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Di setiap masa sulit, Allah pasti menyediakan pertolongan; bagi hambaNya yang senantiasa berdoa dan giat berusaha.
Daripada waktu tersita untuk bersedih, hamparkan sajadah dan tunaikan shalat sunnah. Ikhlaskan niat menghambakan diri kepadaNya dan akan kau rasakan lapangnya dada dan luasnya rahmat Allah Azza wa Jalla. Hayati setiap takbir yang terucap, bahwa Allah Maha Besar. Segala masalah di dunia tak ada yang besar bagiNya. Bahkan dunia itu sendiri bukan sesuatu yang besar di hadapan kekuasaan-Nya.
Semestaku lebih besar dari masalahku, pikiranku mampu mengubah semuanya. Mengapa membuat semuanya menjadi semakin sulit?



Full article simply click this link:

Menghadapi Masa Sulit, Jangan Bersedih

Tuesday, January 5, 2016

Perks of being a volunteer?

Tidak semua berkat datang dalam bentuk kebahagiaan. Iya, selucu itulah semestamu. Kadang dia datang bersama kesedihan, keprihatinan, dan pada situasi yang tidak disangka lainnya.

Masih teringat sangaaaat jelas di kepalaku, memori dan kenangan akan sahabatku Agnes Dinda Devi Maharani, yang tiga tahun lalu berhasil "menang" akan kankernya dan "pulang ke rumah" yang selama ini ia impi-impikan.

Bukan tentang bagaimana penyakit itu menggerogotinya perlahan, tak mengijinkannya bisa bermain basket lagi, bahkan sepasang sepatu basket baru itu masih teronggok di lemari, tak pernah disentuh oleh tuannya. 

Bukan tentang bagaimana kami, sahabat-sahabatnya, harus bertempur dengan perasaan kami masing-masing, berusaha memahami bahwa virus itu seperti bom waktu: siap atau tidak siap, suka atau tidak suka.

Memang benar, sedih itu ada, dan perasaan rindu kadang menyeruak tatkala ingatanku melayang pada momen-momen kebersamaan yang mustahil untuk diulang kembali. Memang benar, adakalanya kami merasa kehilangan dan menyalahkan takdir: mengapa harus Agnes kami? Agnes kami yang baik hati?

Tapi di balik semua itu, kepergiannya justru membawa banyak berkat pula. Bagi saya pribadi, dan tentu bagi orang-orang di sekitarnya.

Sepulang Agnes ke rumah tuhannya, aku bertemu dengan seorang mantan survivor kanker tulang, dengan kaki kayu menggantikan kaki kanannya, dan kedua matanya berbinar memancarkan semangat.

Namanya, Veronika Anik. Terima kasih banyak, Mba Ve. Berkatmu, aku belajar banyak tentang rasa syukur yang kontinu, tanpa mengenal situasi dan kondisi. Bersyukur, bersyukur, bersyukur, dan berbagi.

Tiga tahun berselang.
Hati ini semakin teguh untuk bergerak aktif di dunia anak-anak, dunia yang sangat aku hormati, karena lebih suci dari dunia manapun, bahkan Yesus pun berkata bahwa hanya manusia yang dapat bersikap bersih seperti anak-anaklah yang dapat masuk ke surga.

Terima kasih, Agnes.
Semua inspirasi ini datangnya darimu.

Kemarin Senin, siang, panas terik, dan bahkan angin pun enggan bertiup, aku melangkahkan kaki masuk ke gerbang RSUP dr Sardjito, dan menanyakan letak gedung International Cancer Care pada bapak satpam di depan. "Naik kendaraan atau jalan kaki, Mbak?" "Jalan kaki, Pak. Pripun?" "Hmm.. Ya. Lumayan jauh, Mbak. Pokoknya nanti gedung terletak di paling belakang, ya".

Menyusuri koridor (yang sangat teduh! Suka!) perlahan-lahan, aku mencoba bersikap sebiasa mungkin, dengan menyembunyikan perasaanku yang sebenarnya sangat bersemangat. Ay! Hari itu aku akan menemani Mbak Ve melakukan visit dan motivasi di Poli Kanker khusus anak, sekaligus survei kecil untuk acara Hari Kanker Anak tanggal 14 Februari. (Catatan kecil, Hari Inspirasi dari Kelas Inspirasi-Indonesia Mengajar akan dilaksanakan tanggal 6 Februari, jadi aku harap kedua acara anak-anak ini dapat menjadi hadiah ulang tahun yang paling berkesan untukku. Hihihi amin, semoga lancar...)

Setelah menemukan gedung ICC dengan cukup ngos-ngosan (beneran lumayan jaraknya buat jalan sehat hehehe), aku bergegas masuk lift dan menekan tombol berangka tujuh. Dan ternyata, ketergesaanku berangkat berujung pada penantian karena ibu hamil yang kutunggu itu masih dalam perjalanan. Okelah Mbak Ve, untung daku sayang... Hahaha.

Beberapa menit kemudian Mbak Ve dan suaminya, Mas Banjar, datang dan bahkan sebelum melihat saya pun, baru keluar lift, Mbak Veyo langsung peluk adik-adik di sana-sini dan menyapa juga para orangtua. Luar biasa. Bahkan pun aku harus memanggil dengan agak keras karena Mbak Ve betul-betul tidak menyadari keberadaan saya di ruang tunggu dan beliau malah hendak masuk ke ruang poli.

Setelah meletakkan tas di ruang dokter, aku dan Mbak Ve mulai "muter" ke ruangan adik-adik berobat dan menunggu obat. Kami ke ruang bermain juga, dan betapa menyenangkannya bermain dengan anak-anak sebanyak itu...aku kalap, pengen culik semua huhuhu. Ada satu anak yang betaaaah banget nemplok sama aku; Wahyu, namanya. Tidak menanyakan umur pada Ibunya, tapi yang jelas masih balita (atau batita?) karena masih belajar bicara. Awalnya heran, ini anak kok betah main sama saya, ngobrol gak jelas dan gak bertopik (sepertinya bahasa ibu dari orangtua Wahyu adalah Bahasa Jawa, jadi Wahyu pun mulai belajar bicara dengan Bahasa Jawa. Sementara aku takut salah ngomong kalau pakai Bahasa Jawa. Anak orang, Bos... Hehehe)

Dan tentu saja, awalnya juga canggung. Hampir semua anak mengalami moon face, berbadan cukup tambun, dan rambutnya tipis atau bahkan botak, semua efek obat dan kemoterapi. Aku harus mengajak bermain mereka pelan-pelan, tidak tertawa terlalu keras (sumpah, ini lumayan menantang bagiku), dan merasakan perasaan insecure setiap saat karena parno, menyingkirkan mainan-mainan yang berserakan, takut melukai mereka jika terinjak.

Meski sudah hampir tiga tahun saya mempelajari kanker dan bergerak di bidang ini, tetap ada rasa sedih yang kadang menyeruak, seakan-akan rasanya tidak pantas anak-anak ini menghabiskan waktu bermain di rumah sakit. Tapi mendengar suara tawa anak-anak ini dan melihat senyuman orangtua mereka yang menyambutku di ruangan-ruangan dan koridor-koridor rumah sakit, membuatku sadar bahwa harapan itu selalu ada, mimpi ada dan dicipta dimanapun. Aku baru pertama kali ke ICC, tapi para ibu menyapaku seolah-olah aku sudah lama dikenalnya. Anyway, keberadaan para ibu dan ayah ini juga merupakan semangat bagiku, kesadaran juga untuk makin mencintai orangtuaku, karena aku lihat sendiri bagaimana para orangtua ini begitu mencintai anak-anaknya bahkan ada yang sampai di-PHK karena jarang masuk kantor saat menunggui anaknya di rumah sakit.

Teman-teman, siapapun kalian, dimanapun kalian, aku ingatkan sekali lagi. Kebahagiaan yang hakiki adalah kebahagiaan yang dibagikan. Jangan tunggu kaya raya, sempurna, dan punya tahta. Berikan saja apa yang kita miliki, jangan berharap banyak akan apa yang kita dapatkan kelak sebagai timbal balik. Semesta bekerja dengan jalannya sendiri.

Keinginan awalku adalah: meneruskan semangat Agnes kepada adik-adik pejuang kanker dan memberi motivasi untuk sembuh.
Dan hasil yang s e l a l u aku dapatkan adalah: justru aku yang tertular semangat dan keceriaan mereka, justru mereka yang memotivasiku untuk bekerja dengan lebih keras, super giat, agar kelak mereka tak perlu lagi mengeluarkan biaya untuk berobat.

Ya, saat kita memberi, justru sebenarnya kita yang jadi kaya.

Keikhlasan memberi adalah sebuah pembelajaran seumur hidup, life-time process. Dan aku masih harus banyak belajar ikhlas dari mereka yang selama ini dianggap kurang berhasil dalam menjalani hidup.

Sayang, justru mereka itulah yang paling bahagia, paling menikmati saripati kehidupan!


-02:27