Posts

Showing posts from January, 2016

#Menulis

"Kamu bebas", Dean mengucapkan kata itu di depan Laura. Muka Laura yang sedari tadi menahan bingung, seketika berubah menjadi kaget. Ada air yang menumpuk di pelupuk matanya, yang kemudian diusapnya cepat. Tidak, Laura sudah berjanji untuk tidak akan pernah lagi menangis karena pria.

Lagipula, bukankah ini yang senantiasa Laura inginkan? Sudah sejak dua minggu lalu Laura mengajak bertemu, membahasa kejelasan hubungannya dengan Dean. Jarak yang memisahkan dan lingkungan yang berbeda, semakin mendorong Laura untuk meminta kejelasan.

Laura lelah. Jakarta-Bandung bukanlah jarak yang pendek. Bukan jarak yang memungkinkan mereka untuk mudah bertemu, apalagi berhubungan secara langsung. Laura ingin sekali membebaskan diri dari Dean. Setelah lima tahun bersama dan baik-baik saja.

Lalu akhirnya hari ini datang. Mereka bertemu. Lebih banyak diam yang tercipta daripada percakapan. Laura sadar sudah banyak yang hilang di sana.

Baru saja dua menit yang lalu Dean memutuskan untuk membebas…
Sepanjang tidak merugikan kepentingan umum, menentukan sesat tidaknya sebuah keyakinan bukanlah wewenang manusia. Bagaimanapun juga tujuan manusia menganut keyakinan tertentu adalah untuk mencapai kebahagiaan. Biarlah tiap manusia mencari bahagianya sendiri, bagaimanapun bentuk ibadahnya, bagaimanapun bahasa yang digunakan, apapun wujud tuhan mereka, bukan urusan manusia lain. Membicarakannya pun tidak berhak, apalagi melabeli dengan status "sesat" atau "menyimpang". Menyantumkan kolom agama dalam identitas pun sebenarnya tidak perlu, apalagi jika sampai menanyakan pada ybs tanpa maksud yang jelas. Masih banyak hal yang perlu diurus dibanding mengurus keyakinan manusia lain. Indonesia bukan hanya tempat bermukim satu atau enam "agama" besar (katanya), tapi juga ratusan agama nusantara lain yang telah ada jauh sebelum keenam agama tersebut muncul. Berabad-abad nenek moyang kita hidup rukun dalam ratusan keyakinan, tapi kenapa saat kita mengkotakkannya han…

Let a privacy be a privacy...

Minggu lalu, saya dan teman-teman (Arifah, Birgitta, Wina, dan Regina) menyempatkan makan siang bersama di salah satu mall di daerah Jl Laksda Adisutjipto dan beruntunglah saya karena berteman dengan begitu banyak orang yang memiliki pemikiran mirip dengan pemikiran saya, salah satunya adalah keempat teman baik saya di atas. Arifah, kini kuliah di Maryville University, sempat bercerita tentang salah satu dosennya yang mengatakan bahwa negara berkembang kini semestinya semakin maju ke arah modern dan meninggalkan kekolotan maupun kekakuan di bidang adat dan agama (bukan berarti berhenti melestarikan adat istiadat atau ciri khas budaya daerah di Indonesia, melainkan menjadi lebih fleksibel dan berkenan untuk membuka cara pandang baru akan kemajuan jaman). Namun beda dengan apa yang beliau temukan di Indonesia, rupa-rupanya beberapa dari masyarakat kita malah justru semakin terlihat kaku akan perubahan, makin merasa insecure akan desakan modernisasi, dan sikap sejenis lainnya. Padahal, s…
Politik adalah penting tetapi yang lebih penting adalah manusia yang memiliki wawasan teknis dalam bidangnya masing-masing untuk membangun dengan karya-karya nyata. — Bacharuddin Jusuf Habibie (Habibie & Ainun, hlm. 222)

"Menghadapi Masa Sulit, Jangan Bersedih"

Suka banget sama artikelnya Berdakwah yang ini, pertama kalinya ih aku share hihi bagus deh. Intinya seperti ini, aku sadur beberapa kalimat ya:


La tahzan. Jangan bersedih. Di setiap kesulitan pasti ada kemudahan. Di setiap masa sulit, Allah pasti menyediakan pertolongan; bagi hambaNya yang senantiasa berdoa dan giat berusaha.
Daripada waktu tersita untuk bersedih, hamparkan sajadah dan tunaikan shalat sunnah. Ikhlaskan niat menghambakan diri kepadaNya dan akan kau rasakan lapangnya dada dan luasnya rahmat Allah Azza wa Jalla. Hayati setiap takbir yang terucap, bahwa Allah Maha Besar. Segala masalah di dunia tak ada yang besar bagiNya. Bahkan dunia itu sendiri bukan sesuatu yang besar di hadapan kekuasaan-Nya. Semestaku lebih besar dari masalahku, pikiranku mampu mengubah semuanya. Mengapa membuat semuanya menjadi semakin sulit?



Full article simply click this link:

Menghadapi Masa Sulit, Jangan Bersedih

Perks of being a volunteer?

Tidak semua berkat datang dalam bentuk kebahagiaan. Iya, selucu itulah semestamu. Kadang dia datang bersama kesedihan, keprihatinan, dan pada situasi yang tidak disangka lainnya.
Masih teringat sangaaaat jelas di kepalaku, memori dan kenangan akan sahabatku Agnes Dinda Devi Maharani, yang tiga tahun lalu berhasil "menang" akan kankernya dan "pulang ke rumah" yang selama ini ia impi-impikan.
Bukan tentang bagaimana penyakit itu menggerogotinya perlahan, tak mengijinkannya bisa bermain basket lagi, bahkan sepasang sepatu basket baru itu masih teronggok di lemari, tak pernah disentuh oleh tuannya. 
Bukan tentang bagaimana kami, sahabat-sahabatnya, harus bertempur dengan perasaan kami masing-masing, berusaha memahami bahwa virus itu seperti bom waktu: siap atau tidak siap, suka atau tidak suka.
Memang benar, sedih itu ada, dan perasaan rindu kadang menyeruak tatkala ingatanku melayang pada momen-momen kebersamaan yang mustahil untuk diulang kembali. Memang benar, adaka…