Monday, February 15, 2016

Hari Seninku Semanis Es Krim






Jika ada yang dapat menggambarkan rasa sukacitaku di hari Senin, 15 Februari 2016 ini, tentu akan ku definisikan hari ini seperti es krim: manis, menyenangkan, memberi kelegaan di tengah kepenatan. Hari Senin yang tidak seperti biasanya, saya bangun pagi dengan (agak lebih sedikit) bersemangat (dari biasanya) hehehe ya meski semua orang tahu betapa saya sangat membenci aktivitas apapun di pagi hari. Tapi sungguh, begitu bangun pagi, yang langsung seketika muncul di pikiran saya adalah... "Hey! This day is gonna be super awesome!"

Sebetulnya, acara ini sudah digagas sejak lama dan telah digodok sedemikian rupa sehingga hal-hal baik selalu saja kami temukan sepanjang hari ini. Diawali dengan ide Mbak Veyo, survivor kanker yang pernah aku ceritakan sebelumnya (baca: Mba Veyo dan Flatshoes Kupu-kupu), beliau sangat ingin mewujudkan sebuah organisasi (atau bahkan yayasan dan rumah singgah) yang murni menyalurkan bantuan untuk para pejuang kanker. Dan setelah lahir gerakan Satu Hati Berbagi, beberapa waktu yang lalu Mbak Veyo mencetuskan pada kami beberapa ide untuk merayakan Hari Kanker Anak Internasional. Beruntunglah, niat baik tersebut disambut dengan antusiasme dari para donatur (bahkan saya dapat menjaring beberapa bantuan alat tulis berkat share post di LINE, terima kasih banyak!), teman-teman relawan, pihak RSUP dr Sardjito, para keluarga pasien, dan tentunya adik-adik pejuang kanker.

Dan, jadilah, pagi ini, kami bersenang-senang bersama di Tulip International Cancer Center Lantai 7. Saya pribadi, mengawali perjalanan hari ini dengan membeli balon huruf di toko perlengkapan pesta di bilangan Condong Catur, Sleman. Sempat sedikit mengomel sih waktu itu (hehehe maaf ya, Mba...) karena mendapatkan pelayanan yang kurang menyenangkan sementara waktu saya terbatas. Tapi alhamdulillah masih diberi potongan harga yang lumayan banyak karena saya borong pagi-pagi, bahkan saya sudah standby di depan garasi toko sebelum mbaknya buka hahaha. Setelah itu, saya meluncur dengan sedikit tergesa-gesa (udah telat!!) ke RSUP dr Sardjito, yang mana disana saya menemukan kejutan lagi: jalan menuju rumah sakit lumayan padat (mungkin karena beberapa mahasiswa memulai semester baru per hari ini) dan di parkiran rumah sakit pun, lumayan padat dengan mobil sehingga saya dan Bunda harus mengantre sekitar sepuluh menit untuk dapat masuk dari gerbang menuju Tulip ICC. Setelah sampai di depan Gedung Tulip ICC, saya segera mengontak Mas Banjar, suaminya Mbak Veyo, untuk membantu saya membawa balon karena balon-balon ini tidak semuanya dimasukkan ke tas plastik atau diikat karena saking banyaknya. Ternyata kemudian Mas Banjar dan omnya Nadia, salah satu adik pejuang kanker, langsung segera datang dan kami pun bergegas naik ke Lantai 7. Anyway, maaf untuk orang-orang di lift saat itu yang harus berdesak-desakan dengan rombongan balon super rempong inih... Hahahah...

Sampai di Ruang Dokter Tulip ICC Lantai 7, ternyata disana sudah ada beberapa relawan lainnya dan beberapa dokter yang menyalami saya satu per satu. Di Ruang Bermain pun ternyata sudah ada beberapa adik yang memposisikan diri. Tenang, ternyata saya belum telat-telat banget kok! Hehehe. Setelah itu saya mengajak mbak-mbak relawan lainnya untuk memasang balon huruf yang mana dengan kepikunan saya yang makin super, ternyata saya lupa bawa double-tape dan gunting. Alhasil, terpaksa meminjam ke ruang OCD, deh. Aduuuh, maaf banget ya suster-suster...

Setelah semua siap, saya membagikan alat mewarnai yang saya bawa, dan semua adik sudah duduk manis menanti kertas gambar. Acara pertama adalah mewarnai gambar, dan kemudian ada atraksi sulap dari teman-teman Mbak Veyo. Setelah itu ada mini talkshow bersama Mas Kelik, mantan pejuang kanker, dan kemudian ditutup dengan pembagian bingkisan.
Bahagia itu kalian, kalian itu kebahagiaan.
Terima kasih untuk semua pihak yang telah membantu jalannya acara senang-senang ini, dan saya sungguh bahagia (saya yakin Mbak Veyo dan Mas Banjar juga) acara ini dapat benar-benar terlaksana secara mandiri, bahkan didukung juga oleh beberapa media cetak maupun elektronik. Acara paling minim wacana, acara yang persiapannya paling kilat, tapi ternyata pelaksanaannya sangat berkesan, setidaknya bagi saya, dan saya harap semua pihak yang terlibat pun merasakan hal yang sama.

Kanker tidak memandang usia, jenis kelamin, warna kulit... Dan kanker tidak hanya menyerang fisik saja, tapi juga psikologis mental para penderitanya. Vonis kanker tidak hanya meruntuhkan fisik mereka perlahan-lahan, tapi juga semangat hidupnya. Dan itulah mengapa dukungan orang-orang terdekat sangat penting, jadi bukan hanya saja dukungan secara medis.

Hati yang gembira adalah obat.

Mungkin apa yang saya berikan saat ini belum begitu terasa dampaknya bagi adik-adik dan juga keluarga pasien. Tapi saya hanya ingin mereka tahu, bahwa kapanpun mereka membutuhkan dukungan, saya akan selalu ada untuk mereka, no matter what, even saya harus bangun sepagi apapun, saya ikhlas, dan sanggup melakukannya terus menerus meski hanya dibayar dengan tawa adik-adik dan binar kebahagiaan di mata keluarga pasien, karena sejujurnya memang itulah yang akan selalu jadi semangat saya untuk tetap berkarya.

Dan perayaan hari ini menutup selebrasi peringatan ulang tahun saya yang ke 19 juga, terima kasih untuk semua perhatian dan doa, cinta dan ketulusan, bahkan kejutan dan kue-kue, semua hal yang telah saya dapatkan dalam minggu-minggu ini, semua keluarga dan kawan, dan semua harapan yang anda satukan dalam berbagai ucapan... Semoga saya dapat menjadi saluran cinta dan berkat bagi banyak orang.

Terima kasih untuk adik-adik di Sekolah-Sekolah Dasar peserta Kelas Inspirasi Yogyakarta 2016 tanggal 6 Februari 2016 kemarin dan adik-adik survivor kanker yang saya temui hari ini, seindah-indahnya hadiah ulang tahun, kebahagiaan dan semangat kalian adalah hadiah terindah yang pernah saya terima...

Namaste, 
semoga kebahagiaan ada dalam jiwa setiap makhlukNya.



Atraksi sulap dari teman-teman Mbak Veyo selalu berhasil memacing gelegar tawa dalam Ruang Bermain Tulip ICC. Dan saya bangga sekali sama Mutia, dia mau maju berkali-kali!



Yang paling suka ndusel sama saya, minta pangku, dan sukaaa sekali bercerita tentang apa saja, kenalkan ya, kakak-kakak, ini Mutia. Say cheese, Mutia!




Monday, February 8, 2016

Kesan-kesan dan Cerita Tentang Kelas Inspirasi Yogyakarta 2016

Senang sekali rasanya, ketika tanggal 6 Oktober 2015 tengah malam saya menerima sepucuk surat elektronik dari Kelas Inspirasi dengan tertera judul: "Pengumuman Seleksi Relawan Penyelenggara/Panitia KI Yogyakarta". Surat elektronik yang saya terima pukul 01:55 dini hari tersebut memberitahukan hasil dari seleksi relawan yang telah saya lakukan secara online beberapa waktu sebelumnya.


Pertama-tama, saya ingin sedikit bercerita tentang latar belakang keikutsertaan saya dalam kerumunan positif ini. Sejak pertama kali mendengar gerakan Indonesia Mengajar beberapa tahun lalu, kira-kira waktu saya masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, saya sudah memutuskan akan bergabung menjadi Pengajar Muda jika sudah besar nanti. Setiap ada pengumuman pembukaan pendaftaran Pengajar Muda, saya selalu tertarik untuk menyebarluaskan. Pun demikian halnya saat saya pertama kali mendengar adanya gerakan turunan dari Indonesia Mengajar, yang ternyata namanya adalah Kelas Inspirasi. Sempat mencari tahu ke beberapa sumber online, ternyata kegiatan dari gerakan ini hanya dilakukan sekali dalam satu tahun, selama satu hari penuh. Cukup menarik bagi saya waktu itu, tapi sempat pupus harapan setelah tahu bahwa yang bisa bergabung dalam Kelas Inspirasi adalah mereka yang telah berprofesi dan mayoritas tentunya adalah orang dewasa yang telah mapan. Tapi ternyata, garis waktu membawa saya semakin dekat pada Kelas Inspirasi, utamanya adalah ia berhasil mengumpulkan saya dengan keluarga jauh yang selama ini rupanya terpisah, Kelas Inspirasi Yogyakarta.

Setelah melalui tahap pendaftaran dan seleksi online, diterimalah saya menjadi bagian dari manusia-manusia penuh semangat ini.

Tanggal 11 Oktober 2015, saya masih ingat betul, pertama kalinya saya diantar Ayah untuk mengikuti Focus Group Discussion yang bertempat di Pasar Seni Gabusan, Bantul, yang jaraknya lumayan jauuuh tapi sungguh, entah kenapa semangat saya benar-benar menyala pada waktu itu, bahkan tidak rela untuk datang terlambat sedikitpun. Padahal, orang yang benar-benar mengenal saya tentu akan paham betapa malasnya saya untuk bergerak di pagi hari apalagi untuk melakukan perjalanan jauh dengan kendaraan roda dua, kecuali ada hal yang benar-benar menarik minat saya. Dan, ternyata, suasana pagi itu di Pasar Seni Gabusan belum seramai yang saya bayangkan. Baru ada segelintir panita dan sesama calon relawan yang sudah hadir. Saya menempatkan diri dan berkenalan dengan beberapa teman baru, yang membuat saya sempat terkejut beberapa saat. Ditambah lagi, ternyata rasa terkejut itu sempat menetap dalam sekian waktu ke depan. Saya waktu itu memang belum berkenalan dengan banyak orang, namun dari semua perkenalan yang telah saya lakukan, sejauh itu saya dapat menyimpulkan kalau semua orang disitu adalah mahasiswa tingkat awal maupun tingkat akhir, bahkan ada yang telah lulus dari bangku kuliah. Kikuk, malu, dan canggung pada awalnya. Saya yakin sejuta persen waktu itu bahwa saya adalah calon relawan termuda. But I always believe that age doesn't define maturity and experience, dengan beberapa bekal dan kemampuan yang saya punya, saya tidak pernah punya alasan untuk merasa minder sama sekali, dalam kesempatan apapun.

FGD membawa saya dan calon relawan lainnya untuk memecahkan beberapa kasus mengenai pendidikan anak-anak Indonesia. Betapa sebenarnya permasalahan tersebut tidak dapat dijawab dengan menggunakan pendekatan teori saja, tapi saya sadar bahwa anak-anak berbicara juga melalui tindakan dan hati mereka. Sedikit tambahan, semulus apapun kelak perjalanan kewirausahaan dan ekspor-impor saya, sebahagia apapun kelak pekerjaan saya, dan sesukses apapun kelak karier saya yang mentereng (amin...), alasan saya untuk memulai bangku perkuliahan dari nol dan berjuang melalui banyak jalan yang tak biasa adalah demi Bunda, semesta, dan anak-anak Indonesia.

Anak-anak Indonesia dan segala tingkah kepolosan mereka pulalah yang membawa saya ikut andil dalam komunitas anak-anak pejuang kanker. Bagi saya, membangun negara bukan hanya melalui infrastruktur saja, namun juga membangun karakter dan jiwa manusianya, utamanya adalah generasi muda dan anak-anak, sebagai pemegang tongkat estafet penggerak bangsa ini. Keberhasilan suatu sistem pendidikan kadang tidak dapat kita rasakan saat ini juga, bahkan mungkin beberapa puluh tahun selanjutnya, dan itulah sebabnya mengapa penghargaan setinggi-tingginya kehidupan patut diberikan pada suatu elemen bernama "proses"...

Kebetulan, Kelas Inspirasi memiliki misi yang sama dengan pemikiran saya, melalui gerakan mengajar oleh kaum profesional. Anak-anak mungkin tidak memiliki cita-cita yang mentereng saat ini juga, mungkin mereka masih membutuhkan waktu untuk menggali potensi mereka, tapi Kelas Inspirasi membantu mereka dalam mencari arah, benar-benar seperti cahaya dalam kegelapan. Dan kita harap, kita bisa memetik hasilnya beberapa tahun ke depan, saat cita-cita yang dituliskan oleh anak-anak itu sewaktu kecil dapat terwujud saat mereka beranjak dewasa.

Kembali ke cerita saya bersama Kelas Inspirasi Yogyakarta, bulan demi bulan berlalu dan setiap minggunya kami berkumpul untuk mematangkan konsep acara kami. Pulang malam dan hujan deras, bahkan menggantungkan hidup pada Go-Jek menjadi rutinitas bagi saya pribadi. Tapi saya bahagia, dan itulah yang terpenting. Malam keakraban dan outbond di Bantul, seleksi dan rekrutmen relawan pengajar serta dokumentator, Technical Meeting di Balaikota, hingga Hari Inspirasi dan Selebrasi dua hari berturut-turut semakin merekatkan kami sebagai keluarga besar Kelas Inspirasi Yogyakarta. Dan memang benar, ternyata saya adalah panitia termuda di komunitas ini. Tapi saya belajar dan diajari banyak hal, baik hal mendidik maupun kurang mendidik (hahaha nggak ding...), belajar berkomunikasi dalam jangkauan yang lebih luas, dan berkesempatan bertemu dengan banyak orang hebat yang memiliki kesamaan pemikiran dengan saya.

Satu dari sekian hal terbaik yang saya dapatkan saat bergabung dalam Kelas Inspirasi Yogyakarta adalah cerita mengenai Hari Inspirasi. Bersama panita penyelenggara lainnya, saya ditempatkan di SD Sosrowijayan yang difasilitasi oleh Mbak Galih dan Mas Farhan. Jam pertama, saya sempat mencari sarapan Soto Kudus depan Mall Malioboro bersama Mbak Fatimah, koordinator saya di Divisi Acara, dan Mbak Ajeng, koordinator Divisi Publikasi. Kemudian kami membeli kopi di Circle K titipan Mbak Galih. Jam kedua dan setelahnya, saya turun ke lapangan, bertemu dengan adik-adik dan guru-guru SD Sosrowijayan. Masuk kelas ke kelas, duduk di samping bapak ibu guru yang duduk di pojok belakang kelas, mengobrol ngalor-ngidul seputar pendidikan di mata mereka, sembari sesekali mengawasi anak-anak yang kadang terlalu bersemangat dididik oleh para relawan pengajar. Saya senang berada di tengah-tengah mereka, anak-anak dan guru-guru yang bersemangat, panitia yang bersemangat, dan bahkan saat melihat mata semua orang yang berpendar penuh kebahagiaan waktu itu.

Ada beberapa guru yang sempat kelepasan bercerita tentang kehidupan pribadi dan anak-anak mereka, saya dengarkan. Mayoritas memang sudah berumur, dan guru-guru macam ini senang sekali didengarkan keluh kesahnya, cerita-ceritanya, harapan-harapannya. Saya tidak menjawab, saya tidak menyanggah, saya tidak mencela apapun pendapat yang keluar dari mulut mereka. Bahkan untuk melakukannya pun saya tak sanggup, saya terlalu terpukau dengan cerita mereka yang memberi saya gambaran tentang betapa ikhlasnya para pahlawan tanpa tanda jasa ini melakukan tugasnya. 

Pun juga dengan anak-anak yang saya sapa pada hari itu. Berteriak-teriak, berlarian, tertawa-tawa, mengadu saat ada yang nakal... sungguh khas anak-anak. Beberapa bahkan menyalami saya dengan sebutan "Bu Guru". Mungkin karena kartu pengenal panitia yang saya gunakan waktu itu, saya dikira bagian dari relawan pengajar juga. Saya juga sempat duduk mendengarkan cerita mereka, ada yang antusias menceritakan cita-citanya, ada yang bercerita tentang keluarganya, namun ada juga yang malu-malu menjawab saat saya ajak berkomunikasi. Anak-anak tipe ini hanya menatap saya dengan tersenyum simpul, enggan untuk menjawab panjang-panjang, tapi enggan untuk pergi juga. Beberapa anak meninggalkan kesan tersendiri bagi saya. 

Tentang Menti, anak kelas 5 yang pendiam namun banyak senyum, yang ternyata (saya baru tahu belakangan dari laporan fasilitator yang saya terima) diamati secara khusus oleh para guru karena dijauhi oleh teman-temannya, mungkin karena terlalu introvert. Padahal, dengan saya, dia mau bercerita lumayan banyak tentang adik-adiknya, tentang sepeda kesayangannya, hingga bagaimana rutinitas setiap paginya. Ada juga tentang kakak beradik Vyan dan Elsa, yang memanggil saya "Mbak Princess" karena nama saya mirip tokoh tuan puteri di film Frozen. Juga Bunga yang bercita-cita jadi pramugari. Ketiganya saya temui di gerbang sekolah saat sekolah usai. Lokasi SD Sosrowijayan terletak di daerah wisata, area yang tidak sepenuhnya aman bagi anak-anak, dalam hal ini karena banyaknya orang asing yang berlalu lalang di daerah tersebut. Karena itulah, begitu bel sekolah berbunyi, saya bergegas menuju gerbang depan dengan maksud untuk menemani anak-anak yang belum dijemput orangtuanya. Vyan menceritakan mimpinya untuk menjadi dosen, dan karena saya melihat secara sekilas bahwa gadis kecil ini sepertinya cerdas, saya sedikit menekankan bahwa kita bisa menjadi apapun yang kita inginkan. Kerumunan gadis kecil itupun menyimak dengan baik tentang betapa pentingnya bagi kita kaum perempuan untuk menjadi hebat, terlepas dari apapun profesi kita nanti. 

Sungguh, betapa saya menaruh harapan pada anak-anak ini dan semua anak-anak di luar sana, untuk dapat ikut serta membangun bangsa ini melalui optimisme dan ketekunan yang dibangun sejak dini. Dan, jadilah, pada hari itu, bukan saya yang menginspirasi, tapi saya yang sepenuhnya terinspirasi. Oleh para guru, relawan, dan utamanya adik-adik SD Sosrowijayan, yang menyalakan lagi semangat saya untuk memperjuangkan bangku kuliah.

Ada banyak cerita lain yang tercipta dalam proses melahirkan Kelas Inspirasi Yogyakarta 2016: Kelas Inspirasi Yogyakarta di Negeri Serba Ada. Semua cerita itu ditutup dengan manis dalam Selebrasi kemarin Minggu, 7 Februari 2016 di Pendopo Wiyoto Projo, Kompleks Kepatihan, Yogyakarta. Pelukan dan jabat tangan haru, ucapan selamat atas kesuksesan, menutup hari itu dengan manis. 

Terima kasih kakak-kakak, telah menorehkan cerita baru dalam hidup saya. Untuk semua energi, semangat, doa, antusiasme, kerja keras, keikhlasan, dan ilmu. Untuk inspirasi yang disalurkan, dan juga dukungan untuk kuliah saya nanti, semuanya terlalu berkesan untuk dilupakan. Terima kasih banyak, saya pamit untuk Kelas Inspirasi 2017, tapi bantuan apapun akan selalu saya coba berikan demi tercapainya visi misi mulia kerumunan positif ini. Tetap setia mendorong semangat para siswa Indonesia.

Langkah menjadi panutan. Ujar menjadi pengetahuan. Pengalaman menjadi inspirasi.