Thursday, April 7, 2016

Kenapa Sebuah Negara Harus Punya Kaum Perempuan Yang Cerdas?

Sudah sekitar beberapa tahun belakangan pikiran saya sering dipenuhi dengan materi-materi gender, feminisme, kekerasan dalam rumah tangga, kesejahteraan keluarga, dan lain-lain. Pertama-tama perlu saya utarakan bahwa saya bukan seorang feminis. Saya tidak menyukai semua hal yang dilakukan secara berlebihan dan eksklusif: ekstrimis, feminis, sosialis, dan -is -is lainnya. Saya hanya melakukan apa yang saya anggap bermanfaat bagi orang banyak, tanpa perlu membeda-bedakan. Karena kadang semua hal yang berlebihan itu tidak baik dan tidak jarang menyinggung kepentingan kelompok berlebihan lainnya, menjadi awal mula dari kerenggangan dalam masyarakat.

Saya pribadi tidak setuju dengan feminisme yang berlebihan, sejatinya manusia diciptakan semuanya setara, tidak ada yang mendominasi atau menjadi minoritas. Pun juga menurut ajaran kitab suci beberapa agama, manusia perempuan pertama diciptakan dari tulang rusuk manusia laki-laki pertama supaya saling setara dan mengasihi, bukannya diciptakan dari tulang tengkorak atau bahkan tulang paha. Dapat diartikan bahwa kitab sucipun menggambarkan kesetaraan gender sedari awal.

Saya tidak setuju dengan feminisme yang berlebihan, dimana orang-orang menuntut agar perempuan diistimewakan dengan memberi akses-akses dan ruang-ruang gerak yang lebih luas pada mereka. Saya percaya, hak dan kesempatan baik diberikan pada mereka yang layak berdasarkan kapasitasnya, bukan karena jenis kelamin atau hal-hal fisik lainnya. Ketika ada yang mengusulkan untuk menambah kuota pekerja perempuan pada suatu bidang, saya terus terang kurang setuju. Kuota pekerjaan tidak ada hubungannya dengan jenis kelamin, karena jika seorang perempuan pantas mendapatkan akses tersebut karena kecakapannya, begitu pula dengan seorang laki-laki.

Makin bias saat manusia modern mulai memberi ruang bagi perempuan untuk parkir di tempat-tempat publik, memberi potongan harga bir di diskotek, layananan gerbong khusus perempuan, dan sebagainya. Perempuan cerdas akan mampu menghargai dirinya dan laki-laki terhormat tentu akan bisa menghargai perempuan. Tapi memang, akses-akses tersebut sepertinya masih dibutuhkan untuk saat ini karena edukasi mengenai kesadaran diri tersebut belum keras digaungkan.

Peran Ibu Kartini seringkali disalahartikan oleh kaumnya sendiri, utamanya di abad 21. Manusia perempuan berlomba-lomba mengatasnamakan "emansipasi wanita" untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan: kesejahteraan, posisi strategis di tempat kerja, bahkan di sektor politik sekalipun. Cuplikan "emansipasi wanita" mulai disalahgunakan justru dengan tidak lagi menaruh respek pada kaum laki-laki, atau bahkan kaum manusia lainnya. Kekerasan dalam rumah tangga tidak lagi ditemukan pada perempuan sebagai korbannya, tapi juga pada laki-laki. Pun mulai umum dibicarakan, istilah "Suami-Suami Takut Istri", merujuk pada kaum suami yang menganggap (atau dianggap?) dirinya tertindas dengan peran istri di rumah. Suami dan istri tidak lagi sebagai rekan satu tim, melainkan seperti bawahan dan atasan. Lalu, apa yang salah disini?

Coba bayangkan, jika negara ini kelak dipenuhi dengan perempuan saja dalam berbagai sektor, tanpa melihat kapasitasnya diletakkan dimana. Atau laki-laki saja. Atau transgender saja. Jelas tidak bisa, it won't work. Pertama-tama yang dilihat tentu kapasitas atau kompetensi yang memadai (tidak perlu muluk, kemahiran bisa dilatih).

Dan di post ini saya tidak akan bicara bagaimana caranya meningkatkan keahlian perempuan-perempuan agar bisa menguasai dunia dari berbagai sektor.

Saya hanya mau cerita, kenapa, dan bagaimana, agar perempuan mendedikasikan penuh pemikiran dan hatinya, hanya untuk hal-hal yang menjadi kebahagiaannya. Sangat tidak mungkin memaksakan semua perempuan masuk ke sektor politik pemerintahan. Pertama, ada kemungkinan beberapa perempuan akan merasa tersiksa karena bekerja di bidang yang bukan menjadi kesukaannya. Kedua, siapa yang akan mengisi jabatan-jabatan di bidang lainnya kalau semua bekerja di bidang politik? Siapa yang akan mendidik anak-anak bangsa? Siapa yang akan membantu menegakkan keadilan kaumnya?

Nah, tentu saja perempuan-perempuan akan bertebaran di berbagai sektor, dan bayangkan, jika mereka semua memiliki akal budi yang cerdas, apa yang akan terjadi? Ya! Kesejahteraan di berbagai sektor juga.

Jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2015 mencapai 252 juta jiwa, dan separuhnya berjenis kelamin perempuan. Andaikata semua perempuan mau dan mampu memberdayakan dirinya maupun lingkungan sekitarnya, tentu akan jadi perubahan yang signifikan di berbagai elemen. Saya percaya, kecerdasan seseorang tidak melulu diperoleh dari bangku sekolah, ataupun pendidikan formal lainnya. Cerdas bukan berarti pintar matematika atau berbahasa, cerdas bukan berarti pintar mengaji dan hafal ayat kitab suci, cerdas bukan berarti sekolah di luar negeri atau ikut kursus kesana-kemari.

Cerdas adalah tentang kemampuan berpikir dewasa dan jauh ke depan, menangkap ilmu baru dengan tanggap, dan semangat melakukan hal yang menjadi kesukaannya dan tentu bermanfaat bagi masyarakat. 

Kurang panjang? Wkwkwk. Jadi, menjadi perempuan cerdas di era modern ini ada susahnya dan ada tidaknya. Sangat gampang mengakses semua kepentingan pendidikan di internet jaman sekarang. Sekali dua kali klik, informasi bebas mengalir dari gawai kita. Yang menyulitkan, tentu karena umum sekali ditemukan godaan dan gangguan (distraction), kadangkali kita tidak fokus dengan apa yang sedang kita kerjakan. Menjadi perempuan cerdas bukan berarti kita harus bekerja di sektor formal, menenteng dokumen-dokumen kesana kemari dengan tas apik, memakai kacamata yang bertengger di hidung, atau mengenakan seragam kedinasan.

Saya setuju bahwa ibu rumah tangga dan perempuan karier sama-sama bisa disebut sukses, jika mereka mengerjakan tugasnya sepenuh hati. Efeknya luar biasa. Ibu rumah tangga akan mencetak generasi-generasi pembangun yang unggul, dan perempuan karier akan membantu memajukan bangsa di sektor formal.

Memberi makan otak tidak melulu melalui buku-buku pelajaran. Buku-buku pengembangan diri dan bahkan buku yang mengulas kegemaran kita, bisa jadi fondasi ilmu yang kuat. Tapi, saya pernah baca tulisan seseorang, memang kadang kita perlu membaca buku-buku lain di luar interest kita, semata-mata untuk memperkaya sudut pandang dan pengetahuan kita akan berbagai hal. Saya suka belajar ilmu diplomatik dan hubungan manusia, tapi di lemari saya bertengger juga buku fiksi remaja, buku resep, buku cerita misteri, komik, sampai ensiklopedia golongan darah. Terlihat inkonsisten? Tidak juga, justru saya akan menjadi lebih fleksibel saat berkomunikasi dengan orang dari berbagai macam elemen, berbekal ilmu yang pernah saya baca.

Mengasah kepekaan hati dapat dimulai dari hal-hal sederhana: pergi ke pasar, berinteraksi dengan masyarakat, bergabung dalam komunitas sosial, dan sebagainya. Semoga, kalau semua ibu memiliki kepekaan nurani yang tinggi, tidak akan ada lagi anak-anak yang mencontek di bangku sekolah, anak-anak yang tawuran, anak-anak yang lupa menaruh tata krama hingga membawa-bawa nama jenderal agar diloloskan dari sempritan polisi lalu lintas... Ya semua sederhana saja, karena ibu punya peran yang besar dalam membentuk karakter generasi yang mereka lahirkan. Buka mata dan pikiran dan hati akan segala ilmu, seperti Aisyah binti Abu Bakar, Ibu Kartini, Najwa Shihab, dan banyak perempuan hebat lainnya yang tekun belajar dan mengamalkan banyak ilmu.

Separuh penduduk berjenis kelamin perempuan, mayoritas sudah dan akan menjadi ibu, mustahil kalau peran perempuan bisa dipandang sebelah mata. Jika semua bahu-membahu meningkatkan kompetensinya masing-masing dan generasi yang dicetaknya, efeknya justru akan makin besar dan berlipat ganda. Jangan pernah, sekalipun, menerima pandangan orang bahwa, "Perempuan terlalu cerdas atau sukses akan ditakuti laki-laki". Perempuan yang memiliki level baik cenderung akan mendapatkan pendamping yang setara juga, dan jika akan beranak-cucu, keturunannyapun akan memiliki karakter kecerdasan yang sama (atau bahkan lebih). Mau berpegangan pada ayat?

“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik." (Qs. An Nur:26)

Yuk, kita berdaya, jadi inspirasi, dan bawa perubahan untuk lingkungan. Bukan untuk meninggikan diri di atas laki-laki, tapi untuk menyetarakan peran kita dalam masyarakat. Jangan jadi arogan dan minta diistimewakan. Kita sudah istimewa sejak lahir dan tidak perlu semua orang kita beritahu melalui kata-kata. Tunjukkan dengan sikap dan tindakan yang baik. Semangat berdikari, perempuan Indonesia! :)

Wednesday, April 6, 2016

Gimana Caranya Kuliah S1 di Prancis?


NOTE: Baca artikel ini dulu, in English, jangan malas ya ^^ http://www.thelocal.fr/20150918/2513

Haiiii, terima kasih masih setia menunggu tulisan saya yang bener-bener sesuka hati banget munculnya hahahah *pede banget*

Waktu saya nulis ini, dunia lagi kisruh bahas Ujian Nasional Berbasis Komputer yang (seperti biasa) bocor (atau sengaja dibocorkan), 10 WNI yang disandera di Filipina, sengketa Laut China Selatan yang ga tau akan selesai kapan, Uang Kuliah Tunggal beberapa perguruan tinggi yang (dianggap) makin mencekik asas kerakyatan, dan tentu saja bocornya Panama Papers. Aaaanddd... here I am. Masih berjuang sendirian di tengah-tengah kekisruhan-kekisruhan tadi, berjuang untuk tetap fokus, berjuang pakai kacamata kuda, karena kalau kebanyakan komentar, nanti justru urusan pribadi saya yang terbengkalai. Hahaha emang dasarnya perempuan banyak cakap :p

Jadi post ini saya memutuskan untuk sedikit cerita pengalaman saya mengenai studi saya besok, maaf mungkin yang berpikir tulisan saya akan membosankan, silakan buka post saya yang lainnya aja, tapi saya pribadi yakin sejuta persen kalau post ini pasti (semoga ya) membantu teman-teman yang berniat untuk memulai jenjang pendidikan tinggi di Prancis, sama seperti saya. Karena saya sendiri menemukan kesulitan yang lumayan banyak selama berproses ini, dan saya ga mau orang lain menemukan kesulitan yang sama dan kemudian urung untuk mengembangkan diri lebih maju lagi. Ingat, masalah dan tantangan bukan untuk dikeluhkan apalagi di-skip, tapi untuk dihadapi. Karena makin banyak tantangan yang kita terima, makin terbiasalah kita menghadapi ketidakpastian hidup, dan utamanya ketidakpastian hubungan sama gebetan. Iya. Serius ini.

Poin pertama. Kenapa saya mau kuliah di Prancis? Saya sepertinya udah pernah nulis hal ini tapi daripada pembaca nanti ribet cari-cari lebih baik saya tuliskan sekali lagi, toh tidak rugi apa-apa.

  1. Bosen dan penasaran. Ya. Berkutat dalam zona nyaman, melewati jalan-jalan yang sama, bertatap muka dengan manusia-manusia yang sama, melakukan rutinitas yang sama... Pernah bosen kan? Saya ingat betul waktu itu umur sekitaran SMP, di mobil antar jemput menuju ke sekolah di pagi hari, saya mikir, "Gila, bosen banget rutinitas kaya gini. Bangun pagi, mandi, sarapan, ke sekolah, pulang, lewat jalan yang sama, jam yang sama, lihat-lihat rumah dan pemandangan yang sama...". Dan intinya sejak kecil saya udah mikir, "Kapan saya bisa keluar dari zona nyaman yang memanjakan ini?". FYI, saya sekitar 12 tahun melewati jalur yang sama setiap pagi untuk menuju ke sekolah dari SD sampai SMA: Jl Kaliurang, ring road utara, Jl Gejayan, Jl Timoho. Karena almamater saya searah semua: SD Kanisius Demangan Baru, SMP Pangudi Luhur 1, dan SMA Negeri 8 Yogyakarta. Haduh, merem aja nyampe. Nah, mayoritas siswa di SMA melanjutkan studi ke sebuah PTN ternama nomor satu yang semua pasti udah tahu namanya, melahirkan banyak alumni hebat, salah satunya adalah Presiden RI ke 7 Bapak Joko Widodo. Saya awalnya pengen ambil studi Hubungan Internasional di FISIPnya, tapi saya pikir-pikir, kalo ada chance lain, saya mau coba dong...
  2. Studi disana ternyata murah, mudah, dan menyenangkan! Begitu sih, katanya Lembaga Indonesia Prancis yang masuk ke kelas saya di XI IPS waktu itu, dengan membawa secercah harapan dalam batin saya bahwa, "Kayanya ini nih takdir gue, Prancis!". Mewujudkan mimpi masa kecil, sebenarnya. Sewaktu SD sempet ada masa dimana saya ketika ditanya orang jawabnya, "Mau kuliah di Prancis!" "Caranya gimana, Dek?" "Ga tau, pokoknya mau ke Prancis!". (Dan mungkin semesta terbahak-bahak denger saya bilang gitu tapi mungkin juga dia suka sama anak-anak jadi mimpi gila salah satu anak gila di dunia ikut dia wujudkan. Makasih ya, Semesta!) Saya sempet lupa (dan dipaksa melupakan) mimpi itu karena yaa... memang belum punya info apa-apa waktu kecil itu. Akhirnya setelah LIP masuk dan menerangkan ini itu ngona nganu tentang studi S1 di Prancis, yang saya dengarkan dengan fokus hanya, "Studi di Prancis itu murah!", "Bahasa Prancis digunakan sebagai bahasa internasional!" dan tentu saja, "Bisa jalan-jalan keliling Eropa!". Nah makin berantakan lah isi otak saya, "Motivasinya terus gimana nih?". Tapi dengan informasi yang makin terkumpul, saya mulai fokus untuk memperbaiki nilai Bahasa Prancis dan Pendidikan Kewarganegaraan karena: saya ga pinter matematika, jadi sangat mustahil ambil ekonomi atau akuntansi. Saya ga suka panas-panas, jadi sangat mustahil ambil arkeologi atau antropologi. Saya ga suka menghafal jenis-jenis tanah, jadi geografi juga dicoret. Saya hanya suka: jalan-jalan, anak-anak, dan es krim! Ga tau juga kenapa saya mencantumkan hal yang terakhir, tapi jadilah pemikiran saya waktu itu (dan sampai sekarang): saya mau jadi politikus yang membela kepentingan anak-anak di seluruh dunia! Terdengar keren, tapi ternyata perjuangan di baliknya bikin saya sering bilang, "Aku pengen nikah ajaaaa! Aku pengen dijodohin ajaaaa!!" ke Ayah Bunda wkwk.
  3. Mereka bilang saya ga nasionalis, mereka ga tau aja saya punya misi yang lebih nasionalis daripada mereka yang mencemooh itu. Hahaha lebay! Tapi beneran. Mereka mikir, kuliah disini dengan pake barang-barang branded merk luar negeri adalah nasionalis. Saya pikir, kuliah disana dengan bawa barang-barang lokal buat nyebar virus Indonesianisme, adalah super nasionalis. Prancis, you're gonna say Bonjour to my batik bags ya! ;) Most of the perantau akan ngerasa kangen to the limit saat mereka jauh dari tanah airnya. Pas disini, mereka akan bilang, "Pemerintah ga becus! Macet mulu! Hotel dimana-mana! Mati lampu tiap hari! Mamah kok masaknya ini terus sih?" tapi pas di luar negeri, mereka bakal kangen berat sama hal-hal simple yang cuma bisa ditemui di tanah air, bahkan Indomie dan rokok pun terasa mewah kan disana?
  4. Orang punya otot sukanya nantangin, kalo saya sukanya ditantang. Bukan berantem! Tapi lebih ke, "What's next? Mau ngapain lagi abis ini? Mau pilih jalan unik yang mana?". Karena simply saya ga suka distandarisasi, saya ga suka dianggep biasa, saya ga suka melakukan hal-hal yang dilakukan banyak orang. Mau dikata gila juga terserah, toh saya ga pernah ngemis dibayarin sama komentator-komentator di luar sana. Ya ga? Kenapa mesti minder?


Yaaa, kayanya itu dulu sih, ntar kepanjangan banget postnya malah ga asik. Saya ga bilang bahwa kuliah disini tuh buruk, gimana mau bilang gitu orang temen-temen saya, keluarga saya, mantan-mantan saya (eh apa?), dan bahkan saya pun pernah punya cita-cita kuliah di dalem negeri kok. Tapi kalo anda tanya apa alasan saya, ya itu seperti yang saya bilang di atas. Kalo sampe ada yang mulai bilang saya songong lah, saya sok independen lah, saya sok sok anu anu anu lah, sini saya slenthik beneran mulutnya. Saya udah bilang, saya cuma memaparkan alasan ya, ga lebih. Biar pada termotivasi aja...

... ya kalo ada yang termotivasi sih, hiks.

Nextnya, saya mau jelasin step by step gimana cara kuliah di Prancis versi saya, ingat! Versi saya! Jadi kalo ada yang menemukan masalah pribadi yang beda di sela-sela step-step yang saya kasih, saya ga tau juga, secepatnya cek ke Campus France dan konsultasi sama kakak-kakak kece disana, saya bukan agen. Dan ini pengalaman tahun 2015 sampe 2016, saya lulus tahun 2015 dan daftar kuliah untuk intake 2016/2017.

Saya sebenernya udah pernah singgung sedikit di ASK FM saya, tapi di blog sepertinya emang belom pernah.

Jadi, di Prancis itu ada 3 jalur masuk universitas negeri, sama kaya disini, jadi kadang saya nerangin ke orang disini pake istilah SNMPTN, SBMPTN, sama UM juga hehehe.

Nah yang SNMPTN (fr: Centre √Čtudes France? lupa saya) udah clear syarat-syaratnya dari Maret lalu kalo ga salah, dan karena pilihan universitasnya ada 3, pengumumannya bertahap dari April, Mei, Juni. Semua diurusin sama pihak campus france sebagai agen resmi kemendiknas prancis (kalo di jogja di LIP sagan). Bayar IDR 2,500,000 untuk pendaftarannya

SBMPTN (fr: Admission Post-Bac) baru clear urus berkas kemaren akhir Maret karena semua pengiriman berkas kesana, diurus sama calon mahasiswanya. Pengumumannya mungkin akhir Mei. Ga bayar apa-apa kecuali buat ngirim berkas aja. Pakai DHL kira-kira IDR 600,000 per document. Nanti bebas pilih universitasnya dan berapapun jumlahnya, tapi ya itu konsekuensinya tanggung ongkir sejumlah berapa universitas yang kamu apply.

UM (fr: APB Complémentaire) teknis nya juga sama kaya SBMPTN (APB). Tapi pendaftarannya baru besok kira-kira Juni, hanya bisa diikuti sama yang belom keterima SNM/SBM.

Di luar 3 jalur itu, as always masih ada jalur untuk ke universitas swasta, yang emang sangat jauh lebih mehong daripada univ negeri yang biaya kuliahnya cuma 3juta rupiah per taun. Universitas swasta bisa sampe ratusan juta gitu deh tapi fasilitasnya emg beuh... mangstap. Oh iya, sering ada yang nanya, "Di Prancis ada beasiswa untuk S1?". Jawabannya, hampir ga ada beasiswa untuk universitas negeri, karena memang sudah sangat murah dan bahkan ada bantuan untuk tempat tinggal juga. Tapi, kalau universitas swasta kan emang mahal, beberapa menyediakan beasiswa kok. Dan jangan lupa kita punya tanah air tercinta yang bertujuan negara, "Mencerdaskan kehidupan bangsa", jadi asal ada kemauan pasti ada jalan. Jangan jadikan biaya atau waktu sebagai excuse karena saya tau itu hanya alesan buat membenarkan semua kemalasan.

Nah jadi, chance buat kita kuliah di Prancis itu super besar dengan jalur sebanyak itu apalagi anak-anak Indonesia itu dari kecil pressure buat belajarnya udah tinggi, dan outputnya ya lebih pinter2. #LogikaAsyana

Buat ke universitas negeri, selain dibutuhkan nilai UN dan Ujian Sekolah dan bahkan rapor dua tahun terakhir di SMA, kita harus banget punya kualifikasi bahasa Prancis yang memadai, sebut aja tes DELF, dimana kamu akan dilihat seberapa fasih berkomunikasi pakai bahasa Prancis. Ada empat tingkat: A1, A2, B1, B2, dan untuk selesai keempat level tersebut secepat kilat, saya gabung ke kelas percepatan yang cuma 8 bulan aja. Lesnya setiap hari, weekdays, sekitar 6 jam lah rata-rata per hari. Bosen? Jelas. Tapi untungnya ilmu yang dikasih semua bermanfaat banget, super bermanfaat buat kehidupan kuliah besok. Hopefully. Tes DELF susah nggak? Kalo males belajar, ya susah. Kuncinya cuma: latihan, latihan, latihan, tetapkan target. Saya selalu patokin target untuk setiap ujian: UN, DELF, IELTS, dan lomba-lomba apapun. Biar jelas tujuannya. Dan di kelas percepatan ini, semua biaya sudah tercover termasuk ujian-ujiannya, jadi saya pribadi merasa ini nggak bisa dibilang mahal-mahal amatlah. Waktu itu sekitar Rp 12.000.000 untuk 8 bulan pelajaran termasuk buku-buku resmi dan ujian 4 tingkat (Juli 2015). Karena saya udah dapet materi A1, saya masuk langsung ke level A2 dengan biaya Rp 9.000.000.

Untuk universitas swasta, saya dengan gila dan ga sadarnya apply ke salah satu institut politik ternama seantero Eropa, paling bergengsi di Prancis, dan kualifikasi yang diminta adalah kemampuan bahasa Inggris, karena memang mayoritas universitas swasta menggunakan bahasa Inggris untuk kegiatan belajarnya. Di universitas idaman saya itu, diperbolehkan ambil tes TOEFL iBT, IELTS, atau TOEIC. Saya waktu itu ambil IELTS dengan target band 7 di Real English ION'S karena yang di Celtics UII udah penuh. Biayanya Rp 3.200.000 (Maret 2016) dan sempet ikut persiapan IELTS super kilat cuma 10 jam dalam waktu 5 hari, jadi sehari 2 jam pelajaran. Persiapan IELTSnya di ELTI Gramedia dengan biaya Rp 1.450.000 untuk 10 jam privat (Maret 2016).

Hal-hal di luar hal akademis, yang perlu diperhatikan lagi adalah dokumen. Terjemahan dokumen ke Bahasa Prancis saya lakukan hanya dengan penerjemah tersumpah di Jakarta, Bapak Subandi. Waktu itu terjemah biasa kena Rp 100.000 per halaman jadi (November 2015), proses selama seminggu dan udah dikirimin hard copynya sekalian ke rumah via JNE, dan karena satu dan lain hal, saya terpaksa terjemahkan beberapa dokumen lagi dengan jasa terjemah yang ekspress seharga Rp 300.000 per halaman jadi (Maret 2016), prosesnya cuma 4 hari kerja. Apa aja yang perlu diterjemahkan? Rapor SMA 4 atau 6 semester, ijazah bolak-balik, nilai UN, nilai Ujian Sekolah, dan beberapa dokumen lain jika diperlukan (akta kelahiran, sertifikat kejuaraan, dll).

Jangan lupa juga urus paspor duluan biar lebih tenang. Dan datang sepagi mungkin kalau mau bikin paspor secara offline! Sumpah ya kantor imigrasi Jogja ga kira-kira banget antrinya. Dan mereka pun melayani sejumlah masyarakat aja, ga semua yang dateng terlayani. Kalo nomor panggilan habis, ya sudah, datang lagi besoknya. Tapi sistemnya sekarang sudah cepat dan praktis, ga rawan suap dan tilep sana-sini juga, karena pembayaran cetak paspor dilakukan di Bank BNI. Saya lupa kena berapa waktu itu awal 2016, sekitar Rp 350.000 ya kalau ga salah.

Masalah visa dan tiket pesawat saya belom paham juga detilnya akan seperti apa, karena saya harus tunggu Letter of Acceptance dari kampus dulu biar bisa proses keduanya. Sempet mampir ke Jogja Travel Fair untuk liat harga tiket, nemu Emirates bertengger di rate Rp 7.500.000 sekali jalan ke Charles de Gaulles, Paris. Menarik, tapi sayang waktu itu saya belum ada kepastian penerimaan kampus.

Saya sekarang lagi nunggu pengumuman IELTS (prosesnya hanya 13-15 hari dari hari tes, termasuk weekend) dan panggilan interview di Singapore dari institut politik itu, sementara kemarin udah dapet pengumuman dari jalur SNMPTN/CEF kalo saya udah diterima di pilihan pertama: hukum Universitas Lille 2.

Untuk reminder saja, waktu apply SNMPTN/CEF ke Universitas Lille 2: Ilmu Hukum dan Kesehatan, saya 'cuma' bekal ijazah ujian DELF level B1. Padahal, di web universitas tersebut tercantum (dan memang mostly, semua universitas negeri seperti ini juga) hanya menerima kualifiakasi B2. Waktu pendaftaran SNMPTN/CEF itu memang ijazah B2 saya belum keluar. Lalu kok bisa diterima? Saya sendiri kurang paham, tapi saya percaya banget sama pengaruh dari bagus atau tidaknya surat motivasi (motivation letter) dan CV. Meski saya belum punya ijazah B2, saya tunjukkan kalau saya punya niat kuat dan saya sebutkan alasan-alasannya, berikut disertai dengan surat keterangan dari LIP Yogyakarta kalau saya lulus B1 dengan nilai memuaskan (saya waktu itu A2 dapet 92/100 dan B1 dapet 83/100) dan akan ujian B2 pada Maret. Akhirnya, hari ini saya baru dapet kabar kalo B2 saya lulus dengan nilai 65/100. So bersyukur...

Gini ya. Ga ada yang mudah di dunia ini kalau memang kita mau semuanya worth it di akhir. Saya inget banget orangtua saya selalu bilang kalau semua yang berjuang mati-matian di awal, akan cenderung sadar diri pas udah berada di atas kelak, bahwa dia raih semuanya itu ga gampang. Hasilnya apa? Ya semoga aja akan jauh dari kata-kata mudah menyerah, korupsi dan suap, dan tentu akan hidup sederhana. Amin yaa..

Saya ga bilang perjalanan saya mudah atau menyenangkan seratus persen. Ada waktu dimana saya bener-bener pusing mikir tagihan, sementara toko saya hari itu ga rame-rame amat yang berarti rekening saya kosongggggg melomponggggg, pusing dikejar deadline dokumen, bosen belajar di kelas... Tapi saya inget banyak yang doain saya, dukung saya, bahkan bela-belain bantu saya banyak hal... dan untuk merekalah saya berjuang. Makasih banyak untuk semua guru saya di Delayota (Pak Munjid, Bu Ning, Pak Lilik, Pak Mardi, Pak Paidi, Mme Sani, Mas Anas, Bu Rindang, Bu Endar) dan Lembaga Indonesia Prancis (Mme Nirisa, M. Arya, M. Marc, Mme Nawang), tanpa mereka, saya ga bisa jadi seperti sekarang, saya ga akan berani kejar cita-cita saya, saya selamanya akan jadi katak dalam tempurung. Makasih terbanyak untuk orangtua saya yang akhirnya capek punya anak kaya saya makanya saya dibolehin ngapain aja suka-suka saya, mau kemana aja terserah, pokoknya makasih banyak karena selalu mencintai saya segimanapun saya ke Ayah dan Bunda, makasih udah percaya sepenuhnya sama saya. Dan untuk temen-temen yang mendoakan dan sediakan waktu untuk saya kapanpun saya butuh, yang selalu semangatin saya kalo saya lagi lemes, yang selalu kasih saya candaan dan selingan saat saya lagi capek-capeknya... makasih banyak semuanyaaaa!

Tahun lalu, bahkan sampai beberapa waktu lalu, saya ga pernah sangka hidup saya akan seperti ini. Saya ga tau apa itu Prancis, gimana caranya sekolah disana, apa itu DELF dengan nilai minimum 50, apa itu IELTS dengan band 7... Tapi saya mau tau, saya mau coba, dan semesta berkonspirasi bahu-membahu bantu saya dengan cara apapun, itu yang kadang bikin saya ternganga ga nyangka. Makasih banyak :)