Tuesday, September 13, 2016

Merantau ke Benua Eropa

Setelah sekian lama sekali tidak menulis, ternyata saya rindu juga! Begitu banyak cerita yang sebenarnya bisa disampaikan, terutama karena saya baru saja bermigrasi ke Benua Eropa, berikut masa-masa adaptasi yang juga terjadi, mungkin hanya saya alami sekali seumur hidup. Nuansa baru, relasi baru, pandangan dan pemikiran baru, sedikit demi sedikit hal-hal ini makin memperkaya pola pikir saya. Hidup di rantau ternyata tak selalu ada dalam frekuensi yang stagnan. Ada halang rintang, ada senang-senang. Semua lengkap saya rasakan, semua kejadian saya pahami betul-betul, agar kiranya dapat mengambil hal baik dan mengikhlaskan hal buruk demi waktu yang masih terus berjalan.

Merantau ke Benua Eropa bukan hanya sebagai perwujudan mimpi masa kanak-kanak, akan tetapi juga jadi sarana penyalur berkat dari dan bagi banyak orang. Keberhasilan sepasang kaki ini melangkah keluar dari Bandara Charles de Gaulle bukan hanya karena kerja keras Asyana semata, tapi juga orang-orang yang berada di belakangnya, yang selalu mendukung dan mendoakan agar semua jerih payah terbayar lunas, dan ya, alhamdulillah, memang terbayarkan lunas. Seandainya saja ada kata-kata yang mampu melampaui makna “terima kasih” untuk mengungkapkan rasa hormat dan dedikasi saya pada orang-orang terdekat, maka akan saya sampaikan tanpa main-main. Seandainya saja saya mampu membayar semua kebaikan mereka dengan seluruh hidup saya, pasti akan saya lakukan. Meski pada kenyataannya, hidup mati saya tak akan pernah sepadan dengan semua itu.

Merantau ke Benua Eropa menjadi sebuah awal dan akhir. Awalan untuk hidup yang baru, semangat baru, dan pembawa harapan bagi orang-orang di sekitar saya. Disini saya memulai semuanya dari titik nol, ketika ilmu saya masih jauh dari kata mumpuni, ketika kemampuan saya masih tak layak bersanding, mirip Andrea Hirata atau Bacharuddin Jusuf Habibie di awal masa perantauan mereka. Saya tak mengenal siapa-siapa, saya tak membawa bekal apa-apa, dan saya tak memahami medan mana-mana. Mempelajari banyak hal baru yang belum pernah saya ketahui sebelumnya, bukan hanya mengenai pelajaran di bangku kuliah, tapi juga mengenai kemampuan beradaptasi dan bertahan hidup. Mengemas waktu dan tenaga dengan sedemikian cermatnya, agar bisa menyeimbangkan berbagai macam kegiatan di kampus, pekerjaan rumah, hingga pekerjaan di luar rumah untuk mencari uang tambahan. Mengelola keuangan dan pola makan hidup sehat, menjadikan saya mau tak mau, suka tak suka, memelihara niat untuk memfasihkan diri dengan pola keuangan dan pola makan yang sehat, selain untuk kebaikan saat ini, saya harap kedua hal ini dapat juga menjadi investasi masa depan bagi saya dan anak-anak yang kelak saya lahirkan. Namun merantau sekaligus juga menjadi akhir dari segala masa kanak-kanak, dengan diiring doa agar saya bisa mengembangkan kedewasaan secara optimal dengan pergi jauh merantau. Dan hal tersebut benar adanya. Semesta tak lagi menyediakan waktu untuk bermalas-malasan, berkeluh kesah, ataupun melancong melepas lelah. Ketika tiba masanya untuk berjuang, semesta meminta untuk saya berjuang dengan sepenuh hati. Tak sekedar bekerja keras, tapi juga bekerja cerdas hingga tuntas. Memusatkan fokus hanya pada hal-hal yang pantas dipikirkan, tanpa perlu menjadikan hal lainnya sebagai beban.

Merantau ke Benua Eropa mengingatkan saya akan rumah, tanah kelahiran saya, tentang keluarga saya, teman-teman, dan hal-hal terbaik yang hanya saya temui saat saya pulang nanti. Betapa hangat rumah adalah hal yang menjadi kerinduan tiap manusia perantau, betapa makanan rumah adalah makanan paling mewah, dan bagaimana bayangan akan peluk hangat dari orang-orang terdekat menjadi penyembuh di kala kesepian mendera para manusia perantau. Rumah adalah penyemangat untuk terus berjuang dari jauh, agar kelak keberhasilan bisa mengantar saya kembali pulang.

Merantau ke Benua Eropa mengajak saya untuk menelisik lagi ke dalam hati, mengingatkan agar tak lupa akan tak pernah absennya orang-orang terbaik yang mau merelakan waktu mengontak saya, menelepon, menanyakan kabar, meski ada ruang waktu yang berbeda di antara kami. Saya kembali disadarkan bahwa saya dicintai, diperhatikan, dan diingat meski dari jauh. Kepedulian macam ini selalu berhasil menghangatkan hati saya, karena perasaan terbaik yang dapat dialami oleh manusia adalah saat ia menyadari bahwa ia dicintai oleh banyak hati.

Merantau ke Benua Eropa mencatatkan sejarah baru dalam hidup saya, cerita panjang tentang pembuktian terhadap diri sendiri, cerita panjang tentang mimpi yang berhasil menjadi nyata, cerita panjang yang kelak akan sangat berharga untuk diceritakan untuk anak cucu. Memang benar, saya dikuatkan oleh banyak pihak, dan saya sangat berhutang budi untuk itu, tapi kekuatan terbesar dalam diri manusia sesungguhnya ada dalam dirinya sendiri.

Ini cerita tentang saya dan cita-cita saya yang perlahan mulai terwujud, meski satu per satu dan tak diberikan serentak, karena nikmat bercita-cita adalah mengenai perjuangannya, prosesnya. Banyak hal yang dipelajari disana.

Mana ceritamu? :)


Bermula dari gambar Eiffel yang saya cetak waktu masih SMP, saya bawa kemana-mana, saya taruh di dompet, semata-mata agar saya ingat bahwa saya sedang memperjuangkan sesuatu. Dan berujung saat pertengahan Agustus kami saling bertatap muka untuk pertama kali secara langsung, setelah bertahun-tahun terkoneksi di alam bawah sadar. Pernah membayangkan bagaimana rasanya? Sangat magis, percayalah, kalian harus coba :)