Saturday, October 29, 2016

Toussaint Trip to Amsterdam (1)

Cerita perjalanan kali ini bermula dari akun Instagram program talkshow favorit saya Mata Najwa yang mengunggah poster Mata Najwa Goes to Netherlands, membuat saya waktu itu langsung pesan tempat tanpa pikir panjang. Ya iyalah, gratis dan pulang membawa banyak inspirasi, siapa yang tak mau? Sekali datang, langsung berjumpa dengan beberapa idola pula: Mba Nana, Kang Emil, Pak Ganjar, dan Prof Rhenald.






Lalu selanjutnya saya berburu tiket untuk pergi ke Amsterdam. Sebenarnya saya tak perlu berpikir terlalu jauh, sih. Sembilan puluh sembilan persen kemungkinan saya akan bertolak dengan bus, kecuali kereta api super cepat memberikan harga 10 euro sekali jalan yang mana kemungkinannya sangat kecil, ya satu persen sisanya itu, hahaha. Untuk bepergian selama dua kali ke Paris dan sekali ke Amsterdam kemarin, saya selalu menggunakan OUIBUS, dengan pertimbangan harga yang efisien bagi traveler nyambi mahasiswi seperti saya. Ada beberapa pilihan lain dengan rentang harga yang sama, seperti BlaBlaCar (menumpang mobil orang yang juga hendak bepergian ke tujuan yang sama), FlixBus, OUIBUS, atau isilines (armada milik perusahaan swasta sejenis Joglosemar atau Cipaganti). Ada juga moda transportasi lain seperti pesawat atau kereta super cepat. Demi alasan kenyamanan (karena buat saya, yang terpenting selama perjalanan adalah sleep a lot dan eat a lot untuk menghemat energi ketika nanti jalan-jalan di kota tujuan, yang jelas kurang nyaman kalau dilakukan dalam mobil orang lain), maka saya pilih naik OUIBUS yang ketika itu tarifnya paling murah dibanding pilihan armada yang lain. Tarif berangkat kena 19 euro dan pulang kena 15 euro.


Tiket berangkat
Tiket pulang

Perjalanan berangkat dan pulang ditempuh selama masing-masing enam jam dari Lille menuju Amsterdam, dengan beberapa perhentian: Anvers, Rotterdam, dan Amsterdam. Berangkat dan pulang, saya duduk di kursi paling belakang. Namun, karena bus lintas negara ini dilengkapi dengan koneksi WiFi (meski dibatasi hanya sampai 60 MB saja per gawai), colokan listrik, dan toilet (lengkap dengan tissue toilet dan wastafel), tak ada hal berarti yang dapat mengusik kenikmatan perjalanan jarak jauh saya. Kecuali faktor sesama penumpang yang terkadang memang untung-untungan: bisa satu bus dengan sesama penumpang yang mencintai ketenangan atau yang berisik, hehehe.

Hari Jumat dimana saya bertolak ke Amsterdam adalah hari terakhir saya kuliah sebelum libur musim gugur. Kami mendapat jatah libur nyaris dua pekan, atau lazim disebut Vacances de Toussaint. Selepas kuliah di pagi hari, saya bergegas pulang untuk mengambil barang-barang bawaan yang telah saya kemas semalam sebelumnya, dan berangkat lagi menuju Gare Lille Europe, tempat OUIBUS akan menjemput. Perlu perhitungan waktu yang cermat karena metro (sebagai transportasi utama saya di Lille) dan stasiun sedang lumayan sesak karena bukan saya saja yang hendak pergi berlibur.

video

Setelah perjalanan darat yang panjang (termasuk satu kali istirahat di daerah Breda, dimana kami bisa mampir di rest area yang ada McDonald'snya disana), akhirnya saya sampai juga di Amsterdam, tepatnya di Stasiun Sloterdijk, saat hari sudah mulai beranjak gelap. Beruntungnya, ada seorang teman yang menawarkan diri menjemput saya disana. Sebenarnya dia bukan seorang teman yang baru saya kenal, kedua orangtua kami telah saling mengenal sejak kami belum lahir, namun kemudian dia malah jadi adik kelas saya di SMP Pangudi Luhur dan SMA 8 Yogyakarta. (Sonja Moerbeek dan keluarga Moerbeek, terima kasih banyak telah menerima saya!). Sonja tinggal bersama temannya di Amsterdam, namun karena di saat yang bersamaan di Belanda pun sedang libur musim gugur, teman serumah Sonja menginap di rumah bibinya. Malam pertama sesampai saya di rumah Sonja, kami berbincang lama sekali hingga larut malam, kemudian beranjak tidur karena keesokan paginya kami ingin mampir ke Rijksmuseum dulu sebelum ke acara Mata Najwa On Stage.

Oh iya, untuk menuju rumah Sonja dari Stasiun Sloterdijk, kami naik kereta Sprinter yang harga tiketnya sekitar 3.50 euro untuk sekali jalan, lalu berlanjut jalan kaki hingga ke rumah. Daerah perumahan keluarga Moerbeek sangat tenang dan aman, namun suhu yang dingin membuat kami selalu bergegas saat hendak bepergian. Kebetulan saat saya bertandang ke Amsterdam, suhu berkisar antara 1 derajat hingga 8 derajat, lebih dingin dari Lille di waktu yang sama.



Pagi di hari kedua, kami berdua bangun kesiangan, hahaha. Mungkin karena malam sebelumnya kami tidur terlalu larut. Berencana untuk berangkat pagi jam 08.00, malah baru bangun jam 08.30, untungnya Sonja dan saya memang tidak grusa-grusu dan memang hanya berencana ke Rijksmuseum. Saya sarapan dengan roti tawar bermargarin (pain de mie au beurre) yang saya bawa dari rumah (setiap bepergian, saya selalu sedia air putih dan roti, banyak roti, dalam tas, sangat berguna untuk saya yang ingin berhemat dan selalu menjaga kesehatan agar asam lambung tak kumat), lalu bersiap-siap sambil tak lupa membawa hadiah yang ingin saya sampaikan ke Mba Nana.

Sebelum berangkat, Sonja dan saya juga menyiapkan sepeda yang akan saya pakai selama saya berkeliling-keliling Amsterdam, selain memberikan juga kunci sepeda, kunci rumah, dan kartu akses museum (Museumkaart) agar saya bisa berkunjung ke museum-museum secara gratis. Sonja berulang kali mewanti-wanti, "Pokoknya kalau bersepeda disini, berani aja. Karena disini banyak turis yang kadang juga tak hafal jalan, jadi kita harus percaya diri". Dan ternyata benar, pertama kali bersepeda di Amsterdam, lumayan agak kaget. Karena sama seperti orang-orang Prancis yang doyan jalan kaki cepat-cepat, para pengguna sepeda di Amsterdam juga mengayuh dengan kecepatan tinggi, tak jarang membunyikan bel jika ada pesepeda lain di depannya yang dianggap terlalu lambat (padahal menurut saya juga sudah lumayan cepat). Beruntungnya saya, karena sejak kecil sudah dibiasakan naik sepeda (dan sekarang jadi salah satu olahraga yang paling saya gemari), saya tak menemukan banyak kesulitan dalam mengayuh sepeda di kota Amsterdam. Lumayan puas juga, bisa bersepeda dengan kecepatan tinggi tanpa harus bersaing berebut jalan dengan pengguna kendaraan bermotor seperti yang sering membuat saya naik darah ketika bersepeda di Yogyakarta, karena di Amsterdam, para pesepeda diberi akses sendiri yang lumayan lebar.

Mampir pertama kali ke Rijksmuseum, kami berfoto dulu di depan tulisan ikon 'I Amsterdam' di Museumplein setelah memarkir sepeda. Di Rijksmuseum sendiri, ada beberapa lukisan ternama seperti Nightwatch karya Rembrandt, yang memang ketika kami berada disana, sedang dikerubungi banyak orang. Saya dan Sonja tak berkeliling ke semua bagian museum karena kami tak begitu paham mengenai seni, namun ada beberapa bagian museum yang menarik bagi kami, salah satunya adalah koleksi mengenai kebudayaan Indonesia disana. Meski tak asing lagi dengan akulturasi budaya Belanda dan Indonesia, namun melihat secara langsung sekelumit kisah mengenai bangsa sendiri di tanah orang lain, tetap menarik bagi saya.


De Nachtwacht (Nightwatch) karya Rembrandt Harmenszoon van Rijn, 1642

St Ursula and Her Handmaidens, 1525

Domestic altar with the Last Supper, 1550

The Marriage at Cana karya Jan Cornelisz Vermeyen, 1530


Eyewitnesses of Waterloo karya Jan Willem Pieneman, 1824

Five Javanese Court Officials,1820
Bahkan motif batik yang digunakan pun dilukis dengan detil.

Model of Javanese marketplace, 1830