Tuesday, November 22, 2016

Bahagia Itu Sederhana


Ada hal lucu-lucu, menyenangkan, hingga menegangkan yang terjadi selama saya tinggal sendirian di negara orang. Mungkin kuliah di negara lain buat kebanyakan orang adalah hal biasa, tapi buat saya yang kurus kering kerontang dan tak berbudget banyak, tentu jadi pembeda dari kebanyakan itu. Pernah saya disangka mau mengantar kakak oleh satpam kampus karena badan saya kan, ukurannya relatif mungil jika dibandingkan dengan teman-teman di kampus yang tinggi-tinggi. Lalu, bertahan hidup dengan budget kurang dari Rp 2.000.000,00 sebulan, untuk semua keperluan dapur, rumah tangga, langganan transportasi, dan alat tulis, saya yakin tak semua orang mampu, karena saya pun ngos-ngosan, hahaha... Tapi, bisa nggak? Ya dilihat saja sendiri, sejauh ini saya masih hidup kok, karena kuncinya: berkecukupan, bukan berlebihan.

Lalu, saya mau cerita tentang menjaga dan mengukur diri, nih. Seringkali, ketika saya berkomunikasi dengan teman-teman atau kerabat di Indonesia, mereka sering mengatakan, "Hati-hati, ya.", "Jaga diri, ya", dan sejenisnya. Dan kata-kata ini benar-benar saya usahakan untuk lakukan karena saya tak mau ada sesuatu terjadi dengan saya yang sudah pasti akan merepotkan banyak orang dan menimbulkan khawatir mereka yang berada dikejauhan. Nah, saya tak ingin hal ini terjadi.

Saat saya tertular flu atau merasa tubuh sedang tidak fit, atau saat saya kekurangan uang dan tak bisa makan layak selama seminggu, atau bahkan saat saya mengalami kedua kejadian itu bersamaan, saya usahakan untuk tak menceritakannya pada siapa-siapa. Karena ya, itu tadi. Daripada merepotkan dan membuat khawatir, selagi bisa ditangani sendiri dan masih mampu berjalan kaki, tak perlulah menceritakan apapun kepada siapapun.

Pernah saya jatuh sakit karena perubahan cuaca yang cukup signifikan, setelah berada dalam rumah yang hangat semalaman, keesokan paginya harus berangkat ke kampus dengan cuaca yang cukup buruk dan angin sangat kencang, ketika malam hari kembali ke rumah pun saya tumbang. Tenggorokan sakit, badan meriang, telinga berdenging... Tapi sayang sekali keinginan untuk makan lezat dan memulihkan tenaga terpaksa saya urungkan, setelah melongok ke dapur dan tak mendapati apa-apa disana, di pekan itu memang tak ada wacana berbelanja bagi saya karena di rekening hanya tersisa uang dengan nominal satu digit saja, hahaha. Memutar otak, akhirnya saya sadar bahwa kesehatan adalah yang utama, dan saya tak akan fokus belajar jika badan tak bugar dan perut kosong. Akhirnya saya membuka dompet, alhamdulillah masih tersisa 4 euro dalam keping-keping uang logam yang bisa saya pergunakan untuk berbelanja di Carrefour.

Ya, saya belanja di Carrefour kali ini bukan karena gaya (Carrefour terletak di mall), tapi karena disana tersedia pojok khusus buah dan sayur dengan harga ekonomis, semua di bawah 1 euro.

Saya memaksakan diri mengangkat tubuh (benar-benar seperti falsafah Jawa, "Ora obah ora mamah", "Tidak bergerak maka tidak makan"), dan berjalan kaki menuju halte metro untuk membeli bahan makanan yang sudah saya data dalam hati. Buah dan sayur.

Dengan uang 4 euro, akhirnya saya pulang menenteng tas belanja berisi satu kilo buah apel, satu kilo buah pir, satu kilo wortel, dan satu batang cokelat putih untuk teman belajar di rumah. Selesai belanja, saya bergegas pulang karena sudah terlalu lemas untuk mengelilingi mall.

Sampai rumah, karena masih ada beras, tahu, dan kecap, saya memutuskan untuk membuat nasi tim, dengan maksud agar tak begitu susah ditelan oleh tenggorokan yang sedang super sakit. Alhamdulillah lagi, saya tak pernah memasak dengan resep dan hasilnya tak pernah gagal.

(Sombong sedikit ya, karena toh hanya ini yang bisa disombongkan dari saya, hahaha.)

Akhirnya setelah menanak beras, menambahkan sedikit air agar nasi menjadi lebih lunak, mencampur wortel dan tahu dengan kecap dan garam, lalu membumbui nasi dengan daun bawang, kemudian mencampur semua bahan bersamaan, dan menambah keju emmenthal leleh setelah mematikan api... Saya makan dengan penuh syukur dan lagi-lagi membatin (seperti yang selalu saya rasakan tiap ada hal baik yang ditemukan di Lille, termasuk tiap saya mengicipi hasil masakan sendiri yang entah kenapa jauh lebih nikmat dibanding ketika di Yogyakarta dulu), "Alhamdulillah, semesta baik, bahagia itu sederhana..."

Kadang hal-hal remeh yang membahagiakan, yang saya temukan dalam berbagai himpitan situasi, membuat saya belajar jadi lebih sabar, dewasa, menghargai apapun wujud rejeki, dan mampu mengenali diri sendiri. Hahaha, kepedean. Ya, itu menurut saya. Tak tahu ya, penilaian orang seperti apa. Tapi yang pasti, saya mempelajari begitu banyak hal disini. Saya belajar menerima keadaan, meski kadang masih diselingi keluh kesah pada orang-orang terdekat, meski kadang saya masih suka marah-marah dalam hati, tapi saya sungguh beruntung diberi kesempatan memaksimalkan segala yang sudah diberikan semesta, meski tak sebanyak milik orang lain.

***


Terima kasih untuk Ayah Bundaku yang selalu mengajariku bertahan hidup dan mensyukuri apa yang ada, karena ketika aku dilahirkan dan kelak aku mati pun tak ada hal yang ku bawa selain kepribadian yang beriman, meski hanya sebesar sesawi.

Sunday, November 13, 2016

Asyana Bicara: Tantangan Kuliah di Luar Negeri

'And, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.' — Paulo Coelho

Kuliah di luar negeri? Siapa yang tak mau? Tak cuma ilmu dari perspektif berbeda yang bisa kamu dapatkan, tapi kamu juga akan menghadapi banyak situasi baru yang pasti akan membuatmu 'dipaksa' keluar dari zona nyaman. Karena tak mungkin dihindari, maka pertanyaannya sekarang adalah, siapkah kamu menghadapi tantangan-tantangan ini?

Tantangan #1: Kangen Indonesia!
Kelezatan makanan autentik Indonesia tak akan pernah tergantikan

Kalau dipikir-pikir, memang kesempatan kuliah di luar negeri tentu hanya akan diberikan pada mereka yang pintar beradaptasi. Aturan pertama: jangan manja atau cengeng soal perut, deh. Prinsip kami yang kuliah di luar negeri, sejauh makanan itu layak konsumsi dan bergizi (dan tak menguras kantong tentunya, hehehe), sikat aja! Tapi tak jarang ada yang rela memasak karena tak cocok dengan makanan setempat dimana dia kuliah, mungkin juga ingin berhemat, atau mungkin tak banyak pilihan kedai murah meriah untuk mahasiswa. Nah, situasi yang mengharuskan kita beradaptasi inilah yang kadang membuat rindu akan makanan Indonesia yang lezat dan kaya rasa, murah meriah pula! Oh God, rindu terberat itu adalah rindu pada nasi padang! Meski kadang ada ditemukan restoran Indonesia, percayalah, rasanya tak akan sama dengan yang aslinya.
Kerinduan lainnya, tentu akan kebiasaan-kebiasaan di Indonesia. Rindu keramahtamahannya, rindu kehangatan orang-orangnya, rindu ritual-ritual adat yang biasa dilakukan bersama masyarakat, rindu rumah... Rindu macetnya juga nggak, ya?

Tantangan #2: Ngomong Apa, Sih?

Duh, semoga dia ngerti, deh!

Karena mayoritas dari kita dibiasakan untuk lebih sering menyalin tulisan guru di papan dan menghapal teori pelajaran dibanding presentasi atau public speaking, kadang kita kesulitan mengumpulkan keberanian untuk berani speak up, unjuk diri mengungkapkan buah pikiran kita. Apalagi kalau berbicara menggunakan bahasa asing, aduh, pasti yang kepikiran nanti cuma satu: "Grammarnya bener nggak, ya?". Ketika kamu berada di luar negeri, kadang di keseharian, masyarakat setempat nggak akan mempermasalahkan tata bahasa sejauh omonganmu masih dapat dipahami. Tapi, berbeda dengan di dalam kelas, kita akan harus berjuang sedikit lebih keras untuk memahami perkataan dosen. Untuk mengakalinya, recorder menjadi penyelamat! Hati-hati juga saat presentasi, ya! Tugasmu bertambah: membuat dosen dan teman-teman memahami pelafalanmu yang acapkali tak sempurna karena mungkin ada logat bawaan, hihi.


Tantangan #3: Birokrasi? Oh, no!

Tagihan apa ya, yang belum dibayar?

Mandiri hidup sendirian di luar negeri berarti mandiri juga dalam mengurus berbagai kebutuhanmu. Tak cuma urusan kuliah, kamu pasti harus mengatur urusan tempat tinggal, biaya transportasi lokal, asuransi kesehatan, ijin tinggal, perbankan, dan lainnya. Kadang, sistem negara setempat yang sama sekali berbeda dengan di Indonesia bikin pusing tujuh keliling. Duh boro-boro, di Indonesia aja mana pernah ngurus ginian! Nah, justru hal-hal ini yang akan membuatmu menjadi dewasa dan terlatih dalam menangani berbagai urusan di sektor formal. Jangan sungkan untuk banyak bertanya, ya!


Tantangan #4: Do I belong here?

Next question: how to make friends?

Untuk yang pada dasarnya kurang suka berada di tengah keramaian, mungkin tak akan terlalu jadi masalah. Tapi untuk yang suka heboh-heboh lalu tiba-tiba kamu harus pergi ke negara lain, memulai hidup dari nol lagi, di tengah situasi masyarakat yang baru kamu kenal, duduk di kelas dengan teman-teman setempat yang pemikirannya sangat berbeda denganmu... Wah, siap-siap berubah drastis jadi pendiam untuk beberapa waktu! Kadang kamu akan mulai merasa berbeda dan sulit menemukan teman. Tak apa, tetap jadi diri sendiri, semua hanya masalah waktu, kok! Keterasingan itu hanya muncul dalam pemikiran kamu. Buka diri untuk semua peluang, bergabunglah dalam berbagai aktivitas, dan jangan lupa untuk menebar senyum!


Tantangan #5: Homesick? Timezone?

Thing can't be replaced: family

Meski kadang Ayah suka marah-marah, masakan Ibu kalah enak dibanding makanan di cafe, kakak dan adik hobi jahilin kita, ternyata rumah ngangenin juga hihihi. Itulah, kadang kita lupa mensyukuri apa yang kita miliki sekarang, dan baru akan kehilangan saat jauh, deh. Untungnya, jaman makin modern, kini ada beragam media sosial yang memiliki fitur video call sehingga kita bisa terus terkoneksi dengan keluarga atau pacar nun jauh disana. Selain itu, kita juga harus berdamai dengan zona waktu. Apalagi kalau kamu kuliah di Eropa atau Amerika, sementara keluarga atau pacarmu ada di Indonesia. Wah, harus pintar-pintar mencari waktu yang tepat untuk menelepon nih! Tak jarang salah satu pihak harus mengalah: bangun lebih awal atau tidur lebih larut, hihi semangat ya!


Tantangan #6: Rumah?

Pulang, enggak, pulang, enggak...

Setelah berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun kamu beradaptasi, akhirnya kamu akan mulai kerasan dan menemukan zona nyamanmu yang baru. Tapi kadang masalah tak selesai sampai disitu, pertanyaan selanjutnya malah akan menjadi, "Kangen Indonesia, nggak ya?". Wajar banget kalo kamu kepikiran, apalagi pasti ada banyak pihak yang tanya, "Pulang kapan?" atau malah menyarankan untuk tak pulang sama sekali. Beberapa pihak ini menganggap, negeri yang lebih maju tentu lebih liveable dibanding Indonesia, kamu pun bisa lebih berkembang, karya-karyamu lebih dihargai, apalagi yang akhirnya ketemu jodoh orang setempat. Tenang, godaan itu mengintai semua mahasiswa yang kuliah di luar negeri. Masalah mau kembali ke Indonesia atau tidak, itu adalah pertimbangan pribadi. Toh, dunia di jaman sekarang sudah borderless. Tapi yang harus diingat, Indonesia butuh kita! Jadi, dimanapun kamu berada, usahakan sumbangan tenaga dan pikiranmu tetap untuk tanah air tercinta, ya!

Thursday, November 10, 2016

Tinggal di Lille, Prancis: Studio

Memenuhi kebutuhan primer selama hidup di negara orang, kadang memang tak mudah. Ada beberapa tantangan tersendiri, utamanya saat menemukan kendala berkat adat istiadat yang berbeda antara di Tanah Air dan di tanah perantauan.

Jangan khawatir, jangan pernah. Jangan pernah biarkan tantangan-tantangan menjadi distraction untuk fokusmu.

Saya ingin cerita sedikit tentang pengalaman saya berburu tempat tinggal, bagaimana waktu itu sangat sulit mencari tempat tinggal yang cocok di hati hingga akhirnya saya super kerasan di tempat tinggal yang kini saya huni.

Sejak awal menyiapkan persyaratan administrasi untuk visa pelajar, saya hanya mencantumkan alamat hotel dan AirBnb sebagai tempat tinggal sementara sebelum mencari tempat tinggal tetap. Ya simply karena saya belum berhasil mendapatkan tempat tinggal yang cocok.

Di Prancis, kemudahan untuk mengakses informasi tentang tempat tinggal sebenarnya membuat kita bisa memesan tempat tinggal hingga sebelum keberangkatan. Ada beberapa jenis tempat tinggal yang biasa dihuni mahasiswa disini: apartemen (bisa berbagi tempat dengan mahasiswa lain), rumah (bisa berbagi tempat dengan mahasiswa lain atau ngekos dalam rumah penduduk lokal), studio (kamar yang berisi lengkap dengan kamar mandi dan dapur), dan asrama mahasiswa (ada yang disediakan oleh lembaga CROUS atau disediakan universitas untuk mahasiswanya). Sama persis seperti di Indonesia. Semua informasi mengenai pilihan tempat tinggal dapat kita akses melalui situs-situs tertentu, di antaranya:
Berbagi tempat tinggal dengan mahasiswa lain?
Biasa disebut dengan colocation, berbagi tempat tinggal bisa jadi alternatif karena menurut saya, kamu bisa belajar bersosialisasi dan berkompromi dengan orang lain, apalagi jika berbagi dengan mahasiswa asli setempat, bisa mengasah kemampuan bahasa juga, kan.

Ada hal lain yang perlu diperhatikan, mengenai garant. Ada beberapa pemilik akomodasi yang memberikan persyaratan bahwa kamu harus memiliki penjamin seorang warga negara Prancis, agar jika ada kerugian materiil terhadap akomodasi yang kamu sewa, bisa dibebankan pada yang bersangkutan. Saat seminar keberangkatan, Campus France mewanti-wanti untuk sebisa mungkin menghindari persyaratan garant ini, biasanya yang meminta syarat garant bukan pemilik pribadi, melainkan agen. Contoh agen yang sering saya lihat plang-plangnya di jalan: Foncia, ORPI, Côté Ville, Promovente, dan sebagainya. Mengenai tarif sewa pun biasanya dipatok lebih mahal.

Itu mengenai tempat tinggal privat atau swasta. Lalu dari pemerintah sendiri, mereka membantu mahasiswa melalui lembaga CROUS dengan menempatkan asrama-asrama mahasiswa (r
ésidence universitaire), mungkin universitasmu juga menyediakan fasilitas yang sama. Namun biasanya, meski harga sewa terbilang cukup murah, asrama-asrama ini diprioritaskan untuk menampung mahasiswa master atau doktoral, atau mahasiswa-mahasiswa penerima beasiswa. Pengajuan sewa asrama CROUS dibuka pada awal Januari dan ditutup pada akhir bulan Mei tiap tahunnya.

Oke, sekarang pengalaman saya. Saya orang yang sangat fleksibel, namun orangtua saya tidak. Mereka menganggap saya terlalu memandang remeh hal-hal yang menurut mereka penting, sementara saya sebenarnya hanya ingin menghemat waktu dengan langsung eksekusi (yang memang kadang merugikan kalau tak dipertimbangkan matang-matang). Pemilihan tempat tinggal sebenarnya sudah kami lakukan sejak jauh-jauh hari
 sebelum keberangkatan melalui situs-situs yang saya sebutkan tadi, namun tetap saja pada akhirnya orangtua tak merestui pilihan saya yang manapun dengan alasan, "Lebih baik lihat secara langsung", yang menurut saya sangat-sangat amat tidak praktis, karena kemudian, Ayah meminta Bunda untuk ikut mengantar saya ke Prancis karena beliau ingin Bunda bisa memastikan kalau tempat tinggal saya nantinya benar-benar seperti harapan.

(Harapannya. :p)

Tapi ya sudah, saya tak begitu mempermasalahkan hal itu karena toh yang penting kan, jadi berangkat, hahaha (euforia). Mbak Fitria dari Campus France Yogyakarta (yang membantu saya dalam buanyak hal, merci, Mbak!) pun menyarankan agar saya mencari tempat tinggal sementara guna keperluan data visa pelajar, apalagi keberangkatan saya sudah mendekati tanggalnya, tepat pada 13 Agustus. Bunda akhirnya sempat berikrar, "Tanggal 17 Agustus kamu sudah harus dapat tempat tinggal" agar semesta mendukung dan tak membuang waktu kelak di Lille. Bunda juga memesan kamar hotel untuk dua hari setelah kedatangan kami dari Indonesia, dan AirBnb untuk kami tinggali selama lima hari, yang jaraknya mendekati kampus saya, Universitas Lille 2.

(Tuh kan, kalau diantar seperti ini, saya akan cenderung jadi manja karena menyadari bahwa saya akan pergi bersama orangtua yang pasti selalu make sure everything's alright)

Begitu sampai di Lille, saya dan Bunda langsung berburu tempat tinggal, berbekal daftar incaran tempat tinggal, peta kota, dan akses internet seadanya, dimanapun kami bisa menemukan WiFi (waktu itu saya belum beli SIM card lokal). Setiap hari kami naik metro dan berjalan kaki mengelilingi pusat kota, mencari bangunan yang dipasang tulisan à louer (disewakan), bertanya pada agen-agen setempat adakah tempat tinggal yang bisa saya sewa tanpa adanya garant (dan semua menjawab, "Tidak ada"), bertanya pada orang-orang yang kami temui di jalan apakah mereka punya informasi mengenai tempat tinggal yang disewakan, pergi ke CROUS di ujung kota untuk menanyakan ketersediaan kamar (dan kembali pulang dengan tangan hampa karena sulit untuk mereka menyediakan kamar bagi mahasiswa sarjana tanpa beasiswa), hingga ada satu hari dimana kami benar-benar harus berhemat karena bekal uang menipis (sampai-sampai merasa sayang jika harus mengeluarkan uang untuk beli karcis metro meski harganya tak sampai 2 euro satuannya). Bunda waktu itu sampai mengatakan, "Hari ini kita harus jalan kaki karena tak ada uang lagi", dan benarlah kami sepanjang hari itu berjalan kaki hingga entah berapa kilometer jauhnya mengelilingi pusat kota Lille.

Sebenarnya, apa yang membuat saya sangat sulit mendapatkan tempat tinggal waktu itu?
Yang pertama, jelas. Kecocokan dengan tarif sewa. Saya sangat idealis dengan hal ini, awalnya bahkan saya mematok target tak lebih dari 250 euro untuk tarif sewa bulanan, yang mana ternyata sangat mustahil. Kedua, akses dengan fasilitas publik termasuk juga tempat perbelanjaan dan halte. Ketiga, jarak dengan kampus. Keempat, lingkungan sekitar tempat tinggal. Lille, mirip seperti Yogyakarta, dihuni oleh beragam jenis penduduk. Disini ada banyak sekali mahasiswa pendatang dan imigran dari negara-negara yang sedang berperang. Itulah mengapa, faktor keamanan menjadi prioritas orangtua saya.

Akhirnya tiba juga tanggal 17 Agustus 2016, saya tak begitu ingat dengan ikrar Bunda saya, sebenarnya. Namun ketika akhirnya saya melihat sebuah iklan di situs Appartager, dengan kriteria-kriteria yang memadai seperti keinginan saya, saya langsung tahu, "This is it".

Sore di hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia, saya dan Bunda mampir menuju alamat yang diberikan oleh pemilik, yang sudah saya kontak sebelumnya. Ternyata tempat tinggal ini terletak di atas toko roti, berupa studio (kos-kosan, kalau di Indonesia), dan merupakan bangunan baru dengan dinding yang dicat bernuansa merah muda! Harga studio yang saya taksir relatif murah, 300 euro per bulan (belum termasuk potongan bantuan tempat tinggal dari pemerintah melalui lembaga CAF) untuk kamar seluas 12 meter persegi, dengan perabotan lengkap, fasilitas listrik, pemanas, dan air. Istilahnya, saya tinggal bawa badan saja, hehehe. Bapak pemilik dan bapak penjaga kost sangat teramat ramah dan welcome, tercermin dari fisik bangunan dan studio saya yang terawat, nyaman, bersih juga, fasilitas dalam studio mulai dari kasur, bantal, hingga panci dan peralatan makan pun sudah tersedia lengkap.

Teman-teman dalam satu kost (yang sangat multi etnis; ada orang India, Tiongkok, Rusia, Amerika, Turki, selain saya yang orang Indonesia) juga saling menghargai, sadar diri untuk tak membuat keributan yang berarti. Ada 15 kamar disini, terdiri atas tiga lantai, kamar saya di lantai pertama di atas toko roti (yang setiap pagi selalu menjadi tantangan tersendiri untuk saya karena bapak ibu pemilik roti sangat rajin, sudah mulai memasak sejak pukul lima pagi, menguarkan bau harum adonan ke seluruh penjuru kost).

Saya senang disini? Tentu! Meski pada awalnya, kakak-kakak PPI Nord Pas de Calais mengatakan bahwa daerah sekitar tempat tinggal saya rawan keributan, sejauh ini saya sangat menikmati hari-hari disini karena kekhawatiran mereka tak terbukti (semoga tak akan pernah, hehehe).

Fasilitas kamar studio yang lengkap membuat saya kerasan, apalagi perabotan dapur juga sangat memadai: microwave, kompor listrik, kulkas, ketel listrik, panci-panci, piring-piring, sendok, garpu, pisau, lemari penyimpanan makanan, semua disediakan Bapak Kost, membuat saya jadi gemar memasak semenjak tinggal disini, hehehe.

Jarak kost dengan halte metro pun hanya 100 meter jalan kaki, di dekat kost pun ada pasar dadakan yang rutin buka tiap minggu, warung kelontong seperti di Indonesia (keluarga penjual yang asli Maroko pun sudah hafal dengan saya, hahaha), dekat dengan gereja, dekat dengan halte bus, terletak di seberang kantor administrasi desa, tak sampai 200 meter menuju bank dan kantor pos, dan kawasan restoran cepat saji seperti Pizza Hut dan kebab. Mau ke kampus, mall, atau pasar gede pun hanya 10 menit dengan naik metro.


So livable. So grateful...

Tinggal sendiri dalam studio membuat saya jadi lebih mandiri dan mengerti kapan saatnya membersihkan kamar, mencuci baju dan piring, membuang sampah (karena truk sampah hanya lewat pada hari tertentu), ya intinya jelas jadi lebih mandiri dan berusaha makin mengatur hidup.






Monday, November 7, 2016

Asyana Bicara: Ilmu Parenting

Bukan karena sebagai seorang perempuan saja, lalu saya memiliki concern pada bidang tumbuh kembang anak dan remaja, namun juga sebagai seorang mahasiswi yang bercita-cita untuk kelak ambil bagian dalam diplomasi kenegaraan. Jauh sebelum saya menemukan keterkaitan antara dua bidang ini, saya terlebih dulu dicekoki beragam pengetahuan mengenai dunia anak dan remaja oleh lingkungan sekitar saya, mengingat Ibu saya adalah seorang ibu rumah tangga sekaligus wanita karier, yang berarti memiliki dua sudut pandang berbeda sebagai seorang perempuan, yang beberapa pemikiran dari kedua sudut pandang tersebut sering diceritakannya pada saya sebagai anak perempuannya. Mirip seperti kalimat mutiara,
When you teach your son, you teach your son's son. (The Talmud)
Karena beliau percaya, perempuan mengemban tongkat estafet pendidikan generasi penerus baik dalam keluarga maupun dalam masyarakat, yang tentu akan berdampak dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Terlihat terlalu 'wah', tapi prinsip saya, sama seperti yang dikatakan Johnetta Cole, seorang antropolog perempuan berkebangsaan Amerika Serikat,
When you educate a man, you educate an individual. When you educate a woman, you educate a whole family.
Sementara pengetahuan di bidang ilmu sosial, politik, hukum, dan hak asasi manusia yang menjadi concern saya lainnya, saya dapatkan dari beragam lapisan masyarakat. Entah melalui perjumpaan dengan kawan-kawan semasa sekolah (yang mayoritas memilih ilmu sosial sebagai bidang studi lanjutan mereka di perguruan tinggi), menyimak perbincangan kedua orangtua saya di meja makan (mengingat mereka sangat terbuka dan obyektif dalam berpendapat), hingga ketika saya masih tinggal di Yogyakarta dan hampir tiap bepergian selalu naik kendaraan umum, seringkali mendapat cerita atau curhat dari bapak sopir taksi, bapak pengemudi ojek, tukang becak, dan lain-lain. Berbagai sudut pandang mengenai ilmu sosial ini memperkaya pemikiran saya dan membuat saya makin penasaran, bagaimana caranya mengurai keruwetan birokrasi yang telah diwariskan turun temurun dari pemerintahan dan kebiasaan masyarakat di kurun waktu sebelumnya.

Hingga akhirnya saya berulang kali diusik oleh pemikiran yang sama: kuncinya ada pada andil generasi penerus. Lalu, siapa yang menyiapkan generasi penerus ini nantinya? Karena saya seorang perempuan, saya berani menjawab, "Perempuan dan Ibu di masa kini". Melalui apa? Ilmu parenting.

Perkembangan suatu negara tak lepas dari ilmu pengasuhan dan pendidikan anak atau yang lazim disebut dengan ilmu parenting, yang semestinya diketahui meski secara mendasar, oleh orang-orang dewasa yang ingin memiliki buah hati. Memang benar, ilmu tak pernah sepenuhnya kita didapatkan dari bangku formal, begitu juga dengan ilmu parenting, yang justru pembelajarannya akan terus berjalan hingga buah hati menjadi manusia dewasa nantinya. Namun, saya pikir kesiapan orangtua akan tercermin dengan kemauannya mempelajari ilmu parenting sebelum memiliki buah hati, mengingat seorang anak (semestinya) bukanlah sekadar ahli waris atau penerus keturunan, namun juga individu yang memiliki hak dan kewajiban sejak dari dalam kandungan. Memiliki buah hati bukan hanya menjadi kebanggaan, namun di dalamnya juga terkandung tanggung jawab seumur hidup. Saya tak hanya bicara mengenai agama (yang mayoritas menyebutkan bahwa buah hati adalah tabungan dunia akhirat bagi orangtuanya), namun juga tanggung jawab moral terhadap dunia. Anak akan menjadi warga dunia, baik buruk perilakunya akan mempengaruhi kehidupan di dunia, bahkan efek rumah kaca, krisis ekonomi dunia, kejahatan-kejahatan internasional, dan perang pun, saya rasa muasalnya dari kelalaian keluarga dan orangtua. Jika pendidikan dan tumbuh kembang anak dalam keluarga dapat selalu dipertanggungjawabkan oleh orangtuanya, maka bukan tak mungkin perdamaian dunia tercapai.

Terlalu berat? Hahaha, sayangnya, itu realita yang ada. Jadi, dikira menjadi orangtua itu mudah? Tak juga, kan. Tak hanya perkara merencanakan program memiliki anak, lalu mampu menyekolahkan anak, memberinya makanan bergizi, lalu beres. Tapi tenang, tak pernah ada orangtua yang sempurna di dunia ini, manusia adalah makhluk yang hakikatnya terus belajar, kok.

Jadi, menurut saya, ketika kita berbicara tentang anak, kita bicara mengenai dua hal. Yang pertama adalah optimisme mengenai masa depan bangsa. Hal yang paling menggembirakan dalam hidup saya, adalah realita bahwa saya dilahirkan pada era dimana ilmu pengetahuan dan teknologi sedang berkembang dengan pesat-pesatnya. Ada banyak celah yang bisa dimanfaatkan oleh generasi penerus untuk mengembangkan minat dan bakatnya. Karena, seperti yang diceritakan oleh orangtua saya, pada jaman mereka dulu tak banyak yang bisa dilakukan untuk mengembangkan diri secara maksimal jika mereka terbentur oleh situasi pada saat itu, entah karena faktor ekonomi maupun politik yang cenderung belum stabil. Namun kini, hidup seakan tak memiliki batas. Entah apapun ragam profesi dan dimanapun keberadaannya, generasi kini semakin mungkin untuk mendobrak batas-batas yang menghalangi pengembangan dirinya, semua hanya masalah kepandaian untuk mencari celah dan memanfaatkan peluang. Di kota kelahiran saya, Yogyakarta, kini ada banyak sekali manusia kreatif yang berkumpul membentuk komunitas-komunitas dalam berbagai bidang: pendidikan, kesehatan masyarakat, bantuan hukum, pelestarian seni dan budaya, dan lainnya. Tak hanya di Yogyakarta, di kota-kota lainnya di Indonesia, bahkan di seluruh dunia, mulai keras digaungkan komunitas yang berbasis pada kaki-kaki kerakyatan, dan lebih jauh ada pula sistem ekonomi yang menggerakkan seluruh lapisan masyarakat mulai dari hulu hingga hilir, salah satunya adalah sociopreneurship.

Selain itu, ada pula peluang-peluang untuk mulai menapakkan kaki di dunia internasional dengan jauh lebih mudah dibanding pada jaman generasi-generasi sebelumnya. Tak seperti jaman Bapak Bacharuddin Jusuf Habibie, yang sewaktu melanjutkan kuliah di Jerman sarat dengan perjuangan yang tak hanya melingkupi permasalahan akademis tapi juga kesulitan dalam komunikasi dengan keluarga di Indonesia atau bahkan tekanan untuk tetap bertahan hidup dalam situasi finansial yang tak selalu menjanjikan. Kini, peluang makin terbuka untuk para mahasiswa dari berbagai bidang, tak hanya ilmu sains dan teknologi, tak melulu harus selalu jadi nomor satu. Yang tak terpintar pun mampu, karena penting adalah mau. Pemberi beasiswa kini tak hanya melihat IQ atau nilai teori pada kertas, namun juga kemampuan mengembangkan diri dan kemampuan sosial komunikasi si calon penerima beasiswa. Karena manusia modern makin menyadari, tak bisa seorang individu dianggap cerdas mutlak atau bodoh mutlak hanya melalui satu bidang ilmu saja. Manusia-manusia modern juga mulai mengerti, bahwa tolok ukur sukses tak selalu mengenai jabatan. Dulu, sedari jaman kakek nenek dan orangtua saya, yang paling dianggap sukses adalah para pegawai negeri sipil: dengan gaji yang selalu cukup dan kelak adanya dana pensiun. Namun kini, arti sukses makin melebar, memasuki ranah passion dan kebahagiaan individual yang dulu jarang sekali digarisbawahi.

Namun selain optimisme, timbul pula dalam hati saya sebuah kekhawatiran, utamanya mengenai sistem yang telah berjalan saat ini, baik yang dapat ditemukan dalam pemerintahan maupun kebiasaan dalam masyarakat. Kekhawatiran ini muncul ketika banyak anak muda yang belum mampu memanfaatkan peluang-peluang yang saya sebutkan di atas tadi untuk kebermanfaatan bagi diri sendiri maupun sekitarnya, namun malah justru melakukan hal-hal yang merugikan, membuang waktu, dan sebagainya.

Saya yakin sejuta persen, anak-anak itu seperti sponge. Mereka menyerap ilmu dengan cepat dari lingkungan, utamanya tentu orangtua atau keluarga, yang pertama kali mengajarkan mereka untuk menjadi baik atau tak baik.

Orangtua atau keluarga, tak melulu mengenai hubungan darah (yang sering digambarkan sebagai keluarga bahagia: Ayah, Ibu, kakak laki-laki, dan adik perempuan, hahaha klise betul!). Karena sudah kerap kita mendengar kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang tak hanya melibatkan pasangan orangtua tapi juga dari orangtua kepada anak yang sedarah. Tentu sangat mencederai peran keluarga pada dasarnya: sebagai pelindung dan pemberi kasih sayang pada masing-masing anggota.

Lalu, siapakah orangtua yang saya maksud?

Yang pertama tentu mereka yang memiliki hubungan batin terdekat dengan si anak. Hubungan batin. Kebersamaan. Kehangatan. Hal-hal ini akan membentuk karakter anak menjadi penyayang dan pemerhati, bukan tak mungkin akan membuatnya peka terhadap lingkungan sedari dini; sifat manusia yang dibutuhkan oleh dunia akhir-akhir ini. Mereka yang memiliki hubungan batin terdekat dengan si anak (entah orangtua kandung, orangtua angkat, orangtua asuh, wali, ibu pengelola yayasan panti asuhan, ibu pengelola panti rehabilitasi, you name it) bertanggung jawab paling utama dalam pengembangan karakter anak. Yang menentukan apakah pertanggungjawaban ini dilakukan dengan baik, akan tercermin nantinya pada si anak saat ia memasuki lingkungan masyarakat: saat dia mulai memeluk keyakinan, saat bermain dengan teman sebaya, saat berkomunikasi dengan beragam lapisan masyarakat, dan sebagainya. Jadi, jika basic morals telah didapat dengan baik dari keluarga, anak tak akan mudah terpengaruh kualitas buruk dari lingkungan masyarakat sekitar (bukan tak mungkin, hanya lebih memiliki tameng yang lebih kuat). Tapi jikalau pondasi awal dari keluarga tak kokoh, menurut saya, anak akan jadi lebih mudah mendapatkan pengaruh dari dunia luar, entah itu baik maupun buruk.

Lalu, siapa lagi pihak yang memiliki tanggung jawab sebagai orangtua?

Kita semua.

Ya, kita semua.
Saya masih single, masih berumur 19 tahun, belum (ingin) menikah, masih jauh dari prestasi-prestasi cemerlang, tapi saya adalah orangtua bagi anak-anak di seluruh dunia. Anda mungkin seorang wanita karier yang tak pernah memikirkan untuk hidup berkeluarga, tapi terimalah kenyataan, anda adalah orangtua bagi anak-anak di seluruh dunia, sama seperti saya. Anda mungkin seorang Ayah dengan lima orang anak, tapi anak-anak di seluruh dunia juga anak anda, lho, sadarkah? Halo, teman-teman mahasiswa yang mungkin sedang baca post ini, kalian juga sudah menjadi orangtua lho, bahkan sebelum kalian menyelesaikan skripsi, sadarkah?

Kita adalah orangtua bagi anak-anak di seluruh dunia...
Mereka melihat apa yang kita lakukan.
Mereka menyimak segala yang kita katakan.
Mereka meniru semua yang kita perbuat.

Lalu, apakah yang telah kita lakukan, kita katakan, dan kita perbuat itu layak mereka jadikan panutan? Atau kita, sebagai orangtua, masih terlalu egois memikirkan dunia ini milik kita seorang, generasi kita, dan orang-orang kita, tanpa pernah kita sadari bahwa dunia kelak akan diestafetkan pada mereka generasi penerus? Anak-anak kita?

Jaga perkataan, jaga perbuatan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya.
Ingat,

Kita semua adalah orangtua.

Jika tak mampu mendidik, setidaknya jangan merusak.
Jika tak mampu ikut bertanggungjawab, setidaknya jangan mencela.
Jika tak mampu berbuat baik dan menjadi panutan, lebih baik diam.



Lille, 07 November 2016
11:26 PM