Wednesday, November 22, 2017

Kenapa Saya Tak Percaya Perselingkuhan, dan Pencurian

Meski berulang kali mencoba untuk memproteksi diri dari berbagai konten negatif yang ada di media massa, terkadang saya gagal juga dan masih bisa membaca beragam tulisan yang sebetulnya tak ingin saya baca, salah satunya adalah mengenai pemberitaan skandal perselingkuhan seorang artis berinisial JD dengan laki-laki yang telah berkeluarga. Saya rasa saya tak perlu menceritakan lebih jauh dan detail mengenai kejadian tersebut, karena sebagai manusia, saya tak pernah tahu duduk perkara yang sebenarnya.

Tapi sejujurnya, saya tak pernah percaya dengan konsep perselingkuhan, maupun pencurian. Dan juga "malapetaka-malapetaka" sejenisnya.

Buat saya pribadi, kita terlahir telanjang dan ketika nanti mati pun telanjang, sendirian tanpa teman, tak membawa apapun. Hal ini berarti kita sebetulnya tak memiliki apa-apa yang bisa kita anggap sebagai "kepunyaan". Semua murni pinjaman.

Pemikiran tersebut saya pahami sebagai dasar untuk selalu bersikap lila legawa, menerima segala baik buruk, untung malang, dan segala hal yang terjadi atas diri saya. Saya percaya bahwa semua yang terjadi di bawah matahari pasti memiliki masa, memiliki waktunya sendiri-sendiri. Semua hanya perkara tunggu giliran saja.

Masalah jodoh atau pasangan hidup pun demikian. Kita tak akan pernah bisa memiliki seseorang seratus persen karena, ya itu tadi, we never own anything. Ketika masanya selesai, dan sudah waktunya bagi si pasangan hidup untuk beranjak dari kehidupan kita, apa kita bisa mencegah? Tentu tidak, semua punya garis waktu yang berbeda yang harus dijalani, sekalipun itu orangtua kita, saudara kita, sahabat terdekat kita. We can't control someone else's life.

Cara seseorang untuk beranjak dari kehidupan kita pun bermacam-macam. Kematian, perceraian, perselingkuhan, perselisihan, dan sebagainya. Semua itu hanyalah "jalan" untuk menunjukkan bahwa memang sudah saatnya untuk bertumbuh ke arah yang berbeda. Inilah yang saya pahami dari petuah Ibu saya di masa kecil, bahwa putus cinta atau perceraian bukanlah sesuatu yang sebaiknya ditangisi. Setiap manusia berhak untuk bertumbuh dan berkembang, tiap saat pasti menemukan pemikiran segar yang bisa mengubah jalan hidupnya, dan kita tak boleh menghalangi seseorang untuk menemukan dirinya, bukan? Daripada kita saling menghambat pertumbuhan satu sama lain, tentu lebih baik jika kita saling menyingkir. Menyingkir dengan ikhlas adalah bentuk pendewasaan ego yang paling luar biasa, menurut saya.

Seperti misal kita adalah dua tanaman kecil yang ditanam dalam satu pot, kelamaan kita akan membutuhkan ruang yang lebih besar untuk bertumbuh. Jika tak mau selamanya menjadi tumbuhan yang kerdil dan mengganggu satu sama lain, tentu kedua tanaman tersebut harus dipisahkan untuk tumbuh dalam dua pot yang berbeda, dengan begitu pertumbuhannya akan optimal, bahkan mungkin bisa menghasilkan sesuatu yang lebih dan lebih lagi, seperti buah-buahan atau bunga-bungaan.

Begitu juga dengan rejeki, saya percaya semua adalah pinjaman. Seperti kelompok orang Samin, yang menurut literatur yang saya baca (Samin: Mistisisme Petani di Tengah Pergolakan) sebagai salah satu karya terjemahan Ibu saya, yang diceritakan seringkali meninggalkan rumah mereka tanpa perlu mengunci pintu.

Di mata saya, ini adalah konsep faith, konsep lila legawa yang sesungguhnya.

Tidak ada hal yang menjadi milik kita di dunia ini, untuk itu saya tak percaya pada konsep perselingkuhan dan pencurian. Kalau jodoh atau rejekinya memang harus ditemukan lewat jalan itu, apa kita bisa menengahi takdir?

Dan lagipula, saya jengah dengan segala macam pemberitaan yang menyudutkan para perempuan atau laki-laki simpanan, seolah-olah selingkuh hanya dilakukan oleh satu pihak saja.

Tuesday, November 21, 2017

Cerita Hari Ini

Hampir lima tahun sudah saya mempelajari seluk beluk plant-based food dan alasan di baliknya tentu karena permasalahan lingkungan yang kompleks, termasuk untuk "membayar" rasa bersalah akibat animal cruelty dalam industri yang saya gerakkan.
Semoga suatu saat bisa sepenuhnya meninggalkan produksi kulit. Secepatnya.
Sedari kecil, saya memang pecinta hewan, keluarga membiasakan anak-anaknya untuk menghargai makhluk hidup dan alam raya. Bung Karno, yang sedari dulu saya idolakan pun, memiliki welas asih yang luar biasa pada hewan, bahkan sewaktu kecil beliau pernah secara tak sengaja menyenggol sarang burung di atas pohon dan mau memungut serta mengembalikannya lagi sembari meminta maaf pada induk burung yang malang. Kisah ini diceritakan pada Cindy Adams melalui Penyambung Lidah Rakyat. Di lain waktu, Bung bahkan berujar bahwa untuk menepuk nyamuk pun ia tak tega. Mungkin hal ini didasari oleh latar belakang keluarganya yang beragama Hindu.

Selain karena alasan lingkungan, anti penyiksaan hewan, dan bahkan ilmu yang saya pelajari dari guru-guru Buddha dan Hindu yang mengampu sewaktu di Bali dulu, saya juga berupaya untuk mengurangi konsumsi hewani untuk alasan kesehatan.

Oh iya, dulu sempat sepenuhnya menjadi vegetarian semasa SMP, namun memasuki usia SMA mulai berhenti karena tak tahan godaan dan hingga kini memutuskan untuk mengurangi semampunya. Jika tak ada pilihan lain, barulah mengonsumsi olahan hewani.

Mungkin karena kebiasaan yang telah dilakukan selama bertahun-tahun inilah, tubuh saya mulai mengalami perubahan positif dengan sendirinya. Di samping tekun mengurangi konsumsi pangan olahan hewani, saya juga menerapkan ilmu meditasi sejak beberapa tahun silam. Dua faktor ini yang kemungkinan besar menjadi faktor utamanya.

Saya merasa lebih sehat dan bahagia. Bisa jadi itu pola pikir, bisa jadi itu kenyataan, bisa jadi itu pola pikir yang mempengaruhi kenyataan.

Selama bertahun-tahun, tubuh saya dipaksa untuk mengonsumsi apa saja yang semestinya tidak ia konsumsi secara berlebihan. Karbo satu piring penuh (pernah makan bihun goreng atau mie instan pakai nasi?), susu sapi dua kali sehari (susu instan bubuk bikinan pabrik pula, dobel "dosanya" deh), berbagai camilan dengan zat kimia (keripik dengan micin dan bubuk pedas berlevel-level adalah kesukaan saya jaman sekolah), es krim dan cokelat (saya susah menghentikan kebiasaan ngemil cokelat dengan kadar gula tinggi saat belajar, kini sedang berusaha menggantikannya dengan buah-buahan dan kacang-kacangan), gorengan di pinggir jalan atau warung-warung makan (yang entah minyak yang digunakan telah dipakai menggoreng berapa kali), dan entah apa lagi "racun" yang saya suap masuk ke dalam tubuh ini.

Banyak orang sering mempertanyakan alasan-alasan kenapa saya mengurangi konsumsi produk olahan hewani, terutama menyangkut postur tubuh saya yang memang cenderung berukuran kecil. "Kapan gendutnya kalau tidak makan daging?", begitu biasanya. Sebetulnya saya mulai berhenti untuk ambil pusing dengan perkataan orang sejak beberapa tahun belakangan, namun kadang jengah juga dan paling hanya saya balas dengan cengiran saja. Tak semua orang mau dan mampu paham. "Dulu, waktu masih makan daging, berat badan juga segini-segini aja".

Perubahan positif yang terjadi pada tiga aspek di tubuh saya, yakni body, mind, dan soul, seperti yang saya ceritakan di atas, adalah hasil baik dari upaya mengurangi konsumsi olahan hewani dan meditasi. Rutin. Selama bertahun-tahun. Dan semua itu memang memerlukan proses, bahkan saya sampai tak menyadari saking lambatnya proses itu menghasilkan sesuatu.

Kesadaran saya akan perubahan-perubahan positif itu timbul dari konektivitas yang makin mendalam antar ketiga aspek. Ketika body merasa lelah, mind akan mengajak istirahat. Ketika mind merasa ingin berbuat jahat, soul akan mengingatkan. Ketika soul menjauhkan dari hal-hal buruk, body dan mind akan mengikuti. Jika konektivitas yang semestinya terjalin erat tersebut berusaha dipungkiri oleh salah satu aspek, maka intuisi akan tenggelam oleh ego dan akibatnya bisa diduga: pasti akan terjadi sesuatu yang tak diinginkan.

That's simply how our life works, actually. All about balance.

Dan saya menulis ini pun sebetulnya sebagai refleksi dan permenungan atas sebuah kejadian tak diinginkan yang baru saja terjadi. Salah satu perubahan positif pada body yang saya alami secara nyata adalah resistensi terhadap obat-obatan kimia, dairy products yang berlebihan, serta makanan berminyak. Body akan mengeluarkan protes, suka atau tak suka, jika saya mengonsumsi hal-hal tersebut. Terhadap obat-obatan kimia, ulu hati saya akan bereaksi menjadi perih. Terhadap beberapa dairy products (termasuk juga susu sapi), pencernaan saya akan bermasalah dan biasa dikenal dengan istilah lactose intolerance. Terhadap makanan berminyak, saya bisa menjadi sangat mual.

Our body only wants to be listened. And sometimes, they have their own language.

Saya percaya, seperti tertulis di Kitab Suci, bahwa tubuh manusia adalah Bait Allah. Banyak orang juga mengatakan bahwa your body is your temple, dan saya menerjemahkan keduanya sebagai opini pribadi bahwa tubuh memang harus didengar, mereka memahami apa yang paling baik bagi mereka sendiri, dan tubuh sudah sepatutnya dihormati, disyukuri, sebagai satu-satunya teman semasa hidup yang dianugerahkan oleh semesta.

Body mengeluarkan beragam reaksi ketika saya menghabiskan satu liter botol susu sapi yang saya beli sepulang kuliah tadi malam. Saya mengalami sakit perut dan diare luar biasa dan saya merasa sangat bersalah karenanya. Body harus menderita karena ego saya yang tak terbendung tatkala melihat jajaran susu sapi dengan beragam rasa di etalase berpendingin di supermarket. Padahal saya telah lama tak mengonsumsi susu sapi. Dan tubuh saya mengingatkan (atau, karena telah terlambat, memprotes, dengan cara-cara yang mengharuskan saya untuk keluar masuk toilet tiap tigapuluh menit sekali).

Perubahan-perubahan positif ini memerlukan proses yang tak sebentar, seperti yang saya tuturkan tadi. Tubuh saya mendetoksifikasi dirinya sendiri selama beberapa tahun, menggantikan sel-sel yang ditempeli racun dengan sel-sel baru yang lebih sehat, mengeluarkan zat-zat beracun dari tubuh saya dengan tekun, dan untuk ini semua saya harus berterimakasih pula pada Ibu yang dengan setia membuatkan jus sayur atau buah tanpa gula dan minim air selama beberapa tahun sebelum saya hengkang dari rumah beliau, lalu untuk segala upaya menyelamatkan keluarga kami dari segala obat-obatan dan resep dokter selama entah telah berapa tahun lamanya, dan untuk tiap cara-cara tradisional yang beliau ajarkan bagi kami merawat serta menjaga kesehatan, cara-cara yang sebetulnya mudah diaplikasikan, seperti makan buah dengan dikunyah (karena mengaktifkan enzim-enzim yang ada dimulut), memijat refleksi sendiri di bagian telapak kaki (karena tubuh memiliki antibodinya sendiri dan pusatnya ada di telapak kaki, mungkin bahkan bisa disebut sebagai "otak kedua"), hingga menggantikan minyak goreng kelapa sawit di dapurnya dengan minyak kelapa murni meski itu berarti harga yang dibayar haruslah lebih mahal.

Proses detoksifikasi yang memakan waktu dan memerlukan upaya, kan?

Tapi ya itu tadi, saya beruntung telah memutuskan untuk melakukan segalanya, semata-mata untuk beberapa alasan yang saya kemukakan di awal. Selain itu, ada satu alasan khusus terkait dengan kehidupan di masa mendatang.

Selain ingin terus dan terus bertualang keliling dunia dengan body, mind, dan soul yang sehat, saya juga mempersiapkan diri jika kelak mengemban amanah jadi orangtua. Mungkin saya akan mengandung, mungkin saya akan membesarkan anak-anak saya, mungkin saya akan bertumbuh bersama mereka. Jika benar begitu, saya ingin menjadi perempuan sehat yang mengandung janin yang juga sehat, saya ingin menjadi ibu yang senantiasa panjang usia dan sehat lahir batinnya, sebab membayangkan anak-anak saya tumbuh tanpa peran seorang ibu akan menjadi mimpi buruk bagi saya, bahkan sejak kini.

Belajar membedakan nafsu dan kebutuhan.

Minum susu sapi adalah nafsu. Kebutuhan kalsium anak manusia dipenuhi oleh air susu ibunya. Susu sapi diperuntukkan untuk anak sapi, tubuh manusia tak pernah didesain untuk mengonsumsinya. 

Awalnya saya tak percaya, tapi tubuh ini lagi-lagi memiliki caranya sendiri untuk mengingatkan, dan banyak literatur juga mengatakan demikian. Tak mudah untuk menghilangkan kebiasaan minum susu sapi sedari kecil, maka saya berusaha menggantikannya dengan susu kedelai atau susu almond pada mulanya. Namun seiring dengan berjalannya waktu, saya menyadari bahwa ini adalah sejenis upaya untuk menipu tubuh saya dan menghibur diri, sehingga saya memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya saya lakukan saja. Begitu juga dengan konsumsi olahan hewani lainnya. Saya tak lagi secara galak menghindari atau bahkan melarang orang lain untuk makan sate atau ayam goreng atau bahkan menakut-nakuti dengan fakta yang saya peroleh dari PETA seperti yang pernah saya lakukan sewaktu SMP, saya memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya saya lakukan saja.

Saya memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya saya lakukan saja. Seringkali itu adalah pembatasan diri, seringkali itu adalah menahan nafsu atau ego, seringkali itu adalah pembiaran sesekali, karena biar bagaimanapun juga saya masihlah seorang manusia yang memelihara alasan di sana dan sini.

Saya memutuskan untuk melakukan apa yang seharusnya saya lakukan saja. Ketika saya ingin minum susu sapi, saya akan berpikir terlebih dulu, apa saya siap dengan protes yang akan dikeluarkan oleh tubuh saya? Jika ya, maka saya akan membelinya. Ketika saya ingin makan tengkleng kambing bumbu gulai favorit keluarga, saya akan berpikir terlebih dulu, apa saya bisa memilih alternatif pangan favorit lainnya? Jika tidak, maka saya akan memesan tengkleng kambing bumbu gulai itu.

Hidup itu mudah, penafsirannya yang rumit-rumit, kata Mbah Pram. Dan saya setuju. Seperti apa adanya saja, semua sudah digariskan dan setiap waktu selalu dibisikkan. Tinggal kita mau mengikuti jejak yang memang semestinya kita patuhi, atau tidak.

P.S. Waktu saat ini menunjukkan pukul 5:45 pagi dan saya telah menulis selama kurang lebih setengah jam, di saat dimana semestinya saya mengistirahatkan diri karena sedang diare cukup parah. Namun di sisi lain saya tak bisa tidur karena berupaya terus memasukkan cairan ke dalam tubuh (dan, tentu saja, mengeluarkannya), maka saya memutuskan untuk menulis disini. Tubuh rupanya langsung melancarkan protes. Baru saja, kaki saya terantuk cukup keras ketika sedang berjalan menuju toilet. What a clue. Saatnya beristirahat.




Berbahagialah senantiasa.

Sunday, November 19, 2017

It takes a village to raise a child

Sebenarnya, saya selalu berusaha untuk tak mengurusi apa yang orang lain lakukan dengan hidup mereka, sebab saya sendiri tipikal yang teramat tidak suka ketika hidup saya diurusi orang lain. Namun ada kalanya upaya ini harus rela dikompromikan ketika saya tak lagi merasa nyaman dengan apa yang orang banyak lakukan, termasuk yang ingin saya kemukakan sekarang.

Beberapa tahun belakangan saya teramat aktif berselancar di beragam media sosial, terutama terkait dengan aktivitas saya sebagai pelajar, pengusaha, penulis, maupun aktivis. Kenyataan ini harus saya bayar mahal dengan paparan konten negatif yang seringkali saya terima, seperti misalnya meme jahat yang bertebaran di Instagram, beragam gosip artis di linimasa Facebook, twitwar dan tweet bermuatan hasutan, dan sebagainya. Beberapa kali saya memiliki love-hate relationship dengan media sosial sampai sempat menonaktifkan sejumlah diantaranya, saya juga sempat berusaha memproteksi diri dengan hanya menggunakan media sosial privatif yang diketahui sejumlah teman dekat saja. Saya berharap setidaknya dengan begitu bisa meminimalisir konten-konten negatif yang berusaha saya hindari. Saya bahkan memblokir beberapa akun media sosial yang tak ingin saya lihat sekalipun itu hanya berlalu lalang di linimasa bebas (explore), seperti beberapa akun gosip dan religius, bagi saya keduanya sama-sama toxic karena terlalu mengusik ranah pribadi seseorang.



Saya sebetulnya tak ingin terlalu ambil pusing, tapi saya kemudian membaca sebuah jawaban apik di Quora. Saya pernah menulis mengenai ini juga beberapa waktu silam, kalau tak salah setahun yang lalu, melalui tulisan ini:

http://schasyana.blogspot.fr/2016/11/asyana-bicara-ilmu-parenting.html

Sikap ketidakpedulian saya terhadap publik dan media sosial perlahan mengikis setelah makin menyadari bahwa anak-anak di dunia, terutama di Indonesia, pastilah juga sedang menerima paparan konten negatif yang sama seperti saya. Dan saya ngeri membayangkannya. Membayangkan mereka menonton video penuh kekerasan di media sosial, membayangkan mereka membaca beragam keributan bernuansa SARA di berbagai konten, membayangkan mereka melihat anak-anak muda amoral mengunggah video disana sini... Ngeri sekali, kita sedang menanamkan bibit apa dalam hati mereka? Apa yang kelak akan kita tuai? Jangan heran jika pada malam takbir beberapa waktu lalu ada anak-anak yang meneriakkan "Bunuh Ahok!", apa itu salah mereka? Salah kita, lah.

Heran sekali rasanya ketika ada anak naik motor tanpa helm, lalu mereka dimarahi.
Heran sekali rasanya ketika ada anak mencontek di kelas, lalu mereka dihukum.
Heran sekali rasanya ketika ada anak merundung temannya, lalu mereka dikeluarkan dari sekolah.

Sangat. Heran. Sekali.
Bukan salah mereka. Salah orangtuanya. Salah kita.

Kita memarahi anak-anak karena mereka tak mengenakan helm sewaktu mengendarai motor, tapi tanpa rasa bersalah kita pakai jasa calo untuk membuat SIM.

Kita memarahi anak-anak karena mereka mencontek sewaktu ujian, tapi tanpa bersalah uang kuliah kita pakai jalan-jalan atau nongkrong sana-sini, uang perusahaan kita curi sedikit demi sedikit, uang organisasi entah kemana pertanggungjawabannya.

Kita memarahi anak-anak ketika mereka memukul temannya, ketika mereka mengatai teman-temannya dengan kasar, tapi jemari kita di media sosial meneriakkan kebencian disana sini, bersembunyi dengan pengecutnya di balik akun-akun tanpa nama.

It takes a village to raise a child. Anak-anak tak mendengar apa yang kita katakan. Mereka melihat dan mencontoh apa yang kita, orang dewasa, lakukan.

Jaga perkataan, jaga perbuatan, baik di dunia nyata maupun di dunia maya. Ingat, Kita semua adalah orangtua. Jika tak mampu mendidik, setidaknya jangan merusak. Jika tak mampu ikut bertanggungjawab, setidaknya jangan mencela. Jika tak mampu berbuat baik dan menjadi panutan, lebih baik diam.


Saturday, November 11, 2017

Home is wherever your heart is

Menyambung tulisan saya yang lalu, saya jadi teringat juga dengan perbincangan dengan beberapa karib mengenai rencana setelah studi di luar negeri selesai nantinya. Tak sedikit (jika tidak bisa disebut banyak) yang mengutarakan keinginannya untuk tetap tinggal di negara studi, namun ada juga yang dengan mantap berkata, "Pulang, lah!" dan diikuti dengan serentetan alasan mengenai patriotisme, nasionalisme, cinta tanah air, you name it.

Ketika tahun lalu datang ke acara Mata Najwa di Amsterdam, berulang kali para pembicara pun berkata, "Setelah kuliah selesai, pulang, ya! Negara menunggu sumbangsihmu". Bahkan sebelum saya pergi merantau pun banyak orang berpesan, "Jangan lupa pulang".

Awalnya pun saya berpikir demikian. Kuliah selesai, lulus memuaskan, pulang ke Indonesia, berkarya untuk rakyat. Dan pola pikir yang tercetak sekian tahun tersebut kelamaan mulai terbuka dengan beragam kemungkinan dan saya jadi mempertanyakan pola pikir itu sendiri,

Apa iya, nasionalisme adalah tentang tempat dimana kita berpijak, bahasa apa yang kita tuturkan, pakaian apa yang kita kenakan, atau bahkan... kewarganegaraan yang kita anut?

Saya teringat banyak sekali pengusaha Indonesia yang membuka restoran dan toko di negara-negara seluruh dunia, membuka warung makan, membuka kelontong produk-produk Indonesia, hingga mengadakan beragam festival berbau kebangsaan di tanah rantau masing-masing, apa itu tak kurang nasionalis?

Jika tak pulang berarti tak nasionalis, maka kita sebut apa para diplomat yang kini bermukim menyebar di seluruh dunia, membawa nama Republik Indonesia?

Orang-orang yang suka berkomunikasi dalam bahasa asing sering dicap tak nasionalis, dan selalu diberi pesan, "Bangga berbahasa Indonesia, dong!", begitukah?

Lalu, Anggun Cipta Sasmi, yang bahkan berpindah kewarganegaraan mengikuti suaminya, apa beliau bisa disebut tak nasionalis?

Jika iya, berarti nilai nasionalisme itu pastilah sangat rendah dan jasmaniah sekali.

Tapi saya percaya, tak perlu sulit-sulit berusaha membalikkan pola pikir orang mengenai hal ini, karena yang sepemikiran pasti akan menerimanya, dan yang tidak, pasti untuk memahami saja tak mau.

Jadi saya memilih untuk bersetia dengan tanah air dalam karya, dalam sikap, dalam perbuatan, dalam semangat, dalam segala hal yang mencerminkan nyala keIndonesiaan saya. Seperti para pengusaha itu, seperti para diplomat itu, seperti Anggun Cipta Sasmi.

Berkarya, berkarya, berkarya, tanpa kenal tempat.


"Home is wherever your heart is, Mbak"

Begitu kata Bunda lewat chat suatu ketika. And I know, I'll always be home.




Menjadi Air

Saat mampir sejenak ke Jakarta pada Agustus lalu, saya sempat makan malam bersama keluarga di sebuah restoran sate. Itu adalah quality time pertama kami setelah setahun tak bertemu dan tentu setelah serangkaian kegiatan yang saya jalani beberapa hari sebelumnya usai.

Ada satu perbincangan yang saya ingat betul, tercetus antara saya dan Ayah. Kala itu memang kedatangan saya ke Jakarta tak hanya dimaksudkan untuk mengikuti karantina saja, tapi juga untuk mendaftarkan diri dalam sebuah organisasi politik yang kini sedang naik daun. Kebetulan saya pernah berkorespondensi dengan ketua organisasi tersebut, kami seumuran dan sama-sama perempuan, dan ada banyak pemikirannya maupun organisasi yang ia pimpin yang sejalan dengan pemikiran pribadi saya.

Di meja makan di restoran sate itulah saya mengutarakan keinginan saya pada Ayah, yang hanya dijawabnya secara singkat, "Yakin?". Setelah saya selesai menjelaskan alasan-alasan kenapa saya ingin bergabung dalam organisasi politik tersebut, barulah Ayah memberikan pendapatnya.

"Ayah sebetulnya lebih suka kalau kamu berdiri tanpa memihak. Lebih baik menjadi jembatan, menjadi netral, menjadi penengah. Coba kamu lihat Cak Nun itu, dia disegani rakyat, sekaligus dihormati pejabat".

Dan begitulah awal mula kenapa saya ingin hidup serupa seperti air.

Tenang, tak gentar disergap kekhawatiran.
Lembut menghanyutkan, mampu mengajak ke arah kebaikan.
Mengalir, tak mengikat diri dengan apapun itu.
Menempati ruang tanpa perlu mengubah wujud, siap menjadi apapun tanpa menjadi siapapun selain diri sendiri.


Monday, November 6, 2017

Defining: Rumah

Bagaimana mendefinisikan rumah?

Ketika masih tinggal bersama orangtua di Yogyakarta, mudah saja mengatakan "Mau pulang ke rumah", karena itu berarti merujuk pada keberadaan bangunan tempat tinggal yang telah ditempati oleh orangtua saya selama duapuluh tahunan lamanya yang terletak di Jalan Kaliurang.

Ketika bersekolah di kawasan Demangan, Timoho, dan Mujamuju, orang seringkali bilang, "Wah, jauh ya rumahnya". Dan ya, terkadang bokong saya terasa mati rasa jika harus pergi ke sekolah naik motor. Sekitar tigapuluh menit perjalanan, itupun kalau tak bertemu kemacetan atau terhalang kereta api yang melintas di area Lempuyangan.

Setelah saya keluar dari rumah orangtua dan menghidupi sebuah tempat tinggal untuk diri saya sendiri, makna rumah menjadi sedikit bergeser bagi saya. Seringkali bahkan topik mengenai rumah dihindari oleh saya dan kawan-kawan di perantauan, sebab terkadang ada rasa pedih yang menghujam dalam hati, seakan-akan mengingatkan pada sesuatu hal yang jauh yang tak tersapu oleh pandang dan tersentuh dalam raba.

Rumah, pada awal saya merantau, pertama-tama tentu merujuk pada sebuah bangunan tempat tinggal di Jalan Kaliurang, lalu merujuk juga pada kota kelahiran, Yogyakarta, dan tentu saja merujuk pada kedua orangtua saya nun jauh disana.

Namun, setelah satu tahun merantau, saya telusuri lagi, makna rumah ternyata kembali mengalami pergeseran.

Bukan hanya sekadar hunian tinggal, kota kelahiran, atau orangtua, rumah kini terasa seperti kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai kehidupan, dan kebersamaan.

Rumah adalah kebiasaan-kebiasaan yang seringkali saya lakukan bersama keluarga dan teman-teman. Menonton film bersama tiap ada film baru yang tayang, piknik bersama tiap libur panjang, makan bersama tiap akhir pekan, jajan di kantin kala masih bersekolah dulu, membeli jamu Mbak Marni yang tiap siang selalu lewat di depan rumah (kecuali selama Ramadhan, ia menjajakan jamu hanya di sore hari), dan kebiasaan-kebiasaan lain yang hingga kini lekat dalam memori, "Dulu sewaktu disana, kita sering begitu, lho".

Rumah bicara tentang nilai kehidupan. Tentang kebaikan-kebaikan yang orangtua saya ajarkan sedari saya kanak-kanak, hingga kemudian siap menyongsong hidup sendirian. Tentang petuah-petuah kebajikan yang akan selalu membersamai saya hingga mungkin nanti saya mati. Tentang pedoman-pedoman yang orangtua saya ajarkan sebagai bekal dimanapun saya berada.

Dan ketika rumah dipandang sebagai kebersamaan, tuntaslah sudah makna rumah bagi saya kini. Dimanapun ia berada, sejauh saya bisa merasakan hangat kebersamaan yang tercipta di dalamnya, saya akan selalu berada di rumah, tanpa peduli dimana saya sebenarnya sedang berpijak kala itu.


Sunday, November 5, 2017

Penjaja Koran di Perempatan

Terinspirasi dari tulisan seorang sahabat, saya jadi tertarik juga untuk menuliskan pengalaman keluarga dengan para penjaja koran yang ada di jalan menuju rumah kami di Yogyakarta. Orangtua saya menggunakan kendaraan pribadi untuk mobilitas mereka sehari-hari, sebuah hal yang lazim bagi warga Yogyakarta pada umumnya, mengingat transportasi publik yang tersedia tak cukup memadai, entah dari segi aksesbilitas hingga kenyamanan. Ibu saya telah menempati rumah yang kami huni kini sejak beliau pertama kali merantau untuk kuliah, tepatnya di awal tahun 1990-an. Dengan begitu, kami akrab dengan jalan-jalan dan jalur-jalur yang harus kami lalui tiap hari menuju ke kota. Tak hanya itu, keluarga kami juga jadi akrab dengan beberapa penjaja koran yang ada di perempatan-perempatan lalu lintas, sebab tiap hari berpapasan.

Pernah bahkan orangtua saya "bersahabat baik" dengan pasangan penjaja koran yang biasa beredar di kawasan Fakultas Kehutanan UGM. Pasangan ini seumuran dengan orangtua saya, atau kira-kira lebih muda beberapa tahun, sebab anak perempuan mereka pun usianya tak terpaut jauh dengan usia saya, lebih muda sedikit. Itulah sebabnya ada banyak pakaian pantas pakai saya semasa balita yang kemudian Ibu hibahkan untuk pasangan ini. Hal ini berulang kali terjadi selama bertahun-tahun, hingga kelamaan terjalin silaturahmi yang indah di antara kedua keluarga. Kami tak pernah saling mengundang makan, tak pernah saling mengobrol lebih dalam, interaksi hanya berlangsung selama beberapa menit di perempatan jalan, itupun kalau waktu mempertemukan. Sering saya diminta Ibu untuk mengawasi sekitar kala kami hendak berhenti di lampu merah, "Coba perhatikan sekitar kalau-kalau nanti Bapak Ibu yang jual koran menghampiri kita". Hingga suatu hari, kami tak pernah saling bertemu di perempatan yang sama lagi, dan beberapa kali Ayah saya berkabar bahwa pernah melihat mereka di beragam perempatan lain, mungkin untuk menjangkau penjualan koran yang lebih luas.

Bertahun-tahun kemudian, pada suatu sore yang mendung, saya pulang dari sekolah dijemput Ibu naik mobil Katana tuanya. Kami melintasi perempatan Fakultas Kehutanan seperti biasa, hingga tiba-tiba kaca jendela Ibu diketuk oleh seorang pengendara motor, atau lebih tepatnya, seorang pengendara motor yang sedang memboncengkan keluarganya. Awalnya saya tak mengenali mereka, tapi kemudian Ibu dengan sumringah membuka kaca jendela dan saya menyadari, itu adalah keluarga Bapak dan Ibu penjaja koran yang menjadi karib orangtua saya ketika saya masih kecil. Saya menyaksikan kebahagiaan yang murni terpancar dari orang-orang dewasa ini, seolah-olah pencarian bertahun-tahun telah usai dan persimpangan kehidupan berhasil mempertemukan mereka kembali. Ibu kemudian mengajak keluarga penjaja koran untuk mampir ke rumah, dan kami pun pulang beriringan, dengan sebuah sepeda motor yang dikendarai Bapak penjaja koran bersama istri yang berhimpitan dengan ketiga anaknya yang mulai beranjak besar, tepat di belakang mobil Katana tua Ibu.

Setibanya di rumah, Ayah dan Ibu saya bercengkerama dengan keluarga Bapak dan Ibu penjaja koran, tentang bagaimana kehidupan mereka kini, bagaimana pendidikan anak-anak, ingin menjadi apa mereka kelak, dan banyak cerita lain mengenai hal-hal semasa tak bersua bertahun-tahun lamanya. Adik saya kala itu banyak bertanya dan berkomentar, terutama karena ia tak pernah mengenali keluarga Bapak Ibu penjaja koran ini, ia baru lahir setelah kami tak lagi saling berpapasan di perempatan.

Kami kemudian segera tahu, bahwa si anak sulung, yang usianya tak berbeda jauh dengan saya, sangat gemar membaca, begitu juga dengan kedua adiknya. Ibu kemudian segera memerintahkan kami untuk mengepak banyak bacaan bagi mereka. Saya dan adik berusaha memilah secara kilat koleksi majalah-majalah lama kami, banyak di antaranya adalah Bobo yang telah kami kumpulkan selama belasan tahun. Setelah banyak mengobrol dan mengemas majalah-majalah, keluarga Bapak Ibu penjaja koran pun pamit dan berjanji suatu saat akan mampir lagi. "Yang penting sekarang sudah ketemu dimana rumahnya, kapan-kapan kalau mau mampir jadi gampang", demikian ujar mereka ketika itu.

Waktu berjalan cepat, namun tak cukup lambat untuk dihentikan, ketika akhirnya keluarga itu kembali mengunjungi rumah kecil kami di Jalan Kaliurang yang ramai. Tapi kali ini, tanpa si Ibu. Dengan wajah terpukul, sang Bapak menggendong anak bungsunya dan kala itu menghampiri Ayah yang sedang mencuci mobil di luar. Menyadari bahwa itu sang Bapak penjaja koran dan anak-anaknya, Ayah segera mengajak mereka masuk, disambut Ibu di ruang tamu, dan mereka semua berbicara dengan suara rendah. Ketika itu saya sedang berdiam di kamar, begitu juga dengan adik, hingga Ibu menghampiri kami dan berujar, "Ibu penjaja koran baru saja meninggal, karena leptospirosis". Saya tersentak, mengingat seperti kemarin rasanya baru bertemu lagi, dan kini sudah secepat itu pergi. Bagaimana dengan anak-anaknya? Mereka masih terlampau kecil, Tuhan lupa? Seperti yang sudah-sudah, memori saya selalu berjalan mundur ketika ada kabar dukacita datang, seperti ingin mencoba mengenang perasaan hangat yang menyenangkan, ingatan indah mengenai seseorang yang baru saja berpulang. Dan berhasil.

Saya ingat ketika kecil, duduk di sebelah Ibu yang menyetir mobil Carry putih. Saya ingat kami berhenti di perempatan Fakultas Kehutanan UGM. Yang lampu lalu lintasnya menyala bergiliran tak searah jarum jam, yang selalu bau kotoran burung blekok yang berterbangan dari arah hutan fakultas, yang selalu ramai di kala pagi dan sore hari, yang di pojok perempatannya ada warung tenda masakan Jepang dan selalu ramai, dan di pojok lainnya ada kios koran kecil milik Bapak Ibu penjaja koran sewaktu muda, dimana mereka meletakkan juga bayi sulungnya disitu saat mereka harus menghampiri satu per satu kendaraan untuk menjajakan koran.

Saya ingat beberapa kali mobil Carry kami berhenti, saat Ibu saya menjulurkan kantong plastik yang hampir robek karena isinya beruah-ruah: baju kecil, rok kecil, topi kecil, sarung tangan kecil, aksesoris rambut kecil-kecil, dan segala milik saya ketika masih kecil dulu, "Ini untuk anakmu", kata Ibu pada seorang Ibu penjaja koran yang seumuran dengannya, yang kemudian dibalas dengan koran gratis atau sesekali buah-buahan yang dipetik dari kebun sendiri.

Saya ingat ketika kemudian keluarga kami tak pernah lagi berpapasan dengan keluarga penjaja koran, ketika Ibu saya mulai bertanya-tanya, "Sekarang mereka jualan dimana ya?", dan ketika Ayah saya suatu ketika pulang dari luar kota dan bercerita, "Tadi Ayah lihat si Bapak Ibu penjual koran dulu itu di daerah Jalan Solo", dan Ibu menghela napas lega, "Untunglah mereka baik-baik saja".

Saya ingat semua dan semua terasa jelas terputar dalam benak saya, tentang kebersamaan yang sejenak, tentang perhatian yang tak berjarak, tentang semua pertemuan-pertemuan singkat di perhentian lampu merah.

Dan itu bukanlah yang satu-satunya. Ada kisah lain tentang penjaja koran di perhentian lampu merah, dengan seorang bapak baik hati yang hingga kini kami tak tahu siapa namanya. Yang kami tahu, si Bapak yang selalu berjualan di perempatan ringroad utara ini adalah saudara dari bekas tetangga yang pernah tinggal di sebelah rumah kami, dan kami tak mengetahui sisanya. Karena rutin bertemu tiap hari, mau tak mau terjadi juga interaksi dengan beliau, sejak saya kecil hingga menjelang kepindahan saya ke Prancis. Musababnya, mungkin, karena mobil tua Ibu tak pernah menggunakan pendingin udara, sehingga satu-satunya langkah agar tidak mati kehabisan napas adalah membuka kaca jendela, dan adalah aneh jika kita membuka kaca jendela tanpa tersenyum pada orang yang lewat di samping kaca jendela kita. Atau, setidaknya, itu yang selalu ditekankan oleh orangtua saya, "Kalo ada orang bersinggungan mata denganmu, meski tak kenal, tetap tersenyum".

Berawal dari sapaan melalui mata dan turun ke dalam senyum itulah, si Bapak tua ini kerap menghampiri mobil kami dan mengajak ngobrol. Lama-kelamaan beliau mengetahui bahwa saya akan melanjutkan studi ke Prancis, dan sedang berupaya mengikuti tes IELTS di saat yang bersamaan. Kebetulan beliau juga seorang agen harian Jakarta Post, dan Ibu saya menganggap bahwa membaca surat kabar dalam bahasa Inggris adalah salah satu metode berlatih IELTS yang lumayan memadai, hingga akhirnya, setiap kami bertemu dengan si Bapak tersebut, kami selalu membeli (atau diberi) koran Jakarta Post edisi terbaru (atau kadangkala juga disisipi edisi-edisi sebelumnya). Ketika akhirnya hasil IELTS saya keluar dan mendapat hasil yang diharapkan, Ibu berpesan untuk tak lupa mengucap terima kasih juga pada Bapak penjaja koran yang selalu memperhatikan saya lewat koran-koran Jakarta Post yang dibawanya. "Selalu ada doa untukmu terselip dalam tiap Jakarta Post itu,", kata Ibu saya mengingatkan, "Apalagi kalau sampai dikasih gratis".

Dari dua kisah keluarga kami di atas dengan para penjaja koran, rasanya tak berlebihan untuk terus mengatakan bahwa semua manusia adalah guru kehidupan bagi kita. Atau setidaknya, bagi diri saya sendiri. Saya ingin selalu berupaya untuk memaknai tiap pertemuan dengan orang lain, pertama adalah karena kita tak pernah tahu apa yang sedang dan pernah dialami oleh seseorang dalam hidupnya (be kind, always), lalu yang kedua, sebab kita tak tahu apakah kita masih diberi kesempatan lain untuk berjumpa lagi, dan yang terakhir, saya selalu merasa bahwa tiap orang memiliki perannya masing-masing dalam hidup kita.

Seperti apapun keadaan kita saat saling bertemu, seperti apapun rupa-rupa orang yang kita temui, percayalah, selalu ada pelajaran di balik tiap pertemuan. Kemasan hanyalah kemasan, yang menyentuh hati ialah kebaikan.

Semoga kita selalu berada dalam keadaan bahagia, entah di waktu sendiri maupun dalam kebersamaan dengan orang-orang lain.

"Berjualan koran itu lebih baik ketimbang mengemis, berarti dia masih mau berusaha. Makanya Bunda lebih suka menyisihkan uang untuk membeli koran daripada memberi pengemis, meski ya pada akhirnya koran tersebut tak terbaca juga", kata Ibu saya. (SOURCE FOTO)

Saturday, November 4, 2017

Makin Kaya Tapi Mental Miskin, Atau?

Sebagai seorang anak kos, mau tak mau saya harus melakukan segala sesuatunya sendiri seperti anak kos lain. Bedanya, karena saya kos di negara orang dengan living cost yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara asal, saya jadi punya pekerjaan tambahan, yakni melakukan belanja dapur tiap akhir pekan untuk bahan memasak pekan berikutnya. Sebetulnya saya senang berbelanja, apalagi bahan makanan, hanya kegiatan ini jadi tak begitu menyenangkan bahkan cenderung memusingkan jika kita harus mengamati harga produk satu per satu, membandingkannya, dan mencari harga termurah untuk sebuah barang yang kita ingini. Misal, bawang putih. Saya harus melihat berapa harga per kilogram bawang putih yang berasal dari Prancis, terutama provinsi dimana saya tinggal, dan melihat harga bawang yang diimpor dari negara lain. Tak ada kepastian kapan produk lokal berharga lebih murah dibanding produk impor karena sangat fluktuatif dan dipengaruhi oleh merek dagang juga, namun satu hal yang pasti, bahwa harga produk terendah biasanya dimiliki oleh produk bermerek toko itu sendiri. Misal saya sedang berbelanja bawang putih di Carrefour, lebih baik memilih sak bawang dengan label Carrefour tertera, dan begitu juga dengan semua produk yang ingin saya beli seperti sosis, camilan, hingga lampu bohlam.

Karena saya senang berbelanja itu pula, saya lumayan betah untuk mengitari lorong-lorong supermarket sembari mendorong trolley, melihat-lihat produk apa yang hanya ada di Prancis dan tidak ada di Indonesia, mengamati produk-produk berharga tinggi dengan tatapan ingin, namun semua dengan catatan: jika supermarket tidak terlalu ramai. Dan itu sangatlah jarang terjadi, sodara-sodara. Karena, ya itu tadi, saya harus berbelanja di akhir pekan, satu-satunya saat dimana saya bisa meletakkan sementara segala urusan pekerjaan dan kuliah, dan tentunya saya bukan satu-satunya mahasiswa yang berpikiran demikian, apalagi Lille adalah ibukota provinsi Nord, provinsi ketiga dengan populasi pelajar dan mahasiswa terbesar se-Prancis. Silakan dibayangkan betapa chaosnya supermarket di hari Sabtu, antrean membludak, orang-orang saling menghalangi jalan satu sama lain.

Tak terkecuali dengan tadi sore, meski hujan angin dan hawa dingin menusuk kulit, ketimbang pekan depan saya mati kelaparan, mau tak mau harus menyeret badan juga ke Carrefour di mall. Kesalahan pertama dari segala permasalahan adalah meletakkan Carrefour di dalam mall, Euralille. Sama seperti Carrefour di Ambarrukmo Plaza, jika sampai kini ia masih ramai bukan kepalang, ya. Jadilah saya menerobos lautan manusia di dalam mall untuk menuju Carrefour yang letaknya di bagian terdalam Euralille, lalu masih harus pula melakukan riset harga singkat dan memilah-milih produk di antara lautan manusia lain di dalam supermarket, kemudian mengantre bersama manusia-manusia yang mengular di kasir, hingga akhirnya saya baru terbebas sambil menggotong tas belanja yang penuh karena, seperti biasa, tak sesuai dengan daftar belanjaan yang dicatat sebelumnya. Yakinlah, saya juga tak pernah bermaksud untuk membeli enam botol susu ketika tak ada satu botolpun susu yang tertera di dalam daftar. Yakinlah, itu murni paksaan dari kertas-kertas promo yang bergelantungan di lorong-lorong supermarket. Lumayan, kata saya menghibur diri tiap sehabis belanja, mencoba melupakan bahwa sebetulnya saya tak butuh-butuh amat untuk membeli enam botol susu sekaligus begitu, mencoba melupakan bahwa saya kalah telak dari promo supermarket, mencoba melupakan bahwa saya selalu gagal dalam mengendalikan diri di supermarket.

Lalu kemudian, di perjalanan pulang menuju rumah, saya berpikir, kenapa orang-orang ini doyan sekali ke mall dan jarang tak menenteng apa-apa ketika pulang, apalagi ketika sedang musim diskon? Disini musim diskon biasa berlangsung tiap akhir musim, jadi kira-kira ada empat kali musim diskon yang diadakan besar-besaran, namun tak cukup besar bagi saya yang datang merantau dari negara dunia ketiga, tentu saja. Saya mencoba mengira-ira jawabannya, apakah manusia kini semakin kaya? Atau justru mental mereka yang miskin, sehingga rela dijajah oleh promo? Sebab jika memang mereka merasa sepenuhnya mampu, mungkin ada dan tiada diskon atau promo tak akan mempengaruhi daya beli mereka, dan mereka tidak akan sudi mengantre untuk membeli sesuatu hingga menghabiskan waktu. Pemikiran saya ini juga mengacu pada betapa ramainya pembukaan gerai H&M di Jogja pada beberapa tahun lalu serta membludaknya antrean pada penjualan iPhone X di seluruh dunia.

SOURCE
SOURCE

Thursday, November 2, 2017

Pandir

Saya memahami betapa kadangkala kita, merasa sulit untuk saling menjelaskan maksud kita mengenai hal-hal tertentu kepada generasi yang lebih senior, umumnya dalam konteks ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu juga sebaliknya, ada beberapa nilai warisan budaya yang rumit untuk dipahami oleh generasi yang lebih junior.
Rentang usia yang terpaut cukup jauh dan latar belakang kehidupan yang berbeda antara (misalnya) generasi baby boomers dan milenial, sering menimbulkan kesalahpahaman. Kuncinya terletak pada komunikasi dan kemauan untuk saling mengerti bahwa tidak ada generasi mana yang lebih baik dari generasi mana.
Sebagai bagian dari milenial, saya menyadari bahwa kemutakhiran pada masa kini tak akan terbentuk tanpa adanya sejarah masa lalu, peradaban sekarang juga menyerap nilai-nilai dari peradaban sebelumnya. Kita semestinya sama-sama saling menimba ilmu satu sama lain, dan sikap pertama yang diperlukan dalam mempelajari suatu hal adalah kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita masih belum pandai, serta rendah hati pula untuk mengakui bahwa belum tentu usia dapat menafsirkan kekayaan pengalaman seseorang secara gamblang.
Bahkan sekali waktu, Gus Mus pun pernah menganggap dirinya sebagai "orang bodoh yang tak kunjung pandai".
Selamat berhari Jumat.


Monday, October 30, 2017

Perkara Tubuh

Tulisan ini digarap dalam rangka menanggapi pemikiran cerdas Kak Trinzi mengenai otoritas perempuan atas tubuhnya, dalam hal ini, pemakaian bra di keseharian.

Saya ingat betul, ketika itu saya duduk di bangku kelas 3 sekolah dasar, ketika merasakan nyeri yang aneh di bagian dada, terutama ketika terantuk atau disentuh. Saya tanya ke Bunda, namun beliau saat itu hanya menjawab dengan sambil lalu, dan sebagai anak kecil dengan rasa ingin tahu yang besar, saya mendesak Bunda apakah nyeri itu berkaitan dengan payudara saya yang mungkin hendak tumbuh. Asumsi saya bukan tanpa dasar. Banyak teman perempuan sekelas telah mengenakan miniset dan bersiap-siap menyambut datang bulan pertama mereka. Saya kebetulan bukan bagian dari anak-anak perempuan tersebut, sampai di saat itu pun saya masih keluar rumah untuk main sore-sore hanya dengan berkaus dalam. Pertumbuhan hormonal saya juga tidak termasuk cepat, dan mungkin karena postur tubuh saya yang secara genetis memang kurus, payudara saya pun tidak semembusung perempuan lain. Hingga kini? Ya, hingga kini.

Dulu saya sering mempertanyakan hal ini, pada diri saya, pada Tuhan(?), pada semesta, pada nasib, pada takdir, pada hidup, kenapa payudara saya kecil? Tak pernah ambil pusing sebetulnya, hanya kadang merasa terintimidasi dengan kebaya atau gaun yang cantik-cantik namun longgar di bagian dada ketika saya kenakan, atau keinginan untuk memakai bikini dengan corak yang beragam, dan entah berapa konten media sosial yang melukiskan body goals macam mana yang menjadi dambaan tiap perempuan.


Masa-masa itu tak berlangsung lama, tapi, ya, saya akui, ada perasaan-perasaan insecure semacam itu yang pernah timbul. Bersyukur sekali saya mempelajari kontemplasi dan meditasi sedari awal, dan saya pun dikelilingi oleh banyak orang yang mencintai saya dengan tulus, sehingga kepercayaan diri saya kian hari kian menebal dan tidak pernah tersisa lagi ruang untuk membenci atau menyakiti diri sendiri.


Tubuh, bagi saya yang sekarang, adalah anugerah yang luar biasa. Dia bekerja di luar kendali kita, dia terdiri dari susunan sel-sel yang rumit, dengan perhitungan-perhitungan yang menakjubkan yang tak dapat kita ciptakan, bahkan tiruannya sekalipun.

Tubuh saya adalah rumah saya, satu-satunya kawan yang menemani saya, sejak dari dilahirkan hingga nanti berkalang tanah. Tubuh saya adalah pencinta yang setia, yang tak pernah meninggalkan saya, yang mendengar tiap keluh kesah dan sukacita saya, yang selalu mau berkorban banyak-banyak buat saya, terutama ketika ego saya meninggi: ingin begadang, ingin makan pedas, ingin menunda makan, dan segala ingin saya yang lain yang sebetulnya menyakitinya.


Terkadang, saya sadar dan merasa sangat perlu untuk berterima kasih pada tubuh saya. Di akhir pekan, saya biasa menjauhkan diri dari gawai dan mengistirahatkannya. Saya berusaha untuk tak menggunakan bantal ketika tidur, agar ia tak merasa pegal ketika bangun di pagi hari. Saya berusaha minum cukup air agar ia tak perlu bekerja keras melakukan proses ekskresi. Saya berusaha mengonsumsi makanan yang sehat agar ia tetap bahagia dan sehat. Saya berusaha untuk melulurinya dengan ramuan-ramuan yang saya racik sendiri; teh hijau, kopi, bengkoang, madu, atau sesekali garam laut. Dan terkadang, saya mulai membebaskan ia dari hal-hal yang sebetulnya tak perlu-perlu amat, seperti bra dan pembalut.


Kembali ke masa saya duduk di bangku sekolah, saya ingat betapa lingkungan saya kala itu seringkali mencemooh teman-teman yang tak memakai kaus dalam atau tanktop berwarna putih setelah memakai miniset atau bra berwarna mencolok, sementara seragam sekolah hari itu adalah putih-merah, atau putih-biru, atau putih-abu. Kami yang tinggal di Jawa biasa menggunakan istilah “ngecap”. Saya kurang tahu apa sebutannya di wilayah lain, mungkin "nyeplak", intinyangecap” itu sendiri merujuk pada bra yang terlihat menerawang dari balik seragam sekolah.

Bagaimana rasanya ketika ada seseorang menepuk bahumu di kelas lalu ia berkata, “Kamu nggak pake kaos dalem, ya? Ngecap, tuh.”


Malu, biasanya. Lalu mungkin ada yang rela mengenakan jaket, sekalipun ketika itu hawa sedang gerah-gerahnya, hanya biar si bra yang “ngecap” itu tidak dilihat oleh publik.

Dulu saya juga berpikiran seperti itu. Bahwa bra yang “ngecap” itu saru, ora ilok, tidak sopan. Dulu. Sekarang? Kalau sekarang ya, jujur, saya bingung. Apa salah si bra sampai dianggap tidak sopan? Memangnya si bra menghina orang? Apa dia menista agama? Atau dia mengganggu ketertiban umum? Korupsi? Mengkhianati rakyat? Merampas hak-hak kemanusiaan?

It is just a... bra.

Mengenai pembalut, saya mulai merasa tak nyaman menggunakan pembalut konvensional sejak… pertama kali menstruasi, mungkin? Saya lupa. Yang jelas, dulu saya kerap mengeluh tentang betapa repotnya membawa-bawa pembalut ketika harus bepergian di kala menstruasi, atau betapa memalukannya ketika harus mengganti pembalut yang terasa penuh di tengah-tengah pelajaran di sekolah. Kadang bahkan kami anak-anak perempuan harus ngumpet-ngumpet menyembunyikan gumpalan pembalut itu di balik punggung agar tak dilihat orang, terutama teman-teman laki-laki, dan kami pun sesekali mengganti istilah “pembalut” dengan sesuatu yang (kami anggap) lebih sopan, seperti “roti jepang”, misalnya.

Oh, kini saya merasa seperti sedang membicarakan sesuatu yang menyeramkan lagi menjijikkan, yang untuk menyebut namanya saja orang-orang tak mau. Seperti membicarakan… Voldemort? The “you-know-who”? Padahal, again, it’s just a... tampon.


Makin bertambah usia, makin berjalan hari-hari, makin berubahlah cara pandang saya akan beragam hal, dalam konteks ini ya mengenai bra dan pembalut.

Saya pernah berada dalam fase dimana mempertanyakan banyak hal tentang seksualitas (yakni ketika saya mulai memasuki usia pubertas), kemudian saya berada dalam fase dimana saya merasa malu ketika membicarakan seksualitas dan tubuh saya sendiri (ya ampun, tubuh sendiri, lho), dan kini, saya merasa bangga serta bahagia dengan apa adanya tubuh saya. Betul, apa adanya. Apa. Adanya.


Saya merasa bangga dan bahagia dengan ukuran serta bentuk payudara saya yang lebih kecil dibanding perempuan lain. Saya merasa bangga dan bahagia dengan rambut saya yang kaku dan mengembang dan sangat lebat. Saya merasa bangga dan bahagia dengan belulang saya yang selalu ingin terlihat menonjol sehingga sering dikatai orang sebagai “kurus”. Saya merasa bangga dan bahagia dengan tulang punggung saya yang bengkok kesana kemari meski saya seringkali merasa sesak napas, bahkan terjaga di kala malam karena nyeri yang teramat sangat. Saya bangga dan bahagia dengan hidung saya yang pesek, dengan mata saya yang selalu terlihat sayu, dengan alis saya yang hanya separuh, dan saya ingin selalu bisa menerima tiap-tiap anggota tubuh saya secara seluruhnya, dengan apa adanya mereka. Semua memiliki fungsinya masing-masing, dan jika boleh saya bilang disini, begitu juga dengan payudara dan vagina saya.

Entah apa yang membuat masyarakat merasa risih membicarakan kedua organ tersebut, kadang mereka seakan-akan fobia dan takut mendengar orang berkata-kata tentang payudara, vagina, tetek, tempik, atau apapun itu, namun bagi saya, kedua organ tersebut tak ubahnya organ lain, yang diciptakan bukan tanpa sebab, yang tak memalukan, yang berharga, atau bahkan, sangat berharga? Terutama payudara dan vagina, sebagai penyokong kehidupan pertama manusia. Ya, kita semua ini anak-anak yang disusui dari payudara dan keluar dari liang vagina, lalu mengapa merasa risih dengan kedua organ tersebut?

Seperti yang telah saya katakan betapa saya sangat ingin untuk selalu mencoba menghargai tubuh saya, saya pun juga berusaha menghindari hal-hal yang tak membuatnya leluasa dalam berfungsi. Seperti bra, misalnya. Jika tidak berada dalam lingkungan yang mengharuskan saya mengenakan bra, maka saya tak mengenakannya. Kebetulan, setelah saya pindah ke Prancis, disini orang-orang tak mengurusi pakaian dalam orang lain dan tidak mudah terangsang alias sange, sehingga tak akan ada yang menghakimi kita ketika tali bra kita mencuat atau payudara kita menyembul sedikit. Lalu, mengenai pembalut, saya berusaha untuk memakainya hanya ketika menstruasi sedang deras, seperti di hari kedua dan ketiga saja. Selebihnya, saya lebih memilih untuk mencuci pembalut kain dan celana dalam, toh semenjak berkomitmen untuk mengurangi konsumsi makanan pemicu hormon (seperti daging dan minyak) setidaknya seminggu sebelum menstruasi, menstruasi saya jadi tak begitu sakit menyiksa dan volume darah yang keluar pun tidak lagi membanjir. Kesadaran ini timbul setelah memahami bahaya penggunaan pembalut sekali pakai bagi lingkungan.


Melalui tulisan ini dan sedikit cerita tak tahu malu tanpa tedeng aling-aling mengenai tubuh saya, saya ingin mendorong para perempuan (dan laki-laki) (dan siapa saja, maaf) untuk selalu percaya diri dan bersyukur atas tubuhnya.

Klise. Tapi memang itulah kuncinya. Ingat. Tubuh kita itu hanya satu, tak punya pengganti, sampai nanti kita mati.

Terimalah tubuh kita apa adanya, dengan beragam keunikannya (bukan kelebihan dan kekurangan, sebab saya percaya bahwa segala ciptaanNya adalah bentuk-bentuk kebaikan), terimalah ia dan rawatlah senantiasa.

Kemudian, saya juga ingin bilang, saya ingin matur, untuk jangan pernah lupa bahwa, seperti kata Mbak Kartika Jahja, tubuhku adalah otoritasku dan tubuhmu adalah otoritasmu. Ia adalah buah kebebasanmu sekaligus buah pertanggungjawabanmu. Kamu boleh menentukan apa yang mau kamu lakukan dengannya dan apa yang tidak mau kamu lakukan. Berbahagialah untuk itu, dan terutama, berbahagialah untuk kamu yang telah menyadari prinsip-prinsip itu, karena masih ada banyak manusia di luar sana yang tubuhnya dikekang oleh tubuh-tubuh lain. Tak hanya membiarkan hal itu terjadi, beberapa bahkan tak menyadari bahwa tubuhnya dikekang.

Semoga, selamanya, semua makhluk berbahagia.




Thursday, October 26, 2017

Duta Muda Indonesia 2017: The Beginning.

Okay.
It's gonna be a long story.

Semoga betah membacanya.

Dimulai dari... pendaftaran? Baiklah. Jadi, di suatu hari, saya menemukan poster seleksi Duta Muda ASEAN Indonesia di salah satu media sosial yang sayangnya lupa apa, dan milik siapa, dan sedari itu saya sedikit banyak bertekad untuk ikut berpartisipasi di dalamnya. Kala itu sedang masa-masa libur musim panas, keadaan hidup saya seperti biasa sedang morat-marit, selalu seperti itu sebenarnya, antara ingin bepergian tapi juga dompet tipis. Alhasil saya bekerja serabutan selama beberapa bulan, bekerja di restoran, menjaga anak orang, apa saja, sambil terus menjalankan bisnis di Indonesia. Seleksi Duta Muda ASEAN ini awalnya bagi saya seperti short escape dari semua kesibukan, namun ternyata malah membawa langkah saya masuk ke banyak kesibukan lainnya, hahaha.

Jujur memang ketika mengerjakan esai sebagai syarat pendaftaran, saya melakukan riset yang cukup lama, bahkan termasuk salah satu riset yang mendetil dari semua artikel yang pernah saya garap sebelumnya. Saya berpendapat bahwa segala sesuatu yang bertujuan baik harus dilakukan dengan all out. Iya atau tidak, seratus persen, tidak ada 50:50, harus 100%. Waktu itu juga saya tidak ingin menyampaikan poin-poin yang terlalu utopis, sebab mungkin inilah yang "Asyana banget": realistis. Sebagai mahasiswa, saya tak pernah ingin berada di menara gading dan terjebak dalam hal-hal seremonial atau simbolis, dan saya mencoba menafsirkan prinsip saya tersebut dalam esai yang saya tulis. Ternyata pihak panitia penyelenggara menerima pemikiran saya dan saya pun melaju lolos ke seleksi tahap kedua, yakni video message.

Sampai disinilah saya mulai khawatir, karena seperti yang saya katakan, saya harus selalu 100%, dan mengingat keadaan keuangan yang belum stabil, saya cukup waswas jika kelak saya 100% berusaha lalu lolos ke tahap akhir lalu dihadapkan dengan kebutuhan transportasi dan akomodasi yang harus saya cukupi sendiri, uang dari mana?

Tapi saya kemudian percaya dengan alur yang diinginkan semesta dan nurani saya sendiri, entah kenapa dorongannya begitu kuat, saya kala itu dikuatkan bahwa ada kebaikan yang menunggu di ujung sana. Alhasil penggarapan video message pun seadanya, berbekal gawai-gawai yang tak canggih dan piranti lunak gratisan yang kurang mumpuni. Saya pun tidak mempromosikan unggahan video tersebut kepada khalayak sebab, selain malu dengan kualitas teknis video, saya juga takut jikalau nantinya lolos, orang akan mengira kelolosan saya disebabkan oleh jumlah view atau likes, sementara saya ingin mengetes obyektivitas dari seleksi ini. Ternyata penyelenggaraannya betul-betul obyektif, saya yang memperoleh jumlah view dan likes jauh lebih sedikit dibanding kawan-kawan lain, dinyatakan kembali lolos untuk kedua kalinya, menuju seleksi tahap akhir.

Pengumuman menuju seleksi tahap akhir ini pun saya tak mendapatkannya secara langsung. Sempat sedikit lupa akibat kesibukan yang melanda, seorang kawan baik di Jogja, Mas Imam, suatu hari menghubungi saya dan mengucapkan selamat, rupanya nama-nama peserta yang berhasil lolos telah dirilis di situs resmi Kemenlu. Nuwun, Mas Imam!



Tahap akhir ini berupa rangkaian acara karantina dan malam final, semua berlangsung di Jakarta. Yang artinya, saya harus kembali ke Jakarta. Dengan tenggang waktu yang sangat mepet (jarak antara pengumuman dan mulainya karantina hanya berkisar kurang dari satu minggu, begitu juga dengan hari terakhir karantina dan berakhirnya masa liburan musim panas). Dan tentu saja, dengan uang yang entah dari mana, karena ternyata akomodasi dan transportasi yang ditanggung oleh panitia penyelenggara hanya bagi mereka yang berasal dari dalam Indonesia. Tentu, tak heran.

Sekitar dua tiga hari saya gelisah. Saya bahagia bisa mewakili daerah, saya bahagia bisa membanggakan diri sendiri dan orang tua, saya bahagia akan hal-hal baru yang mungkin akan saya temui di Jakarta. Namun, segala kerancuan dan ketidakpastian membuat perasaan gelisah terus bergelayut di pikiran. Adanya kebutuhan-kebutuhan lain seperti pakaian adat dan alat rias yang harus dibawa selama karantina, membuat konsentrasi semakin buyar. Harus sewa dimana? Bisa beli dimana? Bagaimana cara membawanya?

Tapi saya sadar, semua pertanyaan sesungguhnya telah memiliki jawabannya masing-masing. Dan saya ingat, jawaban itu letaknya hanya ada dalam nurani yang tak meragu. Akhirnya saya pikir, saya harus segera memutuskan. Kembali ke prinsip 100% iya atau 100% tidak. Karena kalau saya sendiri tidak tegas dengan diri sendiri, akan ada lebih banyak lagi kebingungan yang timbul, dan saya tak pernah ingin membuat orang lain ikut merasa repot.

Saya tanya pada hati saya, do I really want to go?

Beberapa saat merenung, saya menemukan jawabannya. Jika memang sedari awal saya tidak ingin mengikuti seleksi ini, mungkin saya tak akan bersusah payah melakukan riset untuk esai, tak akan repot-repot mempelajari piranti lunak untuk video message yang sebelumnya asing bagi saya, dan saya bahkan mungkin tak akan pernah memikirkan segala keruwetan mengenai tiket, akomodasi, sewa baju, alat rias, dan sebagainya. Jika memang sedari awal saya tidak ingin mengikuti seleksi ini, I'd move on and let everything go. Namun saya tidak.

Yes, I really want to go.

Awalnya, ketika bicara dengan Bunda di telepon, beliau agak tidak setuju. Kami memang sering berselisih paham mengenai beberapa hal, umumnya disebabkan karena kesoktahuan, kenekatan, atau kengototan saya melakukan sesuatu, sementara beliau selalu berhati-hati dalam bertindak, memastikan segalanya jelas dan terukur. Beliau tidak setuju terutama karena, selain pertimbangan biaya, beliau lebih merestui jika saya mulai berkembang dalam kegiatan-kegiatan ekstra di wilayah Prancis atau bahkan Eropa, ketimbang kembali pulang dan berkegiatan "disitu lagi, disitu lagi". Saya menghargai pendapat tersebut, namun nurani tak bisa bohong. Sepertinya Ayah memahami, beliau tak pernah melarang anaknya untuk berkembang, dan Ayah akhirnya mendukung penuh keputusan saya untuk kembali ke Jakarta. Keputusan akhir, Bunda hanya bertanya, "Semua hal tidak boleh dilakukan tanpa arti, apa targetmu kali ini?". Saya tak menjawab, melainkan berujar dalam hati, "Apapun itu nanti, yang jelas semoga bisa bermanfaat bagi banyak orang".

Setelah itu, mengingat hari karantina sudah makin dekat, kami langsung membeli tiket pesawat. Sebetulnya proses pembelian tiket ini pun cukup runyam, terlebih karena saya ingin mencari dukungan sponsor, sementara sisa waktu tersisa begitu mendadak, hingga tidak ada sponsor yang menanggapi saya karena terlalu mepet. Selain itu, kami juga masih memantau harga-harga tiket yang tersedia, meski saya pun sebetulnya menyadari bahwa kemungkinan tiket murah tersedia itu sangatlah kecil, apalagi bertepatan dengan masa-masa usai libur musim panas. Berkali-kali Mbak Talitha, selaku pembimbing kami di Jakarta, mengontak bahkan sampai mempertanyakan kesediaan saya untuk hadir, saking belum pastinya keberangkatan saya ke Jakarta.


Tak hanya saya yang berjuang mengirimkan surat elektronik berisi proposal permohonan sponsor dan dokumen-dokumen penunjang lainnya ke sejumlah perusahaan serta aparatur pemerintahan, orangtua saya di Jogja pun mondar-mandir mencetak beberapa jilid proposal, memformat video message saya menjadi sebuah CD, lalu mendatangi beberapa kantor pemerintah daerah untuk menyampaikan semua berkas tersebut. Namun, kami maklum, seperti yang telah saya katakan, terlalu mepet.

Akhirnya, seperti yang sudah-sudah, orangtua saya kembali berkata, "Makin banyak pengeluaran untuk hal yang bermanfaat, berarti ada makin banyak doa agar rejeki juga dilipatgandakan". Tak ada kata-kata yang bisa melukiskan perasaan saya acapkali mereka berujar seperti itu. Saya selalu bangga karena memiliki orangtua yang suportif, saya merasa sungguh beruntung, namun di sisi lain saya juga sering merasa menjadi beban, di saat orangtua lain bisa menggunakan uangnya untuk keperluan yang mereka inginkan, beberapa rutin gonta-ganti kendaraan, beberapa membeli rumah baru di sana sini, beberapa bertualang keliling dunia, tapi prioritas orangtua saya selalu pendidikan dan pendidikan. Bagi mereka, tak ada yang lebih berharga ketimbang melihat anak-anaknya berkembang sesuai potensi dan minat masing-masing, dan saya tak bisa berhenti bersyukur untuk itu.

Kemudian tiket pun terbeli, saya melaju dari Lille menuju bandara Brussels Zaventem menggunakan kereta api, kemudian berangkat dari Zaventem menuju Jakarta dengan transit terlebih dulu di Doha, Qatar. Perjalanan ini pun diwarnai drama keterlambatan pesawat hingga 5 jam lamanya, dimana saya semestinya berangkat pukul 23 malam hari menjadi pukul 4 pagi keesokannya, dan ini berarti saya harus terjaga sepanjang malam. Kala itu saya duduk di ruang tunggu bersama dengan banyak sekali orang Indonesia, termasuk para Tenaga Kerja Indonesia dan Tenaga Kerja Wanita, bahkan beberapa ada yang memutar dangdut koplo melalui ponselnya.




Di dalam pesawat udara, ternyata saya duduk di samping pasangan suami istri dari sebuah ibukota negara Timur Tengah yang sayang sekali saya lupa tepatnya. Saya duduk di tepi, dekat lorong pesawat, di sebelah sang suami, dan istrinya duduk di tepi dekat jendela. Saya berbincang lumayan banyak dengan sang suami, beliau sangat ramah dan fasih berbahasa Inggris. Beberapa kali telah mengunjungi Indonesia, dia menganggap Indonesia begitu indah dan tujuannya kala itu adalah berwisata ke Puncak. Sang istri, tak berbicara banyak, bahkan sama sekali tak berbicara dengan saya, hanya tersenyum sesekali, namun saya merasa bahwa ia membuang muka tiap kali saya ajak bicara dalam percakapan. Kemudian saya pikir, mungkin itu adalah budaya Timur Tengah yang masih kental dengan patriarki, tak apalah, bukan urusan saya juga selagi tidak ada masalah. Namun kemudian, timbul masalah. Belum juga pesawat take off, pasangan ini sedikit berselisih paham dan cekcok tanpa suara. Saya baru mulai menyadari ada hal tak beres ketika tiba-tiba sang suami membenturkan kepala istrinya ke jendela pesawat, dan saya melihat sang istri kemudian mengusap sudut matanya, seperti menangis. Itu adalah kali pertama saya menyaksikan kekerasan dalam rumah tangga secara langsung, dalam jarak kurang dari satu meter dari tempat saya duduk. Dan saya hanya bisa mematung. Saya memang merasa kurang nyaman, namun saya pikir saya tak berhak untuk mengambil tindakan lebih lanjut. Saya hanya berjanji pada diri sendiri untuk memanggil bantuan ke ruang pramugari jika hal tersebut terulang lagi. Ternyata, bukannya terulang, yang terjadi kemudian malah justru sebaliknya. Sang suami beberapa kali, dalam penerbangan tersebut, memeluk-meluk istrinya, dan sang istri pun, selama si bapak tertidur pulas di bahunya, mengusap-usap kepala suaminya. Bisa dibayangkan, berarti kejadian membenturkan kepala adalah hal yang wajar terjadi dalam beberapa rumah tangga, dan ada kemungkinan, jika saja tadi saya meminta bantuan atas perlakuan si suami terhadap istrinya, bisa jadi si istri malah kebingungan, karena mungkin saja dia telah terbiasa dengan hal tersebut.

Mengerikan. Sangat. Mengerikan.
Namun mau bagaimana, saya selalu diingatkan oleh Bunda, bahwa "Kita tidak bisa menolong orang yang tidak mau menolong dirinya sendiri". Menolong orang model begitu hanya akan berujung dengan pelepasan energi yang sia-sia, lelah, namun tanpa hasil.

Sangat melegakan ketika akhirnya saya sampai dengan selamat di bandara Cengkareng, dengan hawa panas yang langsung menyergap kulit, seolah menyapa, "Welcome back to reality!". Tanpa ada seorang pun yang menjemput, karena memang saya tak ingin terlalu vokal mengenai seleksi tahap akhir ini, terlebih karena saya hanya punya sedikit waktu dan sudah jelas tak akan bisa menanggapi ajakan kopi darat ke sana kemari yang mungkin akan ditujukan oleh kawan-kawan. Berbekal uang Rp 50.000 yang masih saya miliki sejak tahun lalu, saya memutuskan untuk naik Damri tujuan Gambir, sebab saya telah memesan capsule hostel untuk bermalam dua hari sebelum pindah ke lokasi karantina di daerah Kemang. Kala itu sekitar pukul 22 malam, Damri datang dan saya bergegas menuju ke stasiun Gambir. Dari Gambir, saya memesan taksi untuk menuju ke Old Batavia Hotel Cikini.




Capsule hostel yang sangat murah meriah, pelayanan ramah, dan penuh oleh orang-orang asing. Di malam pertama saya tiba disana, saya adalah satu-satunya orang Indonesia yang menginap. Menyenangkan, terlebih itu adalah kali pertama saya mencoba capsule hostel.

Keesokan paginya siangnya, saya terbangun oleh ketukan room service di pintu, meminta ijin membersihkan kamar. Saya terkesiap dan melongok jam ponsel, tertera pukul 09 pagi. "Ah, masih jam 9", pikir saya. Telah terbiasa dengan kebudayaan Barat yang jarang bangun lebih awal dari pukul 8 di hari biasa atau sekitar pukul 10 di akhir pekan, saya merasa aman karena toh tamu yang menginap lainnya pun juga warga negara asing. Akhirnya saya bergegas mandi dan bersiap-siap melakukan semua agenda di hari itu: makan makanan Indonesia dan cek kesehatan di rumah sakit. No time for jetlag! :)

Beruntung, di kawasan Cikini itu juga, saya menemukan restoran Bumbu Desa yang sering saya datangi ketika kursus Bahasa Prancis dulu di daerah Sagan, Yogyakarta. Hanya saja saya sedikit heran kala itu, restoran cukup ramai untuk ukuran pukul 10 pagi, seperti layaknya jam makan siang. Setelah selesai makan leunca, terong balado, mendoan, nasi uduk, dan minum es kelapa muda, barulah saya paham, kalau jam yang tertera di ponsel belum menyesuaikan secara otomatis dengan jam di Indonesia, yang berarti lima jam lebih dulu dibanding waktu Prancis. Berarti, saya bangun hari itu pukul 2 siang dan "sarapan" pukul 3 sore...




Saya kemudian bergegas meninggalkan restoran untuk mencari rumah sakit atau laboratorium, dimana saya bisa melakukan cek kesehatan dan tes urine, sebagai salah satu syarat dokumen karantina. Saya mulai cemas karena takut laboratorium-laboratorium mulai tutup karena hari sudah sore sementara keesokan hari adalah hari pertama karantina dimulai. Saya bertanya pada beberapa orang, akhirnya setelah entah berjalan kaki berapa kilometer, saya menemukan juga Rumah Sakit Kristen Cikini. Sebetulnya sepanjang perjalanan itu saya beberapa kali mengalami catcall, bahkan sempat membentak seorang bapak yang menyiul-nyiuli saya, namun saya enggan menceritakannya disini, toh semua pasti sudah paham ya betapa menyebalkannya hal tersebut bagi saya, terutama setelah setahun tidak pernah menemukan kebodohan-kebodohan jalanan seperti itu di Eropa.

Di rumah sakit yang kuno itu, saya ditangani secara medis oleh seorang dokter senior yang menasehati saya banyak hal mengenai hidup dan karier, terutama karena beliau pernah menempuh pendidikan di Den Haag, sehingga sedikit banyak memahami kehidupan perantauan dan perasaan kagok ketika kembali ke tanah air. Setelah hasil kesehatan dan tes urine diberikan, saya pun pulang lalu memesan taksi untuk menuju ke Mall Kota Kasablanka, saya potong rambut disana! :) Akhirnya, setelah setahun rambut tidak menyentuh gunting profesional (di Lille biasa potong rambut sendiri, hahaha). Kapster salon saya adalah seorang mas-mas yang sangat baik hati dan, jujur, hasil potongannya adalah potongan terbaik yang pernah saya dapatkan seumur hidup. Lebay, tapi begitu adanya. Mohon jangan sewot! :) Saya pasti kembali lagi kesana, hahaha.

Keesokannya, saya check out dari Old Batavia dan dijemput oleh mobil Kementerian Luar Negeri untuk menuju ke POP! Hotel Kemang, lokasi karantina berlangsung selama hampir sepekan. Kawan-kawan yang saya temui pertama kali disana adalah Kang Hagi dari Banten dan Kak Alia dari Jakarta, bahkan saya sempat berbincang cukup lama dengan Ibu Kak Alia juga, yang ternyata berasal dari Jogja. Menjelang sore, saya bergegas menuju ke Mall Kemang Village untuk berbelanja hampir semua peralatan yang diminta oleh panitia untuk membawa, karena saya tidak memiliki hampir semua peralatan tersebut, seperti alat rias, sepatu hak tinggi, rok span, kemeja putih... Yang mengenal seorang Asyana dengan baik pasti paham bahwa itu semua, sebetulnya, bukan 'Asyana banget', hahaha. Lagipula, saya juga sempat janjian dengan paman kandung yang kebetulan bekerja di daerah situ, namun sayang beliau kemudian harus mengikuti rapat mendadak. Berbelanja alat rias, rupanya sangat sangat tidak mudah bagi saya (ada eyeliner dalam dua warna berbeda, bertuliskan noir dan black, what do you expect me to choose?), hingga akhirnya saya memutuskan untuk menghadiahi diri dengan menyantap banyak makanan Indonesia di foodcourt. Lumayan banyak, sampai-sampai bapak penjaga kasir terbelalak dan menyeletuk, "Banyak amat, Neng, makannya?".

On table: kue cubit, kue ape, asinan Bogor, pecel Madiun

On table: es durian, pempek Palembang

Seusai makan, saya mampir ke salah satu kedai kopi dulu sebelum kembali ke hotel. Sepulang saya di hotel, ternyata telah berkumpul banyak sekali teman, dan petualangan satu minggu itu pun dimulai!