Tuesday, July 25, 2017

Mengenal Perspektif

Ada seorang senior baik hati yang selalu terbuka dengan berbagai diskusi, meski saya tahu beliau adalah sosok yang sangat agamis dan memiliki idealisme yang begitu berbeda dengan saya. Kami sama-sama teguh pendirian, namun berusaha saling menghormati, tiap perbedaan pandangan kami sikapi dengan lapang dada. Belum lama saya mengenal beliau, mungkin kira-kira dua bulan lamanya. Dan dimulai dari perkenalan itulah rupanya saya kemudian bisa belajar menyelami pola pikir mereka yang selama ini saya anggap asing.

Identitas fisik saya adalah perempuan, dilahirkan di Jawa, dan dibabtis oleh orangtua yang beragama Katolik.

Kebetulan saya tak pernah meminta.

Secara singkatnya, senior ini, adalah 180 derajat berkebalikan dengan saya.

Saya membaca banyak tulisannya di media massa, dan ciri khas itu selalu ada: lugas, tegas, idealis, tapi tak menciptakan jarak, tak intimidatif, dan masuk akal, bahkan bagi saya yang punya latar belakang kehidupan berbeda dengannya.

Usia kami hanya berjarak satu tahun, namun kepribadian beliau begitu dewasa dan mungkin inilah yang membuatnya selalu mendapat jabatan strategis di badan-badan organisasi nasional tempatnya bernaung.

Dari beliau saya belajar banyak hal, saya belajar memahami sesuatu yang berbeda dari sudut pandang yang baru, saya belajar keluar dari zona pergaulan dan inner circle saya selama ini.

Saya menerima keberadaan LGBT, beliau tidak sama sekali, tapi saya kini memahami.
Saya tak terlalu tertarik lagi dengan aktivisme yang berapi-api di jalanan, beliau masih terus bergerilya disana, dan saya mulai memahami.
Saya jarang beribadah bersama umat, beliau bahkan yang memimpin umat, saya pun memahami.

Saya senang bisa mengenal beliau, bahkan bisa berdiskusi tentang apa saja. Beliau tak pernah merendahkan saya, meski mungkin sosok seperti beliau bisa saja melakukannya terutama ketika berada di negara kami yang menjadi rumah bagi mayoritas kaum keyakinannya. Tapi beliau tidak. Beliau tak pernah membawa ranah privatif dalam diskusi kami, beliau tetap menghormati saya. Meski saya perempuan, meski saya Katolik.

Saya tak pernah memahami mengapa orang berperang.
Mengapa orang bertikai.
mengapa orang saling membenci.

Saya berusaha berdamai dengan kenyataan, bahwa perbedaan memang ada, dan tak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain menerimanya.

Tapi saya juga menyadari hal lain:
Ketika kita terbiasa hidup dalam lingkungan yang tak majemuk, kita akan sulit menerima kemajemukan. Ketika kita terbiasa hidup tanpa penolakan, kita akan mudah menolak mereka yang berbeda dengan kita. Padahal kita tak perlu menjadi beda untuk belajar memahami perbedaan, kita hanya perlu jadi manusia.

Yth Mas Muhammad, terima kasih! Sampai jumpa di Indonesia timur!

Untuk Dia Yang Dibentang Jarak


Untukmu, yang dibentang jarak
Yang dibatasi sebelas ribu kilometer darat dan laut jauhnya

Tanah Airku,
Apa kabarmu?
Jangan tanya kabarku, apalagi kabarnya dia si rasa rindu.
Dia masih ada disitu, kusuruh pergi dia tak mau, katanya baru lunas jika dibayar oleh waktu.
Memang inginku pun begitu, sejenak persingkat jarak bertemu denganmu.
Tapi mungkin kini belum saatnya, aku masih harus berjuang merenda cita-cita, jadi kadang pinta si rindu aku abaikan sementara.
Aku kadang ingat Ayah Bunda, bagaimana untukku mereka berdoa, bersimpuh memohon padaNya, "Jadikan anakku manusia yang berguna"
Aku ingin menjadi jawaban bagi doa mereka, berguna bagi bangsa dan dunia, karena aku tahu hanya itu satu-satunya cara untuk membayar kasih sayang mereka.

Tanah Airku,
Kadang sulit hidup di perantauan, susah senang pengalaman aku lalui sendirian.
Kadang ada rasa ingin menyerah, lelah. Kadang ingin berhenti, mengakhiri.
Namun cambuk semangatku adalah kamu, Tanah Airku. Untukmu aku terus berseteru, melawan peluh dan air mataku, melawan ragu dan terus melaju.
Ingatan tentangmu membuatku terus semangat, karena padamu hati ini tertambat. Orang-orang bertanya mengapa, aku sendiri tak tahu mesti bilang apa.
Bagiku kamulah segalanya, itu saja.
Aku lahir disana, rumahku disana, dan aku mau mati disana.
Aku tumbuh karena airmu dan kelak dikubur dalam tanahmu.
Aku tahu hanya kamu satu-satunya, dan tak terganti sepanjang masa.

Tanah Airku,
Apa kabarmu? Jangan tanya kabarku, apalagi kabarnya dia si rasa rindu.
Secepatnya pasti ku lunasi tapi tanpa janji, sebab janji hanya membuat kita saling menanti.


Lille, 25 Juli 2017
Subuh

Monday, July 24, 2017

Sekolah Tak Mesti Tinggi, Tak Mesti ke Luar Negeri



"Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China", begitu riwayat hadits yang sering dipesankan orang-orangtua pada anaknya. Saya juga sempat diberitahu demikian ketika masih kecil, tapi ternyata garis hidup membawa saya ke Prancis, bukan ke China, hehe.

Tapi intinya bukan China-nya, USA-nya, Aussie-nya, atau mungkin Indonesia-nya. Bukan tentang tempatnya.

Lalu ada juga yang bilang, "Sekolah yang rajin ya, menuntut ilmu itu harus setinggi-tingginya". Hmm, Pak Setya Novanto itu lulusan S2 Akuntansi lho, orang keuangan dan wakil rakyat, tapi bolak-balik kasus juga toh?

Intinya bukan setinggi-tingginya, bukan gelarnya, bukan tentang berderetnya tambahan-tambahan akronim di belakang nama kita.

Bahkan, seperti dilansir oleh para peneliti dari Universitas Warwick dalam artikel yang berjudul "Education may not improve our life chances of happiness", asumsi mengenai faktor sosioekonomi (termasuk juga pendidikan dan keuangan pribadi) bisa meningkatkan kualitas kesehatan kejiwaan seseorang ternyata tak sepenuhnya terbukti.

Menurut pimpinan riset, Profesor Sarah Stewart-Brown, "Hasil penelitian ini cukup kontroversial karena kami berharap dapat menemukan keterkaitan antara faktor sosioekonomi dengan sehatnya mental seseorang, sebab selama ini faktor sosioekonomi dianggap memiliki andil dalam penyakit kejiwaan. Jadi jika seseorang dengan pendidikan rendah rentan mengalami kelainan kejiwaan, maka pendidikan tinggi semestinya bisa dikaitkan dengan mental yang sehat. Namun ternyata hasilnya tidak demikian".

Kalau bukan tempat dan tingginya, lalu apa yang paling esensial dari sebuah pendidikan?

Ya. Semua itu tentang: Kamu belajar apa? Apa yang kamu pelajari?

Puisi favorit saya karangan WS Rendra melukiskan dengan apik bagaimana kalangan akademisi kadang menempatkan dirinya begitu tinggi bak di atas menara gading, namun ketika diminta turun ke masyarakat ia akan kikuk dan tak memahami medan. Judulnya, "Seonggok Jagung"

Aku bertanya,
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya?
Apakah gunanya pendidikan
bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota
kikuk pulang ke daerahnya?
Apakah gunanya seseorang
belajar filsafat, sastra, teknologi, ilmu kedokteran,
atau apa saja,
bila pada akhirnya,
ketika ia pulang ke daerahnya, lalu berkata:
Di sini aku merasa asing dan sepi?

Jadi...

Kamu belajar apa? Apa yang kamu pelajari?

Percuma ketika kita sekolah jauh-jauh atau tinggi-tinggi tapi kita tak memahami apa yang kita pelajari, apa esensinya, apa yang mau kita lakukan dengan ilmu yang kita miliki.

Jika ilmu yang kita pelajari tak lagi menyentuh inti hati dan tak membuat kita merasa senang mempelajarinya, jauh-jauhnya jarak dan tinggi-tingginya kesempatan hanya akan menjadi siksa yang beruntun, "Kok nggak selesai-selesai ya?", disinilah kadang lumrah ditemui homesick, ada kata-kata ingin menyerah, lalu stress dan jadi tak sehat batin maupun fisiknya.

Kesimpulannya, kata saya, boleh setuju boleh tidak: sekolah boleh dekat-dekat dan tidak harus selalu tinggi-tinggi!

Ya, ini saya yang bicara. Saya. Seorang anak yang memohon-mohon pada orangtua untuk diikhlaskan merantau jauh-jauh demi melihat dunia dan mengejar gelar sarjana. Jauh sekali. Saya sampai malas pulang karena perjalanannya sangat lama dan membuat badan pegal.

Ya, ini saya yang bicara. Saya. Karena saya melihat dan mendengar dengan mata dan telinga saya sendiri bagaimana anak-anak sering dibanding-bandingkan, dikomparasikan, dibentuk sesuai keinginan orangtua mereka.

"Contoh si A itu, sekolahnya di luar negeri"
"Contoh si B dong, udah jadi professor lho dia"
"Contoh si C, kuliahnya serius, dapet cum laude"

Padahal tidak semua yang berhasil sekolah di luar negeri, yang berhasil jadi professor, yang berhasil lulus cum laude itu berhasil menjadi seorang "manusia". Ada yang menghalalkan segala cara: menyontek, nitip anak ke kerabat, ketika lulus dan kerja malah jadi koruptor... Role model seperti itukah yang mau kita sodorkan ke generasi muda?

Bukan.

Tiap anak punya kesukaannya masing-masing dan tujuan hidup mereka berbeda-beda. Ada yang memang tidak mau kuliah di luar negeri, dan ada yang memang tak mau sekolah tinggi-tinggi karena mereka memang mau langsung mengabdi. Contoh: adik saya.

Kami beruntung punya orangtua yang tak pernah membandingkan anak-anaknya karena karakter kami sangatlah berbeda. Saya memang suka aktivitas sosial dan ingin ke luar negeri sejak kecil, tapi Adik tidak, dan orangtua saya TIDAK PERNAH sama sekali berkata, "Contoh kakakmu itu kuliah sampai Prancis, ikut kegiatan A B C D", ya karena Adik saya memang punya jalan yang beda dengan saya!


Dia lebih suka kegiatan alam dan dunia penerbangan, mana ada interest untuk mampir ke panti sosial seperti saya?

Kalau ingin berlomba-lomba atau membandingkan anak anda dengan anak lain, bandingkanlah USAHANYA. Berlomba dalam menunjukkan daya juang, BUKAN gelar.

"Kamu itu mbok kayak si A, dia tekun banget belajarnya"
"Itu lho si B, ke luar negeri dengan biaya sendiri, tiap hari kerja dan nabung gak minta orangtua"
"Si C itu kamu lihat, dia kuliah sambil kerja di restoran lho, pinter deh bagi waktunya"

Dan sebagainya.

Memang kadang ada iri saat melihat anak lain kuliah di luar negeri atau sekolah tinggi-tinggi, saya tahu karena beberapa orangtua sering bilang begitu ke orangtua saya dan bahkan ke saya sendiri.

Memang berat untuk membesarkan buah hati di dalam standar masyarakat yang masih menomorsatukan gelar.

Memang berat.

Tapi saya mohon, dengan sangat.

Ibu saya selalu bilang, tiap anak istimewa dengan kemampuannya sendiri.

Tak perlu sekolah jauh-jauh dan tinggi-tinggi, kalau dia bangga sudah bisa jadi petani atau nelayan inovatif yang memberi makan seluruh negeri, tanah air sudah berhutang padanya.

Tak perlu sekolah jauh-jauh dan tinggi-tinggi, kalau dia bahagia dengan bisa mengajar anak-anak jalanan dan menghimpun sedekah untuk mereka, tanah air sudah berhutang padanya.

Maka...

Jangan pernah bangga hanya karena telah menyekolahkan anakmu jauh-jauh di luar negeri, jangan bangga hanya karena gelar yang mereka dapat dari pendidikan tertinggi.

Banggalah ketika anakmu mencintai apa yang mereka lakukan, ketika mereka berguna bagi bangsanya, ketika mereka hidup bahagia dan penuh syukur, ketika mereka ringan tangan untuk berbagi, ketika mereka bisa menemukan sisi positif dari guru kehidupan, ketika mereka berkata tidak untuk menyerah dalam keterbatasan, ketika mereka disayangi dan selalu dirindukan oleh lingkungan sekitarnya.

Tiap anak istimewa.
Dan kita tak harus berjauh-jauhan dulu untuk membuktikannya.


Lille, 19 Juli 2017
(Untuk Ayah dan Bunda, terima kasih karena telah selalu mengijinkanku menjadi aku, dan tak pernah menuntutku untuk jadi orang lain selain aku)
Pernah menjadi headline Kompasiana

Thursday, July 20, 2017

Alasan Kenapa Perempuan Sebaiknya Mencoba Solo Traveling, Setidaknya Sekali Seumur Hidup

Tak tahu dari mana datangnya, kesenangan bepergian sendirian atau solo traveling itu tiba-tiba muncul begitu saja. Mungkin karena kebiasaan orang tua yang juga senang melancong atau karena kegemaran membaca majalah National Geographic. Perjalanan pertama waktu itu ke Bandung, ketika duduk di bangku kelas 2 SMA, dari Jogja naik kereta api Lodaya dan menginap di hostel murah meriah di daerah Dago, yang beruntungnya khusus disediakan untuk pelancong perempuan.

Saya ingat betul betapa senangnya ketika itu, menemukan hal-hal baru dengan usaha sendiri dan mengenal lingkungan baru tanpa bisa bersikap mbok-mbokan, kalau istilah orang Jawa bilang, manja. Tahun-tahun berikutnya selalu dihabiskan dengan melancong ke kota yang belum pernah dikunjungi, hingga kesenangan ber-solo traveling itu bagai pucuk dicinta ulam pun tiba ketika di tahun 2016 saya pindah ke Prancis untuk melanjutkan kuliah sarjana.

Excited? Sangat! Eropa! Banyak yang sering mengkhawatirkan keamanan atau kenyamanan dalam melancong sendirian. Namun saya percaya, dua hal tersebut bisa menjadi sebuah hal positif atau negatif tergantung dari pemikiran maupun attitude kita sendiri, dan tentu saja sebetulnya tidak memandang jenis kelamin. Alam memperlakukan kita semua sama. Jika ditanya lebih banyak suka atau dukanya, tentu semua bisa menjawab dong ya? Kalau tidak, bagaimana bisa ketagihan coba, hehehe. Ada beberapa hal yang menjadi penyebab rasa nagih itu, berikut saya urutkan berdasarkan studi banding juga dengan web sebelah. Jangan lanjut baca kalau jiwa petualangmu tak siap untuk bergejolak, ya! :)

Mungkin pengalaman masing-masing perempuan akan berbeda, tapi gimana kamu mau tahu kalau kamu belum coba? :)

1. Melancong sendirian membuat kamu lebih percaya diri.


Wah, ini benar sekali! Karena kamu adalah seorang solo traveler, tentu kamu tidak punya kawan perjalanan untuk berbagi cerita, ide, atau bahkan keluh kesah. Mau tak mau kamu akan ada dalam situasi di mana harus bertanya pada warga lokal, berkenalan dengan sesama pelancong, atau mengambil keputusan yang dipikirkan sendiri. Hal-hal ini tentu akan bikin kamu lebih berani dan percaya pada kemampuan diri sendiri, bahkan tak jarang akhirnya kita akan mikir, “Loh, ternyata aku bisa ya melakukan itu?”

2. Lebih bebas!


Mungkin ini adalah alasan utama kenapa saya (dan kamu!) harus terus melakukan petualangan-petualangan sendirian. Bukan tak menghargai partner perjalanan, tapi karena saya tipe orang yang malas ribet atau berdiskusi panjang-panjang saat bertualang. Saya sering tak sabaran jika punya partner yang terasa ‘membebani’ perjalanan. Saya tentu lebih senang bepergian sendiri karena lebih ringkas dan bebas menentukan pilihan. Misal kamu senang mampir ke museum namun mayoritas teman perjalanan kamu tidak, nah saat melancong sendirian ini lah kamu bisa bebas sepuasnya masuk ke museum tanpa ada yang mengeluh. Seru, kan?

3. Bikin kita keluar dari zona nyaman.


Gimana nggak, saya pernah harus tidur di Bandara Bali dan Den Haag karena menunggu penerbangan subuh. Nyaman? Boro-boro! Koleksi koyo di punggung! Zona nyaman saya tentu ada di rumah, dengan kasur empuk dan selimut yang hangat, nonton Netflix sambil makan camilan… Lah ini, tidur di bandara yang bising, dingin, kursinya keras pula! Tapi kenapa saya mau ‘tersiksa’ begitu? Ya karena di tiap perjalanan pasti akan ada hal-hal menakjubkan yang bikin semua ‘siksaan’ itu paid-off, lunas!

4. Ada proses menyembuhkan luka batin.


Sakit hati karena diputusin pacar, ingin ‘kabur’ sejenak dari rutinitas tugas kampus yang membelenggu, terbayang-bayang trauma di masa lalu… bukan tak mungkin solo traveling bisa sedikit banyak mencerahkan pikiran kamu dari hal-hal tersebut. Caranya? Begini, dengan kamu merasakan atmosfer baru, inspirasi akan tumbuh dan bermunculan secara alami. Selain itu, biasanya kamu juga akan menyaksikan keadaan-keadaan di luar jangkauan sehari-hari, misal bertemu dengan orang tak mampu di pinggir jalan dan sempat berbincang-bincang, bukan nggak mungkin lho kamu bakal kepikiran, “Oh, ternyata hidupku masih jauh lebih beruntung ya!”

5. Bikin kita belajar hal baru!


Belajar hari gini bukan cuma di dalam ruang kelas aja, belajar bisa dilakukan di mana pun. Literally. Ketika melancong sendirian, kamu akan ketemu dengan bahasa baru, kultur baru, hingga nilai-nilai kehidupan yang nggak pernah kamu ketahui sebelumnya!

6. Ada rasa percaya yang timbul: kebaikan tuh masih ada!


Ya, nggak bisa dipungkiri, dunia di mata media seringkali digambarkan kejam: perang dimana-mana, kejahatan kemanusiaan, kecelakaan… Namun sebetulnya hal-hal seperti itu hanyalah sebagian dari keseluruhan. Saya banyak sekali dibantu orang asing selama melancong, bahkan oleh mereka yang dari tampangnya nggak terlihat baik-baik, katakanlah bertato, terlihat lusuh, dan sebagainya. Percayalah, sekali kamu ‘keluar rumah’, kamu akan paham apa yang saya maksud. Your faith in humanity will be restored!

7. Menemukan diri sendiri!

Pernah nggak kita bertanya-tanya dalam keseharian, “Aku sebenarnya ngapain, sih?” “Aku tuh maunya apa?” dan sejenisnya? Tenang, you’re not the only one. Mempertanyakan jati diri dan keseharian sehari-hari itu lumrah, dan dengan melancong sendirian, jujur saya jadi bisa makin menemukan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu. Entah dari pertemuan-pertemuan dengan masyarakat di daerah lain, entah dari tempat-tempat yang kita kunjungi, atau dari perjalanan-perjalanan yang kita lewati, asal kita merasakan dengan peka, akan tercipta energi-energi positif yang membuat kita makin memahami diri sendiri.

Wednesday, July 12, 2017

Perjalanan Menggapai Mimpi

Setiap manusia ditakdirkan memiliki jalan hidup berbeda-beda, yang ditentukan juga oleh cita-cita dan usahanya sendiri. Begitu pula dengan saya. Setapak demi setapak fase hidup ini saya beri nama Perjalanan Mimpi, dan Perjalanan Mimpi saya dimulai sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar.

Cita-cita saya sejak Sekolah Dasar hingga kini tak pernah berubah: menjadi diplomat Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tak kurang gila, saya pun dari dulu selalu berujar, “Ingin sekolah di Prancis”, yang tak ayal lebih sering membuat orang lain tertawa geli dibanding berdecak kagum. “Memangnya bisa? Gimana caranya?”, pertanyaan dan pernyataan keraguan dari merekalah yang sedari dulu membuat saya merasa tertantang: saya tak hanya harus membuktikan pada diri sendiri, namun juga pada dunia, bahwa segalanya mungkin terjadi.

Prancis selalu memikat hati saya. Meski waktu kecil saya tak tahu ada hal apa disana selain Menara Eiffel yang menjulang di Kota Paris, meski saya dulu tak pernah tahu bagaimana cara untuk pergi menuntut ilmu disana, meski saya dulu tak dapat mengucapkan kata-kata dalam Bahasa Prancis sama sekali, tapi kata-kata “Ingin sekolah di Prancis” tak pernah terhapus dalam ruang di hati kecil saya. Rupa-rupanya alam semesta sangat menyukai anak kecil yang bermimpi dengan lugu. Mungkin semesta tertawa, mungkin semesta terpana, mungkin semesta tak menyangka. Meski pada akhirnya semesta meluluskan keinginan masa kecil saya, Perjalanan Mimpi ini tak pernah semudah yang dikira orang kebanyakan.

Saya tak dilahirkan dari keluarga berada, saya tak pernah bisa sesuka hati memiliki apa saja yang saya inginkan. Entah boneka ketika saya masih kanak-kanak, hingga gawai terkini yang canggih saat saya beranjak remaja. Orangtua saya yang mengajarkan saya arti kerja keras dan kerja cerdas. Mereka yang membuat saya mengerti bahwa tak ada mimpi yang tak bisa dicapai apalagi jika mimpi itu kelak dapat bermanfaat bagi masyarakat luas, alam semesta pasti akan selalu membukakan jalan. Dan falsafah itu yang saya genggam erat hingga kini, justru jadi warisan paling berharga dari orangtua saya, meski mereka tak bisa menjanjikan gelimang harta seperti orangtua kawan saya yang lainnya.

Saya selalu percaya bahwa kekuatan doa restu orangtua adalah hal yang penting, namun mereka tak akan pernah segampang itu mengucap restu jika tak ada pembuktian kuat dari janji yang kita umbar, selalu seperti itu. Dan kebanyakan anak akan cepat menyerah jika sudah merasa tak ada jalan untuk mendapat restu orangtua, lalu akhirnya dengan rela tak rela harus membenamkan mimpinya dalam-dalam. Tapi tidak dengan saya. Saya memilih jalan yang lebih menantang: terus maju memperjuangkan mimpi meski restu orangtua belum diberikan seratus persen. Awalnya memang terdengar seperti anak yang durhaka, tapi mereka pada akhirnya melihat bahwa saya punya kemauan yang kuat dan saya bekerja keras untuk membuktikan bahwa saya layak dipercaya untuk mendapat doa restu.

Selepas bangku Sekolah Menengah Pertama, saya mendirikan bisnis online yang akhirnya mampu membuat saya mandiri secara finansial sejak usia 16 tahun. Termasuk juga membayar biaya sekolah, biaya konsumtif sehari-hari, hingga akhirnya setelah lulus Sekolah Menengah Atas, saya mampu membayar uang kursus Bahasa Prancis yang nominalnya tak sedikit. Namun saya harus mencukupkannya sendiri tentu karena waktu itu saya belum memperoleh restu orangtua, sehingga tak ayal saya harus melakukan semuanya sendiri: mengurus administrasi, pendaftaran kuliah, mengirim dokumen-dokumen, membayar kursus dan membeli buku penunjang… Saya berusaha keras untuk tak mengeluh di depan orang-orang, di depan teman-teman, di depan orangtua, meski kadang saya merasa sangat lelah di malam hari, dan hanya ingin menangis saja di atas pembaringan, karena saya harus mengurus semuanya sendirian sekaligus berhati-hati menjaga perasaan kedua orangtua saya yang sempat merasa marah karena keinginan kami saling berbenturan. Semua usaha ini akhirnya terbayar lunas setelah orangtua saya memberi restu dan merelakan keinginan mereka agar saya kuliah di salah satu Perguruan Tinggi Negeri favorit di kota saya, semata-mata karena semangat saya untuk mewujudkan “Ingin sekolah di Prancis” tak lagi mampu dibendung.

Setelah restu orangtua saya dapatkan, semua beban rasanya terangkat dan pintu-pintu rejeki mulai terbuka lebar satu per satu. Meski dalam berbagai kesempatan, kedua orangtua saya selalu berujar, “Kami tak ada banyak biaya untuk membayar mimpi besarmu, tapi kami akan selalu memastikan kerja tim dalam keluarga ini akan mampu membawa langkahmu kemanapun yang kamu mau”. Kata-kata itu tak pernah berhasil mengendurkan semangat saya, malah justru membuat saya makin berapi-api, “Perjalanan Mimpi ini harus berproses dan berujung dengan sama bahagianya”.

Memang tak mudah, tak ada target muluk-muluk yang saya pasang, semua hanya ingin saya jalani dengan mengalir namun maksimal. Selalu saja ada yang meragukan, sempat membuat kerja tim dalam keluarga kami goyah, ada yang membuat semangat saya timpang, namun saya ingat betul waktu SD pernah mencetak sebuah gambar Menara Eiffel pada selembar kecil kertas HVS lalu saya simpan di sisipan mika transparan dalam dompet, dengan demikian saya seakan diingatkan bahwa saya harus selalu kuat karena sedang memperjuangkan sesuatu.

Tak ada kata yang mampu menggambarkan betapa magisnya perasaan yang menyeruak dalam dada ketika pada suatu hari di musim panas tahun 2016 itu, Menara Eiffel yang sekian lama hanya saya pandang-pandangi gambarnya, akhirnya terlihat jelas wujudnya. Haru, bahagia, bangga, semua menumpuk jadi satu. Eiffel yang cantik sore itu seperti menyorot kembali memori saya tentang Perjalanan Mimpi ini. Disana ada tekad kuat yang pernah saya perjuangkan, ada tangis kelelahan yang terdengar dari balik selimut di malam hari setelah saya memastikan semua orang terlelap, ada peluh bercucuran ketika saya berlarian kesana kemari mengurus berkas-berkas (saya tak bisa mengendarai kendaraan pribadi), ada semangat dari sahabat-sahabat saya yang selalu setia, ada pancaran wajah bahagia kedua orangtua saya, dan yang paling menohok adalah ada banyak kebaikan yang saya terima selama Perjalanan Mimpi ini. Disini ada dua lagi pelajaran penting yang saya ambil. Yang pertama, proses yang berliku jika dinikmati akan membuat tujuan akhir terasa lebih indah. Ketika berproses, entah saat senang maupun sedih, saya jadi merasa lebih dapat mengenali diri saya sendiri dan dunia di sekitar saya. Saya mendengar langsung cerita dari berbagai lapisan masyarakat karena selama melakukan Perjalanan Mimpi, saya dibawa pada petualangan-petualangan baru yang mempertemukan saya dengan orang-orang baru juga. Yang kedua, tujuan akhir akan terasa sangat berharga ketika kita dulu berusaha meraihnya dengan kerja keras dari nol. Saya belajar untuk tak meremehkan kekuatan mimpi, entah saat sedang dalam proses atau saat sudah tercapai.

Selepas sebuah mimpi besar masa kecil saya terwujud, saya kembali mengatur diri karena ada banyak tanggung jawab yang kini harus dibuktikan. Saya harus dapat bertahan hidup sendirian dengan anggaran secukupnya, beradaptasi dengan materi pelajaran yang tak dapat dibilang mudah, beradaptasi dengan dosen dan teman-teman yang beragam jenis sifatnya, beradaptasi dengan sistem di Prancis yang sangat asing, menyeimbangkan waktu antara belajar dan bekerja, belajar mengurus diri sendiri dan tempat tinggal… Karena saya tahu, saya berangkat ke Prancis tak hanya sebagai pembuktian, tapi juga menjadi perwujudan dari doa dan harapan dari banyak orang, terutama yang tak sabar menagih janji saya untuk segera berhasil agar dapat pulang, mengabdi pada tanah air tercinta.

Ketauilah, tak ada mimpi yang bisa ditebus dengan mudah. Ada harga yang harus dibayar dengan doa, semangat yang berpijar membara, dan kemauan untuk terus berusaha sesulit apapun tantangannya. Sejauh cita-cita itu kelak menjadi manfaat bagi dunia, harus percaya bahwa jalan akan selalu ada.

Terima kasih semesta, saya boleh bermimpi besar untuk Indonesia.

Monday, June 12, 2017

Ketika Aku dan Ibuku Bicara Politik



Beberapa kali mungkin orang-orang yang ada di sekitarku mendengar aku bilang ingin jadi politikus, mungkin dimulai waktu TK dimana aku bilang ingin jadi mahasiswa agar bisa ikut demonstrasi, atau mungkin saat aku sedang berapi-api semasa SMA, dimana aku pertama kali melaksanakan kewajiban dan hak sebagai warga negara dalam pemilihan umum. Presiden Joko Widodo sangat menginspirasiku kala itu, bagaimana seorang warga biasa bisa membawa perubahan positif dalam dunia politik. Aku juga mengagumi Pak Anies Baswedan, sebab kata-katanya selalu mencerahkan untuk masuk ke dunia politik demi kebaikan masyarakat.

Tapi bagaimana dengan saat ini? Masihkah aku ingin masuk ke dunia politik?

Sebenarnya semua diawali sejak aku mendaftar kuliah disini. Awalnya aku mendaftar untuk jurusan Ilmu Politik di Lille, namun di hari terakhir pendaftaran, entah kenapa aku memutuskan untuk memilih masuk jurusan Ilmu Hukum, dan sejak itu pandangan hidupku mulai perlahan-lahan berubah. Aku tak lagi berambisi untuk menjadi politikus yang ingin mendaki-daki level demi level jabatan seperti yang awalnya aku rencanakan, termasuk juga merelakan cita-cita untuk jadi wakil rakyat di Senayan. Awalnya aku kira, menjadi wakil rakyat adalah salah satu cara terbaik untuk menjadi corong perubahan, namun perlahan aku menyadari, kemungkinan besar aku tak akan merasa nyaman terus-menerus berada dalam atmosfer seperti itu. Tahulah, seperti apa. Setelah mempertimbangkan sedikit banyak hal, aku menyadari ternyata aku lebih senang bekerja secara independen dan tak terikat (dalam urusan pekerjaan profesional). Aku selalu ingin jadi netral, namun bukan berarti tak berprinsip.

Belakangan, melalui telepon, Ibu menyiratkan keinginannya terhadapku jika nanti aku sudah berada dalam kehidupan profesional, kaitannya dengan ilmu hukum dan politik yang kemungkinan besar akan sangat mempengaruhi kehidupanku di masa depan. Ibu tak pernah mendikteku untuk melakukan apapun, ia selalu menyerahkan keputusan padaku, namun memang ia sesekali memberi petuah, seperti yang ia lakukan akhir-akhir ini.

Berbicara mengenai politik, Ibu bilang bahwa politik itu tak pernah bersih, akan selalu ada kepentingan di belakangnya, namun yang menjadikan kita politikus yang baik adalah bagaimana cara kita dalam mengelola kepentingan-kepentingan tersebut dan menempatkan dalam porsinya masing-masing, sehingga tak mengganggu kinerja kita untuk masyarakat luas. Kita beri contoh Presiden Jokowi. Semua tahu ia berasal dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang diketuai oleh Mantan Presiden Megawati. Banyak orang yang awalnya menyangsikan profesionalitas Presiden dalam menempatkan dirinya sebagai negarawan dan kader politik. Banyak orang yang menduga ia akan dijadikan boneka oleh Ketua Umum partainya, bahkan banyak yang mengira ia tak akan memiliki suara yang kuat di pemerintahan. Namun semua anggapan tersebut nampaknya berusaha dipatahkan oleh Presiden dengan terus-menerus fokus bekerja dalam kapasitasnya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, sekaligus dalam perannya sebagai kader partai pun, ia tetap menghormati Ketua Umum dan partai yang telah mengantarkannya ke Istana Negara. Aku pribadi tak melihat adanya tumpang tindih dalam pembagian peran dalam diri Presiden, praduga-praduga yang disematkan masyarakat terhadap dirinya tak serta merta terbukti. Pembangunan terus berjalan tanpa Presiden perlu memusuhi atau memunggungi partai yang telah membesarkannya.

Selain mengenai kepentingan, politik adalah mengenai kebesaran hati dalam menerima tiap keadaan. Ibuku bilang, menjadi negarawan itu harus lila legawa. Artinya, permasalahan apapun yang dihadapi, entah ditimbulkan oleh diri sendiri maupun akibat didzalimi oleh pihak lain, harus dijalani dengan lapang dada. Bahkan saat kita dijerat hukum sekalipun, baik kita memang bersalah maupun tidak, Ibuku berpesan untuk tak membenci keadaan, termasuk tak membenci hukum di Indonesia. Ini kaitannya dengan kasus mantan Gubernur DKI Jakarta Pak Ahok yang ditetapkan jadi tersangka kasus penistaan agama. Beberapa orang, termasuk saya, menganggap bahwa kasus ini sarat dengan politisasi dan kepentingan-kepentingan, hingga vonis hakim dipandang sudah tak lagi netral dan sesuai dengan koridor hukum yang semestinya berjalan. Namun Pak Ahok, mengajukan banding pun tidak. Vonis dua tahun penjara diterimanya, terlepas dari kenyataan ia memang benar bersalah atau tidak. Masyarakat dunia bergejolak, ada yang meneriakkan belasungkawa atas dianggap matinya hukum di Indonesia, ada yang bersorak sebab kepentingannya lagi-lagi menang. Ibuku mengingatkan, jika suatu saat aku jadi negarawan, contohlah sikap Pak Ahok, Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, atau siapapun saja negarawan sejati yang pernah dihukum bui, terlepas dari bersalah tidaknya ia pada kenyataan yang sebenarnya, bahkan setelah bebas pun tak pernah membenci tanah airnya. Sedikitpun. Dengan menerima keputusan hukum, kita belajar untuk bersikap ksatria, demi terwujudnya kedamaian di masyarakat. Aku yakin tak mungkin Pak Ahok menganggap dirinya bersalah, namun ia dan keluarganya menerima keputusan hakim hanya agar tak timbul lagi gejolak-gejolak dalam masyarakat. Ego pribadi memang sepatutnya tak mengalahkan kepentingan umum. Dan itulah resiko yang harus diambil jika memang memutuskan untuk masuk ke dunia politik. Jika tak suka, ya jangan masuk politik. Sesimpel itu. Ibuku juga berpesan, bahkan jika ia atau aku dibui entah karena kesalahan kami atau kedzaliman orang lain pun, ia akan tetap selalu jadi ibuku dan aku akan tetap selalu jadi anaknya, kami tetap keluarga dan akan menjalani semua bersama-sama.

Poin terakhir yang sempat Ibuku sampaikan adalah perlunya menjaga netralitas dan prinsip. Sebagai seorang negarawan atau politikus, memang kita akan selalu memperjuangkan kepentingan, entah kepentingan pribadi, golongan, masyarakat luas, atau apapun itu. Sedari kecil sudah ditanamkan oleh orangtuaku, agar anak-anaknya selalu dan selalu berpihak hanya pada masyarakat, untuk bekerja demi masyarakat, dan hanya memelihara kepentingan masyarakat. Entah apapun partai politik yang akan menaungi kami, entah dimanapun kami bekerja nanti, entah siapapun atasan atau bawahan kami, yang terpenting adalah untuk rakyat. Hal ini terus menerus bergaung dalam pola pikir dan keseharianku, dimana aku berusaha selalu menempatkan diriku di tengah-tengah masyarakat dan berjuang bersama mereka. Dari posisiku saat inilah aku bisa mendengar apa yang selama ini menjadi keluhan dan harapan masyarakat. Aku juga berusaha memupuk kepedulian dengan banyak membaca artikel atau jurnal kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat, sebab dari situlah aku mendapat bekal untuk kelak bisa menyuarakan aspirasi mereka. Jika aku hanya menerima apa yang aku pelajari dalam bangku pembelajaran formal, tentu tak akan cukup menjadi amunisi. Satu hal yang aku telaah dari pertemuan-pertemuan dengan banyak sekali elemen masyarakat ini adalah, kita tak akan pernah bisa menyenangkan hati semua orang. Aku memiliki relasi dengan elemen yang cukup beragam, jika tak bisa dikatakan berbeda-beda. Ada seniman, politikus, diplomat, petani dan buruh, hingga mereka yang menyuarakan keadilan atas hak-hak kaum minor, seperti LGBT atau mental illness. Banyak sekali hal yang sering mereka utarakan terkait dengan harapan untuk Indonesia yang lebih memihak pada kepentingan-kepentingan mereka. Namun tentu saja, tak mungkin semua itu bisa terwujud. Ibuku bilang, jangan lupa untuk selalu menempatkan diri secara netral jika ingin jadi negarawan. Menurutku benar. Menjadi negarawan, meski kita berpihak pada masyarakat luas dan berprinsip untuk mengabdi sepenuhnya pada rakyat, kita tak bisa untuk mengiyakan tiap kemauan mereka, apalagi memihak salah satu kelompok masyarakat dengan terus-menerus mewujudkan apa yang mereka harapkan. Toh manusia harus belajar untuk menjadi toleran, bahwa apa yang mereka hidupi sekarang tak serta merta hanya berisi dirinya, dirinya, dan dirinya. Dan dengan menjadi negarawan yang baik, dengan tidak memihak salah satu elemen masyarakat, kita membantu masyarakat untuk belajar jadi toleran. Selain pentingnya menjaga diri untuk tak berpihak, perlu juga menjaga diri untuk tak terlalu membenci atau mengagumi seseorang. Hal ini telah menjadi prinsipku juga, aku ingin selalu memperlakukan manusia sewajarnya, selaku hak dan kewajiban yang mereka miliki sebagai manusia.

Manusia dilahirkan serupa koin, selalu punya sisi baik dan sisi buruk, dan tak ada yang salah dengan hal itu. Maka, tak baik untuk terlalu membenci seseorang sebab ia pasti juga memiliki kebaikan dalam hidupnya, pun tak baik terlalu mengidolakan seseorang sebab ia pasti punya kekurangan dalam dirinya. Itulah kenapa aku tak pernah mengidolakan manusia, toh tiap manusia itu sama, tak ada yang superior. Jika aku harus mengagumi sesuatu pun, itu pasti adalah karya dan gagasan, bukan orangnya yang mencetuskan.

Politik memang bukan sebuah ilmu yang mudah untuk dipahami, namun begitu juga dengan ilmu-ilmu lainnya, bukan? Namun image yang terbangun mengenai politik selama ini memang cenderung kusam, padahal apa yang kita hidupi kini, kelak, dan di masa yang akan datang, mulai dari kebutuhan premier hingga tersier, semua dipengaruhi oleh keputusan-keputusan politik. Perlu untuk mengerti, tak perlu-perlu amat untuk diselami. Yang penting kita menolak untuk dibodohi dan mampu berargumentasi. Mari berpolitik dan beropini dengan cerdas.

Thursday, June 1, 2017

Belajar Mempertajam Rasa, Tiap Hari

Tiap hari saya selalu punya segudang aktivitas, yang untungnya bisa dilakukan secara fleksibel. Selain hal-hal yang berhubungan dengan tetek bengek artikel, bisnis, dan tugas kampus, saya juga masih harus mengurus rumah tangga sendirian. Saya tak mau membiasakan diri makan mie instan seperti anak kos umumnya, jadi saya usahakan untuk tetap memasak, sesibuk apapun. Perkara memasak ini tentu di belakangnya ada keseruan-keseruan lain: berbelanja, merajang sayur, mengolah bumbu… yang tentu saja memerlukan ekstra waktu dan tenaga. Tapi saya senang, memasak bagi saya adalah proses refleksi diri, karena memasak bukan hanya tentang menumis bumbu. Ada banyak waktu untuk berpikir, untuk merasakan, untuk menikmati hidup, semua dengan cara yang enak dan tentu membuat bahagia (siapa yang tak bahagia ketika perutnya kenyang?).

Memasak, seperti yang saya bilang, prosesnya bahkan dimulai sejak memilih bahan. Saya senang tinggal di Lille, dimana ada banyak pilihan tempat belanja, mulai dari supermarket ternama hingga pasar penuh orang asing. Preferensinya tergantung kesibukan di hari itu. Jika sedang terlampau sibuk dengan urusan kampus, saya memilih untuk mampir ke supermarket ketimbang ke pasar. Namun ketika ada waktu lebih senggang, pasar tumpah menjadi andalan. Di pasar saya juga lebih bisa bersinggungan dengan banyak orang, kebanyakan orang asing dari Asia seperti India, Tiongkok, Arab, Turki, dan sekitarnya, jadi untuk mencari bumbu yang pas di lidah Indonesia saya tentu tak sukar. Saya sering mendapat rejeki nomplok ketika belanja di pasar, satu hal yang tak mungkin saya dapatkan jika belanja di supermarket. Ibu saya bilang mungkin para penjual ini merasa kasihan melihat saya, hahaha.

Pernah suatu ketika saya diberi melon gratis. Jadi, waktu itu, sudah memasuki musim panas, buah-buah tropis mulai berdatangan dan saya yang aslinya cuma mau mampir untuk lihat-lihat (karena lupa bawa tas belanja sementara kalau mau belanja disini sebaiknya bawa tas belanja sendiri, tak semua pedagang menyediakan kantong plastik), malah akhirnya menenteng 5 kilogram buah dan sayur. Sulit sekali rasanya melihat buah dan sayur segar bertebaran dengan harga murah, kebanyakan hanya satu sampai dua euro per kilogram atau per dua kilogram. Bayangkan waktu itu saya mendapat pisang dua kilogram dengan harga 1 euro atau Rp 15.000 saja, saya kira di Indonesia pun saya belum pernah belanja sebegitu murahnya. Kebetulan bapak penjual pisang juga menjual melon, harganya cuma 1 euro untuk dua buah melon. Saya tertarik karena lumayan untuk bikin takjil apalagi saat itu cuaca cenderung sangat panas, bikin es sirop pakai melon terdengar nikmat! Tapi ternyata melon yang dijual sudah bukan yang berkualitas baik, saya cuma bisa menemukan satu buah melon yang layak dibawa pulang. Lalu saya tanya ke bapak yang jual, bisakah saya hanya beli satu saja dengan harga 50 sen? Ternyata kata beliau tidak bisa. Anehnya, setelah bilang begitu, si Bapak malah bilang, “Tapi kalau gratis, bisa”, akhirnya saya pulang dengan melon gratis di tangan, hehehe.

Pluralisme budaya yang luar biasa banyaknya di pasar ini juga membuat saya merasa jadi manusia yang less-judgmental. Sering sekali di media kita baca berita yang menyudutkan orang-orang dari Timur Tengah, ibu-ibu yang mengenakan jilbab, bapak-bapak yang berjenggot dan bergamis panjang, orang-orang berkulit hitam, bermata sipit, berlogat daerah asal yang kental, dan orang-orang yang sering mendapat stigma buruk lainnya. Di pasar saya melihat sendiri bagaimana kerukunan-kerukunan hadir tanpa perlu dipaksakan, bagaimana komunikasi terjadi penuh rasa dan keakraban, meski ada banyak sekali bahasa yang terdengar dari tiap tutur kata masing-masing orang. Saya mendengar Bahasa Prancis, Bahasa Arab, Bahasa Mandarin, Bahasa India, dan entah bahasa apa lagi. Saya melihat orang-orang bercengkrama satu sama lain tanpa melihat pakaiannya, ibu-ibu yang mengenakan tanktop bercanda dengan ibu-ibu yang bercadar, bapak-bapak dengan gamis panjang berdiskusi panjang lebar di tepi kiosnya dengan bapak-bapak bercelana pendek bersama anjing kecilnya, anak-anak muda juga tak segan keluar masuk los-los dan mengobrol dengan para penjual meski mayoritas sudah seusia kakek-nenek mereka, saya tak melihat sekat.


Perkara memasak yang diawali dari kegiatan belanja ini rupanya adalah salah satu cara yang baik untuk bercermin. Saya rasa orang-orang yang gemar menciptakan stigma dan menyulut permusuhan antar golongan itu tak pernah merasakan indahnya atmosfer perbedaan, salah satunya melalui belanja di pasar yang plural, piknik ke daerah lain, atau ya intinya melakukan perjalanan-perjalanan lintas wilayah. Saya keluar dari zona nyaman saya, keluar dari kebiasaan dan rumah saya, akhirnya saya bisa bertemu dengan banyak orang, dengan perspektif yang berbeda-beda. Saya bertemu orang dari berbagai suku bangsa, saya berteman dengan banyak orang yang selama ini dianggap minoritas oleh orang-orang yang menganggap diri mereka mayoritas, dan saya bersyukur bisa punya kesempatan untuk mempertajam rasa, salah satunya ya lewat memasak, bukan? Saya mempertajam rasa di lidah, juga di hati.. Life is more than just beautiful.

Ya sudahlah, malah jadi melantur. Saya mau masak dulu! :)




Friday, April 14, 2017

Cita-Cita Kartini: Personal project dedicated for a heaven called Indonesia

Sejak kecil, saya memang ingin sekali bersekolah di luar negeri, karena saya suka bertemu dengan orang banyak dan melakukan perjalanan ke tempat-tempat baru. Ketika SMA, saya coba mendaftar program pertukaran pelajar ke Eropa, tapi ternyata waktunya belum tepat. Lalu, ketika duduk di bangku kelas 2, saya mulai terpikirkan untuk melanjutkan kuliah ke Prancis. Awalnya saya ragu, terutama karena keluarga saya bukan berada dari kalangan berada dan belum pernah ada sejarah dalam keluarga kami melanjutkan studi formal di luar negeri. Tantangan selanjutnya berasal dari lingkungan sekitar kami, tak melulu dukungan dan doa baik yang disampaikan orang pada saya. Kadang ada yang meremehkan dan yang lebih sering lagi adalah memberi dugaan bahwa,

“Kamu tak cinta Indonesia ya, makanya mau pindah ke luar negeri?”

Dugaan itu salah besar, karena kalau tak cinta Indonesia, saya benar hanya akan mengungkung diri di rumah orang tua saya, tanpa perlu menghadapi banyak tantangan di negeri orang demi menuntut ilmu untuk dibawa pulang ke tanah air. Saya berusaha keras untuk membuktikan hal tersebut. Saya rutin menulis dalam blog pribadi dan beberapa media online, saya berbagi cerita mengenai keseharian saya disini, saya hanya ingin memberi sedikit gambaran pada adik-adik ataupun rekan-rekan yang memiliki situasi sama seperti saya dulu dan belum punya motivasi kuat untuk mewujudkan mimpinya. Dengan cara menulis pada kawan-kawan di tanah air, itu adalah wujud tanggung jawab saya pada Indonesia. Namun akhirnya pada satu waktu, saya sadar bahwa saya harus melakukan sesuatu yang impact positifnya dapat dirasakan dengan lebih luas. Saya sadar, saya adalah individu yang sangat cerewet baik melalui lisan maupun tulisan, jadi saya pikir, kecerewetan ini perlu diposisikan pada kadar yang tepat. Akhirnya tercetuslah ide Cita-Cita Kartini ini, dimana saya hanya perlu menjadi juru ketik yang menghimpun berbagai cerita hidup perempuan inspiratif untuk dibagikan pada perempuan-perempuan lain melalui media online.

Dari sekian banyak ide yang terus meletup-letup dalam otak saya, Cita-Cita Kartini saya pilih dan wujudkan pertama kali untuk memanfaatkan momentum peringatan Hari Kartini 2017. Saya memilih tajuk berupa pemberdayaan perempuan sebab saya percaya, jika ingin membangun fondasi kuat sebuah bangsa, kita harus kuatkan dulu kaum perempuannya. Cita-Cita Kartini saya siapkan hanya dalam 10 hari, 10 hari dengan waktu tidur yang minim, 10 hari netbook usang saya bekerja tanpa jeda, dan 10 hari saya menghabiskan mayoritas waktu berkutat menulis artikel, agar layak dipersembahkan buat bangsa tercinta.

Banyak sekali tantangan yang saya coba lewati, terutama masalah perbedaan waktu. Mayoritas kontributor saya adalah orang-orang penting dan sibuk, dan hanya memiliki waktu senggang cukup singkat. Di antara sela-sela kesibukan mereka itulah saya harus mencari celah untuk melakukan komunikasi secara intens, manalagi waktu project yang tersedia hanya sedikit. Kapanpun mereka menyatakan sedang luang, saya akan langsung telepon atau kirim pesan melalui email, entah jam berapapun saat itu. Saya tak boleh kehilangan momen, dan berusaha untuk selalu menjaga mood meski sedang super ngantuk atau lelah agar para kontributor, meski tak melihat wajah saya secara langsung, mereka bisa merasakan excitement dan feel kesungguhan yang saya pancarkan. Seorang kontributor bahkan bersedia saya wawancara ketika di Prancis sedang menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Ada juga yang meminta korespondensi berupa telepon langsung pada saat di Prancis sedang jam makan siang. Tak masalah buat saya, karena terus terang, lebih banyak hal menginspirasi yang saya dapatkan, dan sangat mampu mengimbangi semua perasaan lelah yang saya rasakan.

Saya mencari kontributor-kontributor ini secara manual, pertama-tama saya hubungi sosok-sosok yang memang sedari awal menginspirasi saya dalam berkarya sehari-hari. Melalui Facebook, email, Instagram, hingga WhatsApp. Ada begitu banyak calon kontributor yang saya hubungi, dan jika saya cukup beruntung, maka pesan singkat yang saya kirim akan terbaca oleh mereka dan segera dibalas. Untuk hal ini, saya sangat bersyukur pernah dipertemukan dengan banyak orang sewaktu di Yogyakarta, hingga ternyata banyak mutual friends antara saya dengan beberapa kontributor. Karena terus terang, pada mulanya, relasi saya dengan orang-orang hebat ini belum terjalin, istilahnya, saya benar-benar masih anak kemarin sore. Saya berterimakasih untuk kebaikan para kontributor yang berkenan membalas pesan saya meski pada awalnya sama sekali tidak mengenal.

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, ada begitu banyak hal menginspirasi yang saya dapatkan dari para kontributor, hingga di satu sisi saya merasa sangat tak sabar dengan paparan project sederhana ini, namun di sisi lain saya harus berusaha tetap menjaga excitement publik dengan tak memberi spoiler terlalu banyak. Seluruh kontributor memberi warna yang berbeda bagi Cita-Cita Kartini, baik dengan kisah hidupnya,motivasinya, prestasi-prestasinya, bahkan hingga tantangan yang pernah mereka hadapi dan bagaimana cara mereka menyikapinya. Seluruh kontributor juga memberi saya banyak sekali ilmu, yang saya harapkan bisa membantu para pembaca saya kelak menjadi punya semangat lagi untuk terus maju dengan apapun pilihan hidup mereka. Saya mendapat ilmu mulai dari kepemimpinan sejati, seluk beluk biji kopi, rahasia-rahasia pengembangan diri, hingga bab mengenai keceriaan lantunan musik jazz. Memilih kontributor dengan beragam latar belakang, beragam cerita hidup, beragam profesi, hingga beragam usia memang sangat penting dalam project Cita-Cita Kartini. Saya ingin setiap elemen perempuan merasa terwakilkan dan akhirnya tak lagi merasa terpinggirkan. Dan inilah alasan utama mengapa saya membentuk project Cita-Cita Kartini.


Jika dulu Ibu Kartini mengharapkan terang sehabis gelap, jika dulu ia mengharapkan pijar pendidikan menyala setelah padamnya kebodohan, maka saya pun percaya bahwa tiap manusia pasti memiliki jua cita-cita, laiknya Ibu Kartini. Dan tak pernah ada yang salah dengan cita-cita seseorang, sejauh mampu dipertanggungjawabkan dan tak mengganggu kepentingan umum. Memiliki cita-cita adalah hak tiap manusia, tanpa batasan apapun. Sayangnya, kadang posisi perempuan dalam ruang-ruang kesempatan masih belum selalu strategis. Entah dari lingkungan yang tak mendukung, atau memang motivasi peribadi yang belum muncul sepenuhnya. Semoga, dengan hadirnya Cita-Cita Kartini, perempuan-perempuan jadi makin berdaya dan berpijar lagi semangatnya.

Tak ada yang perlu ditakutkan, tak perlu risau. Selama kita berjalan menuju arah yang kita yakini benar, tetaplah melaju, entah sendiri atau bersama-sama, entah dengan kecepatan tinggi atau rendah. Jika kamu mulai merasa ragu, ingatkan lagi dirimu bahwa ada banyak perempuan lain yang bersedia berbagi bersamamu. Era sekarang adalah era kolaborasi, bukan lagi kompetisi.

Sekian, semoga apa yang menjadi keinginanmu kelak dikabulkan menurut waktuNya.


The background image was photographed by me at Tirta Empul, Bali, Indonesia.
Women carried buckets of rocks on their heads.

Monday, April 3, 2017

Dari Utara Ke Selatan: Menton!



Jadi, perjalanan ini dimulai justru sejak awal masuk kuliah, saat aku ngobrol sama temen deketku di Lille, si Carla (kalo pernah stalk Instagramku pasti tau deh karena dia suka banget spam di foto-fotoku :p). Waktu itu masih bulan-bulan pertama kuliah dan seperti universitas di Indonesia, disini kami juga punya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Kegiatan-kegiatannya pun sejenis, ada pecinta alam, paduan suara, orkestra, yang mirip himpunan mahasiswa dan dewan mahasiswa gitu juga ada (tau kan aku HIMA DEMA wkwk:p). Awalnya aku pengen ikut teater, tapi terus Carla cerita kalo dia minat sama Model United Nations. Nah aku emang pernah denger tentang MUN, tapi belom cari tahu lebih lanjut lagi, aku malah cenderung pengen ikut Moot Court karena lebih masuk akal buat jurusanku di Ilmu Hukum kan. Akhirnya aku browsing dikit tentang MUN dan sebagai mantan calon anak Hubungan Internasional dan mantan calon anggota tim debat SMA (yang berarti keduanya ga jadi dilakoni hahah), aku bilang sama Carla kalo aku juga pengen coba. Akhirnya kami dateng bareng di pertemuan perdana dan seketika itu juga aku mendadak ga minat sama sekali hahaha (jujur banget...). Aku kurang cocok ternyata sama sistem di asosiasi MUN di kampus, beda sama Carla yang masih excited-excited aja tuh kayanya sampe detik ini haha. Tapi aku jadi tahu basic-basic MUN dan gimana cara cari event MUN via mymun.net/muns. Sejak itu aku jadi sering buka web dan scrolling, kira-kira mana venue event MUN yang mudah diakses dari Lille dan harga pendaftarannya juga terjangkau, kebetulan banyak yang memungkinkan juga buat daftar sebagai single delegate, jadi ga perlu lewat asosiasi kampus gitu.

Akhirnya sekitar bulan November, aku nemu event MUN menarik di dua tempat, di Tours dan Menton, keduanya sama-sama masih di Prancis. Tapi karena aku ga bisa ambil dua-duanya karena ujan duit belom kejadian juga bahkan sampe detik ini aku nulis blog, jadi aku harus milih. Sebenernya ga terlalu berat waktu itu buat milih, karena MUN yang di Menton kebetulan diorganisir oleh mantan calon kampus aku, dan sampe sekarang masih jadi idaman (aku kalo sekali mencintai kan pasti setia :p), kebetulan topiknya juga lagi hot banget, tentang migrasi. Dan satu lagi, Menton ini terletak di Prancis selatan, di tepi Laut Mediteranea, dengan akulturasi budaya Italia, Prancis, Monako, dan imigran-imigran yang bermukim disana. Aku butuh matahari! Si bocah yang dulu semasa di Jogja paling kenceng ngeluh kalo kena matahari sekarang kangen banget sama matahari, kulit udah pucat dan badan rasanya ga enak banget, pantes berjemur itu perlu ya?

Pergi ke Menton jadi hal yang ga akan pernah aku sesali, karena tipikal perjalanan Asyana itu selalu melelahkan. Pasti. Karena aku ga bisa milih perjalanan terbaik di first class dan aku selalu melakukan semuanya sendiri, mulai dari ngecek peta bolak balik sampe nyiapin bekal makanan kering biar ga jajan, jadi udah pasti menguras tenaga. Selain melelahkan, menyenangkan dan memorable itu pasti. Aku selalu berusaha melakukan hal-hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, makan makanan yang belum pernah aku icip, dan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi.

Dari awal merencanakan sampe akhirnya meninggalkan, kota Menton ini meninggalkan kesan banget ternyata, hahaha. Aku jadi tahu gimana work hard party hard dalam arti sesungguhnya, aku ketemu banyak banget orang-orang dengan macam-macam pemikiran yang luar biasa, dan aku jatuh cinta banget sama kota yang hangat ini!


Perjalanan pertama: dari Lille ke Stasiun Bruxelles Midi, lalu ganti kereta menuju Bandara Zaventem!

Perjalanan ke Menton yang cukup jauh (Lille di paling utara Prancis dan Menton di paling selatan), bikin aku mau ga mau mikir panjang kalo mau naik bus seperti yang biasa aku lakukan karena harganya yang cenderung terjangkau. Akhirnya aku cek website GoEuro (wajib banget dicek buat yang mau trip keliling Eropa karena dia akan membandingkan semua moda transportasi berdasarkan harga tiket, jarak dan waktu tempuh, dan preferensi perusahaan transportasinya) dan nemu kalo harga bus kesana sama seperti harga tiket pesawat. Jelaslah aku milih naik pesawat, meski ternyata aku harus naik dari Bandara Zaventem di Brussel, Belgia, bukan dari Bandara Charleroi di Lille. Itupun turun ga langsung di Menton tapi via Bandara Nice, salah satu kota lainnya di Prancis selatan. Ga masalah, aku pesen tiket akhirnya untuk 3 perjalanan kereta (Lille – Brussels, Brussles – Zaventem, Nice – Menton) dan 1 tiket pesawat (Zaventem – Nice), semuanya pulang pergi dan ga sampe EUR 100. Aku bahkan sempet ngira pesawat yang aku naiki adalah milik maskapai Easy Tiger atau sebangsanya yang emang low fare, mungkin sejenis Air Asia. Tapi ternyata aku beruntung banget bisa dapet Brussels Airlines. Aku berangkat dari tanggal 23 Maret pagi dari Lille karena acara dimulai dari tanggal 24 Maret dan berakhir 26 Maret. Berangkat lebih awal karena dengan pertimbangan aku ga mengenal medan sama sekali dan ga kenal siapa-siapa disana. Oh iya, untuk penginapan aku sempet kontak salah satu warga lokal di Couchsurfing tapi untuk hal ini nanti aku ceritakan belakangan aja.


Stasiun Bruxelles Midi di pagi hari

Berangkat pagi jam 7 dari Gare Lille Europe, kereta berangkat menuju Brussels. Sebenernya waktu itu udah mendung banget dan ramalan cuaca baik di Prancis utara maupun selatan memang udah menunjukkan kemungkinan hujan, tapi ya udah mau gimana, yang penting selalu bawa jas hujan. Kebetulan untuk kali ini juga aku ga bawa ransel kain seperti biasanya tapi pake koper fiber karena tulang punggungku mulai terasa ga well sekarang kalo dibawa jalan jauh bawa beban berat, tapi at least  barang-barang jadi aman dan ga akan basah kalo kehujanan.

Kereta dari Stasiun Bruxelles Midi ke Bandara Zaventem yang super cantik, matching sama warna pinknya sepatuku dan koperku


Sesampai di Zaventem, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku harus melalui pemeriksaan berlapis yang cukup ketat. Ga heran, keamanan cukup ketat karena teror di Belgia tahun lalu dan memang beberapa hari sebelumnya pun ada penembakan di Inggris dan Prancis. Waktu itu koperku digeledah dan hampir semua peralatan mandi disita karena bentuknya cair dan melebihi kapasitas yang boleh masuk ke kabin, 175ml. Termasuk ada juga sabun mandi, sabun cuci muka, dan deodoran. Ya udah mungkin maksudnya baik biar aku ga usah mandi dan jadi biang boros air. Dan meski awalnya aku mengeluh dikit, ternyata aku masih jauh lebih mending daripada mba-mba yang bersepatu boots karena mereka disuruh copot sepatu, dan ada juga mas-mas di depan aku pake jaket tulisannya “Muhammad Ali” dicek lama banget berkali-kali. Sebenernya aku ga masalah dan ga peduli sama baju orang dan dia mau pake aksesoris seperti apa, toh atribut ga pernah ada hubungannya dengan tindak tanduk seseorang, tapi misal situasi kondisi masih serba darurat gini, kenapa harus pake atribut yang menyusahkan diri sendiri ya?




Bandara Zaventem ternyata gede (banget), itu pertama kalinya aku kesana. Penerbangan luar negeri sepertinya komplit menuju ke tempat-tempat yang ingin aku jelajahi: London, New York, Budapest, Beijing, Dubai, duh apa lagi ya sampe lupa. Penerbangan memakan waktu sekitar 2 jam dan cuaca bener-bener cerah waktu itu, meski seperti biasa aku pasti milih tidur karena bosen parah, dan sempet beberapa saat berkutat dengan laptop sih.




Selalu agak waswas kalo ada di atas laut hahaha. Bandara Nice ternyata letaknya di tepi laut, sama seperti Ngurah Rai di Bali

Begitu aku tiba di Nice, udah deh, petualanganku dimulai. Halah.
Untuk menuju ke Menton, aku harus naik kereta TER (kereta regional antar kota dalam provinsi) dari stasiun Nice St Augustin. Dan ternyata, bandara Nice sangat padat, stasiun Nice St Augustin pun ternyata berjarak sekitar 15 menit jalan kaki dari bandara. Petunjuknya pun ga mudah karena kita harus nyeberang jalan raya dan medan di daerah selatan Prancis ga mulus seperti di Paris atau di Lille, tapi berkelok-kelok naik turun dan banyak jalan yang sempit. Untungnya seperti biasa aku selalu bikin notes dari kertas yang dipotong kecil-kecil sekitar 10 cm, disitu aku tulis apa-apa aja yang harus aku lakukan, aku harus menuju kemana aja, jadwal transportasi yang aku naiki, bahkan sampe anggaran jajan dan outfit apa yang aku pakai di hari itu. Kebetulan untuk perjalanan ini, aku tulis juga petunjuk jalan dari Bandara Nice menuju stasiun Nice St Augustin seperti yang udah ditulis panitia MUN di website mereka. Kenapa aku tulis semua itu manual? Karena Bundaku selalu bilang kalo ga baik untuk terus menerus ketergantungan dengan teknologi. Kebetulan aku (dan mungkin kalian) pasti juga pernah kan menggantungkan hidup ke gadget tapi kemudian mereka berkhianat :’) Kaya alarm pagi hari yang ga bunyi, tugas lenyap padahal kayanya udah disimpen, file tiba-tiba kena virus dan ga kebaca sama sekali... Gimana rasanya? Kaya kiamat? Hahahah itulah makanya, aku ga berani simpen data perjalanan (tiket, itinerary, catatan pribadi) di satu tempat apalagi di gadget, karena ga ada jaminan gadgetku bakal idup terus atau ada internet terus.

Stasiun Monte Carlo, Monaco

TER Stasiun Nice St Augustin dengan tujuan akhir Ventimiglia, Italia, dan melewati banyak stasiun seperti Monte Carlo, Monaco, dan Menton




Hujan lumayan lebat ketika aku sampai di Nice. Ini adalah gambar laut Mediteranea, aslinya cantik banget

Bahkan ada kapal pesiar lagi berlabuh!

Tiket TER Stasiun Nice St Augustin dengan tujuan akhir Ventimiglia, Italia, dan melewati banyak stasiun seperti Monte Carlo, Monaco, dan Menton

Ternyata stasiun Nice St Augustin itu kecil banget! Duh, mirip stasiun-stasiun di desa-desa kalo kita sering nonton film barat. Tapi, pemandangan di luar kereta sewaktu perjalanan, bener-bener amazing. Di satu sisi kita lihat bangunan-bangunan tua di atas bukit dan di sisi lainnya kita akan disuguhi pemandangan laut Mediteranea yang biru, bahkan aku sempet liat ada kapal pesiar yang berlabuh! Sayang sekali waktu itu hujan lebat, jadi aku ga bisa banyak ambil foto dari dalem kereta. 

Disambut mendung di Menton, ini adalah pemandangan pantai di tepi laut Mediterranea dengan jajaran bendera-bendera negara anggota Uni Eropa










Museum Jean Cocteau
Untungnya, waktu aku sampe Menton, hujan udah reda dan aku bisa jalan kaki di bawah mendung menuju pemberhentian yang pasti pertama kali aku datangi: McDonald’s. Biasanya antara Brioche DorĂ©e, Relay, atau McDonald’s ini sih. Ya tujuannya paling cari WiFi, colokan, atau espresso, istilahnya buat tarik nafas dan istirahat dulu hehe. Tapi untuk perjalanan kali ini sebenernya cukup penting, karena aku sejujurnya belom nemu penginapan untuk lima hari ke depan. Aku udah sempet kontak salah satu Couchsurfer asli Menton sejak dua atau tiga bulan yang lalu, tapi ada beberapa problem yang bikin aku kurang sreg dan akhirnya di McDonald’s itulah aku memutuskan untuk sewa AirBnB aja. Ini juga cukup penting karena ada beberapa pertimbangan (tuh kan, jalan-jalan udah pasti bakal bikin kita berusaha kreatif dan mikir jauh hahah), pertama, AirBnb itu sebisa mungkin harus deket dengan venue di kampus Sciences Po, bukan cuma deket dengan tempat wisata dan hura-hura, karena tujuan utamaku kan ikut MUN. Kedua, harga. Jelas. Ketiga, tuan rumah. Sebenernya ini beda saat kita mau pake Couchsurfing atau Airbnb. Saat kita pake Couchsurfing, kita bener-bener cuma berniat buat jalan-jalan dan refreshing, jadi bisa ngobrol sama tuan rumah, bahkan kalo tuan rumahnya baik hati, bisa aja kita diajak keliling sama dia. Plusnya, kita nambah kenalan dan ditampung gratis. Tapi kalo kita bener-bener ada urusan pekerjaan, sebaiknya pilih Airbnb atau hotel aja biar bener-bener fokus dan ga kepikiran sama urusan dengan tuan rumah. Toh pemesanan dan pembayaran bisa dilakukan online semua, and that was what I did.

Karena waktu di McDonald’s itu bener-bener aku udah dalam kondisi lumayan lelah geret koper dari stasiun-stasiun dan bandara, aku ga pikir panjang untuk milih Airbnb nya, pokoknya murah aja. Ternyata, lokasi Airbnb ini ga bisa dibilang deket dengan venue MUN, malah justru deket sama stasiun Menton tempat aku turun pertama kali. Ya udah lah pikirku waktu itu, aku cuma perlu tempat buat rebahan semalem aja kok, besokannya bisa cek medan sambil book Airbnb baru. Bahagianya, tuan rumah Airbnb ini baik banget, meski dia ga bisa bahasa Inggris dan bahasa Prancisku logat Jawa abis, dia berkenan kasih banyak informasi tentang Menton. Ibu ini juga warm banget, tipikal ibu-ibu di daerah selatan yang caring dan penyayang abis hahahah mertua idaman banget kan? Kamar yang aku tempati adalah salah satu kamar di apartemennya yang super rapi dan super bersih, bahkan aku sampe merasa perlu berkali-kali nanya tentang sepatu dan roda koperku yang kotor karena abis kena becek-beceknya ujan. Ya meski aku bayar tapi kan aku maksudnya juga pengen sopan, misal aku perlu bersihin atau gimana, tapi dia ga masalahin sama sekali dan nyuruh aku istirahat aja.

Kondisi kamar di AirBnB pertama, lengkap sih ada TV dan kopi serta teh, sayang jauh dari venue dan aku pasti bakal capek banget kalo bolak balik karena ga ada kendaraan umum di Menton





Keesokan paginya, aku berangkat dari Airbnb sekitar jam 9 pagi dan berniat naik bus menuju venue MUN di kampus Sciences Po. Ternyata, bus di Menton itu cuma jalan 30-60 menit sekali, jadi aku memutuskan buat jalan kaki aja sambil lihat-lihat pemandangan, toh kota ini kecil banget. Oh iya, sebelum ke kampus Sciences Po, aku pengen mampir dulu ke Airbnb keduaku dan taruh barang-barang disana. Airbnb kedua ini aku book malem sebelumnya, dan lagi-lagi aku beruntung dapet tuan rumah yang sama baik dan sama fast responnya dengan yang pertama. Nilai plus (banget), Airbnb kedua ini letaknya cuma 200 meter dari kampus Sciences Po, tepatnya di bagian old town kota Menton, yang mana super eksotis, super cantik, super ‘Italia’, dan akses ke pantai cuma 100 meter aja.

Tangga masuk dari pintu depan ke studio yang aku sewa, asiknya adalah aku punya pintu untukku sendiri dan ga gabung sama kediaman orang lain.

Pintu depan bangunan yang aku sewa


Nama bangunannya: Casa Pinta, setelah aku Googling, ternyata bahasa Spanyol yang artinya kurang lebih seperti "Nice home". And it really is! :)





Fav spot! Mirip iklan cat yang di Italia itu loh dimana orang Italia biasanya teriak-teriak dari balik jendela menyapa orang yang lewat hahaha

Ini pertama kalinya aku liat toilet pisah dari kamar mandi, dan ada jendela di dalem toiletnya jadi kita bisa boker sambil liat pemandangan gang di luar, interesting banget :))

Aku sering dapet pemilik kamar yang thoughtful, tapi ibu pemilik Airbnb kali ini beyond thoughtful sih menurutku. Semua hal dia sediain, ini ada peralatan ngopi ngeteh dan sendok garpu.

Ada BANYAK (BANGET) selimut, sprei, handuk



Sofa yang kalo dibuka bisa jadi tempat tidur untuk kira-kira tiga orang, dan aku lumayan kesusahan (BANGET) waktu coba buka sofa ini pertama kali karena aku sendirian dan tenagaku ga cukup besar, nyaris nyerah tapi kalo nyerah bukan Asyana namanya hahaha



Secuek-cueknya aku, senekat-nekatnya aku, aku masih mikir banget sama yang namanya asupan makanan, aku kebetulan punya maag dan meski udah ga pernah kambuh, aku harus antisipatif dengan selalu bawa bekal kemanapun aku pergi, cukup yang remeh aja semacem roti tawar dan daging salami. Antisipatif buat penyakit dan kantong kering juga

Setelah aku taruh barang-barang ini di Airbnb, aku langsung registrasi di kampus Sciences Po, dimana udah banyak anak berdatangan dan berbicara dalam berbagai macam bahasa (belakangan aku tahu dari ketua penyelenggara kalo ada 44 kewarganegaraan berbeda di MUN kali ini).

Setelah registrasi, aku laper banget karena belum sarapan dan makan siang, jadi aku kenalan sama dua cewek yang waktu itu registrasi bareng aku dan kita makan bareng di bistro Italia sekitar situ. Kebetulan untuk ke Italia, tepatnya kota Ventimiglia, kita cuma perlu waktu sekitar 20 menit naik mobil, jadi menurutku pasti ga ada bedanya lah makan pizza di Menton dan Ventimiglia, jadi di bistro itu tentu aku pesen pizza, begitu juga dengan dua temen baru. Sepanjang makan siang, kami ngobrol banyak tentang daerah asal masing-masing. Si cewek pertama ternyata dari Australia, meski sekarang tinggal di Prancis. Dan cewek kedua asli Prancis, dan sekarang tinggal di Cannes. Mereka berdua banyak kasih tau aku tentang Cannes dan festival film yang terkenal itu, bikin aku pengen banget ke kota tempat syuting film Mr Bean Holiday, bikin pengen ke red carpetnya juga! Dua cewek ini juga udah sering banget ikut MUN entah jadi chairs atau delegates, makanya mereka nenangin aku terus yang sempet nervous karena... you guys know, first time. Tapi ternyata MUN ga semengerikan yang aku bayangkan.

Mediterranean MUN 2017 punya banyak sekali committe, dimana kita bisa apply sebagai delegasi negara atau aparat penegak hukum jika ingin bergabung di International Court of Justice. Aku berada di comittee UNICEF/UNDESA, dengan topik utama MUN-nya mengenai migrasi anak dan urbanisasi. Tentu ga heran, karena:

  1. Menton terletak di tepi laut Mediteranea, dimana banyak cerita tentang migran yang menyeberang dari negara-negara Timur Tengah
  2. Mayoritas delegasi berasal dari negara-negara Timur Tengah tersebut
  3. Penyelenggara MUN adalah kampus yang mempelajari budaya dan politik negara-negara Timur Tengah



Dari dulu (dan sampe sekarang) pengen banget kuliah disini, rejekinya sementara masih mampir jadi delegasi MUN, maybe one day! :p
 Penyelenggaraan MUN dibuka oleh beberapa keynote speaker kelas dunia, salah satunya yang aku inget banget adalah Vice President of World Bank, dimana beliau banyak menerangkan mengenai bantuan dari World Bank untuk negara-negara yang sedang berkecamuk di kawasan Timur Tengah. Setelah opening ceremony, kami masuk ke ruangan masing-masing untuk memulai sesi. Dalam MUN, selain ada delegasi-delegasi yang merepresentasikan negara di seluruh dunia, ada juga chairs atau pemimpin diskusi. Committe kami dipimpin oleh dua orang chairs perempuan, yang satu mahasiswa Sciences Po dan yang satunya berasal dari Italia. Kami memulai sesi dengan perkenalan, dan sangat melegakan mengetahui bahwa aku bukan satu-satunya yang mengikuti MUN pertama kali, meski ada banyak juga yang menceritakan bahwa MUN kali ini adalah MUN ke-berapa-belas-kali-nya. Teman-temanku berasal dari banyak negara, dan mereka semua s a n g a t c e r d a s. I really mean it. Aku jadi sadar bahwa selama ini ternyata kemampuanku masih nol banget untuk tingkat internasional begini, aku bener-bener merasa seperti jago kandang aja. Bahasa Inggris belom lancar, ngomong masih muter-muter, pengetahuan umum belom banyak... Duh, aku bersyukur banget punya keberanian buat gabung MUN kali ini, karena aku jadi tahu kalo aku masih jauh banget dari kualifikasi.

Setelah selesai sesi, kira-kira pukul 18 sore, aku menghabiskan waktu sendirian menjelajah kota Menton, karena menurut teman-temanku, social event hari pertama biasanya ga akan terlalu 'meledak'. Ya, di acara MUN biasanya akan ada juga rangkaian social event di malam hari. Disini kita bisa banyak ngobrol dan berkenalan dengan banyak teman baru, bahkan di luar committe kita. Social event malam pertama diselenggarakan di restoran Il etait une fois di pinggir pantai, dengan konsep cocktail party.

Sebenernya cakep sih tempatnya, aku lewat beberapa kali, tapi cocktail party terdengar "nanggung", mending party sekalian atau ga sama sekali, so I chose McDonald's :p


Nah, karena kurang suka dengan cocktail party yang membosankan (HEHE), aku dan banyak temanku tidak hadir. Keesokan harinya, kembali ke sesi-sesi hingga selesai di jam yang sama, jam 18 sore (sepertinya ga perlu diceritakan karena isinya ya full debat dan diskusi), lalu tibalah waktunya social event hari kedua: late night party di Monte Carlo!

I didn't expect much, but it turned out to be something amusing.

Jadi, begitu selesai sesi, aku langsung pulang dan mandi dan makan di McDonald's karena super lapar. Lagipula aku juga udah janjian sama teman-teman dari Italia untuk berangkat bareng ke Monte Carlo, jadi aku gak mau bikin mereka nunggu, lebih baik aku yang nunggu.

Bawa nama Indonesia, bok. Ga boleh malu-maluin.

Eh, waktu lagi makan di McDonald's aku disamperin sama temenku dari Denmark, namanya Jens. Si Jens ini sepanjang konferensi ga banyak bicara, tapi begitu ngobrol berdua... Haduh, cerewet parah hahahah (in positive way, karena aku pun doyan ngobrol). Kami cerita banyak banget tentang Indonesia dan Denmark, dan seperti yang sering banget kejadian, lagi-lagi aku menemukan seseorang yang memiliki hubungan dengan Indonesia.

Like, lama-lama Indonesians nih kaya Chinese, they're everywhere!

Pamannya Jens ternyata menikah dengan ibu-ibu Indonesia dan kini mereka tinggal di Jakarta bersama sepupu-sepupu Jens, tapi Jens belum pernah sama sekali bertemu mereka dan belum pernah mampir ke Indonesia.

Kami juga cerita banyak tentang perjalanan-perjalanan kami (ternyata dia juga solo traveler), dia juga banyak tanya tentang Little Luna dan kebudayaan Indonesia. Akhirnya setelah kami kelar makan, temen-temenku yang lain pada nyusulin ke McDonald's dan kami jalan kaki bareng-bareng ke stasiun Menton. Dari sini, kita cuma perlu waktu 20 menit menuju Monte Carlo, Monaco. Waktu itu kami serombongan berlima, tiga temen dari Italia, aku, dan Jens. Ketika sampe di stasiun, ternyata penuh banget sama anak-anak MUN yang lain, dan rombongan kami disamperin sama salah satu delegate lain. Namanya Giorgi, dia orang Georgia dan jadi delegate of South Africa di committee kami.

Di kereta, kami duduk terpisah-pisah karena menyesuaikan ketersediaan tempat, dan ketika sampe di Monte Carlo, aku ketemu temen deketku (yang akhirnya jadi super deket sepanjang acara, paling deket dari yang terdeket), dia orang Yunani yang sekarang kuliah di London School of Economics, namanya Anna.

Berpesta dan bersenang-senang di Monte Carlo bener-bener jadi pengalaman pertama yang super menarik buatku. Pemandangannya indah banget, bar yang disewa pihak penyelenggara pun menarik (they must've paid a lot for this bar, named Stars and Bars), dan untuk semua minuman yang ditawarkan bener-bener gratis. Aku belum pernah dan ga akan pernah mabuk. Aku suka musik, pesta, dan minum, tapi tentu aku selalu berusaha menyadari batas, apalagi aku selalu kemana-mana sendirian jadi siapa lagi yang akan menjaga diriku kalo bukan aku? Dari awal pesta udah banyak yang mabuk hahah mungkin karena ga biasa minum, tapi aku dan temen-temenku lebih banyak menari dan mengobrol, kami ga banyak minum dan bersyukur banget ketemu temen-temen yang masih punya adab meski sedang pesta. Tapi agak minder aja sih, karena aku ga dibesarkan dari lingkungan yang gemar berpesta, aku paling ga ahli menari di antara teman-temanku. Anna, Giorgi, Eleonora dari Italia, dan Leonie dari Jerman, keempatnya adalah teman terdekat sepanjang acara, benar-benar penari handal! Sedih sih hahah pada ahli-ahli banget abisnya. Anna bilang, orang Yunani menari secara alamiah aja. Lah aku malah jadi keinget prom waktu SMA dimana kami bukannya joged malah banyakan loncat-loncat hahaha.

Kami menghabiskan malam di Monaco sampai ketika dua orang temanku dari Italia, Alesandro dan... (duh siapa aku lupa haha) mengajak Eleonora pulang (they don't speak English that much jadi mereka banyak komunikasi in Italian) dan aku pun ikutan pulang. Panitia menyediakan tiga kloter bus dari Monte Carlo menuju Menton, dan aku seneng banget karena di jalan masih bisa liat banyak pemandangan cantik. Sepanjang jalan di bus, si cowok temen Ale dan Ele tidur, Ele udah setengah tidur, jadi aku banyak ngobrol sama Ale tentang Italia dan Indonesia. Satu hal yang paling menarik buat aku, ternyata persepsiku selama ini tentang orang-orang Italia ga jauh beda dengan kenyataannya. Aku selalu menganggap orang-orang Italia adalah orang yang hangat dan bersahabat (faktor letak geografis), dan ternyata kenyataannya memang begitu! Teman-teman Italiaku benar-benar thoughtful dan caring, si cowok temen Ale dan Ele bahkan selalu inget nama lengkapku cuma gara-gara penasaran liat paspor Indonesia, Ele ngajak aku kemanapun dia mau pergi misal ambil snack atau strolling around venue, dan sama Ale, aku cerita banyak banget tentang Yogyakarta, dia bahkan sampe browsing saat itu juga tentang Yogyakarta di Google, yang meski menurutku sebenernya ga penting-penting amat buat dilakukan saat itu juga di bus, tapi dia lakukan mungkin karena beneran penasaran, mungkin karena ingin menghargai aku. Setelah sampai di Menton sekitar pukul 3 pagi, kami diturunkan di tepi pantai dan masih harus berjalan kaki sekitar 20 menit menuju penginapan kami, kebetulan jaraknya ga begitu jauh sehingga mereka memaksa untuk mengantarkanku menuju penginapanku, betapapun aku berjuta-juta kali bilang kalo aku udah berkelana kemana-mana sendirian.

Udah fix banget pasti bakal tinggal di Italia suatu saat nanti.

Keesokan paginya, aku bangun sekitar jam 7 tapi siap-siap buat bangunnya lama banget (kebiasaan) dan aku sampe venue sekitar jam 9 pagi, meski awalnya aku kira udah bakal telat, ternyata venue masih kosong melompong. Ga heran, banyak banget yang akhirnya telat atau ga muncul sama sekali, mungkin terlalu party hard malam sebelumnya hahaha. Sebenernya hari terakhir itu lumayan melankolis dan mengharu biru sih, soalnya kami udah deket banget dan besokannya udah ga akan ketemu lagi. Debat berlangsung ga sepanas biasanya, draft resolusi cepet kelarnya, dan dengan muka-muka masih ngantuk, kami mengakhiri hari itu dengan banyak foto dan closing ceremony yang mengharukan.

Mantan Menteri Mesir yang memberikan pidato singkat di closing ceremony tentang tanggung jawab pemuda dalam isu migrasi dan urbanisasi serta hak asasi manusia.
Oh iya, di hari terakhir itu juga aku dan Anna bercerita banyak hal berdua sambil makan siang, tentang Indonesia dan Yunani, tentang banyak keprihatinan kami, dan cita-cita yang ingin kami raih. Yang bisa bikin aku deket banget sama Anna ini sepertinya karena kami sama-sama seumuran dan banyak keputusan nekat yang pernah kami ambil, terlebih kami juga berasal dari bukan negara maju seperti teman-teman lainnya, dan Yunani pun saat ini masih berjuang menggeliatkan sektor ekonominya, sama seperti Indonesia.

Ternyata, di balik indahnya Yunani, Anna banyak cerita tentang anak-anak muda yang meski ekonominya sedang terpuruk, tapi masih berusaha bela-belain untuk nongkrong di cafe atau bar, tanpa ambil andil untuk negaranya, misal mendirikan komunitas atau start up. Hal ini yang bikin Anna memutuskan buat merantau ke London, di kota yang ternyata dia belum menemukan kenyamanan karena semua serba mahal disana. Anna bukan berasal dari keluarga mampu, sama sepertiku, tapi dia super cerdas dan mau belajar, ini yang bikin dia juga masih mencari-cari jalan hidup. Kami saling menyemangati waktu itu, dan aku yakin banget Anna suatu saat bakal jadi orang besar.

Aku dan Anna!
Hal lain yang aku dapet dari perjalanan ini, selain wajarnya mendapat banyak pengetahuan dan inspirasi dari teman-teman, aku juga belajar untuk mementingkan kepentingan bersama dibanding kepentinganku sendiri. Aku belajar bahwa diplomasi bukan hanya tentang lobby atau kepentingan politik, tapi kesamaan kesempatan untuk semuanya, bahwa ada banyak sekali pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum mengambil kebijakan. Aku juga belajar menahan emosi saat aku diserang, tetap harus mengeluarkan feedback berupa kata-kata diplomatis, bukannya menyerang balik. Salah satu contohnya adalah saat Kevin, dia orang China dan merepresentasikan negara Qatar waktu itu, dia sempat menyerangku dengan "Indonesia, coba kamu urus dulu penebangan ilegal di hutanmu baru kamu urus hal ini" waktu aku melempar pemikiranku tentang urbanisasi dan ruralisasi. Awalnya aku kaget, tapi aku inget kalo ini forum resmi, aku harus bicara berdasarkan fakta dan ga boleh memasukkan tiap perkataan orang secara personal ke hati, lagipula di sisi lain aku tahu apa yang dibilang Kevin ini 100% benar, kita masih bermasalah di penebangan liar. Aku ga ingin suatu saat jadi diplomat atau pengacara yang menutup-nutupi seolah-olah Indonesia tak punya masalah, aku ga ingin jadi munafik, karena tentu itu akan menyakitkan hati pribumi yang mengalami permasalahan terkait. Waktu itu aku hanya menimpali Kevin dengan sedikit pernyataan tentang perusahaan-perusahaan yang sebenarnya jadi aktor di balik penebangan ilegal dan langkah apa yang sudah diambil oleh pemerintah Indonesia. Toh, setelah acara selesai, Kevin dan aku ngobrol banyak banget tentang Bali, ternyata dia doyan banget liburan ke Bali.

Setelah acara selesai, aku makan malam di McDonald's (lagi) (biar hemat!) bareng Giorgi dan pulang karena harus packing, dan aku banyak sekali menghela nafas berat karena harus meninggalkan kota Menton yang cantik sekaligus cerita-cerita serunya. Aku mengepak koperku, melipat kembali kasur sofa di AirBnb ku, menyeret koper ke stasiun keesokan paginya, menatap Menton dari kejauhan, dan tiba di Bandara Nice untuk terbang kembali ke Belgia. Sedih banget, dan temen-temen juga pada berulang kali mengingatkan untuk tahun depan bertemu lagi di event dan tempat yang sama, tapi aku belum tahu juga, ada banyak bagian Bumi yang belum ku jelajahi, dan aku berharap aku ga akan pernah berada di tempat yang sama dalam waktu lama, pun di Prancis ini, sepertinya aku ga akan ada disini lagi tahun depan.

Sedih, pertemuan selalu menyisakan perpisahan. Sedih, terutama saat orang-orang ini benar-benar memiliki frekuensi yang sama denganku: jiwa petualang, kesukaan bercerita hal-hal berkualitas, selera humor yang tak pernah mencela, sikap-sikap yang selalu terjaga meski dalam situasi informal sekalipun, aku ga heran kalo orang-orang ini kelak akan ada di bangku-bangku pejabat dunia nantinya.
Terima kasih Menton, terima kasih teman-teman! :)

Gang cantik ala Italia di depan AirBnb

Sekarang kalo liat motor, aku jadi inget pertanyaan balik Alessandro waktu aku nanya dia tentang orang Italia yang identik dengan vespa (gara-gara waktu kecil aku nonton film Lizzie McGuire nih!), dia bilang, "Iya, orang Italia emang naik vespa kemana-mana nih, di Indonesia juga pada naik motor kan? Yang dibuat dari plastik dan diimpor dari China itu?". Aku ngakak banget, bukan plastik kali yah, tapi aku ga tau juga namanya apa, yang buat motor bagian depan itu loh? Dan aku waktu itu juga masih sempet-sempetnya ngebenerin, "Bukan dari China, tapi dari Jepang" :))

On the night

Plasa di pusat kota tuanya Menton tempat penduduk setempat nongki cantik dan ngopi-ngopi










Menton punya banyak sekali taman kota, dan ini salah satu taman dimana ada banyak pohon palem dihias dan jadi terang benderang di waktu malam. Banyak bangku disitu dimana kita bisa duduk-duduk santai dan ga kotor sama sekali



Makanan China ada dimana-mana. Selalu :)


Bagian yang kelap-kelip itu adalah negara Monaco, kalo malem cantik banget, sayang kamera handphone ga cukup mumpuni buat mengabadikannya, harus dateng dan liat sendiri!

Ada banyak banget restoran di pinggir pantai Kota Menton, sedikit mengingatkanku pada Bali!





Ini casino terbesar di Menton





















Bayangin deh aku nyeret koper kesana kemari dengan kondisi jalan terjal dan licin begini :)) Serem banget takut kepleset huhu
View laut ngintip dari depan kampus Sciences Po




Selain taman, aku suka banget gimana Kota Menton bener-bener tertata dan kasih akses buat warganya olahraga atau sekadar strolling around, ada trotoar yang luas-luas dan banyak taman di tiap sudut jalan

Parahhh luas banget kan trotoarnya?!

Museum Jean Cocteau on the night

Memang kota yang nyaman dan romantis sekali Menton ini :))



Di malam terakhir aku stay di Menton, aku jalan-jalan sendiri dan menemukan sebuah benteng dimana kita bisa naik dan dapet pemandangan combo: jajaran yacht dan pegunungan, serta laut Mediterranea. Awesome!






















Salah satu foto terfavoritku (muji diri sendiri :p), Gereja atau Basilique Saint Michel


 
 





Sebenrnya ada sih foto yang bersih dan ga ada photobomb, tapi ini aja yang di post, malah lucuk :)) Aku pake rok tenun NTB btw~
 
Bye-bye, Menton...
Makan roti tuna di stasiun Bruxelles Midi, enak banget ih padahal cuma 1,25 euro (soalnya laper :p)



Mampir makan crepes di Bruxelles, sengaja pilih jam transit yang lama emang biar ada waktu buat relaks jalan-jalan dulu

Bruxelles yang cerah!




Pink train again, from Zaventem to Bruxelles Midi

Dapet bonus pemandangan Alpen yang cantik sewaktu dalam penerbangan Nice menuju Zaventem 


Nice di kejauhan

Di antara dua bangunan di Menton ini ada pegunungan yang menyembul, aslinya cakep banget!