Monday, March 20, 2017

Loving life.

“Dari segi spiritual, mengkonsumsi daging akan mempengaruhi sifat dan watak manusia. la akan mewarisi watak binatang yang dimakan dagingnya itu.” (Krishna, Anand. (2001)
Pertama kali mengenal meditasi dari Bunda, dan saya pilih untuk memulai yoga sejak SMA awal, sejak pertama kali didiagnosa scoliosis. Awalnya saya sedih dan merasa terguncang bahwa cacat seumur hidup ini akan selalu berdiam dalam tubuh saya, namun lambat laun saya mulai tergelitik untuk mempelajari kehidupan dari sudut pandang yang berbeda. Saya pernah menjadi vegetarian selama beberapa tahun, dan saya sempat proaktif menentang jual-beli hewan, breeding, hingga eksploitasi hewan untuk kepentingan entertainment seperti topeng monyet, sirkus lumba-lumba, dan kebun binatang.
Sampai sekarang saya masih pecinta hewan, saya kira semua orang tahu itu, namun kini saya memilih untuk tak terlalu vokal dan memulai kebaikan dari satu elemen besar dalam semesta ini: diri saya sendiri.
Seiring berjalannya waktu, hati saya mulai terbuka untuk belajar dari berbagai tokoh pluralitas yang saya kira cara pandangnya kurang lebih sama mengenai kehidupan. Pada 2014 saya pergi ke Bali untuk meditasi Hindu-Buddha bersama Gde Prama dan pada 2016 lalu saya ikut mengaji bersama Cak Nun. Selain itu, saya makin menemukan jati diri dan menciptakan kebahagiaan melalui hal-hal kecil yang saya temui tiap harinya: angin segar tiap pagi saat meditasi di kamar kos, makanan organik yang bergizi dan sehat, orang-orang yang baik hati dan mencintai saya, kebebasan untuk pergi kemanapun dan melakukan apapun... Semua hal terasa baik dan on track.
Mempelajari kehidupan dan menciptakan kebahagiaan.
Itu dua kata kuncinya. Kata kunci yang membuat saya merasa lebih harmonis dengan dunia sekaligus makin mengagumi Sang Pencipta, meski tanpa agama.
Saya mencintai kehidupan. Saya mencoba berdamai dengan apa yang sering dianggap orang sebagai kekurangan (tubuh kurus dan scoliosis? at least I'm happy!). Saya mencoba membiarkan semuanya mengalir. And it works for me. Tapi memang, perbanyak konsumsi sayur dan buah itu pengaruhnya luar biasa besar, apalagi jika diimbangi dengan olahraga dan meditasi. Benar-benar luar biasa besar, alhamdulillah.
Saya tak membatasi konsumsi daging, namun berusaha menyeimbangkan dengan konsumsi sayur dan buah dalam dosis yang sangat banyak. Dan jangan lupa untuk selalu tutup telinga kalau ada yang komentar, "Ga makan daging lalu proteinnya dari mana? Gimana mau gendut kalo gitu?".
Gapapa. Orang nyinyir ga akan pernah musnah dari muka bumi ini. Toh they don't pay our bills :):)
Sabbe satta bhavantu sukhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.

Difference of being spiritual and religious.

Hayoloh, ini Sri Paus aja ngomong begini... Kira-kira, Gereja makin ditinggalin umatnya ga ya? Disini, bangunan gereja udah banyak yang sepi dan yang datang misa mingguan pun kebanyakan orang-orang tua. Pernah suatu ketika saya misa di gereja di dekat rumah, ga sengaja ketemu temen sekelas, yang ada kita bukan sapa-sapaan dulu tapi malah ketawa-ketawa, "Loh, masih ke gereja juga to kamu?" 馃槀 Saya sih seneng-seneng aja mau ibadah dimanapun sebenernya. Ada gereja dan ada waktu, ya ke gereja, kalo sedang ga mau dan ga mampu, ya udah ga usah pergi. Intinya masalah beginian ga perlu diributkan dan ga perlu diperdebatkan lah, ga bikin mati juga toh? 
Dari kecil saya emang dibesarkan dalam nuansa agama yang kental baik dari pihak keluarga saya yang beragama Islam maupun Katolik, baik yang menganut agama karena faktor keturunan atau memang kedewasaan masing-masing untuk memilih. Hidup dalam lingkungan seperti ini, bersekolah di sekolah swasta bertahun-tahun, saya rasa sudah cukup, sih. Sekitar memasuki usia 15 tahun lah kira-kira waktu itu, saya mulai diberi pencerahan sama orangtua tentang spiritualitas dan religiusitas, bukan lagi tentang agama. Mereka bilang saya sudah cukup mengerti dan bisa diajak berdiskusi.
Orangtua saya tak pernah mencabut akar-akar kebaikan yang ditanam oleh semua kultur dan agama yang pernah saya pelajari. Mereka hanya selalu berusaha mengingatkan untuk tetap realistis dalam berpikir, bertindak, dan serta mengesampingkan ajaran-ajaran guru agama yang dianggap menyimpang dengan nurani saya sendiri.
Semenjak itulah, saya menjadi lumayan kritis dan vokal terhadap kemunafikan-kemunafikan yang saya lihat di balik tameng agama dan rumah-rumah ibadah. Semenjak itulah, saya malah jadi makin mencintai Sang Pencipta dan menganggap bahwa agama bukanlah sarana yang cocok bagi saya pribadi dalam mendekatkan diri dengannya.
Saya tak cocok dengan ritual keagamaan yang bertele-tele dan terlalu utopis, terlalu alkitabiah. Saya lebih suka praktek langsung dan benar-benar menelaah sabda maupun dakwah dalam konteks masa kini. Toh hari gini kita juga udah ga makan belalang dan madu doang kaya Yohanes Pembabtis, kan? (Ya meski keluarga saya karena dari Gunung Kidul suka banget makan belalang sih...) 馃槀
Oh iya, selain kenyataan bahwa gereja disini mulai sepi peminat, ada hal lain yang menohok saya: ujud pribadi dipatok harga! Ya, jadi, jika anda miskin dan ingin ujud anda didoakan oleh pastor sewaktu misa, mungkin anda bermimpi, atau harus menabung dulu. Pasalnya, nyaris 10€ (±Rp 150.000) harus kita keluarkan untuk "memberi tali asih" pada paroki yang bersangkutan. Ya Allah Ya Tuhan YME. Nyari duit kok gitu amat?
Industri dalam jubah agama ternyata sudah digambarkan sejak jaman Yesus Kristus, salah satu manusia paling visioner yang pernah hidup di bumi, idola saya selain Bung Karno dan Ibu Kartini dan beberapa tokoh lainnya.
Pada injil Markus 11:15 tertulis seperti berikut:
"Lalu tibalah Yesus dan murid-murid-Nya di Yerusalem. Sesudah Yesus masuk ke Bait Allah, mulailah Ia mengusir orang-orang yang berjual beli di halaman Bait Allah. Meja-meja penukar uang dan bangku-bangku pedagang merpati dibalikkan-Nya,".
Tanpa mengurangi rasa hormat, saya mau sharing. Beberapa tahun lalu ketika saya masih kecil, saya pernah mengikuti misa di sebuah gereja yang umatnya terkenal rajin beribadah dan sangat aktif dalam kehidupan menggereja. Pada saat homili, pastor membahas mengenai aktivitas perdagangan yang sedang marak ada di halaman atau depan pagar gereja, tak terkecuali gereja yang saya sambangi tersebut. Pastor ini berbicara dengan nada agak tinggi dan membawa-bawa ayat Markus 11:15 itu tadi, "Tuhan Yesus aja marah kok, waktu ada pasar di Bait Allah, lalu kita gimana ini?". Semacam itulah, saya tak ingat pasti, tapi saya ingat bahasan ini sempat memanas di beberapa gereja setelahnya, ya karena ayat ini diterjemahkan secara mentah-mentah.
Begini. Kita hidup 2000 tahun setelah Tuhan Yesus lahir, dan saya pun tak dapat memungkiri bahwa jajanan di depan Gereja Kotabaru dan Masjid Syuhada itu luar biasa menggiurkannya (lumpia gereja Kobar woi ah! Siapa yang ga suka sih?! 馃槀). Produsen dan konsumen sama-sama diuntungkan, kalaupun ada yang diperbaiki, mungkin regulasi dan tata kelola saja agar tak kumuh, tak mengotori sekitar, atau tak menghalangi akses keluar masuk rumah ibadah. Selebihnya? Pantaskah kita ngamuk-ngamuk dan membalikkan gerobak-gerobak mereka, sama seperti yang Tuhan lakukan dulu? Ya nggaklah! Apa bedanya kita sama ormas yang sebelah dong kalo anarkis gitu?
Saya mencoba menelaah dengan lebih relevan, "Tuhan Yesus, sampeyan mau menyampaikan apa sih kepada kita di era sekarang?".
Kemudian saya ingat, kembali ke gereja yang pastornya heboh banget tadi: seseorang pernah cerita ke saya, kalo di gereja itu pernah ada beberapa kasus korupsi. Edyan! Uang persembahan ditilep? Lagi-lagi, gitu amat cari duit?
Kemudian saya ingat lagi, tren hijab fashion yang lagi booming beberapa tahun belakangan. Iya, saya tahu, semua perempuan ingin bersolek dan tampil cantik. Tapi saya juga tahu, designer-designer itu niat utamanya jualan apakah buat dakwah? Ya enggaklah, buat cari duit dong yaaa... Deretan ustad-ustad yang mobil mewahnya berjajar-jajar berkat keluar masuk TV, apa mereka beneran niat dakwah? Ya enggaklah, masuk ke media tujuannya apa? Biar terkenal dong, dapet duit lageee... 馃槀
Saya bicara begini dasarnya malah justru dari kata-kata kitab lho ya... Semua kitab, semua agama, semua Tuhan, semua nabi pasti mengajarkan kesederhanaan. Tuhan Yesus mengajak para rasul untuk meninggalkan harta benda dan keluarga mereka jika mau jadi pengikutNya. Rasulullah hanya tidur di hamparan kulit hewan, bahkan ketika Aisyah melipat beberapa kain dengan harapan Rasulullah bisa tidur dengan lebih nyaman, malah beliau meminta agar lipatan kain-kain tersebut disingkirkan saja.
Lalu, kita?
Bukan berarti kita harus mencontoh sikap Yesus yang mengusir pedagang di Bait Allah. Bukan. Tapi usirlah rasa nafsu berlebihan dalam hati kita: nafsu untuk mencuri, untuk merasa iri, untuk merasa dengki, nafsu untuk membicarakan keburukan sesama.
Bukan berarti kita harus mencontoh keduabelas rasul dengan menjual seluruh harta benda kita bagi orang yang membutuhkan. Bukan. Tapi jual dan singkirkanlah semua rasa gengsi kita untuk bermewah-mewah. Tak ada satu manusiapun yang hidup di bawah langitnya Gusti Allah yang bisa memiliki segalanya, pun kita.
Bukan berarti kita mencontoh Rasulullah dengan tidur di atas hamparan kulit hewan. Bukan. Tapi tidurlah di dalam rumah dengan keadaan yang secukupnya dan harta yang sewajarnya.
Kira-kira seperti itu :) Sabbe satta bhavantu sukkhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.


Documentary Recommendations!

I always wish, our life as human is supposed to be useful for others, not only the other human beings but also animals and environment. Day by day, I learn that every single things we do give impacts not only for ourselves, and that is why we need to think much, think and rethink again, our behavior and daily habits. Last week, I watched three documentary movies which enlightened myself about our society nowadays. (These three movies are available on Netflix, I strongly recommend you to watch them by yourself!)

^_




The first movie was Living on One Dollar - 2013.
It captures social life of Guatemalans and Mayans, but in the same time, I saw my Indonesian people are currently struggling in similar situations, too. Much of our people live on one dollar per day or lower and even Mr President Joko Widodo starts to worry about the Indonesia's social imbalance. Oxfam's last-week released data revealed: The four richest men in Indonesia own as much wealth as the country’s poorest 100 million citizens. And do you guys know where's the region with highest gap between the poorest and wealthiest people situated at? Daerah Istimewa Yogyakarta. MY OWN HOMETOWN.

Gini ratio adalah ukuran ketidakmerataan atau ketimpangan agregat yang angkanya berkisar antara nol (pemerataan sempurna) hingga satu (ketimpangan yang sempurna).

The second one was Food Choices Documentary, which describes really well about how our eating habits affect this poor mother Earth. 



The experts explain understandably reasons why plant-based diet is strongly suggested for modern people and young generation, especially. Medias and fast-food industries play biggest role in cover up the truth behind medical issues: "We need to drink milk to strengthen our bones", "If we're vegans, we won't get enough proteins", "Consuming fishes is way much safer and healthier than other meat"... and other unproved facts. I tell you, my grandmother had symptoms of osteoporosis and her doctor indicated that it was caused by high-calcium milk she had been consuming since years ago. We seem to be the only species of mammals that drink milk after infancy, and definitely the only species that drinks another species' milk.


The last one was The True Cost - 2015, it's a fashion documentary tells us about how cruel the fashion industry actually is.



We often hear that garment manufactures disperse to several developing countries, employ labors with low wages. This is WHY, I always force Little Luna to stand on her own feet, to believe in her own home-based productions, and to empower local people around us.
I don't point these out to blame industries, or to blame James Watt for his steam-engine invention, which later changed our entire life. I just want to remind you (and myself) to balance everything and live thoughtfully, act carefully, or at least... be responsible.
And, does anyone have any other recommended movies about social and environmental awareness?





^_^



Tak pulang bukan berarti tak sayang.

Jadi, bulan ini saya mau pergi ke suatu tempat di Prancis selatan dan minta saran penginapan dorm ke group backpacker Prancis. Saya bilang, as a return, mereka bisa nanya apa aja tentang Indonesia ke saya.
(Saya cantumin juga video bareng sama post pertanyaan itu, karena saya pikir bisa sekaligus jadi sarana promosi pariwisata Indonesia. Btw aneh banget pas lagi browsing videonya di YouTube, saya malah pengen mewek 馃槶馃槶馃槶 Bener-bener Zamrud Khatulistiwa, damn it! How lucky I am to be an Indonesian 馃槶).
Eh ternyata feedback yang didapet dari anggota forum lainnya emang lumayan, saya sampe ditawarin mampir ke Strasbourg, Collioure, dan kota-kota lainnya di Prancis selatan, dipersilakan sambang dan nginep gratis (HEHE alhamdulillah馃槍). Tapi selain itu, banyaaaaaaaak banget yang nanya-nanya beneran tentang Indonesia 馃槏
P.S.: Pernah banget duluuuuu pernah, ada yang bilang ke saya, mereka yang pergi kuliah atau kerja ke luar negeri itu ga nasionalis. Sampe sekarang pun saya sering diingetin, "Besok kalo udah lulus jangan lupa pulang ya, membangun Indonesia". Gitu kata mereka. Ga usah orang-orang biasa, pejabat kalo ketemu mahasiswa asing di luar negeri juga pasti bilang gitu, standar 馃槍 Mungkin mereka lupa, cinta tanah air itu sifatnya abadi. Bela negara harusnya dapat dilakukan dimana aja. Ga harus di Indonesia. Faktanya, ga semua yang bermukim di Indonesia aja bangga kok sama bangsanya sendiri, emang diplomat Indonesia di PBB dan negara-negara sahabat ga membangun bangsa hanya karena ga bermukim di Indonesia? 馃槍
Jadi, bukan apa yang terlihat dari luar (bukan tentang dimana posisi kita saat ini berada), tapi apa yang selalu ada dalam hati (pengabdiannya, pemikirannya, perhatiannya hanya untuk bangsa), saya kira itu yang lebih berharga 馃槍
P.S.S.: Buat orangtua yang suka berat hati buat melepas anaknya pergi, Ayah Bunda saya selalu inget pesen Kahlil Gibran dalam puisi Anakmu Bukan Anakmu. Dalam bahasa Jawa mereka suka bilang, "Anakku wedok kae mung titipan e Gusti Allah, awake dhewe ora ngerti bakal bali opo ora, baline kapan, jarke wae, ndherek Gusti", lalu sementara si adek seneng-seneng aja udah jadi anak tunggal 馃槀





Celebrate every moments.

Makin kemari saya makin tak gemar merayakan momen secara berlebihan. Tapi bukan berarti saya anti perayaan.
Bukan karena saya tak suka bersenang-senang, tapi saya memaknai hidup ini seluruhnya sebagai anugerah, tak peduli hari apapun, saya selalu bahagia menjadi manusia merdeka, menjadi perempuan, menjadi anak dari orangtua saya, menjadi sosok yang disayangi dan diperhatikan orang di sekitar saya.
Saya tak perlu diingatkan sekali setahun bahwa saya bertambah usia. Saya tak perlu diingatkan satu dua kali dalam setahun bahwa saya istimewa karena saya perempuan. Saya tak perlu diingatkan semarak diskon menjelang hari-hari raya. Saya tak merasa perlu membeli bunga dan cokelat dan hadiah sekali setahun di bulan Februari untuk menunjukkan afeksi dan perhatian pada orang-orang yang saya kasihi (plus, saya tak mau melulu diperbudak industri, saya marketeer, saya paham betul bagaimana industri lihai memanfaatkan momen ^_^)
Gusti Allah memberi saya hidup yang indah, dan saya berkewajiban untuk memaknainya tiap hari, tiap saat, dalam tiap hela nafas. Saya memulai lifestyle yang sehat dan bahagia, saya belajar mencintai tiap orang dengan kelebihan dan kekurangan mereka, dalam tiap tindakan baik atau buruk mereka pada saya, itu cara terbaik saya untuk merayakan hidup.
Bagaimana cara anda? Apakah justru sibuk ikut terbawa arus tanpa pernah memaknai hidup yang sebenarnya? Ingat, Cak Nun bilang, hanya ikan mati dan sampah yang tak sanggup melawan arus ^_^
Sabbe satta bhavantu sukkhitatta, semoga semua makhluk berbahagia.


Don't ruin their excitements.

Orang bertanya tak melulu karena ingin menimba ilmu. Ada yang sekadar mencari tahu dan pada akhirnya mencari celah untuk mencela, dan ini berbahaya.

Orang-orang...
Jangan karena dulu mimpimu tak berhasil kau perjuangkan, lalu sekarang kau mematikan mimpi orang lain.

Jangan berkata “Halah” ketika ada yang menceritakan cita-citanya dengan antusias.
Jangan berkata “Gitu doang” ketika ada yang mempercayakan dirimu sebagai pendengar pertamanya.


Kita tak tahu berapa lama ia mengumpulkan keberanian untuk bermimpi, jangan meruntuhkan kepercayaan diri yang telah sekian lama dibangun. Jika memang tak tertarik, tanggapilah dengan santun lalu undur dirilah. Pencerita itupun tak butuh kamu hanya untuk menghalangi masa depannya.