Friday, April 14, 2017

Cita-Cita Kartini: Personal project dedicated for a heaven called Indonesia

Sejak kecil, saya memang ingin sekali bersekolah di luar negeri, karena saya suka bertemu dengan orang banyak dan melakukan perjalanan ke tempat-tempat baru. Ketika SMA, saya coba mendaftar program pertukaran pelajar ke Eropa, tapi ternyata waktunya belum tepat. Lalu, ketika duduk di bangku kelas 2, saya mulai terpikirkan untuk melanjutkan kuliah ke Prancis. Awalnya saya ragu, terutama karena keluarga saya bukan berada dari kalangan berada dan belum pernah ada sejarah dalam keluarga kami melanjutkan studi formal di luar negeri. Tantangan selanjutnya berasal dari lingkungan sekitar kami, tak melulu dukungan dan doa baik yang disampaikan orang pada saya. Kadang ada yang meremehkan dan yang lebih sering lagi adalah memberi dugaan bahwa,

“Kamu tak cinta Indonesia ya, makanya mau pindah ke luar negeri?”

Dugaan itu salah besar, karena kalau tak cinta Indonesia, saya benar hanya akan mengungkung diri di rumah orang tua saya, tanpa perlu menghadapi banyak tantangan di negeri orang demi menuntut ilmu untuk dibawa pulang ke tanah air. Saya berusaha keras untuk membuktikan hal tersebut. Saya rutin menulis dalam blog pribadi dan beberapa media online, saya berbagi cerita mengenai keseharian saya disini, saya hanya ingin memberi sedikit gambaran pada adik-adik ataupun rekan-rekan yang memiliki situasi sama seperti saya dulu dan belum punya motivasi kuat untuk mewujudkan mimpinya. Dengan cara menulis pada kawan-kawan di tanah air, itu adalah wujud tanggung jawab saya pada Indonesia. Namun akhirnya pada satu waktu, saya sadar bahwa saya harus melakukan sesuatu yang impact positifnya dapat dirasakan dengan lebih luas. Saya sadar, saya adalah individu yang sangat cerewet baik melalui lisan maupun tulisan, jadi saya pikir, kecerewetan ini perlu diposisikan pada kadar yang tepat. Akhirnya tercetuslah ide Cita-Cita Kartini ini, dimana saya hanya perlu menjadi juru ketik yang menghimpun berbagai cerita hidup perempuan inspiratif untuk dibagikan pada perempuan-perempuan lain melalui media online.

Dari sekian banyak ide yang terus meletup-letup dalam otak saya, Cita-Cita Kartini saya pilih dan wujudkan pertama kali untuk memanfaatkan momentum peringatan Hari Kartini 2017. Saya memilih tajuk berupa pemberdayaan perempuan sebab saya percaya, jika ingin membangun fondasi kuat sebuah bangsa, kita harus kuatkan dulu kaum perempuannya. Cita-Cita Kartini saya siapkan hanya dalam 10 hari, 10 hari dengan waktu tidur yang minim, 10 hari netbook usang saya bekerja tanpa jeda, dan 10 hari saya menghabiskan mayoritas waktu berkutat menulis artikel, agar layak dipersembahkan buat bangsa tercinta.

Banyak sekali tantangan yang saya coba lewati, terutama masalah perbedaan waktu. Mayoritas kontributor saya adalah orang-orang penting dan sibuk, dan hanya memiliki waktu senggang cukup singkat. Di antara sela-sela kesibukan mereka itulah saya harus mencari celah untuk melakukan komunikasi secara intens, manalagi waktu project yang tersedia hanya sedikit. Kapanpun mereka menyatakan sedang luang, saya akan langsung telepon atau kirim pesan melalui email, entah jam berapapun saat itu. Saya tak boleh kehilangan momen, dan berusaha untuk selalu menjaga mood meski sedang super ngantuk atau lelah agar para kontributor, meski tak melihat wajah saya secara langsung, mereka bisa merasakan excitement dan feel kesungguhan yang saya pancarkan. Seorang kontributor bahkan bersedia saya wawancara ketika di Prancis sedang menunjukkan pukul 03.00 dini hari. Ada juga yang meminta korespondensi berupa telepon langsung pada saat di Prancis sedang jam makan siang. Tak masalah buat saya, karena terus terang, lebih banyak hal menginspirasi yang saya dapatkan, dan sangat mampu mengimbangi semua perasaan lelah yang saya rasakan.

Saya mencari kontributor-kontributor ini secara manual, pertama-tama saya hubungi sosok-sosok yang memang sedari awal menginspirasi saya dalam berkarya sehari-hari. Melalui Facebook, email, Instagram, hingga WhatsApp. Ada begitu banyak calon kontributor yang saya hubungi, dan jika saya cukup beruntung, maka pesan singkat yang saya kirim akan terbaca oleh mereka dan segera dibalas. Untuk hal ini, saya sangat bersyukur pernah dipertemukan dengan banyak orang sewaktu di Yogyakarta, hingga ternyata banyak mutual friends antara saya dengan beberapa kontributor. Karena terus terang, pada mulanya, relasi saya dengan orang-orang hebat ini belum terjalin, istilahnya, saya benar-benar masih anak kemarin sore. Saya berterimakasih untuk kebaikan para kontributor yang berkenan membalas pesan saya meski pada awalnya sama sekali tidak mengenal.

Seperti yang sudah saya tulis sebelumnya, ada begitu banyak hal menginspirasi yang saya dapatkan dari para kontributor, hingga di satu sisi saya merasa sangat tak sabar dengan paparan project sederhana ini, namun di sisi lain saya harus berusaha tetap menjaga excitement publik dengan tak memberi spoiler terlalu banyak. Seluruh kontributor memberi warna yang berbeda bagi Cita-Cita Kartini, baik dengan kisah hidupnya,motivasinya, prestasi-prestasinya, bahkan hingga tantangan yang pernah mereka hadapi dan bagaimana cara mereka menyikapinya. Seluruh kontributor juga memberi saya banyak sekali ilmu, yang saya harapkan bisa membantu para pembaca saya kelak menjadi punya semangat lagi untuk terus maju dengan apapun pilihan hidup mereka. Saya mendapat ilmu mulai dari kepemimpinan sejati, seluk beluk biji kopi, rahasia-rahasia pengembangan diri, hingga bab mengenai keceriaan lantunan musik jazz. Memilih kontributor dengan beragam latar belakang, beragam cerita hidup, beragam profesi, hingga beragam usia memang sangat penting dalam project Cita-Cita Kartini. Saya ingin setiap elemen perempuan merasa terwakilkan dan akhirnya tak lagi merasa terpinggirkan. Dan inilah alasan utama mengapa saya membentuk project Cita-Cita Kartini.


Jika dulu Ibu Kartini mengharapkan terang sehabis gelap, jika dulu ia mengharapkan pijar pendidikan menyala setelah padamnya kebodohan, maka saya pun percaya bahwa tiap manusia pasti memiliki jua cita-cita, laiknya Ibu Kartini. Dan tak pernah ada yang salah dengan cita-cita seseorang, sejauh mampu dipertanggungjawabkan dan tak mengganggu kepentingan umum. Memiliki cita-cita adalah hak tiap manusia, tanpa batasan apapun. Sayangnya, kadang posisi perempuan dalam ruang-ruang kesempatan masih belum selalu strategis. Entah dari lingkungan yang tak mendukung, atau memang motivasi peribadi yang belum muncul sepenuhnya. Semoga, dengan hadirnya Cita-Cita Kartini, perempuan-perempuan jadi makin berdaya dan berpijar lagi semangatnya.

Tak ada yang perlu ditakutkan, tak perlu risau. Selama kita berjalan menuju arah yang kita yakini benar, tetaplah melaju, entah sendiri atau bersama-sama, entah dengan kecepatan tinggi atau rendah. Jika kamu mulai merasa ragu, ingatkan lagi dirimu bahwa ada banyak perempuan lain yang bersedia berbagi bersamamu. Era sekarang adalah era kolaborasi, bukan lagi kompetisi.

Sekian, semoga apa yang menjadi keinginanmu kelak dikabulkan menurut waktuNya.


The background image was photographed by me at Tirta Empul, Bali, Indonesia.
Women carried buckets of rocks on their heads.

No comments:

Post a Comment