Monday, April 3, 2017

Dari Utara Ke Selatan: Menton!



Jadi, perjalanan ini dimulai justru sejak awal masuk kuliah, saat aku ngobrol sama temen deketku di Lille, si Carla (kalo pernah stalk Instagramku pasti tau deh karena dia suka banget spam di foto-fotoku :p). Waktu itu masih bulan-bulan pertama kuliah dan seperti universitas di Indonesia, disini kami juga punya Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM). Kegiatan-kegiatannya pun sejenis, ada pecinta alam, paduan suara, orkestra, yang mirip himpunan mahasiswa dan dewan mahasiswa gitu juga ada (tau kan aku HIMA DEMA wkwk:p). Awalnya aku pengen ikut teater, tapi terus Carla cerita kalo dia minat sama Model United Nations. Nah aku emang pernah denger tentang MUN, tapi belom cari tahu lebih lanjut lagi, aku malah cenderung pengen ikut Moot Court karena lebih masuk akal buat jurusanku di Ilmu Hukum kan. Akhirnya aku browsing dikit tentang MUN dan sebagai mantan calon anak Hubungan Internasional dan mantan calon anggota tim debat SMA (yang berarti keduanya ga jadi dilakoni hahah), aku bilang sama Carla kalo aku juga pengen coba. Akhirnya kami dateng bareng di pertemuan perdana dan seketika itu juga aku mendadak ga minat sama sekali hahaha (jujur banget...). Aku kurang cocok ternyata sama sistem di asosiasi MUN di kampus, beda sama Carla yang masih excited-excited aja tuh kayanya sampe detik ini haha. Tapi aku jadi tahu basic-basic MUN dan gimana cara cari event MUN via mymun.net/muns. Sejak itu aku jadi sering buka web dan scrolling, kira-kira mana venue event MUN yang mudah diakses dari Lille dan harga pendaftarannya juga terjangkau, kebetulan banyak yang memungkinkan juga buat daftar sebagai single delegate, jadi ga perlu lewat asosiasi kampus gitu.

Akhirnya sekitar bulan November, aku nemu event MUN menarik di dua tempat, di Tours dan Menton, keduanya sama-sama masih di Prancis. Tapi karena aku ga bisa ambil dua-duanya karena ujan duit belom kejadian juga bahkan sampe detik ini aku nulis blog, jadi aku harus milih. Sebenernya ga terlalu berat waktu itu buat milih, karena MUN yang di Menton kebetulan diorganisir oleh mantan calon kampus aku, dan sampe sekarang masih jadi idaman (aku kalo sekali mencintai kan pasti setia :p), kebetulan topiknya juga lagi hot banget, tentang migrasi. Dan satu lagi, Menton ini terletak di Prancis selatan, di tepi Laut Mediteranea, dengan akulturasi budaya Italia, Prancis, Monako, dan imigran-imigran yang bermukim disana. Aku butuh matahari! Si bocah yang dulu semasa di Jogja paling kenceng ngeluh kalo kena matahari sekarang kangen banget sama matahari, kulit udah pucat dan badan rasanya ga enak banget, pantes berjemur itu perlu ya?

Pergi ke Menton jadi hal yang ga akan pernah aku sesali, karena tipikal perjalanan Asyana itu selalu melelahkan. Pasti. Karena aku ga bisa milih perjalanan terbaik di first class dan aku selalu melakukan semuanya sendiri, mulai dari ngecek peta bolak balik sampe nyiapin bekal makanan kering biar ga jajan, jadi udah pasti menguras tenaga. Selain melelahkan, menyenangkan dan memorable itu pasti. Aku selalu berusaha melakukan hal-hal yang belum pernah aku lakukan sebelumnya, makan makanan yang belum pernah aku icip, dan pergi ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi.

Dari awal merencanakan sampe akhirnya meninggalkan, kota Menton ini meninggalkan kesan banget ternyata, hahaha. Aku jadi tahu gimana work hard party hard dalam arti sesungguhnya, aku ketemu banyak banget orang-orang dengan macam-macam pemikiran yang luar biasa, dan aku jatuh cinta banget sama kota yang hangat ini!


Perjalanan pertama: dari Lille ke Stasiun Bruxelles Midi, lalu ganti kereta menuju Bandara Zaventem!

Perjalanan ke Menton yang cukup jauh (Lille di paling utara Prancis dan Menton di paling selatan), bikin aku mau ga mau mikir panjang kalo mau naik bus seperti yang biasa aku lakukan karena harganya yang cenderung terjangkau. Akhirnya aku cek website GoEuro (wajib banget dicek buat yang mau trip keliling Eropa karena dia akan membandingkan semua moda transportasi berdasarkan harga tiket, jarak dan waktu tempuh, dan preferensi perusahaan transportasinya) dan nemu kalo harga bus kesana sama seperti harga tiket pesawat. Jelaslah aku milih naik pesawat, meski ternyata aku harus naik dari Bandara Zaventem di Brussel, Belgia, bukan dari Bandara Charleroi di Lille. Itupun turun ga langsung di Menton tapi via Bandara Nice, salah satu kota lainnya di Prancis selatan. Ga masalah, aku pesen tiket akhirnya untuk 3 perjalanan kereta (Lille – Brussels, Brussles – Zaventem, Nice – Menton) dan 1 tiket pesawat (Zaventem – Nice), semuanya pulang pergi dan ga sampe EUR 100. Aku bahkan sempet ngira pesawat yang aku naiki adalah milik maskapai Easy Tiger atau sebangsanya yang emang low fare, mungkin sejenis Air Asia. Tapi ternyata aku beruntung banget bisa dapet Brussels Airlines. Aku berangkat dari tanggal 23 Maret pagi dari Lille karena acara dimulai dari tanggal 24 Maret dan berakhir 26 Maret. Berangkat lebih awal karena dengan pertimbangan aku ga mengenal medan sama sekali dan ga kenal siapa-siapa disana. Oh iya, untuk penginapan aku sempet kontak salah satu warga lokal di Couchsurfing tapi untuk hal ini nanti aku ceritakan belakangan aja.


Stasiun Bruxelles Midi di pagi hari

Berangkat pagi jam 7 dari Gare Lille Europe, kereta berangkat menuju Brussels. Sebenernya waktu itu udah mendung banget dan ramalan cuaca baik di Prancis utara maupun selatan memang udah menunjukkan kemungkinan hujan, tapi ya udah mau gimana, yang penting selalu bawa jas hujan. Kebetulan untuk kali ini juga aku ga bawa ransel kain seperti biasanya tapi pake koper fiber karena tulang punggungku mulai terasa ga well sekarang kalo dibawa jalan jauh bawa beban berat, tapi at least  barang-barang jadi aman dan ga akan basah kalo kehujanan.

Kereta dari Stasiun Bruxelles Midi ke Bandara Zaventem yang super cantik, matching sama warna pinknya sepatuku dan koperku


Sesampai di Zaventem, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku harus melalui pemeriksaan berlapis yang cukup ketat. Ga heran, keamanan cukup ketat karena teror di Belgia tahun lalu dan memang beberapa hari sebelumnya pun ada penembakan di Inggris dan Prancis. Waktu itu koperku digeledah dan hampir semua peralatan mandi disita karena bentuknya cair dan melebihi kapasitas yang boleh masuk ke kabin, 175ml. Termasuk ada juga sabun mandi, sabun cuci muka, dan deodoran. Ya udah mungkin maksudnya baik biar aku ga usah mandi dan jadi biang boros air. Dan meski awalnya aku mengeluh dikit, ternyata aku masih jauh lebih mending daripada mba-mba yang bersepatu boots karena mereka disuruh copot sepatu, dan ada juga mas-mas di depan aku pake jaket tulisannya “Muhammad Ali” dicek lama banget berkali-kali. Sebenernya aku ga masalah dan ga peduli sama baju orang dan dia mau pake aksesoris seperti apa, toh atribut ga pernah ada hubungannya dengan tindak tanduk seseorang, tapi misal situasi kondisi masih serba darurat gini, kenapa harus pake atribut yang menyusahkan diri sendiri ya?




Bandara Zaventem ternyata gede (banget), itu pertama kalinya aku kesana. Penerbangan luar negeri sepertinya komplit menuju ke tempat-tempat yang ingin aku jelajahi: London, New York, Budapest, Beijing, Dubai, duh apa lagi ya sampe lupa. Penerbangan memakan waktu sekitar 2 jam dan cuaca bener-bener cerah waktu itu, meski seperti biasa aku pasti milih tidur karena bosen parah, dan sempet beberapa saat berkutat dengan laptop sih.




Selalu agak waswas kalo ada di atas laut hahaha. Bandara Nice ternyata letaknya di tepi laut, sama seperti Ngurah Rai di Bali

Begitu aku tiba di Nice, udah deh, petualanganku dimulai. Halah.
Untuk menuju ke Menton, aku harus naik kereta TER (kereta regional antar kota dalam provinsi) dari stasiun Nice St Augustin. Dan ternyata, bandara Nice sangat padat, stasiun Nice St Augustin pun ternyata berjarak sekitar 15 menit jalan kaki dari bandara. Petunjuknya pun ga mudah karena kita harus nyeberang jalan raya dan medan di daerah selatan Prancis ga mulus seperti di Paris atau di Lille, tapi berkelok-kelok naik turun dan banyak jalan yang sempit. Untungnya seperti biasa aku selalu bikin notes dari kertas yang dipotong kecil-kecil sekitar 10 cm, disitu aku tulis apa-apa aja yang harus aku lakukan, aku harus menuju kemana aja, jadwal transportasi yang aku naiki, bahkan sampe anggaran jajan dan outfit apa yang aku pakai di hari itu. Kebetulan untuk perjalanan ini, aku tulis juga petunjuk jalan dari Bandara Nice menuju stasiun Nice St Augustin seperti yang udah ditulis panitia MUN di website mereka. Kenapa aku tulis semua itu manual? Karena Bundaku selalu bilang kalo ga baik untuk terus menerus ketergantungan dengan teknologi. Kebetulan aku (dan mungkin kalian) pasti juga pernah kan menggantungkan hidup ke gadget tapi kemudian mereka berkhianat :’) Kaya alarm pagi hari yang ga bunyi, tugas lenyap padahal kayanya udah disimpen, file tiba-tiba kena virus dan ga kebaca sama sekali... Gimana rasanya? Kaya kiamat? Hahahah itulah makanya, aku ga berani simpen data perjalanan (tiket, itinerary, catatan pribadi) di satu tempat apalagi di gadget, karena ga ada jaminan gadgetku bakal idup terus atau ada internet terus.

Stasiun Monte Carlo, Monaco

TER Stasiun Nice St Augustin dengan tujuan akhir Ventimiglia, Italia, dan melewati banyak stasiun seperti Monte Carlo, Monaco, dan Menton




Hujan lumayan lebat ketika aku sampai di Nice. Ini adalah gambar laut Mediteranea, aslinya cantik banget

Bahkan ada kapal pesiar lagi berlabuh!

Tiket TER Stasiun Nice St Augustin dengan tujuan akhir Ventimiglia, Italia, dan melewati banyak stasiun seperti Monte Carlo, Monaco, dan Menton

Ternyata stasiun Nice St Augustin itu kecil banget! Duh, mirip stasiun-stasiun di desa-desa kalo kita sering nonton film barat. Tapi, pemandangan di luar kereta sewaktu perjalanan, bener-bener amazing. Di satu sisi kita lihat bangunan-bangunan tua di atas bukit dan di sisi lainnya kita akan disuguhi pemandangan laut Mediteranea yang biru, bahkan aku sempet liat ada kapal pesiar yang berlabuh! Sayang sekali waktu itu hujan lebat, jadi aku ga bisa banyak ambil foto dari dalem kereta. 

Disambut mendung di Menton, ini adalah pemandangan pantai di tepi laut Mediterranea dengan jajaran bendera-bendera negara anggota Uni Eropa










Museum Jean Cocteau
Untungnya, waktu aku sampe Menton, hujan udah reda dan aku bisa jalan kaki di bawah mendung menuju pemberhentian yang pasti pertama kali aku datangi: McDonald’s. Biasanya antara Brioche DorĂ©e, Relay, atau McDonald’s ini sih. Ya tujuannya paling cari WiFi, colokan, atau espresso, istilahnya buat tarik nafas dan istirahat dulu hehe. Tapi untuk perjalanan kali ini sebenernya cukup penting, karena aku sejujurnya belom nemu penginapan untuk lima hari ke depan. Aku udah sempet kontak salah satu Couchsurfer asli Menton sejak dua atau tiga bulan yang lalu, tapi ada beberapa problem yang bikin aku kurang sreg dan akhirnya di McDonald’s itulah aku memutuskan untuk sewa AirBnB aja. Ini juga cukup penting karena ada beberapa pertimbangan (tuh kan, jalan-jalan udah pasti bakal bikin kita berusaha kreatif dan mikir jauh hahah), pertama, AirBnb itu sebisa mungkin harus deket dengan venue di kampus Sciences Po, bukan cuma deket dengan tempat wisata dan hura-hura, karena tujuan utamaku kan ikut MUN. Kedua, harga. Jelas. Ketiga, tuan rumah. Sebenernya ini beda saat kita mau pake Couchsurfing atau Airbnb. Saat kita pake Couchsurfing, kita bener-bener cuma berniat buat jalan-jalan dan refreshing, jadi bisa ngobrol sama tuan rumah, bahkan kalo tuan rumahnya baik hati, bisa aja kita diajak keliling sama dia. Plusnya, kita nambah kenalan dan ditampung gratis. Tapi kalo kita bener-bener ada urusan pekerjaan, sebaiknya pilih Airbnb atau hotel aja biar bener-bener fokus dan ga kepikiran sama urusan dengan tuan rumah. Toh pemesanan dan pembayaran bisa dilakukan online semua, and that was what I did.

Karena waktu di McDonald’s itu bener-bener aku udah dalam kondisi lumayan lelah geret koper dari stasiun-stasiun dan bandara, aku ga pikir panjang untuk milih Airbnb nya, pokoknya murah aja. Ternyata, lokasi Airbnb ini ga bisa dibilang deket dengan venue MUN, malah justru deket sama stasiun Menton tempat aku turun pertama kali. Ya udah lah pikirku waktu itu, aku cuma perlu tempat buat rebahan semalem aja kok, besokannya bisa cek medan sambil book Airbnb baru. Bahagianya, tuan rumah Airbnb ini baik banget, meski dia ga bisa bahasa Inggris dan bahasa Prancisku logat Jawa abis, dia berkenan kasih banyak informasi tentang Menton. Ibu ini juga warm banget, tipikal ibu-ibu di daerah selatan yang caring dan penyayang abis hahahah mertua idaman banget kan? Kamar yang aku tempati adalah salah satu kamar di apartemennya yang super rapi dan super bersih, bahkan aku sampe merasa perlu berkali-kali nanya tentang sepatu dan roda koperku yang kotor karena abis kena becek-beceknya ujan. Ya meski aku bayar tapi kan aku maksudnya juga pengen sopan, misal aku perlu bersihin atau gimana, tapi dia ga masalahin sama sekali dan nyuruh aku istirahat aja.

Kondisi kamar di AirBnB pertama, lengkap sih ada TV dan kopi serta teh, sayang jauh dari venue dan aku pasti bakal capek banget kalo bolak balik karena ga ada kendaraan umum di Menton





Keesokan paginya, aku berangkat dari Airbnb sekitar jam 9 pagi dan berniat naik bus menuju venue MUN di kampus Sciences Po. Ternyata, bus di Menton itu cuma jalan 30-60 menit sekali, jadi aku memutuskan buat jalan kaki aja sambil lihat-lihat pemandangan, toh kota ini kecil banget. Oh iya, sebelum ke kampus Sciences Po, aku pengen mampir dulu ke Airbnb keduaku dan taruh barang-barang disana. Airbnb kedua ini aku book malem sebelumnya, dan lagi-lagi aku beruntung dapet tuan rumah yang sama baik dan sama fast responnya dengan yang pertama. Nilai plus (banget), Airbnb kedua ini letaknya cuma 200 meter dari kampus Sciences Po, tepatnya di bagian old town kota Menton, yang mana super eksotis, super cantik, super ‘Italia’, dan akses ke pantai cuma 100 meter aja.

Tangga masuk dari pintu depan ke studio yang aku sewa, asiknya adalah aku punya pintu untukku sendiri dan ga gabung sama kediaman orang lain.

Pintu depan bangunan yang aku sewa


Nama bangunannya: Casa Pinta, setelah aku Googling, ternyata bahasa Spanyol yang artinya kurang lebih seperti "Nice home". And it really is! :)





Fav spot! Mirip iklan cat yang di Italia itu loh dimana orang Italia biasanya teriak-teriak dari balik jendela menyapa orang yang lewat hahaha

Ini pertama kalinya aku liat toilet pisah dari kamar mandi, dan ada jendela di dalem toiletnya jadi kita bisa boker sambil liat pemandangan gang di luar, interesting banget :))

Aku sering dapet pemilik kamar yang thoughtful, tapi ibu pemilik Airbnb kali ini beyond thoughtful sih menurutku. Semua hal dia sediain, ini ada peralatan ngopi ngeteh dan sendok garpu.

Ada BANYAK (BANGET) selimut, sprei, handuk



Sofa yang kalo dibuka bisa jadi tempat tidur untuk kira-kira tiga orang, dan aku lumayan kesusahan (BANGET) waktu coba buka sofa ini pertama kali karena aku sendirian dan tenagaku ga cukup besar, nyaris nyerah tapi kalo nyerah bukan Asyana namanya hahaha



Secuek-cueknya aku, senekat-nekatnya aku, aku masih mikir banget sama yang namanya asupan makanan, aku kebetulan punya maag dan meski udah ga pernah kambuh, aku harus antisipatif dengan selalu bawa bekal kemanapun aku pergi, cukup yang remeh aja semacem roti tawar dan daging salami. Antisipatif buat penyakit dan kantong kering juga

Setelah aku taruh barang-barang ini di Airbnb, aku langsung registrasi di kampus Sciences Po, dimana udah banyak anak berdatangan dan berbicara dalam berbagai macam bahasa (belakangan aku tahu dari ketua penyelenggara kalo ada 44 kewarganegaraan berbeda di MUN kali ini).

Setelah registrasi, aku laper banget karena belum sarapan dan makan siang, jadi aku kenalan sama dua cewek yang waktu itu registrasi bareng aku dan kita makan bareng di bistro Italia sekitar situ. Kebetulan untuk ke Italia, tepatnya kota Ventimiglia, kita cuma perlu waktu sekitar 20 menit naik mobil, jadi menurutku pasti ga ada bedanya lah makan pizza di Menton dan Ventimiglia, jadi di bistro itu tentu aku pesen pizza, begitu juga dengan dua temen baru. Sepanjang makan siang, kami ngobrol banyak tentang daerah asal masing-masing. Si cewek pertama ternyata dari Australia, meski sekarang tinggal di Prancis. Dan cewek kedua asli Prancis, dan sekarang tinggal di Cannes. Mereka berdua banyak kasih tau aku tentang Cannes dan festival film yang terkenal itu, bikin aku pengen banget ke kota tempat syuting film Mr Bean Holiday, bikin pengen ke red carpetnya juga! Dua cewek ini juga udah sering banget ikut MUN entah jadi chairs atau delegates, makanya mereka nenangin aku terus yang sempet nervous karena... you guys know, first time. Tapi ternyata MUN ga semengerikan yang aku bayangkan.

Mediterranean MUN 2017 punya banyak sekali committe, dimana kita bisa apply sebagai delegasi negara atau aparat penegak hukum jika ingin bergabung di International Court of Justice. Aku berada di comittee UNICEF/UNDESA, dengan topik utama MUN-nya mengenai migrasi anak dan urbanisasi. Tentu ga heran, karena:

  1. Menton terletak di tepi laut Mediteranea, dimana banyak cerita tentang migran yang menyeberang dari negara-negara Timur Tengah
  2. Mayoritas delegasi berasal dari negara-negara Timur Tengah tersebut
  3. Penyelenggara MUN adalah kampus yang mempelajari budaya dan politik negara-negara Timur Tengah



Dari dulu (dan sampe sekarang) pengen banget kuliah disini, rejekinya sementara masih mampir jadi delegasi MUN, maybe one day! :p
 Penyelenggaraan MUN dibuka oleh beberapa keynote speaker kelas dunia, salah satunya yang aku inget banget adalah Vice President of World Bank, dimana beliau banyak menerangkan mengenai bantuan dari World Bank untuk negara-negara yang sedang berkecamuk di kawasan Timur Tengah. Setelah opening ceremony, kami masuk ke ruangan masing-masing untuk memulai sesi. Dalam MUN, selain ada delegasi-delegasi yang merepresentasikan negara di seluruh dunia, ada juga chairs atau pemimpin diskusi. Committe kami dipimpin oleh dua orang chairs perempuan, yang satu mahasiswa Sciences Po dan yang satunya berasal dari Italia. Kami memulai sesi dengan perkenalan, dan sangat melegakan mengetahui bahwa aku bukan satu-satunya yang mengikuti MUN pertama kali, meski ada banyak juga yang menceritakan bahwa MUN kali ini adalah MUN ke-berapa-belas-kali-nya. Teman-temanku berasal dari banyak negara, dan mereka semua s a n g a t c e r d a s. I really mean it. Aku jadi sadar bahwa selama ini ternyata kemampuanku masih nol banget untuk tingkat internasional begini, aku bener-bener merasa seperti jago kandang aja. Bahasa Inggris belom lancar, ngomong masih muter-muter, pengetahuan umum belom banyak... Duh, aku bersyukur banget punya keberanian buat gabung MUN kali ini, karena aku jadi tahu kalo aku masih jauh banget dari kualifikasi.

Setelah selesai sesi, kira-kira pukul 18 sore, aku menghabiskan waktu sendirian menjelajah kota Menton, karena menurut teman-temanku, social event hari pertama biasanya ga akan terlalu 'meledak'. Ya, di acara MUN biasanya akan ada juga rangkaian social event di malam hari. Disini kita bisa banyak ngobrol dan berkenalan dengan banyak teman baru, bahkan di luar committe kita. Social event malam pertama diselenggarakan di restoran Il etait une fois di pinggir pantai, dengan konsep cocktail party.

Sebenernya cakep sih tempatnya, aku lewat beberapa kali, tapi cocktail party terdengar "nanggung", mending party sekalian atau ga sama sekali, so I chose McDonald's :p


Nah, karena kurang suka dengan cocktail party yang membosankan (HEHE), aku dan banyak temanku tidak hadir. Keesokan harinya, kembali ke sesi-sesi hingga selesai di jam yang sama, jam 18 sore (sepertinya ga perlu diceritakan karena isinya ya full debat dan diskusi), lalu tibalah waktunya social event hari kedua: late night party di Monte Carlo!

I didn't expect much, but it turned out to be something amusing.

Jadi, begitu selesai sesi, aku langsung pulang dan mandi dan makan di McDonald's karena super lapar. Lagipula aku juga udah janjian sama teman-teman dari Italia untuk berangkat bareng ke Monte Carlo, jadi aku gak mau bikin mereka nunggu, lebih baik aku yang nunggu.

Bawa nama Indonesia, bok. Ga boleh malu-maluin.

Eh, waktu lagi makan di McDonald's aku disamperin sama temenku dari Denmark, namanya Jens. Si Jens ini sepanjang konferensi ga banyak bicara, tapi begitu ngobrol berdua... Haduh, cerewet parah hahahah (in positive way, karena aku pun doyan ngobrol). Kami cerita banyak banget tentang Indonesia dan Denmark, dan seperti yang sering banget kejadian, lagi-lagi aku menemukan seseorang yang memiliki hubungan dengan Indonesia.

Like, lama-lama Indonesians nih kaya Chinese, they're everywhere!

Pamannya Jens ternyata menikah dengan ibu-ibu Indonesia dan kini mereka tinggal di Jakarta bersama sepupu-sepupu Jens, tapi Jens belum pernah sama sekali bertemu mereka dan belum pernah mampir ke Indonesia.

Kami juga cerita banyak tentang perjalanan-perjalanan kami (ternyata dia juga solo traveler), dia juga banyak tanya tentang Little Luna dan kebudayaan Indonesia. Akhirnya setelah kami kelar makan, temen-temenku yang lain pada nyusulin ke McDonald's dan kami jalan kaki bareng-bareng ke stasiun Menton. Dari sini, kita cuma perlu waktu 20 menit menuju Monte Carlo, Monaco. Waktu itu kami serombongan berlima, tiga temen dari Italia, aku, dan Jens. Ketika sampe di stasiun, ternyata penuh banget sama anak-anak MUN yang lain, dan rombongan kami disamperin sama salah satu delegate lain. Namanya Giorgi, dia orang Georgia dan jadi delegate of South Africa di committee kami.

Di kereta, kami duduk terpisah-pisah karena menyesuaikan ketersediaan tempat, dan ketika sampe di Monte Carlo, aku ketemu temen deketku (yang akhirnya jadi super deket sepanjang acara, paling deket dari yang terdeket), dia orang Yunani yang sekarang kuliah di London School of Economics, namanya Anna.

Berpesta dan bersenang-senang di Monte Carlo bener-bener jadi pengalaman pertama yang super menarik buatku. Pemandangannya indah banget, bar yang disewa pihak penyelenggara pun menarik (they must've paid a lot for this bar, named Stars and Bars), dan untuk semua minuman yang ditawarkan bener-bener gratis. Aku belum pernah dan ga akan pernah mabuk. Aku suka musik, pesta, dan minum, tapi tentu aku selalu berusaha menyadari batas, apalagi aku selalu kemana-mana sendirian jadi siapa lagi yang akan menjaga diriku kalo bukan aku? Dari awal pesta udah banyak yang mabuk hahah mungkin karena ga biasa minum, tapi aku dan temen-temenku lebih banyak menari dan mengobrol, kami ga banyak minum dan bersyukur banget ketemu temen-temen yang masih punya adab meski sedang pesta. Tapi agak minder aja sih, karena aku ga dibesarkan dari lingkungan yang gemar berpesta, aku paling ga ahli menari di antara teman-temanku. Anna, Giorgi, Eleonora dari Italia, dan Leonie dari Jerman, keempatnya adalah teman terdekat sepanjang acara, benar-benar penari handal! Sedih sih hahah pada ahli-ahli banget abisnya. Anna bilang, orang Yunani menari secara alamiah aja. Lah aku malah jadi keinget prom waktu SMA dimana kami bukannya joged malah banyakan loncat-loncat hahaha.

Kami menghabiskan malam di Monaco sampai ketika dua orang temanku dari Italia, Alesandro dan... (duh siapa aku lupa haha) mengajak Eleonora pulang (they don't speak English that much jadi mereka banyak komunikasi in Italian) dan aku pun ikutan pulang. Panitia menyediakan tiga kloter bus dari Monte Carlo menuju Menton, dan aku seneng banget karena di jalan masih bisa liat banyak pemandangan cantik. Sepanjang jalan di bus, si cowok temen Ale dan Ele tidur, Ele udah setengah tidur, jadi aku banyak ngobrol sama Ale tentang Italia dan Indonesia. Satu hal yang paling menarik buat aku, ternyata persepsiku selama ini tentang orang-orang Italia ga jauh beda dengan kenyataannya. Aku selalu menganggap orang-orang Italia adalah orang yang hangat dan bersahabat (faktor letak geografis), dan ternyata kenyataannya memang begitu! Teman-teman Italiaku benar-benar thoughtful dan caring, si cowok temen Ale dan Ele bahkan selalu inget nama lengkapku cuma gara-gara penasaran liat paspor Indonesia, Ele ngajak aku kemanapun dia mau pergi misal ambil snack atau strolling around venue, dan sama Ale, aku cerita banyak banget tentang Yogyakarta, dia bahkan sampe browsing saat itu juga tentang Yogyakarta di Google, yang meski menurutku sebenernya ga penting-penting amat buat dilakukan saat itu juga di bus, tapi dia lakukan mungkin karena beneran penasaran, mungkin karena ingin menghargai aku. Setelah sampai di Menton sekitar pukul 3 pagi, kami diturunkan di tepi pantai dan masih harus berjalan kaki sekitar 20 menit menuju penginapan kami, kebetulan jaraknya ga begitu jauh sehingga mereka memaksa untuk mengantarkanku menuju penginapanku, betapapun aku berjuta-juta kali bilang kalo aku udah berkelana kemana-mana sendirian.

Udah fix banget pasti bakal tinggal di Italia suatu saat nanti.

Keesokan paginya, aku bangun sekitar jam 7 tapi siap-siap buat bangunnya lama banget (kebiasaan) dan aku sampe venue sekitar jam 9 pagi, meski awalnya aku kira udah bakal telat, ternyata venue masih kosong melompong. Ga heran, banyak banget yang akhirnya telat atau ga muncul sama sekali, mungkin terlalu party hard malam sebelumnya hahaha. Sebenernya hari terakhir itu lumayan melankolis dan mengharu biru sih, soalnya kami udah deket banget dan besokannya udah ga akan ketemu lagi. Debat berlangsung ga sepanas biasanya, draft resolusi cepet kelarnya, dan dengan muka-muka masih ngantuk, kami mengakhiri hari itu dengan banyak foto dan closing ceremony yang mengharukan.

Mantan Menteri Mesir yang memberikan pidato singkat di closing ceremony tentang tanggung jawab pemuda dalam isu migrasi dan urbanisasi serta hak asasi manusia.
Oh iya, di hari terakhir itu juga aku dan Anna bercerita banyak hal berdua sambil makan siang, tentang Indonesia dan Yunani, tentang banyak keprihatinan kami, dan cita-cita yang ingin kami raih. Yang bisa bikin aku deket banget sama Anna ini sepertinya karena kami sama-sama seumuran dan banyak keputusan nekat yang pernah kami ambil, terlebih kami juga berasal dari bukan negara maju seperti teman-teman lainnya, dan Yunani pun saat ini masih berjuang menggeliatkan sektor ekonominya, sama seperti Indonesia.

Ternyata, di balik indahnya Yunani, Anna banyak cerita tentang anak-anak muda yang meski ekonominya sedang terpuruk, tapi masih berusaha bela-belain untuk nongkrong di cafe atau bar, tanpa ambil andil untuk negaranya, misal mendirikan komunitas atau start up. Hal ini yang bikin Anna memutuskan buat merantau ke London, di kota yang ternyata dia belum menemukan kenyamanan karena semua serba mahal disana. Anna bukan berasal dari keluarga mampu, sama sepertiku, tapi dia super cerdas dan mau belajar, ini yang bikin dia juga masih mencari-cari jalan hidup. Kami saling menyemangati waktu itu, dan aku yakin banget Anna suatu saat bakal jadi orang besar.

Aku dan Anna!
Hal lain yang aku dapet dari perjalanan ini, selain wajarnya mendapat banyak pengetahuan dan inspirasi dari teman-teman, aku juga belajar untuk mementingkan kepentingan bersama dibanding kepentinganku sendiri. Aku belajar bahwa diplomasi bukan hanya tentang lobby atau kepentingan politik, tapi kesamaan kesempatan untuk semuanya, bahwa ada banyak sekali pertimbangan yang harus dipikirkan sebelum mengambil kebijakan. Aku juga belajar menahan emosi saat aku diserang, tetap harus mengeluarkan feedback berupa kata-kata diplomatis, bukannya menyerang balik. Salah satu contohnya adalah saat Kevin, dia orang China dan merepresentasikan negara Qatar waktu itu, dia sempat menyerangku dengan "Indonesia, coba kamu urus dulu penebangan ilegal di hutanmu baru kamu urus hal ini" waktu aku melempar pemikiranku tentang urbanisasi dan ruralisasi. Awalnya aku kaget, tapi aku inget kalo ini forum resmi, aku harus bicara berdasarkan fakta dan ga boleh memasukkan tiap perkataan orang secara personal ke hati, lagipula di sisi lain aku tahu apa yang dibilang Kevin ini 100% benar, kita masih bermasalah di penebangan liar. Aku ga ingin suatu saat jadi diplomat atau pengacara yang menutup-nutupi seolah-olah Indonesia tak punya masalah, aku ga ingin jadi munafik, karena tentu itu akan menyakitkan hati pribumi yang mengalami permasalahan terkait. Waktu itu aku hanya menimpali Kevin dengan sedikit pernyataan tentang perusahaan-perusahaan yang sebenarnya jadi aktor di balik penebangan ilegal dan langkah apa yang sudah diambil oleh pemerintah Indonesia. Toh, setelah acara selesai, Kevin dan aku ngobrol banyak banget tentang Bali, ternyata dia doyan banget liburan ke Bali.

Setelah acara selesai, aku makan malam di McDonald's (lagi) (biar hemat!) bareng Giorgi dan pulang karena harus packing, dan aku banyak sekali menghela nafas berat karena harus meninggalkan kota Menton yang cantik sekaligus cerita-cerita serunya. Aku mengepak koperku, melipat kembali kasur sofa di AirBnb ku, menyeret koper ke stasiun keesokan paginya, menatap Menton dari kejauhan, dan tiba di Bandara Nice untuk terbang kembali ke Belgia. Sedih banget, dan temen-temen juga pada berulang kali mengingatkan untuk tahun depan bertemu lagi di event dan tempat yang sama, tapi aku belum tahu juga, ada banyak bagian Bumi yang belum ku jelajahi, dan aku berharap aku ga akan pernah berada di tempat yang sama dalam waktu lama, pun di Prancis ini, sepertinya aku ga akan ada disini lagi tahun depan.

Sedih, pertemuan selalu menyisakan perpisahan. Sedih, terutama saat orang-orang ini benar-benar memiliki frekuensi yang sama denganku: jiwa petualang, kesukaan bercerita hal-hal berkualitas, selera humor yang tak pernah mencela, sikap-sikap yang selalu terjaga meski dalam situasi informal sekalipun, aku ga heran kalo orang-orang ini kelak akan ada di bangku-bangku pejabat dunia nantinya.
Terima kasih Menton, terima kasih teman-teman! :)

Gang cantik ala Italia di depan AirBnb

Sekarang kalo liat motor, aku jadi inget pertanyaan balik Alessandro waktu aku nanya dia tentang orang Italia yang identik dengan vespa (gara-gara waktu kecil aku nonton film Lizzie McGuire nih!), dia bilang, "Iya, orang Italia emang naik vespa kemana-mana nih, di Indonesia juga pada naik motor kan? Yang dibuat dari plastik dan diimpor dari China itu?". Aku ngakak banget, bukan plastik kali yah, tapi aku ga tau juga namanya apa, yang buat motor bagian depan itu loh? Dan aku waktu itu juga masih sempet-sempetnya ngebenerin, "Bukan dari China, tapi dari Jepang" :))

On the night

Plasa di pusat kota tuanya Menton tempat penduduk setempat nongki cantik dan ngopi-ngopi










Menton punya banyak sekali taman kota, dan ini salah satu taman dimana ada banyak pohon palem dihias dan jadi terang benderang di waktu malam. Banyak bangku disitu dimana kita bisa duduk-duduk santai dan ga kotor sama sekali



Makanan China ada dimana-mana. Selalu :)


Bagian yang kelap-kelip itu adalah negara Monaco, kalo malem cantik banget, sayang kamera handphone ga cukup mumpuni buat mengabadikannya, harus dateng dan liat sendiri!

Ada banyak banget restoran di pinggir pantai Kota Menton, sedikit mengingatkanku pada Bali!





Ini casino terbesar di Menton





















Bayangin deh aku nyeret koper kesana kemari dengan kondisi jalan terjal dan licin begini :)) Serem banget takut kepleset huhu
View laut ngintip dari depan kampus Sciences Po




Selain taman, aku suka banget gimana Kota Menton bener-bener tertata dan kasih akses buat warganya olahraga atau sekadar strolling around, ada trotoar yang luas-luas dan banyak taman di tiap sudut jalan

Parahhh luas banget kan trotoarnya?!

Museum Jean Cocteau on the night

Memang kota yang nyaman dan romantis sekali Menton ini :))



Di malam terakhir aku stay di Menton, aku jalan-jalan sendiri dan menemukan sebuah benteng dimana kita bisa naik dan dapet pemandangan combo: jajaran yacht dan pegunungan, serta laut Mediterranea. Awesome!






















Salah satu foto terfavoritku (muji diri sendiri :p), Gereja atau Basilique Saint Michel


 
 





Sebenrnya ada sih foto yang bersih dan ga ada photobomb, tapi ini aja yang di post, malah lucuk :)) Aku pake rok tenun NTB btw~
 
Bye-bye, Menton...
Makan roti tuna di stasiun Bruxelles Midi, enak banget ih padahal cuma 1,25 euro (soalnya laper :p)



Mampir makan crepes di Bruxelles, sengaja pilih jam transit yang lama emang biar ada waktu buat relaks jalan-jalan dulu

Bruxelles yang cerah!




Pink train again, from Zaventem to Bruxelles Midi

Dapet bonus pemandangan Alpen yang cantik sewaktu dalam penerbangan Nice menuju Zaventem 


Nice di kejauhan

Di antara dua bangunan di Menton ini ada pegunungan yang menyembul, aslinya cakep banget!

 





No comments:

Post a Comment