Monday, June 12, 2017

Ketika Aku dan Ibuku Bicara Politik



Beberapa kali mungkin orang-orang yang ada di sekitarku mendengar aku bilang ingin jadi politikus, mungkin dimulai waktu TK dimana aku bilang ingin jadi mahasiswa agar bisa ikut demonstrasi, atau mungkin saat aku sedang berapi-api semasa SMA, dimana aku pertama kali melaksanakan kewajiban dan hak sebagai warga negara dalam pemilihan umum. Presiden Joko Widodo sangat menginspirasiku kala itu, bagaimana seorang warga biasa bisa membawa perubahan positif dalam dunia politik. Aku juga mengagumi Pak Anies Baswedan, sebab kata-katanya selalu mencerahkan untuk masuk ke dunia politik demi kebaikan masyarakat.

Tapi bagaimana dengan saat ini? Masihkah aku ingin masuk ke dunia politik?

Sebenarnya semua diawali sejak aku mendaftar kuliah disini. Awalnya aku mendaftar untuk jurusan Ilmu Politik di Lille, namun di hari terakhir pendaftaran, entah kenapa aku memutuskan untuk memilih masuk jurusan Ilmu Hukum, dan sejak itu pandangan hidupku mulai perlahan-lahan berubah. Aku tak lagi berambisi untuk menjadi politikus yang ingin mendaki-daki level demi level jabatan seperti yang awalnya aku rencanakan, termasuk juga merelakan cita-cita untuk jadi wakil rakyat di Senayan. Awalnya aku kira, menjadi wakil rakyat adalah salah satu cara terbaik untuk menjadi corong perubahan, namun perlahan aku menyadari, kemungkinan besar aku tak akan merasa nyaman terus-menerus berada dalam atmosfer seperti itu. Tahulah, seperti apa. Setelah mempertimbangkan sedikit banyak hal, aku menyadari ternyata aku lebih senang bekerja secara independen dan tak terikat (dalam urusan pekerjaan profesional). Aku selalu ingin jadi netral, namun bukan berarti tak berprinsip.

Belakangan, melalui telepon, Ibu menyiratkan keinginannya terhadapku jika nanti aku sudah berada dalam kehidupan profesional, kaitannya dengan ilmu hukum dan politik yang kemungkinan besar akan sangat mempengaruhi kehidupanku di masa depan. Ibu tak pernah mendikteku untuk melakukan apapun, ia selalu menyerahkan keputusan padaku, namun memang ia sesekali memberi petuah, seperti yang ia lakukan akhir-akhir ini.

Berbicara mengenai politik, Ibu bilang bahwa politik itu tak pernah bersih, akan selalu ada kepentingan di belakangnya, namun yang menjadikan kita politikus yang baik adalah bagaimana cara kita dalam mengelola kepentingan-kepentingan tersebut dan menempatkan dalam porsinya masing-masing, sehingga tak mengganggu kinerja kita untuk masyarakat luas. Kita beri contoh Presiden Jokowi. Semua tahu ia berasal dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang diketuai oleh Mantan Presiden Megawati. Banyak orang yang awalnya menyangsikan profesionalitas Presiden dalam menempatkan dirinya sebagai negarawan dan kader politik. Banyak orang yang menduga ia akan dijadikan boneka oleh Ketua Umum partainya, bahkan banyak yang mengira ia tak akan memiliki suara yang kuat di pemerintahan. Namun semua anggapan tersebut nampaknya berusaha dipatahkan oleh Presiden dengan terus-menerus fokus bekerja dalam kapasitasnya sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, sekaligus dalam perannya sebagai kader partai pun, ia tetap menghormati Ketua Umum dan partai yang telah mengantarkannya ke Istana Negara. Aku pribadi tak melihat adanya tumpang tindih dalam pembagian peran dalam diri Presiden, praduga-praduga yang disematkan masyarakat terhadap dirinya tak serta merta terbukti. Pembangunan terus berjalan tanpa Presiden perlu memusuhi atau memunggungi partai yang telah membesarkannya.

Selain mengenai kepentingan, politik adalah mengenai kebesaran hati dalam menerima tiap keadaan. Ibuku bilang, menjadi negarawan itu harus lila legawa. Artinya, permasalahan apapun yang dihadapi, entah ditimbulkan oleh diri sendiri maupun akibat didzalimi oleh pihak lain, harus dijalani dengan lapang dada. Bahkan saat kita dijerat hukum sekalipun, baik kita memang bersalah maupun tidak, Ibuku berpesan untuk tak membenci keadaan, termasuk tak membenci hukum di Indonesia. Ini kaitannya dengan kasus mantan Gubernur DKI Jakarta Pak Ahok yang ditetapkan jadi tersangka kasus penistaan agama. Beberapa orang, termasuk saya, menganggap bahwa kasus ini sarat dengan politisasi dan kepentingan-kepentingan, hingga vonis hakim dipandang sudah tak lagi netral dan sesuai dengan koridor hukum yang semestinya berjalan. Namun Pak Ahok, mengajukan banding pun tidak. Vonis dua tahun penjara diterimanya, terlepas dari kenyataan ia memang benar bersalah atau tidak. Masyarakat dunia bergejolak, ada yang meneriakkan belasungkawa atas dianggap matinya hukum di Indonesia, ada yang bersorak sebab kepentingannya lagi-lagi menang. Ibuku mengingatkan, jika suatu saat aku jadi negarawan, contohlah sikap Pak Ahok, Bung Karno, Bung Hatta, Tan Malaka, atau siapapun saja negarawan sejati yang pernah dihukum bui, terlepas dari bersalah tidaknya ia pada kenyataan yang sebenarnya, bahkan setelah bebas pun tak pernah membenci tanah airnya. Sedikitpun. Dengan menerima keputusan hukum, kita belajar untuk bersikap ksatria, demi terwujudnya kedamaian di masyarakat. Aku yakin tak mungkin Pak Ahok menganggap dirinya bersalah, namun ia dan keluarganya menerima keputusan hakim hanya agar tak timbul lagi gejolak-gejolak dalam masyarakat. Ego pribadi memang sepatutnya tak mengalahkan kepentingan umum. Dan itulah resiko yang harus diambil jika memang memutuskan untuk masuk ke dunia politik. Jika tak suka, ya jangan masuk politik. Sesimpel itu. Ibuku juga berpesan, bahkan jika ia atau aku dibui entah karena kesalahan kami atau kedzaliman orang lain pun, ia akan tetap selalu jadi ibuku dan aku akan tetap selalu jadi anaknya, kami tetap keluarga dan akan menjalani semua bersama-sama.

Poin terakhir yang sempat Ibuku sampaikan adalah perlunya menjaga netralitas dan prinsip. Sebagai seorang negarawan atau politikus, memang kita akan selalu memperjuangkan kepentingan, entah kepentingan pribadi, golongan, masyarakat luas, atau apapun itu. Sedari kecil sudah ditanamkan oleh orangtuaku, agar anak-anaknya selalu dan selalu berpihak hanya pada masyarakat, untuk bekerja demi masyarakat, dan hanya memelihara kepentingan masyarakat. Entah apapun partai politik yang akan menaungi kami, entah dimanapun kami bekerja nanti, entah siapapun atasan atau bawahan kami, yang terpenting adalah untuk rakyat. Hal ini terus menerus bergaung dalam pola pikir dan keseharianku, dimana aku berusaha selalu menempatkan diriku di tengah-tengah masyarakat dan berjuang bersama mereka. Dari posisiku saat inilah aku bisa mendengar apa yang selama ini menjadi keluhan dan harapan masyarakat. Aku juga berusaha memupuk kepedulian dengan banyak membaca artikel atau jurnal kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat, sebab dari situlah aku mendapat bekal untuk kelak bisa menyuarakan aspirasi mereka. Jika aku hanya menerima apa yang aku pelajari dalam bangku pembelajaran formal, tentu tak akan cukup menjadi amunisi. Satu hal yang aku telaah dari pertemuan-pertemuan dengan banyak sekali elemen masyarakat ini adalah, kita tak akan pernah bisa menyenangkan hati semua orang. Aku memiliki relasi dengan elemen yang cukup beragam, jika tak bisa dikatakan berbeda-beda. Ada seniman, politikus, diplomat, petani dan buruh, hingga mereka yang menyuarakan keadilan atas hak-hak kaum minor, seperti LGBT atau mental illness. Banyak sekali hal yang sering mereka utarakan terkait dengan harapan untuk Indonesia yang lebih memihak pada kepentingan-kepentingan mereka. Namun tentu saja, tak mungkin semua itu bisa terwujud. Ibuku bilang, jangan lupa untuk selalu menempatkan diri secara netral jika ingin jadi negarawan. Menurutku benar. Menjadi negarawan, meski kita berpihak pada masyarakat luas dan berprinsip untuk mengabdi sepenuhnya pada rakyat, kita tak bisa untuk mengiyakan tiap kemauan mereka, apalagi memihak salah satu kelompok masyarakat dengan terus-menerus mewujudkan apa yang mereka harapkan. Toh manusia harus belajar untuk menjadi toleran, bahwa apa yang mereka hidupi sekarang tak serta merta hanya berisi dirinya, dirinya, dan dirinya. Dan dengan menjadi negarawan yang baik, dengan tidak memihak salah satu elemen masyarakat, kita membantu masyarakat untuk belajar jadi toleran. Selain pentingnya menjaga diri untuk tak berpihak, perlu juga menjaga diri untuk tak terlalu membenci atau mengagumi seseorang. Hal ini telah menjadi prinsipku juga, aku ingin selalu memperlakukan manusia sewajarnya, selaku hak dan kewajiban yang mereka miliki sebagai manusia.

Manusia dilahirkan serupa koin, selalu punya sisi baik dan sisi buruk, dan tak ada yang salah dengan hal itu. Maka, tak baik untuk terlalu membenci seseorang sebab ia pasti juga memiliki kebaikan dalam hidupnya, pun tak baik terlalu mengidolakan seseorang sebab ia pasti punya kekurangan dalam dirinya. Itulah kenapa aku tak pernah mengidolakan manusia, toh tiap manusia itu sama, tak ada yang superior. Jika aku harus mengagumi sesuatu pun, itu pasti adalah karya dan gagasan, bukan orangnya yang mencetuskan.

Politik memang bukan sebuah ilmu yang mudah untuk dipahami, namun begitu juga dengan ilmu-ilmu lainnya, bukan? Namun image yang terbangun mengenai politik selama ini memang cenderung kusam, padahal apa yang kita hidupi kini, kelak, dan di masa yang akan datang, mulai dari kebutuhan premier hingga tersier, semua dipengaruhi oleh keputusan-keputusan politik. Perlu untuk mengerti, tak perlu-perlu amat untuk diselami. Yang penting kita menolak untuk dibodohi dan mampu berargumentasi. Mari berpolitik dan beropini dengan cerdas.

Thursday, June 1, 2017

Belajar Mempertajam Rasa, Tiap Hari

Tiap hari saya selalu punya segudang aktivitas, yang untungnya bisa dilakukan secara fleksibel. Selain hal-hal yang berhubungan dengan tetek bengek artikel, bisnis, dan tugas kampus, saya juga masih harus mengurus rumah tangga sendirian. Saya tak mau membiasakan diri makan mie instan seperti anak kos umumnya, jadi saya usahakan untuk tetap memasak, sesibuk apapun. Perkara memasak ini tentu di belakangnya ada keseruan-keseruan lain: berbelanja, merajang sayur, mengolah bumbu… yang tentu saja memerlukan ekstra waktu dan tenaga. Tapi saya senang, memasak bagi saya adalah proses refleksi diri, karena memasak bukan hanya tentang menumis bumbu. Ada banyak waktu untuk berpikir, untuk merasakan, untuk menikmati hidup, semua dengan cara yang enak dan tentu membuat bahagia (siapa yang tak bahagia ketika perutnya kenyang?).

Memasak, seperti yang saya bilang, prosesnya bahkan dimulai sejak memilih bahan. Saya senang tinggal di Lille, dimana ada banyak pilihan tempat belanja, mulai dari supermarket ternama hingga pasar penuh orang asing. Preferensinya tergantung kesibukan di hari itu. Jika sedang terlampau sibuk dengan urusan kampus, saya memilih untuk mampir ke supermarket ketimbang ke pasar. Namun ketika ada waktu lebih senggang, pasar tumpah menjadi andalan. Di pasar saya juga lebih bisa bersinggungan dengan banyak orang, kebanyakan orang asing dari Asia seperti India, Tiongkok, Arab, Turki, dan sekitarnya, jadi untuk mencari bumbu yang pas di lidah Indonesia saya tentu tak sukar. Saya sering mendapat rejeki nomplok ketika belanja di pasar, satu hal yang tak mungkin saya dapatkan jika belanja di supermarket. Ibu saya bilang mungkin para penjual ini merasa kasihan melihat saya, hahaha.

Pernah suatu ketika saya diberi melon gratis. Jadi, waktu itu, sudah memasuki musim panas, buah-buah tropis mulai berdatangan dan saya yang aslinya cuma mau mampir untuk lihat-lihat (karena lupa bawa tas belanja sementara kalau mau belanja disini sebaiknya bawa tas belanja sendiri, tak semua pedagang menyediakan kantong plastik), malah akhirnya menenteng 5 kilogram buah dan sayur. Sulit sekali rasanya melihat buah dan sayur segar bertebaran dengan harga murah, kebanyakan hanya satu sampai dua euro per kilogram atau per dua kilogram. Bayangkan waktu itu saya mendapat pisang dua kilogram dengan harga 1 euro atau Rp 15.000 saja, saya kira di Indonesia pun saya belum pernah belanja sebegitu murahnya. Kebetulan bapak penjual pisang juga menjual melon, harganya cuma 1 euro untuk dua buah melon. Saya tertarik karena lumayan untuk bikin takjil apalagi saat itu cuaca cenderung sangat panas, bikin es sirop pakai melon terdengar nikmat! Tapi ternyata melon yang dijual sudah bukan yang berkualitas baik, saya cuma bisa menemukan satu buah melon yang layak dibawa pulang. Lalu saya tanya ke bapak yang jual, bisakah saya hanya beli satu saja dengan harga 50 sen? Ternyata kata beliau tidak bisa. Anehnya, setelah bilang begitu, si Bapak malah bilang, “Tapi kalau gratis, bisa”, akhirnya saya pulang dengan melon gratis di tangan, hehehe.

Pluralisme budaya yang luar biasa banyaknya di pasar ini juga membuat saya merasa jadi manusia yang less-judgmental. Sering sekali di media kita baca berita yang menyudutkan orang-orang dari Timur Tengah, ibu-ibu yang mengenakan jilbab, bapak-bapak yang berjenggot dan bergamis panjang, orang-orang berkulit hitam, bermata sipit, berlogat daerah asal yang kental, dan orang-orang yang sering mendapat stigma buruk lainnya. Di pasar saya melihat sendiri bagaimana kerukunan-kerukunan hadir tanpa perlu dipaksakan, bagaimana komunikasi terjadi penuh rasa dan keakraban, meski ada banyak sekali bahasa yang terdengar dari tiap tutur kata masing-masing orang. Saya mendengar Bahasa Prancis, Bahasa Arab, Bahasa Mandarin, Bahasa India, dan entah bahasa apa lagi. Saya melihat orang-orang bercengkrama satu sama lain tanpa melihat pakaiannya, ibu-ibu yang mengenakan tanktop bercanda dengan ibu-ibu yang bercadar, bapak-bapak dengan gamis panjang berdiskusi panjang lebar di tepi kiosnya dengan bapak-bapak bercelana pendek bersama anjing kecilnya, anak-anak muda juga tak segan keluar masuk los-los dan mengobrol dengan para penjual meski mayoritas sudah seusia kakek-nenek mereka, saya tak melihat sekat.


Perkara memasak yang diawali dari kegiatan belanja ini rupanya adalah salah satu cara yang baik untuk bercermin. Saya rasa orang-orang yang gemar menciptakan stigma dan menyulut permusuhan antar golongan itu tak pernah merasakan indahnya atmosfer perbedaan, salah satunya melalui belanja di pasar yang plural, piknik ke daerah lain, atau ya intinya melakukan perjalanan-perjalanan lintas wilayah. Saya keluar dari zona nyaman saya, keluar dari kebiasaan dan rumah saya, akhirnya saya bisa bertemu dengan banyak orang, dengan perspektif yang berbeda-beda. Saya bertemu orang dari berbagai suku bangsa, saya berteman dengan banyak orang yang selama ini dianggap minoritas oleh orang-orang yang menganggap diri mereka mayoritas, dan saya bersyukur bisa punya kesempatan untuk mempertajam rasa, salah satunya ya lewat memasak, bukan? Saya mempertajam rasa di lidah, juga di hati.. Life is more than just beautiful.

Ya sudahlah, malah jadi melantur. Saya mau masak dulu! :)