Posts

Showing posts from July, 2017

Mengenal Perspektif

Ada seorang senior baik hati yang selalu terbuka dengan berbagai diskusi, meski saya tahu beliau adalah sosok yang sangat agamis dan memiliki idealisme yang begitu berbeda dengan saya. Kami sama-sama teguh pendirian, namun berusaha saling menghormati, tiap perbedaan pandangan kami sikapi dengan lapang dada. Belum lama saya mengenal beliau, mungkin kira-kira dua bulan lamanya. Dan dimulai dari perkenalan itulah rupanya saya kemudian bisa belajar menyelami pola pikir mereka yang selama ini saya anggap asing.

Identitas fisik saya adalah perempuan, dilahirkan di Jawa, dan dibabtis oleh orangtua yang beragama Katolik.

Kebetulan saya tak pernah meminta.

Secara singkatnya, senior ini, adalah 180 derajat berkebalikan dengan saya.

Saya membaca banyak tulisannya di media massa, dan ciri khas itu selalu ada: lugas, tegas, idealis, tapi tak menciptakan jarak, tak intimidatif, dan masuk akal, bahkan bagi saya yang punya latar belakang kehidupan berbeda dengannya.

Usia kami hanya berjarak satu tahun, na…

Untuk Dia Yang Dibentang Jarak

Image
Untukmu, yang dibentang jarak Yang dibatasi sebelas ribu kilometer darat dan laut jauhnya
Tanah Airku, Apa kabarmu? Jangan tanya kabarku, apalagi kabarnya dia si rasa rindu. Dia masih ada disitu, kusuruh pergi dia tak mau, katanya baru lunas jika dibayar oleh waktu. Memang inginku pun begitu, sejenak persingkat jarak bertemu denganmu. Tapi mungkin kini belum saatnya, aku masih harus berjuang merenda cita-cita, jadi kadang pinta si rindu aku abaikan sementara. Aku kadang ingat Ayah Bunda, bagaimana untukku mereka berdoa, bersimpuh memohon padaNya, "Jadikan anakku manusia yang berguna" Aku ingin menjadi jawaban bagi doa mereka, berguna bagi bangsa dan dunia, karena aku tahu hanya itu satu-satunya cara untuk membayar kasih sayang mereka.
Tanah Airku, Kadang sulit hidup di perantauan, susah senang pengalaman aku lalui sendirian. Kadang ada rasa ingin menyerah, lelah. Kadang ingin berhenti, mengakhiri. Namun cambuk semangatku adalah kamu, Tanah Airku. Untukmu aku terus berseteru, melawan pelu…

Sekolah Tak Mesti Tinggi, Tak Mesti ke Luar Negeri

Image
"Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri China", begitu riwayat hadits yang sering dipesankan orang-orangtua pada anaknya. Saya juga sempat diberitahu demikian ketika masih kecil, tapi ternyata garis hidup membawa saya ke Prancis, bukan ke China, hehe.

Tapi intinya bukan China-nya, USA-nya, Aussie-nya, atau mungkin Indonesia-nya. Bukan tentang tempatnya.

Lalu ada juga yang bilang, "Sekolah yang rajin ya, menuntut ilmu itu harus setinggi-tingginya". Hmm, Pak Setya Novanto itu lulusan S2 Akuntansi lho, orang keuangan dan wakil rakyat, tapi bolak-balik kasus juga toh?

Intinya bukan setinggi-tingginya, bukan gelarnya, bukan tentang berderetnya tambahan-tambahan akronim di belakang nama kita.

Bahkan, seperti dilansir oleh para peneliti dari Universitas Warwick dalam artikel yang berjudul "Education may not improve our life chances of happiness", asumsi mengenai faktor sosioekonomi (termasuk juga pendidikan dan keuangan pribadi) bisa meningkatkan kualitas keseha…

Alasan Kenapa Perempuan Sebaiknya Mencoba Solo Traveling, Setidaknya Sekali Seumur Hidup

Tak tahu dari mana datangnya, kesenangan bepergian sendirian atau solo traveling itu tiba-tiba muncul begitu saja. Mungkin karena kebiasaan orang tua yang juga senang melancong atau karena kegemaran membaca majalah National Geographic. Perjalanan pertama waktu itu ke Bandung, ketika duduk di bangku kelas 2 SMA, dari Jogja naik kereta api Lodaya dan menginap di hostel murah meriah di daerah Dago, yang beruntungnya khusus disediakan untuk pelancong perempuan.

Saya ingat betul betapa senangnya ketika itu, menemukan hal-hal baru dengan usaha sendiri dan mengenal lingkungan baru tanpa bisa bersikap mbok-mbokan, kalau istilah orang Jawa bilang, manja. Tahun-tahun berikutnya selalu dihabiskan dengan melancong ke kota yang belum pernah dikunjungi, hingga kesenangan ber-solo traveling itu bagai pucuk dicinta ulam pun tiba ketika di tahun 2016 saya pindah ke Prancis untuk melanjutkan kuliah sarjana.

Excited? Sangat! Eropa! Banyak yang sering mengkhawatirkan keamanan atau kenyamanan dalam melanc…

Perjalanan Menggapai Mimpi

Setiap manusia ditakdirkan memiliki jalan hidup berbeda-beda, yang ditentukan juga oleh cita-cita dan usahanya sendiri. Begitu pula dengan saya. Setapak demi setapak fase hidup ini saya beri nama Perjalanan Mimpi, dan Perjalanan Mimpi saya dimulai sejak saya duduk di bangku Sekolah Dasar.

Cita-cita saya sejak Sekolah Dasar hingga kini tak pernah berubah: menjadi diplomat Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa. Tak kurang gila, saya pun dari dulu selalu berujar, “Ingin sekolah di Prancis”, yang tak ayal lebih sering membuat orang lain tertawa geli dibanding berdecak kagum. “Memangnya bisa? Gimana caranya?”, pertanyaan dan pernyataan keraguan dari merekalah yang sedari dulu membuat saya merasa tertantang: saya tak hanya harus membuktikan pada diri sendiri, namun juga pada dunia, bahwa segalanya mungkin terjadi.

Prancis selalu memikat hati saya. Meski waktu kecil saya tak tahu ada hal apa disana selain Menara Eiffel yang menjulang di Kota Paris, meski saya dulu tak pernah tahu bagai…