Mengenal Perspektif

Ada seorang senior baik hati yang selalu terbuka dengan berbagai diskusi, meski saya tahu beliau adalah sosok yang sangat agamis dan memiliki idealisme yang begitu berbeda dengan saya. Kami sama-sama teguh pendirian, namun berusaha saling menghormati, tiap perbedaan pandangan kami sikapi dengan lapang dada. Belum lama saya mengenal beliau, mungkin kira-kira dua bulan lamanya. Dan dimulai dari perkenalan itulah rupanya saya kemudian bisa belajar menyelami pola pikir mereka yang selama ini saya anggap asing.

Identitas fisik saya adalah perempuan, dilahirkan di Jawa, dan dibabtis oleh orangtua yang beragama Katolik.

Kebetulan saya tak pernah meminta.

Secara singkatnya, senior ini, adalah 180 derajat berkebalikan dengan saya.

Saya membaca banyak tulisannya di media massa, dan ciri khas itu selalu ada: lugas, tegas, idealis, tapi tak menciptakan jarak, tak intimidatif, dan masuk akal, bahkan bagi saya yang punya latar belakang kehidupan berbeda dengannya.

Usia kami hanya berjarak satu tahun, namun kepribadian beliau begitu dewasa dan mungkin inilah yang membuatnya selalu mendapat jabatan strategis di badan-badan organisasi nasional tempatnya bernaung.

Dari beliau saya belajar banyak hal, saya belajar memahami sesuatu yang berbeda dari sudut pandang yang baru, saya belajar keluar dari zona pergaulan dan inner circle saya selama ini.

Saya menerima keberadaan LGBT, beliau tidak sama sekali, tapi saya kini memahami.
Saya tak terlalu tertarik lagi dengan aktivisme yang berapi-api di jalanan, beliau masih terus bergerilya disana, dan saya mulai memahami.
Saya jarang beribadah bersama umat, beliau bahkan yang memimpin umat, saya pun memahami.

Saya senang bisa mengenal beliau, bahkan bisa berdiskusi tentang apa saja. Beliau tak pernah merendahkan saya, meski mungkin sosok seperti beliau bisa saja melakukannya terutama ketika berada di negara kami yang menjadi rumah bagi mayoritas kaum keyakinannya. Tapi beliau tidak. Beliau tak pernah membawa ranah privatif dalam diskusi kami, beliau tetap menghormati saya. Meski saya perempuan, meski saya Katolik.

Saya tak pernah memahami mengapa orang berperang.
Mengapa orang bertikai.
mengapa orang saling membenci.

Saya berusaha berdamai dengan kenyataan, bahwa perbedaan memang ada, dan tak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain menerimanya.

Tapi saya juga menyadari hal lain:
Ketika kita terbiasa hidup dalam lingkungan yang tak majemuk, kita akan sulit menerima kemajemukan. Ketika kita terbiasa hidup tanpa penolakan, kita akan mudah menolak mereka yang berbeda dengan kita. Padahal kita tak perlu menjadi beda untuk belajar memahami perbedaan, kita hanya perlu jadi manusia.

Yth Mas Muhammad, terima kasih! Sampai jumpa di Indonesia timur!

Comments

Popular posts from this blog

Cita-Cita Kartini: Personal project dedicated for a heaven called Indonesia

Gimana Caranya Kuliah S1 di Prancis?

Belajar Mempertajam Rasa, Tiap Hari