Posts

Showing posts from November, 2017

Berdamai Dengan Ego Tanpa Menghilangkan Ego

Image
Ketika saya bermeditasi, seringkali karena terlalu merasa bahagia, saya mengambil napas dalam-dalam hingga rasanya nyeri di dada dan di punggung, tepatnya di bagian dimana skoliosis saya berada. Saya sangat suka menarik napas dan menghembuskannya perlahan-lahan dalam ketenangan sebab itu mengingatkan saya akan dinamika kehidupan yang diberikan semesta pada saya untuk dijalani. Tapi ya itu tadi, kadang saking dalamnya mengambil napas bisa terasa nyeri sesekali. Rasa nyeri ini seringkali saya maknai sebagai teguran halus untuk tak memaksakan diri, dan saya menyadari sekali, terkadang sebagai manusia, kita memang perlu diingatkan untuk tetap berada dalam ruang-ruang dimana semestinya kita berada. Yang membuat kita suka lupa diri dan tak mawas bahwa kita punya kapasitas yang berbatas, biasanya, adalah ego.

Saya suka sekali mempelajari banyak hal, saya tak pernah membatasi diri dengan sesuatu, selagi saya punya kesempatan untuk mengembangkan wawasan, pasti akan saya pergunakan. Kadang juga …

Saya (Masih) (dan Akan Selalu) MencintaiMu

Image
Masih menyoal sakitnya si kaki kiri yang membuat saya harus beristirahat selama... sampai hari ini, saya merasa ini semacam wake up call untuk waktunya merefleksikan lagi kehidupan saya, baik relasi dengan diri sendiri maupun dengan dunia. Semesta seakan memberi ruang kontemplasi yang cukup, dimana saya bisa berbincang-bincang dengan hati saya sendiri, apa mauku, apa harapanku, apa yang sudah aku lakukan, sudahkah aku mensyukuri yang aku lakukan,dan ternyata masih ada lubang-lubang hampa menjadi penjawab dari tiap pertanyaan itu.

I haven't lived my life to the fullest; lately.

Tak ayal, selain urusan bedrest ini, saya juga digugah melalui hardikan gelandangan mabuk beberapa hari lalu itu dan nyaris bobolnya tabungan di bank karena scammer. Selama dua dekade saya hidup, jarang sekali saya menemukan kejadian-kejadian sefatal ini. Dan semestinya, saya berhak untuk protes, "Why me?", atau mungkin marah-marah karena semua hal itu di luar batas kewajaran.

Tapi kemudian saya mem…

Our search for that happiest place on Earth.

Image
Saya bukan ingin berbicara tentang Disneyland, tapi tentang bagaimana semestinya jargon happiest place on earth tak hanya menjadi milik theme park gagasan Walt Disney tersebut, atau bahkan, semestinya, jargon tersebut tak pernah ada.

Where's exactly the happiest place on Earth?
Isn't it ironic that it isn't the Earth itself?
Untuk mengatakan bahwa saya sepenuhnya bahagia dengan hidup yang saya jalani pun sepertinya belum bisa. Terkadang saya masih merasa cemas, merasa takut, merasa sedih, dan semuanya itu adalah kelaziman sebagai manusia yang memang hidup dalam rupa-rupa keadaan; senang susah, untung malang, di atas dan di bawah.

Tapi semenjak merantau, ketika saya sudah mulai menghidupi diri saya sendiri, ketika saya sudah mulai bertanggung jawab sepenuhnya akan segala hal yang saya lakukan, ketika saya sudah mulai mengenal lebih banyak orang dan mempelajari lebih banyak hal, saya mulai merasa lebih mudah untuk menjadi bahagia. Saya jadi lebih mudah merasa bahagia atas sega…

Kenapa Saya Tak Percaya Perselingkuhan, dan Pencurian

Image
Meski berulang kali mencoba untuk memproteksi diri dari berbagai konten negatif yang ada di media massa, terkadang saya gagal juga dan masih bisa membaca beragam tulisan yang sebetulnya tak ingin saya baca, salah satunya adalah mengenai pemberitaan skandal perselingkuhan seorang artis berinisial JD dengan laki-laki yang telah berkeluarga. Saya rasa saya tak perlu menceritakan lebih jauh dan detail mengenai kejadian tersebut, karena sebagai manusia, saya tak pernah tahu duduk perkara yang sebenarnya.

Tapi sejujurnya, saya tak pernah percaya dengan konsep perselingkuhan, maupun pencurian. Dan juga "malapetaka-malapetaka" sejenisnya.
Buat saya pribadi, kita terlahir telanjang dan ketika nanti mati pun telanjang, sendirian tanpa teman, tak membawa apapun. Hal ini berarti kita sebetulnya tak memiliki apa-apa yang bisa kita anggap sebagai "kepunyaan". Semua murni pinjaman.

Pemikiran tersebut saya pahami sebagai dasar untuk selalu bersikap lila legawa, menerima segala bai…

Cerita Hari Ini

Image
Hampir lima tahun sudah saya mempelajari seluk beluk plant-based food dan alasan di baliknya tentu karena permasalahan lingkungan yang kompleks, termasuk untuk "membayar" rasa bersalah akibat animal cruelty dalam industri yang saya gerakkan.
Semoga suatu saat bisa sepenuhnya meninggalkan produksi kulit. Secepatnya. Sedari kecil, saya memang pecinta hewan, keluarga membiasakan anak-anaknya untuk menghargai makhluk hidup dan alam raya. Bung Karno, yang sedari dulu saya idolakan pun, memiliki welas asih yang luar biasa pada hewan, bahkan sewaktu kecil beliau pernah secara tak sengaja menyenggol sarang burung di atas pohon dan mau memungut serta mengembalikannya lagi sembari meminta maaf pada induk burung yang malang. Kisah ini diceritakan pada Cindy Adams melalui Penyambung Lidah Rakyat. Di lain waktu, Bung bahkan berujar bahwa untuk menepuk nyamuk pun ia tak tega. Mungkin hal ini didasari oleh latar belakang keluarganya yang beragama Hindu.

Selain karena alasan lingkungan, ant…

It takes a village to raise a child

Image
Sebenarnya, saya selalu berusaha untuk tak mengurusi apa yang orang lain lakukan dengan hidup mereka, sebab saya sendiri tipikal yang teramat tidak suka ketika hidup saya diurusi orang lain. Namun ada kalanya upaya ini harus rela dikompromikan ketika saya tak lagi merasa nyaman dengan apa yang orang banyak lakukan, termasuk yang ingin saya kemukakan sekarang.

Beberapa tahun belakangan saya teramat aktif berselancar di beragam media sosial, terutama terkait dengan aktivitas saya sebagai pelajar, pengusaha, penulis, maupun aktivis. Kenyataan ini harus saya bayar mahal dengan paparan konten negatif yang seringkali saya terima, seperti misalnya meme jahat yang bertebaran di Instagram, beragam gosip artis di linimasa Facebook, twitwar dan tweet bermuatan hasutan, dan sebagainya. Beberapa kali saya memiliki love-hate relationship dengan media sosial sampai sempat menonaktifkan sejumlah diantaranya, saya juga sempat berusaha memproteksi diri dengan hanya menggunakan media sosial privatif yan…

Home is wherever your heart is

Image
Menyambung tulisan saya yang lalu, saya jadi teringat juga dengan perbincangan dengan beberapa karib mengenai rencana setelah studi di luar negeri selesai nantinya. Tak sedikit (jika tidak bisa disebut banyak) yang mengutarakan keinginannya untuk tetap tinggal di negara studi, namun ada juga yang dengan mantap berkata, "Pulang, lah!" dan diikuti dengan serentetan alasan mengenai patriotisme, nasionalisme, cinta tanah air, you name it.

Ketika tahun lalu datang ke acara Mata Najwa di Amsterdam, berulang kali para pembicara pun berkata, "Setelah kuliah selesai, pulang, ya! Negara menunggu sumbangsihmu". Bahkan sebelum saya pergi merantau pun banyak orang berpesan, "Jangan lupa pulang".

Awalnya pun saya berpikir demikian. Kuliah selesai, lulus memuaskan, pulang ke Indonesia, berkarya untuk rakyat. Dan pola pikir yang tercetak sekian tahun tersebut kelamaan mulai terbuka dengan beragam kemungkinan dan saya jadi mempertanyakan pola pikir itu sendiri,

Apa iya, n…

Menjadi Air

Image
Saat mampir sejenak ke Jakarta pada Agustus lalu, saya sempat makan malam bersama keluarga di sebuah restoran sate. Itu adalah quality time pertama kami setelah setahun tak bertemu dan tentu setelah serangkaian kegiatan yang saya jalani beberapa hari sebelumnya usai.

Ada satu perbincangan yang saya ingat betul, tercetus antara saya dan Ayah. Kala itu memang kedatangan saya ke Jakarta tak hanya dimaksudkan untuk mengikuti karantina saja, tapi juga untuk mendaftarkan diri dalam sebuah organisasi politik yang kini sedang naik daun. Kebetulan saya pernah berkorespondensi dengan ketua organisasi tersebut, kami seumuran dan sama-sama perempuan, dan ada banyak pemikirannya maupun organisasi yang ia pimpin yang sejalan dengan pemikiran pribadi saya.

Di meja makan di restoran sate itulah saya mengutarakan keinginan saya pada Ayah, yang hanya dijawabnya secara singkat, "Yakin?". Setelah saya selesai menjelaskan alasan-alasan kenapa saya ingin bergabung dalam organisasi politik tersebu…

Defining: Rumah

Image
Bagaimana mendefinisikan rumah?

Ketika masih tinggal bersama orangtua di Yogyakarta, mudah saja mengatakan "Mau pulang ke rumah", karena itu berarti merujuk pada keberadaan bangunan tempat tinggal yang telah ditempati oleh orangtua saya selama duapuluh tahunan lamanya yang terletak di Jalan Kaliurang.

Ketika bersekolah di kawasan Demangan, Timoho, dan Mujamuju, orang seringkali bilang, "Wah, jauh ya rumahnya". Dan ya, terkadang bokong saya terasa mati rasa jika harus pergi ke sekolah naik motor. Sekitar tigapuluh menit perjalanan, itupun kalau tak bertemu kemacetan atau terhalang kereta api yang melintas di area Lempuyangan.

Setelah saya keluar dari rumah orangtua dan menghidupi sebuah tempat tinggal untuk diri saya sendiri, makna rumah menjadi sedikit bergeser bagi saya. Seringkali bahkan topik mengenai rumah dihindari oleh saya dan kawan-kawan di perantauan, sebab terkadang ada rasa pedih yang menghujam dalam hati, seakan-akan mengingatkan pada sesuatu hal yang j…

Penjaja Koran di Perempatan

Image
Terinspirasi dari tulisan seorang sahabat, saya jadi tertarik juga untuk menuliskan pengalaman keluarga dengan para penjaja koran yang ada di jalan menuju rumah kami di Yogyakarta. Orangtua saya menggunakan kendaraan pribadi untuk mobilitas mereka sehari-hari, sebuah hal yang lazim bagi warga Yogyakarta pada umumnya, mengingat transportasi publik yang tersedia tak cukup memadai, entah dari segi aksesbilitas hingga kenyamanan. Ibu saya telah menempati rumah yang kami huni kini sejak beliau pertama kali merantau untuk kuliah, tepatnya di awal tahun 1990-an. Dengan begitu, kami akrab dengan jalan-jalan dan jalur-jalur yang harus kami lalui tiap hari menuju ke kota. Tak hanya itu, keluarga kami juga jadi akrab dengan beberapa penjaja koran yang ada di perempatan-perempatan lalu lintas, sebab tiap hari berpapasan.

Pernah bahkan orangtua saya "bersahabat baik" dengan pasangan penjaja koran yang biasa beredar di kawasan Fakultas Kehutanan UGM. Pasangan ini seumuran dengan orangtua …

Makin Kaya Tapi Mental Miskin, Atau?

Image
Sebagai seorang anak kos, mau tak mau saya harus melakukan segala sesuatunya sendiri seperti anak kos lain. Bedanya, karena saya kos di negara orang dengan living cost yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan negara asal, saya jadi punya pekerjaan tambahan, yakni melakukan belanja dapur tiap akhir pekan untuk bahan memasak pekan berikutnya. Sebetulnya saya senang berbelanja, apalagi bahan makanan, hanya kegiatan ini jadi tak begitu menyenangkan bahkan cenderung memusingkan jika kita harus mengamati harga produk satu per satu, membandingkannya, dan mencari harga termurah untuk sebuah barang yang kita ingini. Misal, bawang putih. Saya harus melihat berapa harga per kilogram bawang putih yang berasal dari Prancis, terutama provinsi dimana saya tinggal, dan melihat harga bawang yang diimpor dari negara lain. Tak ada kepastian kapan produk lokal berharga lebih murah dibanding produk impor karena sangat fluktuatif dan dipengaruhi oleh merek dagang juga, namun satu hal yang pasti, bahwa ha…

Pandir

Image
Saya memahami betapa kadangkala kita, merasa sulit untuk saling menjelaskan maksud kita mengenai hal-hal tertentu kepada generasi yang lebih senior, umumnya dalam konteks ilmu pengetahuan dan teknologi. Begitu juga sebaliknya, ada beberapa nilai warisan budaya yang rumit untuk dipahami oleh generasi yang lebih junior. Rentang usia yang terpaut cukup jauh dan latar belakang kehidupan yang berbeda antara (misalnya) generasi baby boomers dan milenial, sering menimbulkan kesalahpahaman. Kuncinya terletak pada komunikasi dan kemauan untuk saling mengerti bahwa tidak ada generasi mana yang lebih baik dari generasi mana. Sebagai bagian dari milenial, saya menyadari bahwa kemutakhiran pada masa kini tak akan terbentuk tanpa adanya sejarah masa lalu, peradaban sekarang juga menyerap nilai-nilai dari peradaban sebelumnya. Kita semestinya sama-sama saling menimba ilmu satu sama lain, dan sikap pertama yang diperlukan dalam mempelajari suatu hal adalah kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita mas…